Realisasi APBN hingga September 2026: Pendapatan Rp2.341,5 Triliun, Belanja Rp2.660,5 Triliun

oleh -103 Dilihat
oleh
Realisasi APBN hingga September 2026: Pendapatan Rp2.341,5 Triliun, Belanja Rp2.660,5 Triliun

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir September 2026 masih berada di jalur sesuai dengan perencanaan pemerintah. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan anggaran selama sembilan bulan pertama tahun berjalan tetap berjalan dalam koridor yang telah ditetapkan, baik dari sisi penerimaan maupun belanja negara.

Hingga September 2026, realisasi pendapatan negara tercatat mencapai Rp2.341,5 triliun. Pada saat yang sama, belanja negara telah mencapai Rp2.660,5 triliun. Perbandingan kedua komponen tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah masih lebih besar daripada penerimaan yang berhasil dihimpun. Meski demikian, posisi tersebut dinilai masih sejalan dengan strategi pengelolaan fiskal dan tahapan pelaksanaan anggaran yang telah dirancang sejak awal tahun.

Data tersebut menjadi gambaran sementara mengenai kinerja APBN sebelum memasuki kuartal terakhir 2026. Pemerintah akan terus memantau perkembangan penerimaan, terutama dari perpajakan, kepabeanan, cukai, serta penerimaan negara bukan pajak. Di sisi lain, penyerapan belanja juga akan diarahkan agar tetap efektif dan mendukung berbagai program prioritas nasional.

Pernyataan Menteri Keuangan itu juga menegaskan pentingnya melihat realisasi anggaran berdasarkan konteks keseluruhan tahun, bukan hanya dari selisih pendapatan dan belanja pada satu periode. Perubahan kondisi ekonomi, kebutuhan pembiayaan program pemerintah, serta dinamika penerimaan negara dapat memengaruhi posisi APBN hingga akhir tahun. Karena itu, capaian sampai September menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat pengelolaan anggaran pada sisa tahun 2026.

Hingga akhir September 2026, pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.341,5 triliun. Realisasi tersebut menunjukkan jumlah penerimaan yang telah dihimpun pemerintah selama periode berjalan sampai dengan penghujung kuartal ketiga tahun anggaran 2026. Nilai ini menjadi gambaran capaian pendapatan negara dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan untuk keseluruhan tahun.

Jika dibandingkan dengan target pendapatan negara dalam satu tahun, realisasi sebesar Rp2.341,5 triliun setara dengan 74,2 persen. Artinya, dari keseluruhan target tahunan, hampir tiga perempatnya telah terealisasi hingga akhir September. Persentase tersebut menempatkan capaian pendapatan pada tingkat yang mencerminkan bagian signifikan dari sasaran pendapatan selama satu tahun anggaran.

Hubungan nilai realisasi dan persentase target memperlihatkan bahwa angka Rp2.341,5 triliun bukan merupakan target penuh untuk tahun 2026, melainkan bagian yang telah dicapai hingga September. Dengan porsi 74,2 persen, realisasi tersebut diukur terhadap target pendapatan negara untuk periode satu tahun, sehingga masih terdapat bagian target tahunan yang belum tercatat sebagai realisasi pada akhir September. Data ini menyajikan posisi capaian pendapatan negara berdasarkan perbandingan langsung jumlah yang terealisasi dan target tahunan.

Realisasi belanja negara hingga September 2026 tercatat sebesar Rp2.660,5 triliun. Angka tersebut menunjukkan nilai belanja yang telah direalisasikan selama periode berjalan dalam pelaksanaan anggaran negara. Secara nominal, jumlah ini menjadi gambaran utama mengenai pelaksanaan APBN sampai dengan September 2026. Penyajian angka belanja ini berdiri sendiri dan tidak menggabungkan nilainya dengan realisasi pendapatan negara.

Dari sisi persentase, realisasi belanja negara tersebut telah mencapai 69,2 persen dari pagu anggaran. Persentase ini menunjukkan perbandingan belanja yang sudah terealisasi dan total anggaran belanja yang ditetapkan untuk tahun berjalan. Dengan demikian, capaian 69,2 persen memberikan ukuran proporsional atas pelaksanaan belanja negara hingga periode September 2026.

Data nominal dan persentase tersebut memperlihatkan dua ukuran yang saling melengkapi. Nilai Rp2.660,5 triliun menggambarkan besaran belanja dalam satuan rupiah, sedangkan angka 69,2 persen menunjukkan posisinya terhadap pagu anggaran. Keduanya mencerminkan realisasi belanja negara pada periode yang sama, tanpa mencampurkan informasi tersebut dengan angka pendapatan yang tercatat dalam APBN.

Realisasi sebesar Rp2.660,5 triliun dan capaian 69,2 persen menjadi bagian penting dalam laporan pelaksanaan APBN hingga September 2026. Informasi ini dapat digunakan untuk melihat perkembangan penyerapan anggaran secara keseluruhan berdasarkan jumlah yang telah dibelanjakan dan proporsinya terhadap pagu. Data tersebut disampaikan sebagai gambaran agregat belanja negara pada periode pelaporan, tanpa memerinci komponen atau bidang penggunaannya.

Pelaksanaan APBN hingga akhir September 2026, menurut Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, masih berada sesuai jalur perencanaan pemerintah. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perkembangan pelaksanaan anggaran sampai periode tersebut tetap mengacu pada arah yang telah ditetapkan dalam perencanaan APBN. Dengan demikian, posisi APBN pada akhir September menjadi gambaran pelaksanaan anggaran sampai dengan periode berjalan, tanpa mengubah acuan perencanaan pemerintah yang telah disusun.

Dalam realisasi hingga September 2026, pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.341,5 triliun. Pada periode yang sama, belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun. Kedua angka tersebut mencerminkan posisi penerimaan dan pengeluaran pemerintah dalam pelaksanaan APBN sampai akhir September. Informasi mengenai pendapatan dan belanja ini menjadi konteks penting untuk memahami perkembangan anggaran pada periode yang telah berjalan.

Pernyataan Suahasil Nazara sekaligus menempatkan data tersebut dalam kerangka pelaksanaan APBN yang tetap berjalan sesuai jalur perencanaan pemerintah. Penegasan itu merujuk pada kondisi anggaran hingga akhir September 2026, sebagaimana tercermin dari realisasi pendapatan sebesar Rp2.341,5 triliun dan belanja sebesar Rp2.660,5 triliun. Oleh karena itu, penutupan periode September menunjukkan posisi realisasi APBN pada saat tersebut, sementara arah pelaksanaannya tetap sebagaimana perencanaan pemerintah yang disampaikan.