Pemulihan Air Minum Pascabencana di Sumatera Utara Dikebut Lewat Proyek SPAM

oleh -83 Dilihat
oleh
Pemulihan Air Minum Pascabencana di Sumatera Utara Dikebut Lewat Proyek SPAM

Jakarta | Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 berdampak pada kehidupan masyarakat sekaligus merusak sebagian infrastruktur air minum. Bencana dapat mengganggu jaringan perpipaan, fasilitas pengolahan, maupun sarana pendukung yang diperlukan untuk menyalurkan air secara aman. Ketika aset tersebut terdampak, layanan kepada warga berisiko terhambat, sementara kebutuhan air bersih tetap harus dipenuhi untuk kegiatan rumah tangga dan menjaga kesehatan. Karena itu, pemulihan infrastruktur dasar menjadi salah satu langkah penting setelah masa tanggap darurat, khususnya di kawasan yang akses air minumnya terganggu.

Merespons kondisi tersebut, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mendukung Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam mempercepat pemulihan infrastruktur dasar melalui proyek rehabilitasi dan rekonstruksi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Pascabencana Paket 2 di Sumatera Utara. Proyek ini diarahkan untuk memperbaiki kembali sarana yang terdampak serta mendukung pemulihan layanan air minum masyarakat. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi juga menjadi bagian dari upaya agar infrastruktur dapat kembali berfungsi dan mendukung penyaluran air sesuai kebutuhan wilayah sasaran. Kolaborasi pemerintah dan pelaksana proyek diperlukan untuk mendorong pekerjaan berjalan terarah, dengan perhatian pada kondisi lapangan pascabencana.

Sasaran layanan proyek mencakup pemulihan atau peningkatan akses air minum bagi 995 sambungan rumah (SR). Angka tersebut merupakan target cakupan yang hendak didukung melalui pekerjaan Paket 2, bukan pernyataan bahwa seluruh sambungan sudah terlayani. Kemajuan layanan bergantung pada penyelesaian pekerjaan dan kesiapan infrastruktur untuk beroperasi. Dengan berfokus pada sambungan rumah, proyek ini menempatkan kebutuhan warga sebagai ukuran penting dalam pemulihan, sekaligus membantu membangun kembali layanan dasar yang terdampak banjir dan longsor. Setelah sarana diperbaiki, dukungan pengelolaan dan pemeliharaan tetap diperlukan agar sistem dapat digunakan secara berkelanjutan. Upaya ini diharapkan memperkuat ketahanan layanan air minum di wilayah terdampak Sumatera Utara.

Pekerjaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) pascabencana mencakup tiga kabupaten di Sumatera Utara, yakni Langkat, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan. Penentuan lokasi tersebut menjadi bagian dari upaya memulihkan layanan air bersih bagi masyarakat yang terdampak, sekaligus memperkuat infrastruktur agar pasokan dapat disalurkan secara lebih andal. Pelaksanaan proyek oleh WIKA meliputi pembangunan sumber air, pengolahan, penyimpanan, hingga jaringan penyaluran menuju rumah warga. Dengan cakupan dari hulu ke hilir, pekerjaan dirancang untuk menghubungkan setiap tahapan menjadi satu sistem layanan yang berfungsi terpadu.

Di sisi sumber air, pekerjaan mencakup pembangunan sumur bor sebagai bagian dari penyediaan bahan baku. Air kemudian dialirkan melalui jaringan pipa transmisi dan distribusi dengan panjang keseluruhan sekitar 41 kilometer. Pipa transmisi membawa air dari sumber atau instalasi menuju titik penampungan, sedangkan jaringan distribusi meneruskannya ke wilayah pelayanan. Infrastruktur ini dilengkapi reservoir untuk menampung air sebelum disalurkan lebih lanjut. Keberadaan tampungan membantu menjaga ketersediaan pasokan dan mendukung pengaturan aliran, terutama ketika kebutuhan masyarakat berubah atau distribusi berlangsung melalui beberapa zona layanan.

Proyek tersebut juga mencakup pembangunan dua instalasi pengolahan air (IPA). Setiap instalasi dirancang memiliki kapasitas 50 liter per detik, sehingga kapasitas gabungan keduanya mencapai 100 liter per detik. IPA berperan mengolah air baku agar memenuhi kebutuhan layanan air minum sebelum masuk ke jaringan distribusi. Selain membangun fasilitas utama, WIKA memasang sambungan rumah sebagai titik akhir penyaluran bagi pelanggan. Sambungan ini menghubungkan jaringan di lingkungan permukiman dengan rumah warga, sehingga manfaat proyek dapat dirasakan langsung. Kombinasi sumur bor, IPA, reservoir, pipa, dan sambungan rumah membentuk rangkaian infrastruktur yang mendukung pemulihan layanan secara menyeluruh di ketiga kabupaten. Cakupan pekerjaan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada kapasitas pengolahan, tetapi juga pada jalur distribusi dan akses ke pengguna. Dengan demikian, sistem diharapkan menyediakan dasar bagi layanan yang lebih stabil, sekaligus membantu masyarakat memperoleh air minum setelah gangguan akibat bencana.

Pekerjaan pemulihan sistem penyediaan air minum pascabencana di Sumatera Utara dimulai pada Januari 2026. Proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun, sehingga penyelesaian pekerjaan utama direncanakan pada Januari 2027. Sejak awal pelaksanaan, kegiatan diarahkan untuk memulihkan layanan secara bertahap, sekaligus memastikan infrastruktur yang dibangun dapat berfungsi sesuai kebutuhan masyarakat. Tahapan pekerjaan mencakup penyelesaian fasilitas, pemeriksaan kesiapan, serta pengujian sebelum sistem dioperasikan. Dengan rentang waktu pelaksanaan tersebut, kemajuan proyek terus dipantau agar pekerjaan lapangan dan proses pemeriksaan dapat berjalan selaras dengan target yang telah ditetapkan.

Hingga pertengahan Oktober 2026, sejumlah fasilitas telah memasuki tahap pra-komisioning dan uji alir. Pra-komisioning menjadi bagian dari pemeriksaan kesiapan fasilitas sebelum sistem masuk ke tahapan operasi, sedangkan uji alir dilakukan untuk melihat aliran air melalui komponen dan jaringan yang telah disiapkan. Rangkaian pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi apakah fasilitas dapat bekerja sebagaimana direncanakan, serta apakah masih diperlukan penyesuaian sebelum digunakan. Hasil uji dan evaluasi menjadi pertimbangan penting dalam menentukan langkah berikutnya. Dengan demikian, fasilitas yang telah dibangun tidak langsung dinyatakan siap beroperasi tanpa melalui tahapan pengecekan yang relevan.

Pemulihan layanan air minum dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan masing-masing fasilitas dan hasil pengujian. Pengoperasian dapat dilakukan setelah pemeriksaan bersama pihak terkait memberikan dasar yang memadai untuk melanjutkan proses. Pendekatan ini memungkinkan kendala teknis diketahui lebih awal dan ditangani sebelum layanan diberikan secara lebih luas. Dalam mendukung pekerjaan di lapangan, WIKA menyiapkan sekitar 127 personel serta tujuh unit alat berat. Dukungan tenaga kerja dan peralatan tersebut digunakan untuk membantu pelaksanaan berbagai kegiatan konstruksi dan penyiapan fasilitas. Seiring berjalannya pengujian, koordinasi pelaksana dan pihak terkait tetap diperlukan agar keputusan mengenai pengoperasian didasarkan pada kondisi nyata setiap fasilitas. Tahapan yang terukur ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan layanan secara aman dan andal bagi masyarakat terdampak.

Pelaksanaan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) pascabencana di Sumatera Utara melibatkan tenaga kerja lokal untuk mendukung kegiatan konstruksi sekaligus memberi ruang bagi masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam pemulihan. Keterlibatan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan dan tetap mengutamakan kompetensi serta keselamatan kerja. WIKA juga mengupayakan penggunaan material dan sumber daya yang tersedia di wilayah setempat sepanjang memenuhi persyaratan teknis, standar mutu, dan ketentuan konstruksi. Pendekatan ini diharapkan membantu kelancaran pekerjaan tanpa mengurangi keandalan infrastruktur yang dibangun.

Dalam pelaksanaan, koordinasi dilakukan bersama Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, PDAM, serta pemangku kepentingan terkait. Komunikasi antarpihak diperlukan untuk menyelaraskan tahapan pekerjaan, kebutuhan lapangan, dan rencana pengoperasian fasilitas setelah konstruksi selesai. Pemerintah daerah dan PDAM turut berperan dalam menyampaikan kondisi layanan serta kebutuhan masyarakat, sementara koordinasi teknis membantu memastikan fasilitas dan jaringan dapat terhubung dengan sistem pelayanan yang ada. Kerja sama tersebut juga mendukung identifikasi kendala sejak awal dan penanganan yang terarah.

Persiapan operasional menjadi bagian penting dari pembangunan SPAM. Fasilitas pengolahan perlu didukung jaringan pipa yang terpasang sesuai rancangan, sehingga air dapat disalurkan secara memadai ke wilayah terdampak. Penyelesaian konstruksi, pemeriksaan kualitas, serta kesiapan pengelola menjadi rangkaian yang saling berkaitan sebelum layanan dimanfaatkan. Dengan dukungan koordinasi yang berkelanjutan, infrastruktur diharapkan berfungsi sesuai tujuan dan mampu menjawab kebutuhan dasar warga setelah bencana.

Keberadaan fasilitas pengolahan dan jaringan pipa diharapkan menjaga ketersediaan air minum yang lebih andal dan berkelanjutan bagi masyarakat Sumatera Utara yang terdampak.

Baca juga: Suroso Isnandar Pimpin PLN, Pemulihan Listrik Batam dan Bintan Jadi Sorotan