Dokter Anak Jelaskan Bahaya Telur Mentah bagi Bayi dan Risiko Infeksi Salmonella

oleh -120 Dilihat
oleh
Dokter Anak Jelaskan Bahaya Telur Mentah bagi Bayi dan Risiko Infeksi Salmonella

Surabaya | Kisah bayi bernama Alena menjadi perhatian publik setelah beredar di media sosial informasi mengenai kondisi kesehatannya. Alena disebut belum genap berusia satu bulan ketika harus menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, sejak Jumat (9/10). Kabar tersebut memicu keprihatinan masyarakat sekaligus mendorong perbincangan mengenai keamanan pemberian makanan atau minuman tertentu kepada bayi yang masih sangat kecil.

Berdasarkan informasi yang beredar, Alena sempat mengalami demam sebelum diduga diberi telur mentah oleh nenek dari pihak ayahnya. Pemberian tersebut disebut dilakukan dengan tujuan membantu menurunkan demam. Namun, setelah itu kondisi Alena dikabarkan memburuk sehingga memerlukan penanganan medis lebih lanjut dan perawatan intensif di rumah sakit. Rangkaian informasi ini kemudian menyebar luas melalui berbagai unggahan di media sosial.

Kabar mengenai meninggalnya Alena selanjutnya juga beredar di ruang digital dan menimbulkan kesedihan banyak pihak. Meski demikian, informasi tersebut perlu disikapi secara hati-hati. Sampai terdapat keterangan resmi serta hasil pemeriksaan medis, telur mentah tidak dapat dinyatakan sebagai penyebab kematian atau memburuknya kondisi Alena. Hubungan konsumsi telur mentah, infeksi, dan kondisi klinis pasien harus ditentukan melalui evaluasi dokter, pemeriksaan laboratorium, serta penelusuran riwayat kesehatan secara menyeluruh.

Kasus ini menjadi pengingat bagi orang tua dan keluarga agar tidak memberikan bahan pangan kepada bayi berdasarkan saran informal atau dugaan yang belum terbukti secara medis. Bayi, terutama yang baru lahir, memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang dan membutuhkan perhatian khusus. Ketika bayi mengalami demam atau perubahan kondisi, keluarga sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, bukan mencoba pengobatan rumahan yang berpotensi menimbulkan risiko tambahan.

Dokter spesialis anak konsultan neonatologi, dr. dr. Johanes Edy Siswanto, SpA(K), mengingatkan bahwa telur mentah dan telur setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi. Dalam keterangannya saat dihubungi pada Senin (12/10/2026), ia menjelaskan bahwa telur yang belum dimasak secara sempurna berisiko masih mengandung bakteri Salmonella. Karena itu, orang tua perlu memastikan telur matang secara menyeluruh sebelum diberikan kepada bayi.

Salmonella dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan. Gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi muntah, diare, demam, nyeri atau kram perut, serta bayi yang tampak lemas dan lebih rewel. Pada bayi, muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dalam waktu relatif singkat. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi dehidrasi berat, yang ditandai dengan berkurangnya frekuensi buang air kecil, mulut kering, tidak adanya air mata saat menangis, mata tampak cekung, atau penurunan kesadaran.

Infeksi Salmonella juga dapat menjadi lebih serius ketika bakteri masuk ke dalam aliran darah. Keadaan ini disebut sepsis dan dapat mengancam nyawa karena memicu gangguan pada berbagai organ tubuh. Bayi yang mengalami demam, muntah atau diare berulang, sulit menyusu, tampak sangat lemah, bernapas tidak normal, atau menunjukkan tanda dehidrasi perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Risiko tersebut lebih besar pada bayi baru lahir karena sistem kekebalan tubuhnya belum matang. Kemampuan tubuh untuk melawan bakteri masih terbatas, sehingga infeksi dapat memburuk lebih cepat dibandingkan pada anak yang lebih besar. Orang tua sebaiknya tidak menunda pertolongan apabila muncul gejala setelah konsumsi telur yang kurang matang. Pencegahan utama dilakukan dengan memasak telur hingga putih dan kuningnya benar-benar matang, menjaga kebersihan tangan serta peralatan, dan mengikuti anjuran dokter mengenai pemberian makanan pendamping.

Telur tidak harus sepenuhnya dihindari ketika bayi mulai mengenal makanan pendamping ASI (MPASI). Bahan pangan ini merupakan sumber protein hewani yang mudah diperoleh dan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan bayi. Selain protein, telur juga mengandung sejumlah vitamin dan mineral yang bermanfaat apabila diberikan sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.

Menurut dokter anak Johanes, telur dapat mulai diperkenalkan sebagai MPASI ketika bayi berusia sekitar enam bulan, sesuai dengan kesiapan makan masing-masing anak. Pada tahap ini, orang tua dapat memberikan telur dalam porsi kecil, kemudian mengamati respons bayi. Pengenalan secara bertahap membantu orang tua mengenali kemungkinan reaksi alergi atau gangguan pencernaan setelah konsumsi makanan tertentu.

Hal yang paling penting adalah cara pengolahannya. Telur untuk bayi harus dimasak hingga matang sempurna, bukan hanya bagian putihnya, melainkan juga kuning telur. Telur matang ditandai oleh putih dan kuning yang sudah mengeras secara menyeluruh, tanpa bagian yang masih cair atau bertekstur lembek. Telur tersebut kemudian dapat dihaluskan dan dicampurkan dengan makanan lain yang sesuai dengan tekstur MPASI bayi.

Ketentuan ini berbeda dari telur mentah atau setengah matang. Telur dengan kuning yang masih encer, putih yang belum mengeras, atau hidangan yang menggunakan telur tanpa pemanasan memadai tidak dianjurkan bagi bayi. Proses memasak sampai matang diperlukan untuk menurunkan risiko kontaminasi bakteri, termasuk Salmonella, yang dapat menyebabkan muntah, diare, demam, dan dehidrasi pada anak. Karena itu, orang tua tetap dapat memberikan telur sebagai MPASI, tetapi perlu memastikan kebersihan bahan, peralatan, tangan, serta kematangan telur sebelum disajikan.

Pemberian telur mentah kepada bayi tidak dapat dianggap sebagai cara yang aman untuk membantu mengatasi demam. Pernyataan dokter mengenai bahaya telur mentah menjadi pengingat bahwa bahan makanan tersebut dapat membawa risiko infeksi, termasuk infeksi Salmonella, apabila dikonsumsi tanpa proses pemasakan yang memadai. Risiko ini perlu diperhatikan secara serius karena bayi masih memiliki daya tahan tubuh yang berkembang dan dapat lebih rentan ketika mengalami gangguan kesehatan.

Meski demikian, penyebab kematian Alena tidak dapat langsung disimpulkan akibat pemberian telur mentah. Kaitan tersebut hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan medis dan informasi klinis yang memadai. Karena itu, setiap kesimpulan mengenai penyebab kondisi atau kematian seorang bayi harus didasarkan pada penilaian tenaga kesehatan, bukan semata-mata pada satu jenis makanan yang dikonsumsi sebelumnya.

Dokter menekankan agar orang tua dan pengasuh tidak memberikan telur mentah kepada bayi, terutama dengan tujuan mengatasi demam. Praktik tersebut tidak boleh dijadikan dasar penanganan karena dapat menambah paparan terhadap kuman penyebab infeksi. Perhatian utama perlu diberikan pada kewaspadaan terhadap perubahan kondisi bayi dan pada risiko yang mungkin muncul setelah konsumsi makanan yang tidak dimasak secara sempurna.

Ketika kondisi bayi memburuk, penanganan medis menjadi hal yang penting. Orang tua dan pengasuh perlu segera mencari bantuan tenaga kesehatan sesuai keadaan yang dialami bayi, tanpa mengandalkan pemberian telur mentah. Sikap membantu mencegah anggapan yang keliru sekaligus memastikan kondisi bayi dinilai secara tepat. Pesan dokter tersebut bukan untuk menetapkan penyebab kematian Alena, melainkan untuk mengingatkan bahwa keamanan makanan bagi bayi harus menjadi perhatian, khususnya terkait potensi infeksi Salmonella dan dampaknya terhadap kesehatan bayi.

Baca juga: Bayi 28 Hari Meninggal Setelah Dugaan Pemberian Telur Mentah, Pemprov Jatim Buka Suara | Bayi Alena Meninggal Setelah Dirawat, Dugaan Pemberian Telur Mentah Disorot | Billy Syahputra Jelaskan Perselisihan Toilet di Bali dan Sampaikan Permintaan Maaf