Jakarta | Kontingen Garuda Bhayangkara Satgas Formed Police Unit (FPU) 7 pada misi United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic (Minusca) telah menyelesaikan tugas perdamaian di Republik Afrika Tengah. Berakhirnya penugasan tersebut menandai rampungnya kontribusi personel Polri dalam mendukung upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa menjaga keamanan dan stabilitas di negara itu.
Selama menjalankan mandat, personel FPU 7 melaksanakan patroli sebagai bagian dari upaya pemeliharaan keamanan. Kehadiran polisi dalam kegiatan tersebut membantu mendukung situasi yang kondusif serta memperkuat pelaksanaan tugas misi perdamaian. Patroli juga menjadi salah satu bentuk pelayanan keamanan yang dijalankan kontingen sesuai dengan peran kepolisian dalam operasi Minusca.
Selain tugas pengamanan, personel Polri turut memberikan pelayanan kemanusiaan. Kegiatan ini mencerminkan bahwa tugas dalam misi perdamaian tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga mencakup perhatian terhadap kebutuhan masyarakat. Melalui pelayanan tersebut, kontingen menjalankan fungsi yang mendukung perlindungan dan kesejahteraan warga di tengah upaya menjaga stabilitas.
Rangkaian tugas itu menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam mendukung mandat Minusca di Republik Afrika Tengah. Personel FPU 7 membawa peran kepolisian Indonesia dalam kerja sama internasional, dengan melaksanakan tanggung jawab melalui kegiatan patroli dan pelayanan kepada masyarakat. Penyelesaian tugas ini sekaligus mengakhiri penugasan kontingen dalam misi tersebut, setelah menjalankan fungsi yang diberikan selama berada di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Rampungnya misi FPU 7 menunjukkan keterlibatan Polri dalam mendukung perdamaian internasional melalui pendekatan keamanan dan kemanusiaan. Pengalaman menjalankan tugas di bawah Minusca menjadi bagian dari kiprah personel Polri dalam operasi pemeliharaan perdamaian. Dengan selesainya penugasan, kontribusi kontingen dalam mendukung keamanan dan pelayanan masyarakat di Republik Afrika Tengah telah dituntaskan sesuai dengan mandat misi.
Dalam pelaksanaan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Afrika Tengah, kontingen Polri mendapat tanggung jawab untuk mengamankan para calon presiden dan wakil presiden. Pengamanan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pemilihan umum yang bertujuan memilih pemerintahan baru. Tugas ini menempatkan personel Indonesia di tengah proses politik penting, ketika keamanan dan kelancaran tahapan pemilu menjadi perhatian utama. Selain menjaga keselamatan para kandidat, kehadiran personel juga mendukung kegiatan pemilu agar dapat berlangsung tertib di wilayah penugasan.
Brigjen Tommy Wibisono, Kepala Biro Misi Internasional Divhubinter Polri, menyebut kepercayaan yang diberikan kepada kontingen Indonesia sebagai hal yang menarik. Menurutnya, di wilayah tersebut terdapat kontingen dari sejumlah negara, sehingga penugasan kepada personel Indonesia menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kemampuan mereka. Tanggung jawab itu dijalankan dalam koordinasi dengan unsur misi Minusca dan pihak terkait. Para personel perlu memahami situasi setempat, menjalankan prosedur pengamanan, serta menjaga profesionalisme dalam menghadapi dinamika yang dapat berubah selama proses pemilu.
Dansatgas FPU 7 Minusca Kombes Norhayat menjelaskan bahwa tensi politik meningkat ketika pemilu berlangsung, terutama karena sejumlah tahapan digelar di daerah konflik. Kondisi tersebut membuat pengamanan perlu dilakukan secara cermat, dengan mempertimbangkan risiko terhadap kandidat, masyarakat, dan penyelenggara. Personel Indonesia dikerahkan untuk mengamankan berbagai kegiatan pemilu serta mengawal surat suara. Pengawalan dilakukan guna membantu memastikan perlengkapan pemungutan suara dapat bergerak dengan aman dan proses pemilihan berjalan sesuai kebutuhan. Meski menghadapi tantangan keamanan, pemilu tersebut berlangsung dengan baik. Pelaksanaan tugas ini memperlihatkan peran kontingen dalam mendukung proses demokrasi sekaligus menjaga stabilitas di tengah situasi yang sensitif. Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian internasional, melalui kerja pengamanan yang terukur dan kolaborasi dengan berbagai unsur di lapangan. Kepercayaan untuk menjaga kandidat dan mengawal tahapan pemilihan menuntut kesiapan personel sepanjang penugasan, terutama saat keadaan politik dan keamanan setempat mengalami perubahan.
Dalam menjalankan misi Minusca, personel Polri tidak hanya melaksanakan patroli untuk menjaga keamanan dan mendukung perdamaian, tetapi juga berupaya membangun hubungan yang dekat dengan masyarakat setempat. Kehadiran langsung di lingkungan warga memberi kesempatan bagi pasukan untuk berinteraksi, mendengarkan kebutuhan, serta mengenalkan peran mereka dalam menjaga situasi tetap kondusif. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari tugas di Afrika Tengah, terutama ketika kepercayaan masyarakat diperlukan untuk mendukung upaya perlindungan warga dan pelaksanaan pemilu yang aman.
Tommy menjelaskan bahwa upaya menjangkau masyarakat turut dilakukan melalui keterlibatan satu peleton polisi wanita. Para personel perempuan menyapa dan berkomunikasi dengan ibu-ibu serta anak-anak, kelompok yang mungkin lebih nyaman berinteraksi melalui pendekatan yang akrab dan terbuka. Kehadiran mereka membuat kegiatan patroli perdamaian tidak terbatas pada pemantauan keamanan, melainkan juga menghadirkan ruang untuk menjalin kedekatan sosial. Interaksi semacam ini membantu warga mengenal personel Indonesia dan memahami bahwa mereka hadir untuk mendukung kehidupan masyarakat yang lebih aman.
Respons warga terhadap rangkaian kegiatan itu dinilai positif. Norhayat menyampaikan bahwa personel juga melaksanakan bakti sosial dengan mengunjungi gereja dan sekolah, sekaligus bersosialisasi dengan masyarakat di lokasi tersebut. Dalam kunjungan ke sekolah, pasukan memberikan tas dan alat tulis kepada anak-anak sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan belajar mereka. Bantuan sederhana itu disambut dengan gembira, begitu pula kehadiran para personel Indonesia yang berinteraksi dengan anak-anak dan warga. Melalui kunjungan, percakapan, serta dukungan kemanusiaan, pasukan berusaha memperkuat hubungan dengan komunitas setempat secara langsung. Kegiatan tersebut melengkapi patroli keamanan dengan perhatian pada kebutuhan sosial, serta menunjukkan bahwa pelaksanaan misi perdamaian dapat berjalan beriringan dengan upaya membangun rasa saling percaya. Bagi warga, pertemuan langsung dan bantuan yang diberikan menghadirkan pengalaman positif, sementara bagi personel, interaksi itu menjadi cara memahami lingkungan dan masyarakat yang mereka dampingi selama bertugas.Setelah menuntaskan tugas dalam misi United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic (Minusca), kontingen Polri menerima penghargaan Satyalancana Bhakti Buana dari Presiden Prabowo Subianto. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan negara atas pengabdian personel kepolisian yang menjalankan tugas perdamaian, termasuk mengawal proses pemilu di Republik Afrika Tengah. Penyematan tanda kehormatan berlangsung di ruang rapat utama Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, pada Senin, 19 Oktober 2026.
Wakapolri Komjen Wahyu Hadiningrat menyematkan penghargaan itu mewakili Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Penganugerahan Satyalancana Bhakti Buana tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 71/TK/2026, yang ditetapkan pada 7 September 2026. Keputusan itu menjadi landasan resmi pemberian tanda kehormatan kepada anggota kontingen atas kontribusi dan pelaksanaan tugas selama bertugas di bawah misi PBB.
Penghargaan ini sekaligus menandai berakhirnya penugasan kontingen di Minusca. Selama menjalankan misi, personel Polri bertugas mendukung upaya menjaga stabilitas dan membantu pengamanan pemilu di negara tersebut. Pengalaman itu menambah rekam jejak keterlibatan Polri dalam operasi internasional, sekaligus memperlihatkan peran personel Indonesia dalam mendukung agenda perdamaian dan keamanan global.
Tommy berharap Polri kembali mendapat kesempatan untuk terlibat dalam misi perdamaian maupun kemanusiaan di wilayah lain. Menurutnya, penugasan berikutnya dapat menjadi ruang bagi personel Polri untuk menerapkan pengalaman, sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan dukungan internasional. Ia menyampaikan bahwa koordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sedang dilakukan terkait peluang keterlibatan tersebut. Harapan itu mencerminkan komitmen untuk melanjutkan kontribusi Indonesia melalui kepolisian, dengan tetap mengikuti proses dan kebutuhan yang ditetapkan organisasi internasional. Jika peluang baru terbuka, Polri diharapkan dapat menyiapkan personel yang memiliki kapasitas dan kesiapan sesuai mandat misi.



































