Proyeksi 2026: Ponsel Lipat Tumbuh, Smartphone Konvensional Mengalami Tekanan

oleh -78 Dilihat
oleh
Proyeksi 2026: Ponsel Lipat Tumbuh, Smartphone Konvensional Mengalami Tekanan

Jakarta | Industri smartphone global diproyeksikan memasuki fase perlambatan sepanjang 2026. Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, tetapi juga oleh meningkatnya biaya komponen dan melemahnya permintaan konsumen. Ketika harga perangkat baru terus bergerak naik, masyarakat cenderung lebih selektif dalam menentukan waktu pembelian. Konsumen akan membandingkan spesifikasi, daya tahan, dukungan perangkat lunak, serta manfaat nyata yang ditawarkan sebelum mengganti ponsel lama.

Tantangan tersebut terutama dirasakan oleh ponsel konvensional yang mengandalkan pembaruan bertahap. Jika produk baru tidak menghadirkan inovasi yang cukup berarti, seperti peningkatan kamera, kinerja, atau efisiensi baterai yang benar-benar terasa, konsumen memiliki alasan lebih kecil untuk melakukan pembelian. Dalam situasi ini, siklus penggantian perangkat dapat semakin panjang karena pengguna memilih mempertahankan ponsel yang masih berfungsi baik. Tekanan tersebut berpotensi mengubah strategi produsen dalam menetapkan harga dan merancang fitur generasi berikutnya.

Menurut skenario pesimistis yang dikaitkan dengan proyeksi IDC, pasar smartphone global dapat mengalami penurunan hingga 5 persen pada 2026. Pada saat yang sama, harga jual rata-rata perangkat diperkirakan meningkat akibat biaya produksi, distribusi, dan komponen yang lebih mahal. Kombinasi penurunan volume penjualan dan kenaikan harga ini menciptakan persaingan yang lebih ketat, khususnya bagi merek yang belum memiliki diferensiasi kuat atau ekosistem produk yang mendukung.

Kelangkaan chip memori menjadi salah satu faktor penting dalam tekanan biaya tersebut. Komponen ini digunakan bukan hanya pada komputer dan smartphone, melainkan juga pada berbagai peralatan rumah tangga yang semakin terhubung dan cerdas. Keterbatasan pasokan dapat meningkatkan ongkos manufaktur di banyak kategori elektronik. Sejumlah analis sebelumnya bahkan memperkirakan harga ritel perangkat elektronik dapat naik hingga 20 persen. Kondisi itu berpotensi memperkuat kecenderungan konsumen untuk menunda pembelian, memilih model dengan harga lebih terjangkau, atau memperpanjang masa penggunaan perangkat yang sudah dimiliki.

Arah pertumbuhan pasar ponsel pada 2026 diperkirakan semakin terbelah perangkat dengan layar konvensional dan ponsel lipat (foldable). Berdasarkan proyeksi International Data Corporation (IDC), pengiriman ponsel konvensional diperkirakan turun 1,4 persen dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan tekanan pada kategori yang telah matang, ketika konsumen cenderung memperpanjang siklus penggantian dan menunda pembelian di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Sebaliknya, pengiriman ponsel lipat diproyeksikan meningkat 29,7 persen pada tahun yang sama. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa inovasi bentuk dan pengalaman penggunaan menjadi pendorong penting bagi segmen yang masih berkembang.

Peningkatan kategori foldable diperkirakan semakin kuat berkat kehadiran sejumlah produk baru dari produsen utama. Salah satu pemicu yang paling dinantikan adalah iPhone lipat pertama, yang berpotensi memperluas minat konsumen terhadap format tersebut sekaligus membawa perangkat dengan layar fleksibel ke ekosistem pengguna Apple. Di sisi lain, Samsung Galaxy Z Trifold diperkirakan memperkenalkan teknologi layar yang dapat dilipat tiga kali. Desain ini menawarkan area tampilan lebih luas tanpa menghilangkan kemampuan perangkat untuk dilipat menjadi bentuk yang lebih ringkas. Kehadiran kedua produk tersebut dapat mempercepat penerimaan pasar dan mendorong persaingan dalam inovasi perangkat keras.

Nabila Popal, Direktur Riset Senior IDC, menyatakan bahwa pertumbuhan tahunan kategori ponsel lipat pada 2026 diproyeksikan hampir mencapai 30 persen. Angka itu jauh lebih tinggi daripada patokan proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 6 persen, sehingga menunjukkan adanya revisi optimisme terhadap prospek segmen ini. Perkembangan juga diperkirakan terjadi di pasar Huawei. Pengapalan ponsel lipat Huawei yang menggunakan sistem operasi HarmonyOS Next diproyeksikan hampir berlipat ganda pada 2026. Kinerja tersebut dapat memperkuat posisi Huawei di pasar domestik maupun meningkatkan persaingan global, terutama jika perusahaan mampu menggabungkan perangkat lunak, desain layar, dan layanan ekosistem secara konsisten.

Produsen besar diperkirakan memegang peran penting dalam memperluas pasar ponsel lipat pada 2026. Samsung menjadi salah satu pemain yang paling siap mempertahankan momentum tersebut. Perusahaan ini diproyeksikan mengawali tahun dengan memperkenalkan Galaxy Z Trifold, setelah memperoleh perhatian pasar melalui Galaxy Z Fold7 yang diluncurkan pada 2025. Kehadiran perangkat dengan desain lipat tiga dapat memperkaya pilihan konsumen sekaligus memperkuat posisi Samsung di segmen premium.

Strategi Samsung tidak hanya berkaitan dengan penambahan model, tetapi juga dengan upaya menjadikan teknologi layar fleksibel lebih relevan bagi kebutuhan penggunaan sehari-hari. Setiap generasi baru berpotensi memperbaiki daya tahan, desain, perangkat lunak, dan pengalaman multitugas. Perkembangan tersebut dapat membantu mengurangi keraguan konsumen terhadap ponsel lipat, meskipun harga dan ketahanan perangkat masih menjadi pertimbangan utama sebelum pembelian.

Perhatian yang lebih besar diperkirakan muncul ketika Apple memasuki kategori ini melalui ponsel lipat pertamanya. Francisco Jeronimo, Vice President untuk Perangkat Klien IDC, menilai langkah Apple dapat membuka babak baru bagi pasar ponsel lipat. Menurut pandangan tersebut, Apple cenderung berperan sebagai katalis bagi adopsi kategori produk baru. Ekosistem, kekuatan merek, dan jangkauan distribusinya dapat mendorong konsumen mainstream untuk mulai mempertimbangkan perangkat yang sebelumnya dianggap khusus.

Meski demikian, ponsel lipat diperkirakan masih menjadi segmen khusus jika diukur berdasarkan volume penjualan. Pertumbuhan minat tidak serta-merta menjadikannya pengganti langsung bagi smartphone konvensional. Nilai ekonominya tetap menarik bagi produsen karena harga jual rata-rata ponsel lipat diproyeksikan dapat mencapai tiga kali lipat dibandingkan ponsel standar. Dengan demikian, Samsung dan Apple berpotensi mendorong perluasan adopsi sekaligus menjadikan kategori tersebut sebagai sumber pertumbuhan nilai bagi vendor yang menawarkannya.

Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu tantangan utama bagi produsen smartphone. Banyak pengguna kini mempertahankan perangkat lebih lama karena peningkatan kinerja pada model baru sering dianggap tidak cukup signifikan untuk membenarkan biaya penggantian. Daya tahan perangkat yang semakin baik, dukungan pembaruan perangkat lunak yang lebih panjang, serta kondisi ekonomi global turut memperpanjang siklus penggantian. Situasi ini membuat pasar smartphone konvensional menghadapi tekanan, terutama ketika konsumen menilai perangkat yang digunakan masih mampu memenuhi kebutuhan komunikasi, produktivitas, hiburan, dan fotografi.

Siklus penggantian yang memanjang mendorong perusahaan menghadirkan inovasi yang lebih kuat dan mudah dirasakan agar pembelian perangkat baru kembali menarik. Peningkatan kamera, prosesor, atau kapasitas baterai saja mungkin tidak selalu cukup di tengah pasar yang mulai jenuh. Karena itu, ponsel lipat dipandang sebagai salah satu kategori yang dapat menciptakan pengalaman berbeda melalui layar lebih luas, desain yang lebih fleksibel, dan bentuk perangkat yang berpotensi menggantikan fungsi ponsel serta tablet. Berdasarkan proyeksi IDC, kategori ponsel lipat diperkirakan mencatat tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 17 persen hingga 2029. Angka tersebut jauh melampaui pertumbuhan ponsel konvensional yang diperkirakan kurang dari 1 persen pada periode yang sama.

Prospek persaingan sistem operasi juga menunjukkan perubahan penting dalam segmen tersebut. Untuk pasar ponsel lipat pada 2026, proyeksi pangsa sistem operasi menempatkan Android di posisi terbesar dengan 61 persen, disusul Apple sebesar 22 persen dan HarmonyOS Next sebesar 17 persen. Komposisi ini menggambarkan peluang pertumbuhan bagi berbagai ekosistem, sekaligus menunjukkan bahwa persaingan tidak hanya ditentukan oleh spesifikasi perangkat, tetapi juga layanan, aplikasi, dan integrasi antarpiranti. Seluruh angka tersebut masih berupa proyeksi, sehingga dapat berubah mengikuti perkembangan industri, strategi produsen, penerimaan konsumen, serta kondisi pasar global.