Survei PPI: Dedi Mulyadi Unggul dalam Simulasi Cawapres 2029

oleh -153 Dilihat
oleh
Survei PPI: Dedi Mulyadi Unggul dalam Simulasi Cawapres 2029

Jakarta | Hasil survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI) menempatkan Dedi Mulyadi di urutan pertama dalam simulasi elektabilitas calon wakil presiden untuk Pemilihan Presiden 2029. Dalam temuan tersebut, Dedi memperoleh angka 21 persen. Capaian ini menjadikannya nama dengan dukungan tertinggi di tokoh-tokoh yang masuk dalam simulasi yang dipaparkan PPI. Dedi Mulyadi juga dikenal dengan sebutan Kang Dedi Mulyadi atau KDM.

Temuan itu disampaikan Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, dalam peluncuran survei nasional bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran”. Acara tersebut berlangsung di Jakarta pada Minggu, 18 Oktober 2026. Dalam pemaparan hasil, posisi Dedi menjadi salah satu sorotan karena ia muncul sebagai pilihan teratas untuk calon wakil presiden dalam simulasi Pilpres 2029. Angka 21 persen menggambarkan tingkat dukungan yang tercatat dalam survei tersebut, bukan hasil pemilihan ataupun penetapan pencalonan.

Dedi Mulyadi saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Penyebutan jabatan tersebut memberi konteks mengenai posisinya ketika namanya muncul dalam pengukuran elektabilitas nasional. Meski berada di peringkat teratas pada simulasi yang diumumkan, hasil survei perlu dipahami sebagai potret opini responden pada waktu pengumpulan data, sementara dinamika politik menuju 2029 masih dapat berubah. Oleh karena itu, angka tersebut menunjukkan posisi Dedi dalam pengukuran PPI saat ini, bukan kepastian mengenai pasangan calon yang akan bertarung pada pemilihan mendatang. PPI memaparkan temuan ini sebagai bagian dari survei nasional yang mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, sekaligus menyajikan gambaran awal tentang nama-nama yang dipertimbangkan publik untuk kontestasi berikutnya. Dalam konteks itu, raihan 21 persen menempatkan Kang Dedi Mulyadi sebagai figur yang memperoleh dukungan paling besar dalam simulasi cawapres yang disampaikan oleh lembaga tersebut. Informasi mengenai posisi, angka, pemapar, dan waktu peluncuran menjadi pokok hasil yang diumumkan kepada publik.

Dalam simulasi elektabilitas cawapres 2029, Gibran Rakabuming Raka memperoleh 14,2 persen. Angka tersebut menempatkannya pada urutan teratas di tokoh lain yang disebutkan dalam hasil survei. Setelah Gibran, Agus Harimurti Yudhoyono mencatat 7,1 persen, sementara Anies Baswedan berada tepat di bawahnya dengan 7 persen. Selisih kedua angka itu tercatat 0,1 poin persentase.

Berikutnya, Purbaya Yudhi Sadewa meraih 4,8 persen dan Mahfud MD memperoleh 4,4 persen. Sherly Tjoanda tercatat dengan elektabilitas 3,2 persen, disusul Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebesar 3,1 persen. Ganjar Pranowo mendapat 2,6 persen, sedangkan Teddy Indra Wijaya memperoleh 1,4 persen. Muhaimin Iskandar dan Kaesang Pangarep masing-masing mencatat 0,9 persen. Susi Pudjiastuti memperoleh 0,8 persen, sementara Anis Matta dan Zulkifli Hasan masing-masing meraih 0,7 persen. Bahlil Lahadalia tercatat dengan angka 0,5 persen.

Sejumlah nama lainnya masing-masing memperoleh 0,1 persen. Mereka adalah Andi Amran Sulaiman, Raffi Ahmad, Sudaryono, Erick Thohir, Emil Dardak, dan Rieke Diah Pitaloka. Dengan demikian, angka untuk keenam tokoh tersebut sama dalam simulasi yang dilaporkan, yakni 0,1 persen per nama. Selain pilihan-pilihan tokoh itu, terdapat responden yang memilih nama lain dan responden yang tidak memberikan jawaban. Sebanyak 3,5 persen memilih nama lain, sedangkan 20,8 persen tidak memberikan jawaban.

Rincian tersebut menunjukkan persebaran angka elektabilitas dari Gibran yang memperoleh 14,2 persen hingga sejumlah tokoh yang masing-masing tercatat 0,1 persen. Nama-nama dengan perolehan di kedua nilai itu tercantum sesuai urutan angka, mulai dari AHY dan Anies, kemudian Purbaya, Mahfud, Sherly, Ahok, Ganjar, Teddy, Muhaimin, Kaesang, Susi, Anis Matta, Zulkifli Hasan, dan Bahlil. Persentase nama lain serta responden yang tidak menjawab juga dicantumkan sebagai bagian dari hasil, terpisah dari angka elektabilitas para tokoh.

Selain simulasi elektabilitas calon wakil presiden 2029, survei PPI juga mencatat tingkat pengenalan publik terhadap sejumlah tokoh politik. Pada indikator ini, Prabowo Subianto memperoleh angka tertinggi, yakni 96,8 persen. Gibran Rakabuming Raka berada di posisi berikutnya dengan tingkat pengenalan sebesar 93,8 persen. Hasil tersebut menggambarkan bahwa nama kedua tokoh telah dikenal oleh sebagian besar responden yang tercakup dalam survei, meski angka ini mengukur pengenalan, bukan pilihan dalam simulasi pencalonan.

Di tokoh lainnya, Anies Baswedan mencatat tingkat pengenalan 90,9 persen, disusul Ganjar Pranowo dengan 85,8 persen. Dedi Mulyadi memperoleh angka 84,3 persen. Dengan demikian, dalam urutan pengenalan publik yang dilaporkan, Prabowo menempati posisi teratas, sementara Gibran, Anies, Ganjar, dan Dedi berada pada angka yang berbeda-beda. Selisih angka tersebut menunjukkan variasi tingkat pengenalan di nama-nama yang diukur, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penilaian masyarakat atas masing-masing tokoh.

Perbandingan dengan simulasi elektabilitas cawapres dalam survei yang sama memperlihatkan bahwa kedua indikator tersebut tidak selalu menempatkan tokoh pada posisi yang sama. Prabowo memiliki tingkat pengenalan paling tinggi, sedangkan posisi teratas dalam simulasi cawapres ditempati Dedi Mulyadi. Temuan ini perlu dibaca sesuai batas masing-masing indikator: tingkat pengenalan menyatakan sejauh mana responden mengetahui seorang tokoh, sedangkan simulasi elektabilitas mencatat pilihan responden dalam skenario yang diuji. Karena itu, tingginya pengenalan tidak otomatis berarti seorang tokoh berada di posisi teratas pada simulasi elektabilitas.

Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai jangkauan pengenalan publik terhadap beberapa figur yang turut disebut dalam pemberitaan politik. Namun, hasil pengenalan dan hasil simulasi elektabilitas tetap merupakan temuan yang berbeda. Keduanya dapat disajikan berdampingan untuk memberi konteks atas survei PPI, tanpa menganggap satu indikator sebagai penjelasan langsung bagi indikator lainnya. Berdasarkan data yang dilaporkan, perhatian utama pada bagian ini adalah perbedaan urutan: Prabowo memimpin pengenalan publik, sedangkan Dedi unggul dalam simulasi cawapres.

Hasil survei yang menempatkan Dedi Mulyadi unggul dalam simulasi cawapres 2029 perlu dibaca sebagai potret preferensi responden pada saat pengumpulan data dilakukan. Angka atau posisi yang muncul menunjukkan pilihan yang disampaikan dalam konteks waktu tersebut, bukan kepastian mengenai siapa yang akan memperoleh dukungan terbesar ketika pemilihan presiden berlangsung. Preferensi publik dapat berubah, sehingga hasil survei tidak dapat diperlakukan sebagai gambaran tetap atas sikap pemilih untuk seluruh periode menuju pemilu. Pembacaan yang cermat juga membedakan temuan survei saat ini dan hasil politik yang baru akan diketahui setelah proses pencalonan serta pemungutan suara berlangsung.

Dalam perjalanan menuju Pilpres 2029, elektabilitas Dedi Mulyadi maupun tokoh-tokoh lain masih berpotensi bergerak. Perubahan dapat mengikuti perkembangan politik, termasuk isu yang menjadi perhatian masyarakat, dinamika hubungan antarkekuatan politik, dan perkembangan pencalonan. Faktor-faktor tersebut dapat membentuk kembali pilihan responden seiring waktu. Karena itu, posisi para tokoh dalam simulasi tidak sebaiknya dianggap sebagai urutan yang tidak mungkin berubah. Hasil saat ini memberi informasi mengenai preferensi pada satu titik pengamatan, sedangkan gambaran berikutnya dapat berbeda apabila situasi politik dan pilihan kandidat mengalami perubahan. Penilaian terhadap perkembangan elektabilitas perlu memperhatikan konteks dan waktu setiap temuan yang tersedia.

Batasan ini penting agar hasil survei tidak ditafsirkan melampaui makna yang dapat didukung oleh data. Keunggulan dalam simulasi bukan jaminan bahwa seorang tokoh akan menjadi calon wakil presiden, memperoleh dukungan yang sama pada masa mendatang, atau meraih hasil tertentu dalam Pilpres 2029.

Baca juga: Prabowo Memimpin Simulasi Elektabilitas Capres, KDM dan Anies Menyusul