Jakarta | ID Food, badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pangan, mengusulkan kepada pemerintah pembangunan fasilitas cold storage berskala besar di tujuh lokasi. Usulan ini diarahkan untuk memperkuat infrastruktur penyimpanan dan mendukung pengelolaan pasokan pangan secara lebih baik. Fasilitas berpendingin dapat membantu menjaga mutu komoditas yang memerlukan penanganan khusus, sekaligus memberi ruang penyimpanan yang memadai sebelum produk disalurkan kepada masyarakat. Di tengah kebutuhan menjaga ketersediaan pangan, kapasitas penyimpanan menjadi salah satu bagian penting dari rantai pasok.
Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menyampaikan bahwa tujuan utama pembangunan fasilitas tersebut adalah menjaga rantai pasok tetap murah. Dengan dukungan penyimpanan yang lebih kuat, penanganan dan distribusi pangan diharapkan dapat berlangsung lebih teratur. Ketersediaan ruang simpan juga dapat membantu mengelola waktu penyaluran komoditas, sehingga pasokan tidak harus dilepas ke pasar secara serentak. Menurut arah usulan itu, penguatan sarana penyimpanan berhubungan dengan upaya mengendalikan kelancaran distribusi dan menjaga biaya dalam rantai pasok pangan.
Selain efisiensi biaya, pembangunan cold storage diharapkan membantu menstabilkan pasokan dan harga pangan. Peran ini dinilai relevan untuk beragam komoditas, termasuk ayam, yang ketersediaan dan harganya dapat menjadi perhatian konsumen maupun pelaku usaha. Penyimpanan yang memadai dapat mendukung kesiapan pasokan ketika dibutuhkan, serta membantu meredam ketidakseimbangan ketersediaan barang dan permintaan. Meski demikian, usulan tersebut masih memerlukan pembahasan dan keputusan pemerintah mengenai rencana pembangunan di tujuh lokasi. Jika direalisasikan, fasilitas ini akan menjadi bagian dari upaya ID Food memperkuat sistem pangan nasional, dengan sasaran menjaga distribusi lebih efisien serta pasokan dan harga tetap stabil. Langkah itu juga menempatkan infrastruktur logistik sebagai penopang penting bagi keterjangkauan pangan, bukan semata-mata sebagai tempat menyimpan produk. Keberhasilan tujuan tersebut pada akhirnya bergantung pada pengelolaan fasilitas dan keterhubungannya dengan alur distribusi dari pemasok hingga pasar.Ghimoyo mengusulkan pembangunan fasilitas penyimpanan berpendingin atau cold storage berskala besar di tujuh lokasi. Rencana tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya memperkuat infrastruktur rantai pasok pangan. Dari tujuh titik yang disebut, informasi yang tersedia baru mengidentifikasi lima lokasi, yakni Lampung, Jakarta, Surabaya, Bitung, dan Makassar. Dua lokasi lainnya belum dirinci dalam keterangan tersebut, sehingga belum dapat disebutkan secara pasti.
Lima wilayah yang telah disebutkan mencakup beberapa kawasan berbeda di Indonesia. Lampung berada di Sumatra, sementara Jakarta dan Surabaya merupakan pusat kegiatan di Pulau Jawa. Bitung dan Makassar berada di Sulawesi. Penyebutan lokasi-lokasi ini memberi gambaran awal mengenai sebaran rencana pembangunan, tetapi belum menjelaskan titik atau alamat spesifik untuk masing-masing fasilitas.
Usulan tujuh lokasi itu masih perlu dibaca sesuai informasi yang telah disampaikan: sebagai rencana pembangunan, bukan bukti bahwa seluruh proyek sudah dimulai atau beroperasi. Belum ada rincian yang disebutkan mengenai jadwal pelaksanaan, kapasitas setiap cold storage, nilai investasi, maupun tahapan pembangunan di masing-masing wilayah. Karena itu, detail tersebut sebaiknya menunggu keterangan resmi berikutnya.
Demikian pula, dua lokasi yang belum diumumkan tidak dapat disimpulkan dari daftar lima wilayah yang tersedia. Menambahkan nama kota atau daerah lain tanpa konfirmasi berisiko mengaburkan isi usulan Ghimoyo. Untuk sementara, Lampung, Jakarta, Surabaya, Bitung, dan Makassar merupakan lokasi yang dapat diidentifikasi, sedangkan dua titik lainnya masih belum diketahui. Pembaca dapat mengikuti perkembangan informasi untuk memperoleh daftar lengkap serta penjelasan mengenai rencana pembangunan di ketujuh lokasi tersebut.
Kapasitas penyimpanan yang besar diperlukan agar persediaan ayam dapat dikelola secara lebih terencana dan tersedia ketika dibutuhkan. Dengan fasilitas rantai dingin yang memadai, ayam yang disimpan dapat bertahan selama enam bulan hingga satu tahun. Rentang waktu ini memberi ruang bagi ID Food untuk menyiapkan stok bukan hanya untuk kebutuhan langsung, tetapi juga sebagai cadangan menghadapi perubahan kondisi pasar. Pengelolaan persediaan jangka panjang membantu perusahaan menjaga ketersediaan produk, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan yang datang pada saat tertentu. Karena itu, pembangunan cold storage di sejumlah lokasi dipandang penting untuk memperkuat kemampuan penyimpanan dan distribusi.
Masa simpan hingga setahun memungkinkan persediaan digunakan sewaktu-waktu sesuai perkembangan harga ayam di pasaran. Ketika harga mengalami kenaikan, stok yang telah disimpan dapat dimanfaatkan untuk menambah pasokan dan membantu meredakan tekanan harga. Sebaliknya, jika harga turun, persediaan juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan pasokan agar produk tidak harus segera dilepas ke pasar dalam kondisi yang kurang menguntungkan. Pemanfaatan stok sebagai instrumen intervensi ini membutuhkan perencanaan yang cermat, termasuk pemantauan harga, kebutuhan konsumen, dan ketersediaan barang di berbagai wilayah. Dengan demikian, penyimpanan berkapasitas besar dapat mendukung respons yang lebih terukur terhadap dinamika pasar.
Meski masa simpan memberi fleksibilitas, kualitas produk tetap bergantung pada konsistensi suhu dan penerapan standar penanganan pangan selama penyimpanan. Pengawasan terhadap kondisi fasilitas, pencatatan waktu masuk dan keluar stok, serta pengaturan distribusi perlu berjalan beriringan dengan penambahan kapasitas. Langkah tersebut membantu memastikan ayam yang disimpan tetap layak digunakan saat dikeluarkan untuk mendukung pasokan. Ketersediaan fasilitas di tujuh lokasi juga berpotensi memperluas jangkauan pengelolaan stok, sehingga penyaluran dapat disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Pada akhirnya, kemampuan menyimpan ayam dalam jangka panjang bukan semata-mata soal menampung persediaan, tetapi juga menyediakan pilihan bagi ID Food untuk menjaga ketersediaan dan merespons perubahan harga secara lebih efektif.
Skema persediaan yang disampaikan Ghimoyo menempatkan penyimpanan ayam sebagai langkah awal sebelum produk didistribusikan ke pasar. Ayam yang tersedia tidak harus langsung dilepas seluruhnya pada saat yang sama, melainkan dapat disimpan terlebih dahulu di fasilitas penyimpanan dingin. Dengan cara ini, stok dapat dipertahankan dan dikelola sesuai kebutuhan, termasuk ketika pasokan atau harga mengalami perubahan. Mekanisme tersebut menjadi salah satu alasan pembangunan cold storage berskala besar dinilai penting dalam pengelolaan pangan.
Ayam yang tersimpan kemudian dapat dikeluarkan ketika dibutuhkan untuk membantu menambah pasokan di pasar. Perhatian khusus diberikan pada situasi ketika harga mulai naik, karena pelepasan persediaan dapat membantu meredam tekanan harga. Stok yang tersedia memberi ruang bagi pengelola untuk menyesuaikan distribusi, alih-alih hanya mengandalkan pasokan yang datang pada waktu itu. Tujuannya adalah mendukung kestabilan harga melalui pengaturan waktu penyaluran, bukan sekadar menambah kapasitas penyimpanan tanpa rencana distribusi.
Ghimoyo menyampaikan mekanisme tersebut dalam Agrifood Forum 2026 yang berlangsung di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin (19/10). Dalam konteks pembahasan pembangunan cold storage di tujuh lokasi, penyimpanan dan pelepasan stok dipaparkan sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan ayam sekaligus merespons pergerakan harga. Persediaan dapat menjadi penyangga saat pasar memerlukan tambahan pasokan, khususnya ketika kenaikan harga membutuhkan respons. Efektivitas skema ini bergantung pada pengelolaan stok dan penyalurannya sesuai kebutuhan, sehingga ayam yang disimpan dapat dimanfaatkan pada saat yang tepat.



































