Karhutla Indonesia Membakar 8,35 Juta Hektare dalam 12 Tahun

oleh -79 Dilihat
oleh
Karhutla Indonesia Membakar 8,35 Juta Hektare dalam 12 Tahun

Jakarta | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang 2015 hingga 2026 mencakup area seluas 8,35 juta hektare. Angka ini menunjukkan besarnya wilayah yang terdampak selama rentang tersebut, sekaligus memberi gambaran tentang skala karhutla dalam kurun 12 tahun. Data yang menjadi rujukan berasal dari Sipongi, sistem pemantauan karhutla milik Kementerian Kehutanan, dan dihimpun hingga Oktober 2026. Dengan demikian, angka 8,35 juta hektare merangkum catatan kebakaran pada periode 2015 sampai 2026 berdasarkan data yang tersedia hingga bulan tersebut. Penyebutan batas waktu penghimpunan penting untuk membaca cakupan data secara tepat, terutama karena periode yang dibahas mencapai tahun 2026.

Untuk membantu menggambarkan luas tersebut, area terbakar dibandingkan dengan luas DKI Jakarta yang mencapai 662,33 kilometer persegi. Perbandingan ini menyetarakan total area karhutla dengan sekitar 126 kali luas Jakarta. Angka 126 kali memberi konteks yang lebih mudah dibayangkan bagi pembaca, sebab total jutaan hektare dapat terasa abstrak tanpa pembanding wilayah yang dikenal. Perbandingan tersebut merujuk pada luas Jakarta sebagaimana disebutkan, bukan pada jumlah kejadian kebakaran atau ukuran wilayah lain. Dengan demikian, gambaran yang disampaikan berfokus pada perbandingan luas total area terbakar sepanjang periode yang dirujuk dengan luas DKI Jakarta.

Penjelasan mengenai total 8,35 juta hektare dan perbandingannya dengan Jakarta disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Dr. Ir. Ris Hadi Purwanto. Keterangan itu muncul dalam podcast UGM bertajuk “Kebakaran Hutan dan Lahan: Sejarah, Antisipasi, dan Penanganannya”, yang dikutip pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Berdasarkan paparan tersebut, skala kebakaran hutan dan lahan Indonesia selama 2015 hingga 2026 dapat dibaca melalui dua angka utama: luas tercatat sebesar 8,35 juta hektare dan ukuran relatif sekitar 126 kali luas DKI Jakarta. Keduanya merujuk pada data Sipongi Kementerian Kehutanan yang dihimpun hingga Oktober 2026, sehingga rentang dan batas penghimpunannya tetap menjadi bagian penting dari konteks informasi tersebut.

Ris Hadi menjelaskan bahwa terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dipengaruhi oleh tiga unsur yang saling berkaitan: sumber api, lahan yang dapat menjadi bahan bakar, serta kondisi iklim. Sumber api memulai proses pembakaran, sedangkan vegetasi kering, serasah, gambut, dan material lain di lahan menyediakan bahan yang dapat terbakar. Iklim kemudian memengaruhi keadaan bahan bakar dan peluang api untuk menyebar. Karena itu, ketiga unsur tersebut perlu dipahami bersama ketika menelaah mengapa kebakaran muncul dan meluas di suatu wilayah.

Peran iklim terutama terletak pada kemampuannya memengaruhi kemungkinan kebakaran berkembang menjadi besar. Cuaca panas dan kering dapat membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan membantu api bertahan atau menyebar. Namun, kondisi iklim yang mendukung kebakaran tidak dengan sendirinya menjadi sumber api. Perbedaan ini penting: kemarau dapat meningkatkan risiko serta memperparah dampak kebakaran, tetapi tetap diperlukan pemantik untuk memulai pembakaran. Dengan demikian, penjelasan tentang iklim tidak seharusnya mengaburkan asal api maupun faktor manusia yang dapat memicunya.

Hadi juga membedakan konteks Indonesia dari negara-negara subtropis. Di wilayah subtropis, temperatur yang sangat tinggi dapat memicu kebakaran secara alami dalam kondisi tertentu. Indonesia, sebaliknya, berada di kawasan tropis dengan kelembapan yang juga tinggi, sehingga kebakaran yang terjadi secara alami disebut sangat jarang, bahkan dapat dikatakan tidak terjadi. Pernyataan ini menempatkan sumber api sebagai unsur penting dalam memahami karhutla di dalam negeri. BNPB menyatakan bahwa 99 persen lahan terbakar di Indonesia bersifat antropogenik, yakni berkaitan dengan aktivitas manusia. Pemicu tersebut dapat berupa tindakan sengaja maupun kelalaian, seperti penggunaan api yang tidak terkendali. Angka itu menegaskan bahwa kondisi iklim dan ketersediaan bahan bakar dapat memperbesar risiko, sementara aktivitas manusia umumnya menjadi asal penyalaan. Karena itu, pencegahan perlu memperhatikan pengelolaan lahan dan perilaku masyarakat, di samping pemantauan cuaca serta kesiapan menghadapi periode kering. Memisahkan fungsi tiap unsur membantu menjelaskan risiko tanpa menyamakan cuaca pemicu penyebaran dengan sumber api itu sendiri.

Ris Hadi menjelaskan bahwa sejumlah kebakaran bermula dari aktivitas manusia yang tampak sederhana, tetapi berisiko ketika dilakukan tanpa kehati-hatian. Salah satu contohnya ialah puntung rokok yang dibuang sembarangan. Jika puntung masih menyala atau bara belum padam sepenuhnya, benda kecil tersebut dapat menyulut rumput, serasah, atau bahan kering lain di sekitarnya. Dalam kondisi lahan yang mudah terbakar, api dapat berkembang dan menyebar, terutama apabila tidak segera diketahui. Karena itu, kebiasaan membuang puntung rokok di area terbuka bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan juga dapat menjadi pemicu penyalaan api.

Pemicu lain yang disebutkan adalah pembakaran untuk keperluan tanaman, misalnya ketika seseorang membakar vegetasi sebagai bagian dari pengelolaan lahan. Pembakaran semacam ini tidak otomatis berarti kebakaran tak terkendali. Ris Hadi mengaitkannya dengan gagasan prescribed burning, yakni pembakaran yang dapat dilakukan untuk tujuan tertentu, tetapi pelaksanaannya harus dikendalikan, diatur, dan diawasi. Pengendalian diperlukan agar api tetap berada dalam batas yang ditetapkan dan tidak merambat ke area lain. Pengaturan serta pengawasan juga membantu memastikan kegiatan berlangsung dengan persiapan yang memadai. Jika langkah-langkah tersebut diabaikan, api yang semula dinyalakan dengan tujuan terbatas dapat meluas dan berubah menjadi kebakaran.

Pembukaan atau pembersihan lahan untuk kegiatan perusahaan juga dapat melibatkan pembakaran sebagai cara menekan biaya. Praktik ini perlu dipahami sebagai salah satu kemungkinan sumber penyalaan, bukan sebagai gambaran yang berlaku bagi semua perusahaan. Pokok persoalannya terletak pada cara pembakaran dilakukan dan apakah terdapat pengendalian yang efektif. Api yang digunakan untuk membersihkan lahan dapat lepas dari area yang dimaksud apabila pengawasan dan upaya pencegahan tidak memadai. Oleh sebab itu, membedakan pembakaran yang direncanakan dan kebakaran yang tidak terkendali penting dalam membahas penyebab karhutla. Penjelasan tersebut menyoroti peran tindakan manusia tanpa mengabaikan bahwa risiko meningkat ketika pengendalian diabaikan.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Benito Heri Purwanto, menjelaskan bahwa El Niño dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kondisi iklim tersebut memperbesar risiko, tetapi tidak dengan sendirinya menyalakan api. Menurut Benito, sumber api tetap berasal dari aktivitas manusia. Karena itu, hubungan El Niño dan kebakaran perlu dipahami secara tepat: cuaca yang lebih kering dapat membuat lahan lebih rentan terbakar, sedangkan pemicu awal kebakaran tetap berkaitan dengan tindakan manusia. Pembedaan ini penting agar pembahasan mengenai karhutla tidak menempatkan faktor iklim sebagai satu-satunya penyebab. El Niño merupakan faktor yang meningkatkan peluang kebakaran, bukan sumber nyala api.

Benito juga menegaskan bahwa gambut bukan sumber api. Kebakaran di lahan gambut dapat berlangsung di bawah permukaan tanah melalui proses smoldering atau pembakaran yang membara perlahan. Dalam keadaan seperti itu, api mungkin tidak terlihat dari permukaan, meskipun pembakaran masih terjadi di dalam tanah. Asap dapat muncul tiba-tiba, sehingga kebakaran gambut berpotensi sulit dikenali hanya dengan melihat permukaan lahan. Keadaan tersebut menjelaskan mengapa tampilan luar area yang terbakar tidak selalu menunjukkan keseluruhan kondisi di bawahnya. Gambut menjadi media tempat api merambat atau bertahan, tetapi bukan penyebab yang menyalakan api. Penjelasan ini membantu membedakan sifat lahan gambut dari pemicu kebakaran yang tetap berasal dari aktivitas manusia.

Perbedaan lokasi api tersebut berpengaruh langsung terhadap penanganan.

Baca juga: Jejak Karhutla Terlihat dari Satelit: Citra NASA dan Dampak Asap di Kawasan | Asap Karhutla Terdeteksi di Jakarta, Pakar Uraikan Jalur Penyebarannya | Asap Karhutla Bergerak Menjauh dari Jabodetabek, Sejumlah Wilayah Masih Terpantau