Bayi 28 Hari di Surabaya Meninggal, IDAI Jelaskan Risiko Telur Mentah dan Aturan MPASI

oleh -161 Dilihat
oleh
Bayi Alena Meninggal pada Usia 28 Hari Setelah Sempat Kritis di RSUD Dr Soetomo

Surabaya | Kabar duka datang dari Surabaya setelah Alena, bayi berusia 28 hari, dilaporkan meninggal dunia. Sebelumnya, bayi tersebut berada dalam kondisi kritis dan mendapat perawatan. Informasi mengenai keadaannya ramai dibicarakan di media sosial setelah sejumlah warganet membagikan unggahan terkait kondisi Alena serta meminta doa untuk kesembuhannya. Peristiwa ini kemudian menarik perhatian publik karena menyangkut kesehatan bayi baru lahir dan berbagai praktik penanganan demam yang masih dilakukan di lingkungan keluarga.

Salah satu informasi yang beredar berasal dari akun Threads @calisthaarisha. Pemilik akun tersebut mengaku sebagai tante Alena dan menyebut bahwa bayi itu diduga pernah diberi telur mentah oleh neneknya. Menurut unggahan yang beredar, tindakan tersebut dilakukan dengan tujuan menurunkan demam. Namun, informasi itu perlu dipahami secara hati-hati karena berasal dari unggahan media sosial dan menggunakan keterangan dugaan. Tidak terdapat pernyataan yang memastikan bahwa pemberian telur mentah menjadi penyebab kondisi kritis atau kematian Alena.

Akun tersebut kemudian mengabarkan bahwa Alena telah meninggal dunia. Dalam unggahannya, keluarga juga menyampaikan terima kasih kepada warganet yang telah memberikan doa dan perhatian selama bayi itu berada dalam kondisi kritis. Kabar ini menimbulkan keprihatinan sekaligus mengingatkan pentingnya mencari pertolongan medis ketika bayi mengalami demam atau perubahan kondisi kesehatan. Pada bayi baru lahir, langkah penanganan sebaiknya mengikuti arahan tenaga kesehatan, bukan berdasarkan kebiasaan atau saran yang belum terbukti aman. Karena penyebab kematian Alena tidak dinyatakan secara pasti dalam sumber informasi tersebut, publik perlu menghindari kesimpulan terburu-buru dan tidak menyebarkan klaim sebab-akibat tanpa dasar medis maupun keterangan resmi.

RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengonfirmasi bahwa Alena sempat menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Keterangan ini disampaikan untuk memastikan informasi mengenai keberadaan pasien selama memperoleh pelayanan medis di fasilitas kesehatan milik pemerintah tersebut. Pihak rumah sakit tidak menyampaikan diagnosis maupun penyebab medis terkait kondisi Alena dalam keterangan yang tersedia.

Selama menjalani perawatan, tim medis RSUD Dr. Soetomo memberikan penanganan secara maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien. Penanganan dilakukan oleh tenaga kesehatan berdasarkan kondisi pasien serta prosedur pelayanan yang berlaku di rumah sakit. Informasi tersebut menjadi bagian dari penjelasan resmi mengenai layanan yang diterima Alena selama berada di RSUD Dr. Soetomo.

Kepala Bagian Umum RSUD Dr. Soetomo, Robeth Jabbar, menyampaikan bahwa Alena dinyatakan meninggal pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 07.10 WIB. Pada saat itu, Alena berusia 28 hari. Pernyataan tersebut memuat waktu dan usia pasien ketika meninggal, tanpa menjelaskan diagnosis atau faktor medis yang mendasarinya.

RSUD Dr. Soetomo menegaskan bahwa informasi mengenai perawatan dan waktu meninggal disampaikan berdasarkan catatan serta keterangan dari pihak rumah sakit. Dengan demikian, pembahasan mengenai kasus Alena perlu merujuk pada data yang telah dikonfirmasi, tanpa menarik kesimpulan tambahan mengenai penyebab medis atau kronologi yang tidak tercantum dalam sumber resmi. Keterangan rumah sakit juga tidak memuat rincian lain di luar pelayanan yang diberikan dan waktu pasien dinyatakan meninggal.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta aspek keamanan pangan. Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menjelaskan bahwa setiap bayi memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kemampuan bayi menerima makanan, bukan hanya berpatokan pada usia, serta berkonsultasi dengan dokter apabila terdapat kondisi medis tertentu.

Selama enam bulan pertama kehidupan, air susu ibu (ASI) eksklusif tetap menjadi anjuran utama. ASI menyediakan zat gizi dan komponen imun yang penting bagi pertumbuhan bayi. Selama periode tersebut, bayi pada umumnya tidak memerlukan makanan atau minuman tambahan, termasuk air putih, kecuali terdapat indikasi medis. Apabila ASI tidak dapat diberikan, susu formula bayi dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan, kondisi kesehatan, dan indikasi medis. Pemilihannya sebaiknya dibahas bersama tenaga kesehatan agar jenis serta cara pemberiannya tepat.

Makanan pendamping ASI (MPASI) umumnya direkomendasikan mulai usia enam bulan. Pada tahap ini, bayi perlu menunjukkan tanda kesiapan perkembangan, seperti mampu duduk dengan dukungan, memiliki kontrol kepala yang baik, tertarik pada makanan, dan dapat mengoordinasikan gerakan tangan serta mulut. MPASI harus diberikan dengan tekstur dan porsi yang berkembang secara bertahap, sekaligus memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral bayi.

Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan atau 17 minggu, tetapi keputusan tersebut harus berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi. Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan karena sistem pencernaan dan kemampuan menelan bayi belum tentu siap. Sementara itu, pemberian sejak usia empat bulan bukan rekomendasi rutin untuk semua bayi. Orang tua perlu mengutamakan keamanan pangan, menghindari bahan berisiko, serta mengikuti petunjuk tenaga kesehatan ketika mulai memperkenalkan makanan baru.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa telur mentah dan telur setengah matang tidak sesuai diberikan kepada bayi. Kedua sajian tersebut dapat mengandung bakteri Salmonella, terutama apabila telur tidak disimpan, ditangani, atau dimasak dengan benar. Bakteri ini dapat menyebabkan salmonelosis, yaitu infeksi pada saluran cerna yang berpotensi menimbulkan diare, demam, nyeri perut, muntah, serta dehidrasi.

Pada bayi dan anak kecil, infeksi Salmonella dapat berlangsung lebih berat karena sistem kekebalan tubuh dan kemampuan mereka untuk mempertahankan keseimbangan cairan belum berkembang sempurna. Kehilangan cairan akibat diare atau muntah dapat terjadi dengan cepat. Dalam kondisi tertentu, infeksi juga dapat menyebar dan menimbulkan komplikasi serius sehingga membutuhkan penanganan medis. Orang tua perlu segera berkonsultasi apabila bayi menunjukkan muntah berulang, diare, demam, tampak sangat lemas, sulit minum, atau jumlah buang air kecil berkurang.

Tidak ada keuntungan gizi dari telur mentah atau setengah matang yang dapat membenarkan risiko tersebut. Ketika bayi telah mencapai usia sekitar enam bulan dan menunjukkan kesiapan untuk menerima makanan pendamping ASI (MPASI), telur matang dapat diperkenalkan sebagai sumber protein berkualitas tinggi. Telur juga mengandung berbagai zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhan, tetapi harus dimasak hingga bagian putih dan kuningnya matang sempurna. Sajikan dalam tekstur yang sesuai dengan kemampuan makan bayi, misalnya dihaluskan atau dicincang lembut, tanpa tambahan garam berlebihan. Perkenalkan dalam porsi kecil dan perhatikan kemungkinan reaksi alergi, sambil menjaga kebersihan tangan, peralatan, serta bahan makanan selama proses pengolahan.

Baca juga: Bayi Alena Meninggal Setelah Diduga Diberi Telur Mentah, Dokter Jelaskan Risikonya | Kasus Bayi Alena Soroti Risiko Pemberian Telur Mentah pada Bayi | Bayi Alena Meninggal Setelah Dirawat Intensif, Dugaan Pemberian Telur Mentah Jadi Sorotan