JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, Pasar Nangka Bungur di Kemayoran, Jakarta Pusat, tampak lengang berdasarkan pantauan pada Rabu, 7 Oktober 2026. Sejak memasuki area pasar, suasana yang terlihat berbeda dari gambaran pusat perdagangan yang ramai. Lorong-lorong di deretan kios tampak didominasi pintu besi yang tertutup rapat. Sebagian pintu masih memperlihatkan papan nama atau sisa tanda dagangan, tetapi tidak ada aktivitas dari balik banyak kios tersebut.
Di dalam pasar, suara tawar-menawar hanya terdengar sesekali dan tidak memenuhi lorong seperti lazimnya suasana jual beli. Langkah pengunjung terdengar lebih jelas karena sebagian besar area tidak dipadati pembeli maupun pedagang. Beberapa bagian lorong tampak kosong, dengan kios-kios berjejer dalam keadaan tertutup dari satu sisi hingga sisi lainnya. Pemandangan itu terlihat berulang di sejumlah titik yang dilewati reporter saat menyusuri area pasar.
Hanya sebagian kecil pedagang yang terlihat membuka tempat usahanya. Berdasarkan pengamatan di lapangan, jumlah kios yang beroperasi diperkirakan sekitar seperempat dari keseluruhan tempat usaha yang tampak di area tersebut. Di kios-kios yang masih buka, pedagang menata barang dagangan dan melayani pembeli yang datang. Aktivitas itu berlangsung terbatas, sementara kios di sekelilingnya tetap tertutup dan tidak menunjukkan kegiatan perdagangan.
Kontras kios yang masih beroperasi dan deretan pintu besi yang terkunci terlihat jelas dari lorong utama hingga bagian dalam pasar. Beberapa pedagang tampak duduk atau berdiri di depan kios masing-masing, sedangkan area lain dibiarkan tanpa aktivitas. Kondisi tersebut membuat suasana Pasar Nangka Bungur pada siang itu terasa sunyi. Dari keseluruhan tempat usaha yang terlihat, bagian terbesar belum membuka pintu, sehingga kegiatan perdagangan hanya berlangsung di sejumlah titik kecil.
Pasar Nangka Bungur mulai memasuki babak baru pada 29 September 2016. Pasar tersebut diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal sebagai Ahok. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya menghadirkan fasilitas perdagangan yang lebih tertata bagi masyarakat di kawasan Nangka Bungur dan sekitarnya.
Bangunan Pasar Nangka Bungur memiliki luas mencapai 1.523 meter persegi. Di dalamnya tersedia kapasitas 163 tempat usaha, yang terdiri atas 127 tempat usaha dan 36 los. Pembagian ruang itu memungkinkan pedagang menempati area sesuai jenis dan skala usaha masing-masing. Fasilitas yang dibangun juga memberikan wajah baru dibandingkan gambaran pasar tradisional yang identik dengan ruang sempit, penataan tidak teratur, atau lingkungan yang kurang terawat.
Pada masa peresmian, kios dan los terlihat ramai diisi pedagang. Aktivitas jual beli mulai berlangsung di dalam bangunan, sementara pembeli turut berdatangan untuk melihat sekaligus berbelanja di pasar yang baru dibuka tersebut. Kondisi bangunan yang lebih modern dan bersih menjadi salah satu hal yang tampak menonjol ketika pasar mulai beroperasi. Suasana itu memperlihatkan optimisme terhadap fungsi pasar sebagai tempat perdagangan sekaligus ruang interaksi warga.
Gambaran tersebut berbeda dengan kondisi yang terlihat belakangan. Area dalam pasar yang pada awalnya dipenuhi kegiatan pedagang dan kunjungan pembeli kini tampak lebih lengang. Pada saat yang sama, aktivitas sejumlah pedagang terlihat berlangsung di tepian jalan sekitar pasar. Perbedaan suasana ketika peresmian pada 2016 dan keadaan terkini menunjukkan adanya perubahan pada pola kegiatan di kawasan tersebut. Perubahan suasana itu menjadi latar penting untuk melihat perjalanan Pasar Nangka Bungur sejak dibuka hingga kondisi yang terpantau sekarang, tanpa terlebih dahulu menarik kesimpulan mengenai faktor yang memengaruhinya.
Berbeda dari suasana di dalam bangunan pasar, sisi jalan di sekitar Pasar Nangka Bungur justru memperlihatkan kegiatan perdagangan yang lebih hidup. Sejumlah pedagang memilih menggelar barang dagangan di ruang terbuka, memanfaatkan tepian jalan yang mudah terlihat oleh pengguna kendaraan maupun pejalan kaki. Meja kayu sederhana, rak seadanya, serta terpal menjadi perlengkapan utama untuk menata dagangan. Di beberapa titik, lapak berkembang menjadi bangunan semi permanen yang memberikan ruang lebih luas bagi pedagang untuk menyimpan dan memajang barang.
Berbagai kebutuhan sehari-hari tampak dijajakan di sepanjang jalur tersebut. Sayuran, buah-buahan, bahan pangan, makanan siap santap, dan keperluan rumah tangga ditawarkan berdekatan dalam jarak yang relatif rapat. Pembeli dapat berhenti sebentar untuk memilih barang, menanyakan harga, atau melakukan transaksi langsung dari tepi jalan. Kondisi ini membuat arus aktivitas berlangsung secara spontan, mengikuti datangnya pelanggan dan pergerakan kendaraan yang melewati kawasan pasar.
Situasi di luar pasar menghasilkan kontras yang jelas dengan lorong-lorong di dalam bangunan. Jika bagian dalam terlihat lengang dengan sejumlah ruang yang tidak terisi, sisi jalan dipenuhi interaksi penjual dan pembeli. Sepeda motor terparkir di dekat lapak, sementara kendaraan lain tetap melintas di jalur yang sama. Percakapan, tawar-menawar, serta kegiatan menata barang membuat kawasan tepian jalan terasa lebih ramai. Perdagangan yang bergeser ke ruang luar tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih berlangsung, meskipun tidak lagi terpusat di dalam bangunan pasar.
Aktivitas perdagangan yang berlangsung di tepian jalan sekitar Pasar Nangka Bungur berdampak langsung pada lebar ruang yang dapat digunakan pengguna jalan. Sejumlah pedagang menata barang dagangan, meja, rak, dan perlengkapan berjualan hingga mendekati badan jalan. Lapak-lapak tersebut mengambil sebagian ruang yang semestinya dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki, sehingga ruas jalan terlihat lebih sempit dibandingkan kondisi ketika tidak ada kegiatan berdagang.
Pejalan kaki yang melintas di kawasan itu tidak selalu memiliki jalur khusus yang cukup untuk berjalan dengan leluasa. Mereka harus berbagi ruang dengan pengendara sepeda motor yang melewati sela-sela lapak dan kerumunan pembeli. Pada beberapa titik, jarak tempat berjualan, kendaraan yang terparkir, dan arus lalu lintas menjadi terbatas. Kondisi ini membuat pergerakan pengguna jalan berlangsung lebih perlahan dan membutuhkan perhatian dari setiap orang yang melintas.
Ketika dua sepeda motor berpapasan, salah satu pengendara biasanya perlu menunggu atau menepi terlebih dahulu agar kendaraan lain dapat lewat. Situasi serupa terjadi saat pejalan kaki berpapasan dengan sepeda motor di bagian jalan yang sama. Keduanya tidak jarang saling menunggu di tengah aktivitas perdagangan, terutama ketika area tersebut sedang dipenuhi pembeli dan barang yang baru dipindahkan oleh pedagang.
Keramaian di tepian jalan juga terlihat dari aktivitas bongkar muat dan transaksi yang berlangsung berdekatan dengan arus lalu lintas. Pembeli berhenti untuk memilih barang, sementara pedagang melayani dari sisi lapak. Pergerakan tersebut menambah kepadatan pada ruang yang sudah terbatas, tanpa mengubah kondisi bagian dalam pasar yang tampak lebih lengang.
Dengan demikian, terdapat perbedaan yang terlihat bagian dalam Pasar Nangka Bungur dan area di sekitarnya. Di dalam pasar, aktivitas pedagang dan pengunjung berlangsung lebih sepi, sedangkan di luar pagar atau bangunan pasar, lapak di sepanjang jalan membuat ruang lintasan menyempit. Pejalan kaki dan pengendara sepeda motor harus berbagi jalur di kegiatan jual beli yang tetap berlangsung.

