Andien Bangun Sekolah Gratis bagi Anak Pemulung dengan Dana Royalti NFT

oleh -73 Dilihat
oleh
Andien Bangun Sekolah Gratis bagi Anak Pemulung dengan Dana Royalti NFT

Jakarta | Andien Aisyah mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak pemulung pada 2022. Sekolah itu diberi nama Sekolah Anak Percaya, sebuah nama yang memiliki kaitan langsung dengan perjalanan musiknya. Nama tersebut diambil dari lagu Andien berjudul “Percaya”. Pilihan nama itu menghadirkan hubungan karya yang dikenal melalui dunia musik dan upaya menyediakan ruang belajar bagi anak-anak. Kehadiran sekolah ini menjadi bagian penting dari inisiatif Andien untuk mendukung akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga pemulung. Dengan biaya pendidikan yang tidak dipungut, sekolah tersebut ditujukan agar anak-anak dapat memperoleh kesempatan belajar tanpa terbebani biaya sekolah.

Keterangan mengenai pendirian Sekolah Anak Percaya disampaikan Andien saat ditemui di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Minggu (11/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa sekolah tersebut telah berdiri sejak 2022 dan diperuntukkan bagi anak-anak pemulung. Informasi tersebut memberi gambaran tentang latar belakang lembaga pendidikan yang ia dirikan, sekaligus menjelaskan asal-usul namanya. Sekolah Anak Percaya bukan sekadar nama yang dipilih secara kebetulan: nama itu merujuk pada salah satu lagu Andien, “Percaya”. Bagi publik, kaitan tersebut membantu mengenali gagasan yang menghubungkan karya musik sang penyanyi dengan program pendidikan yang dijalankannya.

Pendirian sekolah gratis ini juga berkaitan dengan pemanfaatan dana royalti NFT, sebagaimana tercermin dalam kisah tentang inisiatif Andien tersebut. Dengan menyalurkan hasil dari karya digital ke kegiatan pendidikan, gagasan itu memperlihatkan salah satu cara pendapatan kreatif dapat diarahkan untuk memberi manfaat sosial. Meski demikian, keterangan yang disampaikan Andien berfokus pada keberadaan sekolah, sasaran penerima manfaat, tahun pendirian, serta makna di balik namanya. Fakta-fakta itu menegaskan bahwa Sekolah Anak Percaya telah menjadi bagian dari upaya menyediakan akses belajar bagi anak-anak pemulung sejak 2022. Nama yang diambil dari lagu “Percaya” sekaligus menjadikan sekolah ini mudah dikenali sebagai inisiatif pendidikan yang berangkat dari karya dan kepedulian Andien.

Lagu “Percaya” memiliki hubungan langsung dengan lahirnya Sekolah Anak Percaya. Karya Andien tersebut dirilis pada masa pandemi Covid, ketika banyak orang menghadapi ketidakpastian dan perlu menjaga harapan. Ceritanya berpusat pada seseorang yang tetap percaya pada mimpinya, bahkan saat ia belum sepenuhnya percaya pada dirinya sendiri. Gagasan tentang keyakinan itu kemudian memperoleh wujud lain: bukan hanya sebagai pesan dalam lagu, tetapi juga sebagai sumber dukungan bagi pendidikan anak-anak pemulung.

Andien menjual royalti lagu “Percaya” dalam bentuk NFT. Hasil penjualan royalti tersebut selanjutnya digunakan sebagai modal untuk mendirikan Sekolah Anak Percaya. Dengan demikian, hubungan lagu dan sekolah berawal dari pemanfaatan hak ekonomi atas sebuah karya musik untuk mendukung tujuan sosial. Pendanaan itu menghubungkan pesan lagu tentang mempertahankan keyakinan pada mimpi dengan upaya menyediakan ruang belajar bagi anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan.

Pilihan ini juga menunjukkan bahwa sebuah karya dapat memiliki kehidupan yang melampaui fungsi hiburannya. “Percaya” menyampaikan dorongan untuk terus memegang mimpi, sementara pemanfaatan royalti lagu tersebut membantu mengubah dorongan itu menjadi dukungan nyata bagi pendirian sekolah. Bagi Andien, nilai lagu tidak hanya terletak pada makna lirik atau saat karya itu didengarkan, tetapi juga pada manfaat yang dapat dihasilkan dari royalti. Dana tersebut menjadi modal awal bagi Sekolah Anak Percaya, yang ditujukan bagi anak-anak pemulung.

Perjalanan dari lagu menuju sekolah memberi konteks pada nama Sekolah Anak Percaya. Nama itu menggemakan judul lagu sekaligus menegaskan pentingnya kepercayaan terhadap kemampuan dan masa depan anak. Pendanaan melalui royalti NFT menjadi penghubung karya kreatif dan inisiatif pendidikan tersebut. Kisah ini memperlihatkan bagaimana pendapatan dari musik dapat diarahkan untuk membangun kesempatan belajar, tanpa memisahkan pesan artistik lagu dari tujuan sosial yang ingin didukung. Bagi anak-anak yang menjadi sasaran sekolah, dukungan pendidikan memberi ruang untuk terus belajar dan menumbuhkan cita-cita. Sementara itu, kisah “Percaya” mengingatkan bahwa keyakinan pada mimpi bisa hadir bahkan sebelum seseorang yakin sepenuhnya pada dirinya sendiri. Pesan itu menjadi landasan yang selaras dengan tujuan pendirian sekolah, yakni memberi perhatian pada pendidikan anak-anak pemulung.Menurut keterangan Andien, sekolah gratis yang dibangun bagi anak-anak pemulung hadir di beberapa lokasi secara bertahap. Titik pertama berada di kampung pemulung Pondok Kopi. Lokasi ini menjadi awal dari upaya menyediakan ruang belajar bagi anak-anak di lingkungan tersebut. Setelah sekolah pertama berdiri di Pondok Kopi, inisiatif itu kemudian menjangkau wilayah lain, dengan urutan lokasi yang disebutkan Andien sebagai bagian dari perkembangan sekolahnya.

Perluasan berikutnya berlangsung ke Joglo. Kehadiran sekolah di lokasi ini menunjukkan bahwa program tersebut tidak hanya berpusat di Pondok Kopi, tetapi juga menjangkau kampung pemulung di wilayah lain. Dalam menyampaikan urutan lokasi, Andien menempatkan Joglo setelah Pondok Kopi. Keterangan tersebut menggambarkan perkembangan geografis sekolah tanpa mengubah titik awal yang telah disebutkan, yakni kampung pemulung di Pondok Kopi.

Setelah Joglo, sekolah kemudian hadir di Jurang Mangu. Lokasi ini menjadi bagian selanjutnya dari rangkaian tempat yang disampaikan Andien. Dengan demikian, penyebutan Jurang Mangu melanjutkan perjalanan program dari Pondok Kopi ke Joglo, sebelum menjangkau kawasan berikutnya. Urutan ini membantu memperlihatkan bagaimana sekolah gratis tersebut berkembang melalui sejumlah lokasi, tanpa perlu menyimpulkan hal lain mengenai waktu pembukaan atau pelaksanaan kegiatan di setiap tempat.

Lokasi berikutnya yang disebutkan adalah Rawa Bebek. Dengan hadirnya sekolah di sana, daftar lokasi yang disampaikan Andien mencakup Pondok Kopi, Joglo, Jurang Mangu, dan Rawa Bebek. Keempat nama tersebut menunjukkan cakupan wilayah tempat sekolah bagi anak-anak pemulung dibangun. Rangkaian itu sekaligus menegaskan bahwa inisiatif tersebut memiliki beberapa titik, bukan hanya satu sekolah di lokasi awal. Penyebutan secara berurutan memberi gambaran perkembangan yang jelas: dimulai dari kampung pemulung Pondok Kopi, lalu berlanjut ke Joglo, Jurang Mangu, dan Rawa Bebek. Keterangan lokasi ini menjadi cara paling langsung untuk memahami jangkauan program sebagaimana dipaparkan Andien, tanpa menambahkan rincian yang tidak ia sebutkan.

Andien menyebut bahwa sebelum ia terlibat dalam upaya pendidikan di kampung pemulung, terdapat keraguan dari pihak lain untuk mengajar di lingkungan tersebut. Persoalan yang dihadapi warga disebut berlapis, sehingga keterlibatan dalam kegiatan belajar tidak dipandang sebagai hal yang sederhana. Keraguan itu menjadi bagian dari situasi yang ia temui ketika melihat kebutuhan anak-anak di sana. Andien tidak mengabaikan berbagai tantangan tersebut, tetapi juga tidak menjadikannya alasan untuk berhenti mencari jalan. Baginya, keadaan yang kompleks perlu dihadapi dengan kemauan untuk terlibat dan melihat kemungkinan langkah yang dapat dilakukan bersama.

Dalam situasi itu, Andien memilih mengambil peran. Ia mengajak pihak-pihak terkait untuk mencari solusi bersama, bukan hanya menunggu sampai seluruh persoalan selesai dengan sendirinya. Sikap tersebut menempatkan perhatian pada tindakan yang bisa dimulai, sekaligus membuka ruang bagi kerja sama. Upaya menghadirkan pendidikan bagi anak-anak di kampung pemulung dipahami sebagai proses yang membutuhkan kepedulian dan keterlibatan, terutama ketika persoalan yang ada tidak bisa diselesaikan melalui satu langkah saja. Andien menyampaikan pilihannya secara sederhana: jika belum ada solusi, ia ingin menjadi bagian dari solusi. Pernyataan itu mencerminkan kesediaannya untuk ikut berkontribusi, tanpa menganggap bahwa ia dapat menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri.

Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa keraguan tidak harus menjadi akhir dari pembicaraan.

Baca juga: Arah Baru Tata Kelola Dana Haji: Peran BPKH dan Manfaat bagi Jemaah | Pencurian di Lima Sekolah Padang Pariaman, Kerugian Ditaksir Rp303 Juta