Jakarta | Seorang anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta mengalami luka setelah diserang oleh sejumlah pekerja proyek di kawasan kolam renang Bulungan, Jakarta Selatan. Peristiwa tersebut terjadi ketika petugas melakukan penertiban terhadap kendaraan yang berada di trotoar. Penertiban itu diduga berujung pada keributan petugas dan pekerja proyek di lokasi.
Akibat penyerangan tersebut, anggota Satpol PP mengalami luka pada bagian kepala. Korban harus mendapatkan enam jahitan untuk menangani luka yang dideritanya. Setelah kejadian, korban dibawa ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) Kelurahan Selong untuk memperoleh perawatan medis. Kondisi korban kemudian menjadi bagian dari penanganan perkara yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
Berdasarkan keterangan korban yang disampaikan kepada polisi, serangan diduga dilakukan menggunakan helm proyek. Benda tersebut disebut digunakan saat terjadi penyerangan, sehingga menyebabkan korban mengalami luka dan membutuhkan tindakan medis. Polisi masih mendalami rangkaian kejadian, termasuk pemicu keributan serta peran pihak-pihak yang berada di lokasi ketika insiden berlangsung.
Jumlah pasti orang yang terlibat dalam penyerangan belum dapat dipastikan oleh polisi. Karena itu, informasi mengenai pelaku masih menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan terhadap saksi maupun pihak terkait. Petugas kepolisian juga perlu mengumpulkan keterangan tambahan untuk memastikan kronologi, mengidentifikasi para pihak yang diduga terlibat, serta menentukan langkah hukum berikutnya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa penertiban kendaraan di ruang publik dapat berkembang menjadi konflik apabila tidak diikuti komunikasi yang memadai. Meski demikian, penyebab dan tanggung jawab dalam insiden tersebut tetap harus ditentukan berdasarkan bukti serta hasil penyelidikan resmi. Penanganan medis terhadap korban dan proses pemeriksaan oleh kepolisian kini berjalan secara terpisah sesuai kewenangan masing-masing.
Kericuhan tersebut bermula dari kegiatan penertiban kendaraan yang diparkir di trotoar. Sebelum terjadi pengeroyokan terhadap anggota Satpol PP, petugas Dinas Perhubungan bersama Satpol PP terlebih dahulu melakukan penertiban terhadap kendaraan yang berada di area tersebut. Langkah itu menjadi awal rangkaian peristiwa yang kemudian berkembang menjadi keributan.
Kanit Reskrim Polsek Metro Kebayoran Baru AKP Andre Jr Simamora menjelaskan bahwa kendaraan yang ditertibkan seluruhnya merupakan milik pekerja proyek. Keterangan tersebut disampaikan Andre kepada wartawan pada Selasa, 13 Oktober 2026. Ia menyampaikannya ketika menjawab pertanyaan mengenai kepemilikan sepeda motor yang sebelumnya ditertibkan oleh petugas.
Menurut keterangan kepolisian, status kepemilikan kendaraan itu menjadi bagian penting dalam memahami pemicu kericuhan. Penertiban yang dilakukan petugas menyasar kendaraan milik pekerja proyek yang diparkir di trotoar. Setelah tindakan tersebut berlangsung, muncul reaksi yang kemudian menyebabkan situasi menjadi tidak kondusif dan berujung pada pengeroyokan terhadap anggota Satpol PP.
Andre tidak menyebutkan adanya informasi lain mengenai kepemilikan kendaraan selain bahwa seluruh kendaraan yang ditertibkan merupakan milik pekerja proyek. Karena itu, keterangan tersebut menjadi dasar penjelasan awal mengenai hubungan penertiban kendaraan di trotoar dan kericuhan yang terjadi. Polisi masih menjadikan rangkaian kejadian itu sebagai bagian dari penanganan perkara, sementara informasi mengenai kendaraan yang ditertibkan merujuk pada penjelasan yang disampaikan kepada wartawan.
Eskalasi terjadi setelah anggota Satpol PP menertibkan kendaraan yang diparkir atau berhenti di area trotoar. Berdasarkan keterangan yang disampaikan kepolisian, penertiban tersebut kemudian berujung pada dugaan pengeroyokan terhadap petugas. Sejumlah pekerja proyek disebut seketika mendatangi dan menyerang anggota Satpol PP yang sedang menjalankan tugasnya.
Kasat Reskrim Polres Bulungan AKP Andre mengatakan, berdasarkan keterangan korban, helm proyek digunakan dalam penyerangan tersebut. Informasi itu masih bersumber dari keterangan korban dan belum menjadi kesimpulan akhir mengenai seluruh rangkaian peristiwa. Polisi masih perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk mengumpulkan keterangan saksi serta bukti pendukung untuk menjelaskan bagaimana serangan berlangsung.
AKP Andre juga menyampaikan bahwa pelaku dalam peristiwa tersebut sampai saat ini belum teridentifikasi. Polisi belum dapat memastikan siapa saja pekerja yang diduga terlibat dalam pengeroyokan terhadap anggota Satpol PP. Identitas para terduga pelaku masih dalam proses penelusuran, sehingga belum ada kepastian mengenai jumlah maupun peran masing-masing orang yang berada di lokasi.
Ketidakpastian tersebut membuat penyidik masih berhati-hati dalam menyampaikan informasi terkait perkara. Polisi perlu memastikan keterangan para pihak sebelum menetapkan dugaan keterlibatan individu tertentu. Selain itu, jumlah pekerja yang terlibat juga belum dapat dipastikan oleh kepolisian, karena pemeriksaan terhadap saksi dan pengumpulan informasi di sekitar lokasi masih berlangsung.
Keterangan mengenai penggunaan helm proyek sebagai alat penyerangan, demikian pula dugaan keterlibatan para pekerja, masih merujuk pada penjelasan korban sebagaimana disampaikan AKP Andre. Penyidik selanjutnya akan mendalami laporan tersebut untuk mengungkap identitas pelaku, memastikan jumlah orang yang terlibat, serta menentukan langkah hukum sesuai hasil pemeriksaan dan bukti yang diperoleh.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula dari kegiatan penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama Dinas Perhubungan (Dishub). Penertiban menyasar kendaraan yang diparkir sembarangan serta pedagang kaki lima yang menggunakan lahan untuk berjualan. Penggunaan lahan itu dinilai mengganggu ketertiban umum dan menghambat fungsi ruang yang seharusnya dapat digunakan secara tertib oleh masyarakat.
Dalam operasi tersebut, petugas Dishub mengambil tindakan terhadap sejumlah kendaraan yang berada di lokasi secara tidak semestinya. Salah satu tindakan yang dilakukan adalah mencabut pentil ban kendaraan yang diparkir sembarangan. Langkah itu menjadi bagian dari penertiban terhadap pelanggaran parkir yang ditemukan selama kegiatan berlangsung. Pada awalnya, petugas menjalankan penindakan sesuai dengan tugas masing-masing dalam penataan kawasan dan pengendalian gangguan ketertiban umum.
Situasi kemudian berubah setelah sejumlah pekerja proyek diduga memprovokasi petugas. Menurut penjelasan Pramono, provokasi tersebut memicu bentrokan awal personel Dishub dan para pekerja yang berada di sekitar lokasi. Ketegangan meningkat sehingga petugas Dishub memilih mundur dari tempat kejadian untuk menghindari situasi yang semakin tidak terkendali.
Namun, setelah petugas Dishub meninggalkan lokasi, sebagian orang masih mengejar mereka. Dalam situasi itu, anggota Satpol PP yang berada di sekitar lokasi turut menjadi sasaran dan mengalami pemukulan. Petugas tersebut kemudian dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis. Korban memperoleh perawatan di Puskesmas Kelurahan Selong setelah mengalami pengeroyokan dalam rangkaian kejadian tersebut.
Baca juga: Kesaksian Pedagang Warteg tentang Penertiban yang Berujung Kericuhan di Bulungan | Polisi Menangani Kekerasan terhadap Petugas Satpol PP Seusai Penertiban di Bulungan | Pramono Anung Ungkap Kronologi Bentrokan Satpol PP dan Pekerja Proyek di Bulungan







