Jakarta | Presiden Prabowo Subianto mengarahkan agar upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) segera memprioritaskan wilayah Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Arahan tersebut disampaikan dalam rapat terbatas yang berlangsung di Istana Kepresidenan Republik Indonesia, Jakarta, pada Senin sore. Keputusan itu menempatkan Tanjung Puting sebagai lokasi utama dalam penanganan karhutla, sebelum langkah pemadaman diperluas ke kawasan lain yang terdampak.
Setelah Taman Nasional Tanjung Puting, prioritas pemadaman diarahkan ke daerah-daerah lain di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Penetapan urutan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memperhatikan tingkat urgensi perlindungan kawasan hutan, sekaligus memastikan sumber daya penanggulangan kebakaran dikerahkan secara terarah. Pemadaman tidak hanya ditujukan untuk mengurangi dampak asap dan kerusakan lahan, tetapi juga untuk mencegah api meluas ke wilayah konservasi serta mengancam ekosistem yang berada di dalamnya.
Tanjung Puting mendapat perhatian khusus karena kawasan ini merupakan pusat konservasi dan rehabilitasi orang utan (Pongo pygmaeus) terbesar di dunia. Perlindungan terhadap kawasan tersebut berarti menjaga habitat, sumber pakan, serta ruang hidup satwa yang memiliki status penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menjelaskan bahwa kawasan taman nasional perlu dilindungi karena menjadi habitat satwa. Oleh sebab itu, penanganan karhutla di Tanjung Puting dipandang sebagai langkah mendesak untuk memastikan keselamatan orang utan dan satwa lainnya, sekaligus mempertahankan fungsi konservasi taman nasional. Arahan Presiden menjadi dasar bagi koordinasi pemadaman yang lebih cepat dan berfokus pada kawasan dengan nilai ekologis tinggi.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini lebih banyak dilakukan melalui jalur darat. Penjelasan tersebut disampaikan Dudung setelah rapat pada Senin malam, ketika kondisi kabut asap di sejumlah daerah dinilai cukup tebal untuk membatasi operasi dari udara. Jarak pandang yang tidak aman menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode pemadaman. Dengan kondisi itu, pengerahan personel dan upaya pemadaman di lapangan menjadi bagian yang lebih dominan dalam operasi.
Dudung menjelaskan bahwa laporan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memang menyebut operasi helikopter telah dilaksanakan. Namun, kegiatan melalui udara belum menjadi tumpuan utama dalam keseluruhan penanganan. Kabut asap yang pekat membuat penerbangan menghadapi keterbatasan jarak pandang, sehingga pelaksanaan pemadaman perlu mempertimbangkan faktor keselamatan serta kondisi operasional yang tersedia.
Selain kendala jarak pandang, sejumlah titik kebakaran juga sulit dijangkau dari udara. Keadaan tersebut membuat penanganan di darat tetap diperlukan untuk menjangkau area yang belum dapat ditangani secara efektif melalui penerbangan. Oleh karena itu, operasi pemadaman berjalan dengan mengutamakan pendekatan darat, sementara dukungan dari udara dilakukan sesuai kondisi yang memungkinkan. Penjelasan ini menunjukkan bahwa strategi pemadaman disesuaikan dengan situasi lapangan, khususnya ketebalan kabut asap dan tingkat keamanan penerbangan. Arahan untuk memprioritaskan penanganan karhutla tetap dijalankan dengan memperhatikan kemampuan akses menuju area terdampak serta keselamatan dalam setiap kegiatan operasi.
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Tanjung Puting terus melibatkan personel gabungan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), serta para relawan. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diarahkan untuk memperkuat penanganan di lapangan, terutama pada area yang memiliki tingkat kerawanan dan akses yang berbeda. Setiap unsur menjalankan peran sesuai kapasitasnya, mulai dari pemadaman langsung, dukungan logistik, pemantauan titik api, hingga membantu masyarakat yang terdampak.
Dengan dukungan personel, peralatan, dan koordinasi lintas instansi, petugas gabungan memiliki kapasitas maksimal untuk menjangkau area hingga 692 hektare setiap hari. Angka tersebut menjadi gambaran kemampuan operasi dalam melakukan penanganan pada wilayah yang luas, meskipun capaian di lapangan tetap dipengaruhi kondisi cuaca, medan, sumber air, serta perkembangan titik api. Karena itu, pengerahan pasukan dan sarana pemadaman dilakukan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan prioritas lokasi dan kebutuhan operasi.
Penanganan karhutla juga terus diupayakan melalui operasi mitigasi. Langkah ini mencakup pemantauan, pencegahan perluasan api, penguatan koordinasi, serta penyesuaian strategi berdasarkan laporan terbaru dari lapangan. Dalam pengendalian cuaca, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut dilibatkan untuk menyediakan informasi dan dukungan yang relevan bagi pelaksanaan operasi. Keterpaduan pemadaman langsung, mitigasi, dan pengendalian cuaca diharapkan dapat mempercepat penanganan kebakaran di Tanjung Puting, tanpa mengabaikan kebutuhan untuk terus memantau kondisi dan merespons perubahan situasi.
Rapat terbatas tersebut dihadiri secara langsung oleh Dudung bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kehadiran langsung itu mencakup unsur pertahanan, TNI, kepolisian, kementerian, serta sekretariat kabinet sebagaimana tercantum dalam rapat.
Melalui konferensi video, rapat diikuti Kepala Staf Angkatan Darat atau KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut atau KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali, dan Kepala Staf Angkatan Udara atau KSAU Marsekal TNI M. Tonny Harjono. Ketiganya mengikuti rapat dari jarak jauh dengan bentuk kehadiran melalui konferensi video, bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.
Selain para pejabat tersebut, konferensi video juga diikuti sejumlah pangdam, kapolda, dan gubernur dari wilayah yang mengalami karhutla. Dengan demikian, pihak yang mengikuti rapat terdiri atas peserta yang hadir langsung bersama Dudung serta peserta yang mengikuti melalui konferensi video. Peserta langsung meliputi Sjafrie Sjamsoeddin, Agus Subiyanto, Suyudi Ario Seto, Prasetyo Hadi, dan Teddy Indra Wijaya, sedangkan peserta melalui konferensi video meliputi Maruli Simanjuntak, Muhammad Ali, M. Tonny Harjono, Suharyanto, serta sejumlah pangdam, kapolda, dan gubernur dari wilayah terdampak karhutla.
Baca juga: Prabowo Perkuat Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan | Penanganan Karhutla Indonesia: Pemadaman Melampaui 80 Persen di Tengah Ancaman Asap | Arahan Prabowo Percepat Penanganan Karhutla, Kalteng dan Sumsel Jadi Fokus







