Banjir dan Longsor di Aceh Tenggara Ganggu Jalan Nasional serta Merendam Lahan Pertanian

oleh -754 Dilihat
oleh
Banjir dan Longsor di Aceh Tenggara Ganggu Jalan Nasional serta Merendam Lahan Pertanian

Kabupaten Aceh Tenggara | Hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung lama memicu banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tenggara sejak Jumat, 9 Oktober 2026. Curah hujan yang terus turun membuat sejumlah wilayah mengalami genangan, sementara kondisi tanah yang jenuh air meningkatkan risiko pergerakan material di lereng. Dampak cuaca tersebut tidak hanya dirasakan di satu kawasan, tetapi tercatat di beberapa desa dan kecamatan. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana hujan berkepanjangan dapat mengganggu kehidupan warga sekaligus memengaruhi akses transportasi dan kegiatan pertanian di daerah terdampak.

Desa Kati Maju di Kecamatan Ketambe termasuk wilayah yang terdampak. Banjir juga dilaporkan di Desa Pulonas Baru, Kecamatan Lawe Bulan, serta Desa Pulo Latong, Kecamatan Babussalam. Selain itu, sembilan desa di Kecamatan Bambel turut mengalami dampak banjir dan longsor. Sebaran lokasi tersebut membuat penanganan perlu menjangkau beberapa kecamatan, dengan kebutuhan yang dapat berbeda sesuai kondisi tiap desa. Genangan berpotensi menghambat aktivitas harian warga, termasuk perjalanan, akses menuju layanan, dan kegiatan di lahan pertanian. Namun, luas dampak pada tiap lokasi bergantung pada keadaan setempat dan perkembangan hujan.

Selain merendam kawasan permukiman dan lahan, bencana ini menyebabkan sejumlah tanggul jebol. Kerusakan tanggul dapat mengurangi kemampuan saluran atau struktur pengendali air menahan aliran, sehingga pengawasan terhadap kondisi banjir tetap penting. Pada saat yang sama, material longsor menimbun sebagian ruas jalan nasional Kutacane–Blangkejeren. Timbunan tersebut mengganggu kelancaran perjalanan pada jalur penghubung antardaerah dan dapat membatasi mobilitas masyarakat maupun distribusi barang. Pengendara yang hendak melintasi jalur itu perlu memperhatikan informasi kondisi jalan dari pihak berwenang, karena situasi dapat berubah selama hujan masih berlangsung. Kombinasi banjir, tanggul jebol, dan longsor memperlihatkan dampak berlapis dari cuaca ekstrem di Aceh Tenggara. Penanganan akses jalan dan pemantauan desa terdampak menjadi bagian penting dalam merespons kejadian sejak hujan mulai memicu gangguan tersebut.

Banjir yang melanda Aceh Tenggara turut menggenangi lahan pertanian di Kecamatan Bambel dan Lawe Sumur. Dampaknya mencakup tanaman padi dan jagung, sehingga perhatian tidak hanya tertuju pada gangguan aktivitas warga dan akses jalan, tetapi juga pada kondisi area produksi pangan. Luas lahan yang terdampak menjadi salah satu ukuran penting untuk memahami cakupan kejadian di dua kecamatan tersebut.

Di Kecamatan Bambel, genangan dilaporkan merendam tanaman padi seluas 74,5 hektare. Selain itu, tanaman jagung di wilayah yang sama terdampak pada lahan seluas 43,24 hektare. Sementara itu, di Kecamatan Lawe Sumur, area tanaman padi seluas 36 hektare dilaporkan terkena dampak banjir. Rincian tersebut menunjukkan bahwa lahan padi terdampak di kedua kecamatan, sedangkan data lahan jagung yang disebutkan berasal dari Bambel.

Angka keseluruhan dalam bahan laporan perlu disampaikan secara cermat karena terdapat perbedaan. Laporan BPBA menyebut luas lahan pertanian terdampak mencapai 154,74 hektare. Namun, dalam laporan yang sama, Kepala Pelaksana BPBA Bahron Bakti dikutip menyebut total lahan terdampak sebesar 153,74 hektare. Kedua angka tersebut berbeda satu hektare. Karena sumber memuat keduanya, perbedaan ini perlu dipertahankan sebagaimana dilaporkan, bukan diselaraskan atau dikoreksi menggunakan informasi dari luar.

Dengan demikian, pembaca memperoleh gambaran mengenai rincian dampak di Bambel dan Lawe Sumur sekaligus mengetahui adanya selisih pada angka total. Data per kecamatan dan jenis tanaman yang tersedia mencatat 74,5 hektare padi serta 43,24 hektare jagung di Bambel, ditambah 36 hektare padi di Lawe Sumur. Sementara itu, total yang tercantum dalam laporan dan pernyataan pejabat tetap berbeda. Kejelasan pencatatan penting agar informasi mengenai banjir dan lahan pertanian terdampak dapat dipahami tanpa mengaburkan perbedaan angka yang disampaikan sumber.

Material longsor yang menutup badan jalan nasional Kutacane–Blangkejeren menghambat pergerakan kendaraan dari kedua arah. Ruas yang tertutup membuat arus lalu lintas tidak dapat berjalan normal dan memicu kemacetan panjang. Pengendara yang melintas harus menghadapi antrean, sementara perjalanan di jalur penghubung tersebut menjadi lebih lambat. Kondisi ini juga membatasi kelancaran mobilitas warga dan distribusi barang di kawasan terdampak.

Gangguan tidak hanya terjadi pada jalur transportasi. Banjir menggerus hingga menghanyutkan intake sumber air bersih Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lawe Harum, yang dikelola PDAM Tirta Agara. Kerusakan pada bangunan pengambilan air tersebut berpotensi mengganggu layanan air bersih bagi masyarakat yang bergantung pada sistem itu. Penanganan dan pemeriksaan kondisi fasilitas diperlukan untuk mengetahui dampak terhadap pasokan, sekaligus menentukan langkah pemulihan yang dibutuhkan.

Sejumlah fasilitas lain juga terdampak genangan. Gudang logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dilaporkan terendam, demikian pula fasilitas SMPIT Al Khansa. Kondisi ini menambah daftar infrastruktur umum yang terkena dampak banjir, di samping kerusakan pada akses jalan dan sumber air bersih. Pendataan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kondisi barang di gudang serta ruang dan sarana sekolah yang terdampak.

Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), dampak bencana tercatat mengenai 783 kepala keluarga atau 2.787 jiwa. Angka tersebut menunjukkan luasnya warga yang terdampak, meskipun tidak dengan sendirinya menjelaskan tingkat kerusakan pada setiap rumah maupun kebutuhan masing-masing keluarga. Informasi itu menjadi dasar penting bagi pemantauan dan koordinasi penanganan di lapangan.

Dalam laporan yang dirujuk, tidak ada keterangan mengenai warga yang mengungsi maupun korban jiwa. Dengan demikian, dampak yang dilaporkan mencakup gangguan lalu lintas, kerusakan fasilitas dan genangan, serta warga terdampak, tanpa laporan pengungsian atau korban meninggal. Situasi jalan, fasilitas air, gudang logistik, dan sekolah tetap perlu dipantau seiring proses penanganan.

Penanganan darurat di wilayah terdampak banjir dan longsor di Aceh Tenggara diawali dengan pengerahan tim reaksi cepat. Tim tersebut bertugas mendatangi lokasi untuk mendata kondisi lapangan, mengidentifikasi dampak terhadap warga dan infrastruktur, serta mencatat kebutuhan penanganan yang harus diprioritaskan. Pemeriksaan langsung membantu petugas memperoleh gambaran mengenai titik jalan yang terganggu, aliran air yang terhambat, dan kerusakan tanggul. Informasi dari lokasi menjadi dasar koordinasi agar sumber daya dapat diarahkan ke bagian yang paling membutuhkan. Langkah ini juga memungkinkan perkembangan situasi dipantau, terutama pada kawasan yang masih berisiko mengalami gangguan akibat material longsor, genangan, atau luapan sungai.

Untuk memulihkan akses, satu unit ekskavator digunakan membersihkan material longsor yang menutup jalan nasional. Pembersihan dilakukan agar jalur yang terganggu dapat kembali dilalui dan aktivitas masyarakat maupun distribusi kebutuhan tidak terus terhambat. Petugas juga mengeruk serta membersihkan kayu gelondongan yang terbawa arus dan menumpuk di aliran air sekitar jembatan Bailey Pulo Latong. Keberadaan kayu dapat menghambat kelancaran aliran, sehingga material tersebut perlu disingkirkan dari area sekitar jembatan. Di ruas Pulonas Baru–Lawe Rutung, petugas membersihkan endapan lumpur yang menutupi permukaan jalan. Pekerjaan pada beberapa titik ini ditujukan untuk mengurangi hambatan perjalanan sekaligus membantu menjaga fungsi akses dan aliran air di sekitar infrastruktur terdampak.

Penanganan tidak hanya berfokus pada jalan dan jembatan. Alat berat turut dikerahkan untuk menutup tanggul yang jebol, mengeruk sungai, dan melakukan normalisasi alur agar kapasitas aliran lebih terjaga. Petugas juga memperkuat tanggul di sejumlah titik yang dinilai memerlukan penanganan. Rangkaian pekerjaan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko genangan dan mencegah dampak lanjutan ketika debit air meningkat.

Baca juga: Bahlil: Stok BBM Nasional Aman, Pemerintah Evaluasi Kendala Distribusi di Bali | Panglima TNI Hadiri HUT ke-9 Satsiber TNI, Perkuat Ekosistem Siber Nasional | Program Tiga Juta Rumah Berpeluang Kurangi Kelebihan Pasokan Semen Nasional