Kota Padang | Banjir bandang menerjang Kampung Apa dan Perumahan Lumin Park di Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat. Arus air yang datang secara tiba-tiba membawa material lumpur dan menutupi sejumlah bagian permukiman. Setelah air mulai surut, puluhan rumah masih terdampak endapan lumpur tebal yang masuk ke halaman, ruang depan, hingga bagian dalam bangunan.
Genangan yang bercampur lumpur menyulitkan warga untuk kembali menjalankan aktivitas sehari-hari. Perabotan rumah tangga, kendaraan, serta berbagai barang milik warga ikut terkena material banjir. Sebagian warga harus membersihkan rumah secara bertahap karena lumpur yang mengering menjadi lebih berat untuk diangkat. Akses di beberapa titik permukiman juga terganggu oleh tumpukan tanah, sampah, dan material lain yang terbawa arus.
Untuk mempercepat pemulihan, ratusan personel gabungan kepolisian bersama masyarakat melakukan gotong royong di lokasi terdampak. Mereka membersihkan lumpur dari rumah dan jalan lingkungan menggunakan peralatan manual maupun perlengkapan pendukung lainnya. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membuka kembali akses warga, mengurangi risiko penyakit, serta membantu keluarga yang mengalami kerusakan paling parah.
Dalam peristiwa ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Kendati demikian, dampak langsung banjir masih dirasakan warga karena genangan dan endapan lumpur belum sepenuhnya tertangani. Selain membersihkan lingkungan, warga juga menyoroti sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) yang disebut tidak berfungsi ketika banjir bandang terjadi. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran karena masyarakat membutuhkan informasi dan peringatan yang cepat untuk menyelamatkan diri serta mengamankan barang-barang penting sebelum arus datang.
Penanganan pascabanjir masih diperlukan agar rumah-rumah dapat segera dihuni kembali dengan aman. Warga berharap pembersihan berlangsung berkelanjutan, sementara evaluasi terhadap sistem peringatan dini dilakukan untuk mengurangi risiko kejadian serupa di masa mendatang.
Kekecewaan warga terhadap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengemuka setelah banjir bandang menerjang permukiman di Lubuk Minturun, Kota Padang. Warga menyoroti alat pendeteksi dini banjir atau early warning system (EWS) yang tidak berfungsi ketika air bah datang. Padahal, keberadaan perangkat tersebut diharapkan dapat memberikan waktu bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri, mengamankan barang-barang penting, dan menuju tempat yang lebih tinggi.
Sejumlah warga mengaku terkejut karena tidak mendengar sirene peringatan sebelum banjir masuk ke kawasan permukiman. Mereka sebelumnya memahami bahwa sirene akan berbunyi sebagai tanda adanya ancaman banjir. Namun, saat arus deras mulai menerjang, sirene tidak menyala. Kondisi tersebut membuat sebagian warga tidak sempat meninggalkan rumah dan terjebak ketika ketinggian air meningkat dengan cepat.
Pengalaman itu dirasakan Liza Febria, salah seorang warga yang berada di dalam rumah saat banjir datang. Ia mengaku harus bertahan selama sekitar dua jam di tengah kepungan air sebelum akhirnya diselamatkan oleh tim SAR. Menurut Liza, tidak adanya peringatan membuat warga baru menyadari bahaya setelah air sudah masuk dan arus menjadi semakin kuat.
Situasi tersebut memperbesar kepanikan di tengah warga, terutama bagi keluarga yang memiliki anak-anak, lansia, atau anggota keluarga yang membutuhkan bantuan. Warga berharap BPBD segera memberikan perhatian terhadap fungsi sistem peringatan dini di lokasi itu. Bagi mereka, sirene bukan sekadar fasilitas pelengkap, melainkan sarana penting untuk menyampaikan informasi secara cepat ketika banjir mengancam. Kekecewaan warga muncul karena alat yang seharusnya menjadi tanda awal tersebut tidak memberikan peringatan saat paling dibutuhkan. Mereka juga berharap kejadian serupa tidak kembali terulang, sehingga masyarakat dapat memperoleh kesempatan untuk melakukan evakuasi sebelum air bah mencapai rumah-rumah.
Warga yang telah dievakuasi dari kawasan permukiman Lubuk Minturun masih membutuhkan dukungan logistik darurat. Kebutuhan paling mendesak meliputi pakaian bayi, selimut, makanan siap santap, serta air bersih untuk memenuhi keperluan keluarga yang meninggalkan rumah dalam kondisi tergesa-gesa. Sebagian warga hanya membawa barang seperlunya ketika air mulai memasuki rumah dan arus sungai semakin kuat. Bantuan tersebut diperlukan di lokasi pengungsian agar bayi, anak-anak, lansia, dan kelompok rentan tetap memperoleh perlindungan selama proses penanganan berlangsung.
Hujan deras yang mengguyur Kota Padang pada Sabtu menyebabkan debit Sungai Lubuk Minturun meluap drastis. Air dengan cepat menggenangi permukiman dan mengubah sejumlah akses lingkungan menjadi jalur berarus deras. Kondisi ini menyulitkan warga untuk menyelamatkan diri secara mandiri, terutama mereka yang tinggal di bagian rendah atau berada dekat bantaran sungai. Genangan dan arus juga meningkatkan risiko terseret, sehingga warga diminta mengikuti arahan petugas serta tidak kembali ke rumah sebelum situasi dinyatakan aman.
Tim gabungan yang terdiri atas Polri, TNI, BPBD, Kantor SAR Padang, dan relawan dikerahkan untuk mempercepat evakuasi. Ratusan warga dipindahkan menggunakan perahu karet dari titik-titik yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Petugas mendahulukan bayi, anak-anak, perempuan, lansia, dan warga yang membutuhkan bantuan khusus. Proses pemindahan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kekuatan arus, kondisi cuaca, serta keselamatan penumpang dan awak perahu.
Untuk mengurangi risiko warga terseret arus deras, petugas juga memasang tali pengaman pada pohon dan tiang listrik di sepanjang jalur evakuasi. Tali tersebut digunakan sebagai pegangan dan pembatas ketika warga maupun petugas melintasi area yang tergenang. Pemasangan dilakukan dengan memperhatikan kestabilan titik ikat dan kondisi jaringan listrik di sekitar lokasi. Di tengah evakuasi, ketersediaan logistik tetap menjadi perhatian penting karena warga membutuhkan tempat berlindung, makanan, air bersih, pakaian bayi, dan selimut hingga banjir surut serta akses menuju permukiman kembali aman.
Penanganan pascabanjir di Lubuk Minturun terus dilakukan setelah air mulai berangsur surut sejak Sabtu malam. Meski genangan tidak lagi setinggi saat banjir bandang menerjang permukiman, warga masih diminta berhati-hati dan belum seluruhnya diperbolehkan kembali ke rumah. Petugas bersama masyarakat melakukan pemantauan terhadap kondisi lingkungan, terutama di area yang masih berlumpur, terdampak arus deras, atau berpotensi kembali tergenang apabila hujan turun.
Kapolda Sumatra Barat Irjen Pol Jawari turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi warga dan memastikan proses pengamanan berjalan. Dalam peninjauan tersebut, ia menyampaikan bahwa kepolisian telah mengerahkan ratusan anggota untuk menjaga rumah-rumah warga yang ditinggalkan selama mengungsi. Pengamanan dilakukan untuk mencegah terjadinya pencurian maupun gangguan lain ketika pemilik rumah masih berada di lokasi pengungsian.
Irjen Pol Jawari menyatakan, sebanyak 250 personel disiapkan untuk menjaga kawasan terdampak. Pengerahan tersebut diharapkan membuat warga tidak perlu khawatir terhadap keamanan barang-barang yang ditinggalkan maupun kondisi tempat tinggal mereka. Petugas juga membantu mengatur mobilitas warga, memantau titik rawan, serta berkoordinasi dengan unsur pemerintah daerah dan relawan dalam memenuhi kebutuhan selama masa pemulihan.
Untuk sementara, warga terdampak ditempatkan di dua posko pengungsian utama. Sebagian pengungsi menempati fasilitas ibadah, seperti masjid atau musala setempat, yang digunakan sebagai tempat berlindung sekaligus pusat pendataan dan distribusi bantuan. Posko lainnya berupa tenda darurat yang didirikan di kawasan Guo. Di kedua lokasi itu, kebutuhan dasar warga terus dihimpun, sementara petugas memantau kesehatan, keselamatan, dan kemungkinan evakuasi lanjutan.
Dengan surutnya air, warga berharap pembersihan rumah dan fasilitas umum dapat segera dilakukan. Namun, kepulangan tetap menunggu hasil pemeriksaan keamanan bangunan serta situasi cuaca. Pemerintah, kepolisian, relawan, dan masyarakat masih bekerja bersama agar proses pemulihan berlangsung tertib, sekaligus memastikan seluruh warga memperoleh perlindungan hingga kondisi permukiman benar-benar aman untuk dihuni kembali.
Baca juga: Warga Lubuk Minturun Bersihkan Rumah dari Sisa Lumpur Banjir Bandang | Banjir Bandang Rendam 120 Rumah di Padang, 498 Warga Terdampak | Banjir Bandang Rendam Dua Kecamatan di Padang, Evakuasi Warga Diprioritaskan







