Kota Tangerang | Kebakaran di gudang produksi es krim yang berada di Jalan Industri Raya, Jatiuwung, Kota Tangerang, masih belum padam setelah berlangsung lebih dari 30 jam. Hingga Rabu (21/10/26), api masih membakar tumpukan material di dalam gudang. Puluhan petugas tetap berupaya menangani kebakaran tersebut, sementara puing dan material yang terbakar menghambat proses pemadaman.
Peristiwa itu pertama kali dilaporkan pada Selasa (20/10/26) sekitar pukul 13.55 WIB. Sejak laporan diterima, petugas berusaha mengendalikan api yang membakar area gudang. Namun, kobaran belum sepenuhnya dapat dipadamkan hingga hari berikutnya. Lamanya penanganan menunjukkan bahwa api masih bertahan di tumpukan material di dalam bangunan.
Puing-puing yang berada di lokasi menjadi salah satu kendala dalam upaya pemadaman. Material yang bertumpuk menyulitkan petugas menjangkau bagian-bagian yang masih terbakar. Karena itu, penanganan tidak hanya berfokus pada api yang terlihat, tetapi juga pada titik-titik di balik tumpukan tersebut. Selama masih ada material yang terbakar, petugas perlu terus melakukan upaya pemadaman dan memastikan kondisi di dalam gudang.
Puluhan petugas masih berada dalam upaya penanganan saat kebakaran berlanjut. Mereka menghadapi situasi yang belum selesai meskipun waktu telah berlalu lebih dari sehari sejak kejadian pertama kali dilaporkan. Api yang tersisa di puing membuat proses pemadaman berlangsung lama. Hingga Rabu, kebakaran di gudang produksi es krim itu belum dinyatakan padam.
Perkembangan tersebut menjadikan kondisi gudang di Jatiuwung masih menjadi perhatian pada hari berikutnya. Informasi utama yang tercatat hingga saat itu adalah api masih membakar tumpukan material, sementara petugas terus berusaha mengatasinya. Dengan kendala puing di lokasi, penanganan tetap berlangsung setelah lebih dari 30 jam sejak laporan awal. Belum padamnya api menandakan bahwa upaya pemadaman masih harus diteruskan hingga kobaran benar-benar berhasil dikendalikan.
Upaya pemadaman kebakaran di gudang es krim kawasan Jatiuwung masih berlangsung setelah api bertahan lebih dari 30 jam. Untuk menangani kebakaran tersebut, sebanyak 50 personel pemadam kebakaran dan 14 armada dikerahkan ke lokasi. Pengerahan itu dilakukan dalam upaya menjinakkan api yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan, sementara kondisi di area gudang masih menjadi perhatian petugas.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Tangerang, Andia Suherlandia Rahman, membenarkan bahwa kebakaran masih terjadi. “Betul (kebakaran masih terjadi),” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penanganan belum selesai dan petugas masih menghadapi situasi kebakaran di lokasi. Durasi kejadian yang panjang membuat proses pemadaman terus dilakukan, dengan mempertimbangkan kondisi bangunan dan area yang terdampak.
Puing-puing di sekitar lokasi menjadi salah satu hambatan dalam upaya pemadaman. Material yang berserakan dapat menyulitkan petugas menjangkau titik-titik tertentu dan melakukan penanganan secara langsung. Karena itu, operasi membutuhkan kehati-hatian sekaligus koordinasi di personel yang bertugas. Banyaknya armada yang dikerahkan mendukung upaya penanganan, tetapi kondisi lapangan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan kelancaran proses tersebut.
Dengan 50 personel dan 14 armada, petugas melanjutkan upaya untuk memadamkan api yang masih muncul di area gudang. Penanganan kebakaran seperti ini dapat berlangsung bertahap, terutama ketika puing menghalangi akses dan kondisi di dalam bangunan belum mudah dijangkau. Petugas perlu memastikan titik api dapat ditangani, sekaligus memperhatikan keselamatan selama bekerja di sekitar struktur yang terdampak kebakaran.
BPBD Kota Tangerang menyatakan kebakaran masih terjadi, sehingga pengerahan petugas dan armada tetap diarahkan pada penanganan di lokasi. Belum berakhirnya kebakaran setelah lebih dari 30 jam menunjukkan bahwa proses pemadaman menghadapi kendala yang nyata. Puing yang menghambat akses menjadi bagian dari tantangan tersebut. Informasi mengenai kondisi kebakaran tetap merujuk pada keterangan pejabat BPBD dan situasi penanganan yang berlangsung di Jatiuwung.
Kendala utama pemadaman kebakaran di gudang es krim Jatiuwung adalah sulitnya air mencapai titik api yang masih tersembunyi di balik tumpukan puing. Meski petugas terus melakukan upaya pemadaman, material bangunan yang runtuh menutupi sejumlah bagian area dan menghalangi aliran air menuju sumber bara. Akibatnya, pemadaman belum dapat menjangkau seluruh lokasi yang berpotensi masih terbakar. Situasi ini membuat penanganan tidak cukup dilakukan dengan menyemprotkan air dari bagian luar atau permukaan puing saja; petugas perlu membuka akses terlebih dahulu agar air dapat diarahkan ke bagian dalam tumpukan.
Andia menjelaskan bahwa puing-puing yang menutup titik api harus diurai agar petugas dapat menangani bagian yang belum padam. Proses tersebut membutuhkan bantuan alat berat, karena material yang menumpuk sulit dipindahkan secara manual dan perlu dibuka dengan hati-hati. “Puing-puing ini perlu diurai menggunakan alat berat agar pemadaman dapat menjangkau bagian yang masih terbakar,” kata Andia. Penggunaan alat berat diharapkan memberi akses yang lebih baik ke area tertutup, sehingga petugas dapat mengetahui lokasi bara dan mengarahkan air secara lebih tepat. Tanpa penguraian, bagian yang masih menyala berisiko tetap terlindung oleh puing.
Hambatan akses tersebut menjadi salah satu faktor yang memperpanjang proses pemadaman. Petugas perlu menyesuaikan langkah dengan kondisi di lapangan: puing dibuka secara bertahap, kemudian area yang terbuka dapat disiram untuk menekan bara. Pekerjaan ini menuntut koordinasi personel pemadam dan operator alat berat agar pembukaan tumpukan tidak mengganggu upaya pemadaman, sekaligus memungkinkan air mencapai sasaran. Selama akses belum terbuka, penyiraman dari luar belum tentu cukup untuk memadamkan bagian yang tersembunyi. Karena itu, penguraian puing menjadi langkah penting dalam penanganan kebakaran gudang tersebut, terutama untuk memastikan tidak ada titik api yang tertinggal di bawah atau di material runtuhan.
Berdasarkan keterangan saksi yang dihimpun terkait kebakaran gudang es krim di Jatiuwung, sumber api diduga berasal dari korsleting listrik. Dugaan tersebut merujuk pada keterangan awal mengenai munculnya percikan di area gudang. Percikan itu disebut menyambar tempat penyimpanan kardus, yang kemudian membuat api cepat membesar. Informasi tersebut masih merupakan dugaan berdasarkan kesaksian, bukan kesimpulan resmi mengenai penyebab kebakaran. Penetapan penyebab membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang, termasuk penelusuran kondisi instalasi listrik dan titik awal munculnya api.
Kardus dan berbagai benda yang tersimpan di dalam gudang menjadi bagian dari material yang terbakar. Ketika api menjalar, kobaran tampak meluas dan menghasilkan asap pekat yang membubung tinggi. Asap tersebut terlihat dari kejauhan, menggambarkan besarnya kebakaran serta banyaknya material yang terdampak di lokasi. Kondisi itu juga membuat situasi di sekitar gudang tampak semakin sulit dipantau, terutama ketika asap terus mengepul dari tumpukan barang yang terbakar. Meski gambaran visual dapat menunjukkan perkembangan kejadian, hal tersebut tidak dengan sendirinya memastikan bagaimana api pertama kali muncul.
Rekaman yang dikirim BPBD Kota Tangerang memperlihatkan api masih berkobar pada tumpukan benda terbakar, sementara asap terus mengepul dari area tersebut. Gambar itu memberikan gambaran keadaan di lokasi pada saat kebakaran berlangsung, tetapi tidak menjelaskan secara langsung sumber nyala api maupun urutan kejadian sebelum kobaran membesar. Dalam rekaman, material yang terbakar tampak menumpuk, sedangkan kepulan asap tetap terlihat meski upaya pemadaman berlangsung. Keadaan tersebut sejalan dengan keterangan bahwa api menyambar area penyimpanan kardus, namun hubungan percikan listrik dan penyebaran api tetap perlu dipastikan melalui penyelidikan.
Dengan demikian, korsleting listrik dan tersambarnya tempat penyimpanan kardus dapat disebut sebagai dugaan awal yang bersumber dari keterangan saksi.



































