Kabut Karhutla Lumpuhkan Aktivitas Warga di Palembang

oleh -135 Dilihat
oleh
Kabut Karhutla Lumpuhkan Aktivitas Warga di Palembang

Palembang | Palembang, Sumatera Selatan, diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan pada Selasa (20/10). Sejak pagi, kabut asap tebal tampak menutup kawasan kota dan mengurangi jarak pandang. Kondisi tersebut terlihat jelas di pusat kota, tempat sejumlah penanda penting sulit dikenali dari kejauhan. Suasana pagi yang biasanya memperlihatkan bentang Sungai Musi dan Jembatan Ampera berubah menjadi samar di balik lapisan asap.

Jembatan Ampera nyaris tak terlihat karena tertutup kabut yang pekat. Sungai Musi pun seolah tertutup asap, sehingga pandangan ke arah permukaan dan tepian sungai menjadi terbatas. Jarak pandang di kawasan itu hanya sekitar 20 meter. Dalam kondisi seperti ini, objek yang berada tidak jauh dari pengamat pun sulit terlihat dengan jelas. Pemandangan tersebut menggambarkan tebalnya asap yang menyelimuti pusat Palembang pada hari itu.

Asap yang menyebar di kota juga membawa bau sangit yang terasa oleh warga. Sejak pagi, sejumlah warga merasakan mata perih dan sesak napas saat berada di tengah kondisi tersebut. Keluhan itu menyertai suasana kota yang tertutup kabut dan membuat aktivitas sehari-hari berlangsung dalam jarak pandang terbatas. Bau asap menjadi bagian yang paling mudah dikenali, sementara pandangan ke sejumlah lokasi utama terhalang oleh selimut kabut.

Keadaan di sekitar Ampera dan Sungai Musi memperlihatkan dampak langsung kabut asap terhadap kenyamanan warga di Palembang. Jembatan yang menjadi penanda kota itu nyaris lenyap dari pandangan, sementara aliran sungai di bawahnya tidak tampak jelas karena tertutup asap. Dengan jarak pandang sekitar 20 meter, warga menghadapi suasana yang berbeda sejak pagi. Mata perih, sesak napas, serta bau sangit menjadi keluhan yang dirasakan di tengah kabut tebal. Pada Selasa (20/10), pusat kota pun terlihat samar, tertutup asap kebakaran hutan dan lahan.

Bagi Horijon, 54 tahun, kabut asap bukan hanya mengganggu pandangan dan kenyamanan di jalan. Asap yang menyelimuti Palembang juga membuat pekerjaannya sebagai penarik becak semakin sulit. Selama sekitar 20 tahun, ia biasa mangkal di bawah Jembatan Ampera untuk menunggu penumpang. Namun, ketika kabut pekat datang, jumlah orang yang membutuhkan jasanya berkurang. Banyak warga memilih tetap berada di rumah karena khawatir keluar di tengah udara yang dipenuhi asap. Akibatnya, Horijon dapat menunggu cukup lama tanpa memperoleh penumpang.

Perubahan itu langsung terasa pada penghasilannya sehari-hari. Horijon mengatakan, dalam keadaan kabut asap, ia hanya bisa memperoleh sekitar Rp15 ribu dalam sehari. Jumlah tersebut jauh di bawah pendapatan yang biasanya dapat ia bawa pulang. Ada kalanya, setelah seharian menunggu dan berkeliling mencari penumpang, ia pulang tanpa membawa uang sama sekali. Situasi itu membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk menyediakan uang untuk anaknya. Bagi seorang pekerja yang mengandalkan penumpang setiap hari, berkurangnya perjalanan warga berarti kesempatan memperoleh penghasilan ikut menyusut.

Sebelum kabut pekat menghambat aktivitas warga, Horijon biasanya dapat membawa pulang sekitar Rp100 ribu per hari. Uang itu digunakan untuk membantu mencukupi kebutuhan makan keluarganya. Perbedaan pendapatan normal dan uang yang diperoleh saat ini menunjukkan beratnya dampak asap terhadap pekerja informal yang tidak memiliki penghasilan tetap. Ketika orang takut keluar rumah, penarik becak seperti Horijon kehilangan sumber penumpang, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi. Ia menyebut keadaan tersebut berlangsung selama kabut pekat dalam seminggu terakhir. Dalam periode itu, pendapatannya merosot tajam, bahkan tidak selalu cukup untuk dibawa pulang. Pengalaman Horijon memperlihatkan bagaimana kabut karhutla dapat mengurangi penghasilan warga secara langsung, terutama mereka yang bekerja di ruang terbuka dan bergantung pada mobilitas masyarakat setiap hari.

Pengalaman Horijon mencerminkan keadaan yang dihadapi banyak warga Palembang ketika kabut asap menyelimuti kota. Ribuan orang harus tetap bertahan di tengah udara yang tercemar, sementara aktivitas sehari-hari berlangsung dalam situasi yang tidak biasa. Kabut yang pekat menjadi bagian dari keseharian warga, dan kondisi tersebut membuat ruang gerak masyarakat terasa terbatas. Bagi mereka, menghadapi asap bukan sekadar melihat langit yang tertutup, melainkan menjalani hari di tengah kualitas udara yang dinilai sangat buruk.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dilaporkan menembus angka di atas 500. Nilai itu masuk kategori berbahaya, sehingga menggambarkan tingkat pencemaran yang serius di Palembang. Angka tersebut memberi gambaran tentang beratnya kondisi udara yang harus dihadapi warga. Di tengah keadaan itu, ribuan orang tetap berada di kota dan berusaha menjalani kebutuhan harian mereka, meskipun kabut asap terus menjadi latar kehidupan masyarakat.

Horijon juga menyampaikan bahwa anak-anak sekolah diliburkan akibat kabut asap. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa kondisi yang berlangsung turut mengubah kegiatan belajar siswa. Ketika sekolah diliburkan, rutinitas anak-anak dan keluarga pun harus menyesuaikan diri dengan situasi yang sedang terjadi. Keterangan Horijon ini menambah gambaran mengenai bagaimana kabut asap hadir dalam kehidupan warga, bukan hanya sebagai pemandangan, tetapi juga sebagai keadaan yang memengaruhi kegiatan harian mereka.

Di berbagai bagian Palembang, warga menghadapi kondisi yang sama-sama tidak mudah: udara berasap, angka pencemaran yang berada pada kategori berbahaya, serta perubahan jadwal sekolah. Pengalaman Horijon menjadi satu gambaran dari keadaan yang lebih luas, ketika ribuan warga bertahan di tengah kabut dan menjalani hari dengan keterbatasan yang muncul akibat situasi tersebut. Informasi mengenai ISPU di atas 500 dan liburnya anak-anak sekolah memperjelas skala keadaan yang sedang dihadapi. Namun, gambaran ini tetap berpusat pada fakta yang disampaikan: kabut asap menyelimuti Palembang, udara berada dalam kategori berbahaya, dan kegiatan belajar anak-anak dihentikan sementara karena kondisi itu. Warga pun terus bertahan di tengah keadaan yang mengganggu rutinitas mereka.

Warga menyampaikan kekecewaan setelah kabut karhutla yang sempat berkurang kembali menyelimuti lingkungan mereka. Perubahan itu dirasakan tidak bertahan lama, sehingga operasi modifikasi cuaca yang dilakukan pemerintah belum memberi kelegaan berkelanjutan menurut pengalaman mereka. Kabut yang muncul lagi menjadi perhatian karena kondisi di sekitar tempat tinggal kembali terasa lebih pekat daripada sebelumnya. Warga menggambarkan keadaan tersebut berdasarkan apa yang mereka lihat setelah penebaran dry ice dilakukan.

Menurut keterangan warga, kabut hanya menghilang selama satu hari setelah penebaran dry ice. Setelah itu, kabut kembali muncul dan kondisinya dinilai lebih tebal. Rentang waktu yang singkat kabut berkurang dan kembali menyelimuti wilayah membuat warga mempertanyakan hasil yang mereka rasakan dari upaya tersebut. Mereka menuturkan bahwa perubahan sehari itu tidak bertahan, sementara kabut kemudian kembali hadir. Keluhan tersebut merujuk pada urutan kejadian yang mereka amati, tanpa menyatakan bahwa operasi itu menjadi penyebab kabut kembali menebal.

Salah seorang warga mengungkapkan kekecewaannya dengan mengatakan bahwa dirinya merasa seperti kena prank. Ungkapan itu digunakan untuk menggambarkan harapan bahwa kabut akan berkurang setelah penebaran, tetapi keadaan yang dirasakan hanya berubah sebentar sebelum kabut muncul lagi dengan kondisi lebih tebal. Bagi warga tersebut, kabut yang kembali setelah satu hari membuat hasil yang sempat terlihat terasa tidak bertahan. Ia menyampaikan perasaan itu sebagai tanggapan atas pengalaman warga terhadap operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice. Menurut keterangannya, kabut sempat menghilang, lalu kembali menebal, sehingga ia merasa seolah telah dibuat berharap akan perubahan yang lebih lama. Warga menyampaikan pengalaman dan kekecewaan tersebut tanpa menambahkan keterangan lain mengenai pelaksanaan operasi atau dampaknya di luar perubahan kabut yang mereka amati.

Baca juga: Asap Karhutla Ganggu Aktivitas dan Kesehatan Warga Palembang | Relawan Pemadam Karhutla Bromo Meninggal, Korban Jiwa Menjadi Lima | Lima Kabar Politik Indonesia: Wafatnya Subagyo HS hingga Pembahasan Karhutla