Kabupaten Mesuji. Sebab | Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela meminta seluruh kabupaten dan kota mempercepat penanggulangan tuberkulosis (TBC), terutama dalam menemukan warga yang terinfeksi dan memastikan mereka memperoleh layanan yang diperlukan. Seruan tersebut berangkat dari capaian notifikasi kasus yang masih jauh dari sasaran. Hingga Oktober 2026, notifikasi kasus TBC di Provinsi Lampung baru mencapai 44 persen, sementara target nasional ditetapkan sebesar 90 persen. Selisih yang lebar ini menunjukkan bahwa upaya penemuan kasus perlu ditingkatkan secara nyata dan merata di seluruh wilayah.
Notifikasi kasus menggambarkan jumlah kasus yang berhasil ditemukan dan dilaporkan melalui sistem kesehatan. Karena itu, angka yang rendah tidak serta-merta berarti penularan telah terkendali; sebagian orang dengan TBC mungkin belum terjangkau pemeriksaan atau belum tercatat dalam layanan. Pemerintah daerah perlu mendorong fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, serta unsur masyarakat untuk memperkuat penjangkauan, mengenali gejala, dan mengarahkan warga yang membutuhkan ke pemeriksaan. Koordinasi antarkabupaten dan kota juga penting agar kesenjangan capaian dapat diketahui dan hambatan di lapangan segera ditangani.
Desakan Jihan memiliki urgensi waktu yang kuat. Setelah capaian Oktober tercatat, waktu efektif yang tersisa hanya sekitar dua bulan hingga akhir tahun. Periode singkat tersebut perlu dimanfaatkan untuk mengejar peningkatan capaian, bukan sekadar menunggu laporan berikutnya. Setiap daerah dapat meninjau kemajuan secara berkala, menetapkan langkah tindak lanjut, serta memusatkan sumber daya pada lokasi dan kelompok yang belum terjangkau. Pemantauan yang teratur membantu memastikan kegiatan penemuan berjalan dan hasilnya masuk ke dalam pelaporan.
Target nasional 90 persen menjadi tolok ukur penting, meskipun mengejar selisih dari angka 44 persen dalam waktu terbatas bukan pekerjaan ringan. Langkah yang terarah dan kerja bersama pemerintah daerah serta layanan kesehatan dapat memperkuat respons. Peningkatan penemuan kasus juga menjadi pintu masuk bagi pengobatan yang tepat dan pencegahan penularan lebih lanjut. Oleh sebab itu, seluruh kabupaten dan kota diminta menjadikan sisa waktu hingga penutupan tahun sebagai kesempatan untuk mempercepat tindakan dan memperbaiki capaian notifikasi TBC Lampung.
Perluasan penemuan kasus tuberkulosis di Lampung perlu dimulai dengan memperkuat skrining, bukan hanya mengandalkan warga yang datang sendiri ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala. Pemeriksaan perlu diarahkan kepada orang yang memenuhi kriteria, termasuk mereka yang berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan pasien TBC. Dengan langkah ini, dugaan kasus dapat dikenali lebih awal dan warga bisa memperoleh pemeriksaan serta penanganan sesuai kebutuhan. Pendekatan aktif juga membantu mengurangi kemungkinan penularan yang tidak terdeteksi di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Penelusuran kasus secara aktif dan investigasi kontak perlu dilakukan secara teratur sebagai bagian dari upaya menemukan orang yang membutuhkan pemeriksaan. Petugas dapat menindaklanjuti informasi mengenai pasien yang telah teridentifikasi, kemudian mengajak kontak erat untuk menjalani skrining. Proses tersebut harus dilakukan dengan komunikasi yang jelas, menjaga privasi, dan menghindari stigma agar warga bersedia berpartisipasi. Skrining yang menjangkau masyarakat secara langsung akan lebih efektif bila disertai informasi tentang gejala TBC, manfaat deteksi dini, serta tempat untuk mendapatkan pemeriksaan. Karena itu, kegiatan penyuluhan dan penjangkauan perlu berjalan beriringan dengan layanan kesehatan.
Upaya ini tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Perangkat daerah, termasuk dinas pemberdayaan masyarakat dan desa, camat, kepala desa, serta kader, perlu dilibatkan untuk membantu mengenali dan menjangkau sasaran yang memenuhi kriteria pemeriksaan. Mereka dapat mendukung penyebaran informasi, menghubungkan warga dengan petugas, serta membantu mengoordinasikan kegiatan di wilayah masing-masing. Peran tersebut penting terutama di tingkat kecamatan dan desa, tempat pemahaman mengenai kondisi serta kebutuhan warga dapat membantu penjangkauan berlangsung lebih tepat. Keberhasilan program penemuan kasus merupakan tanggung jawab bersama, dari pemerintah daerah hingga unsur masyarakat di setiap wilayah. Koordinasi lintas pemerintahan yang konsisten dapat memperluas cakupan skrining dan memastikan tidak ada kelompok berisiko yang terlewat hanya karena tidak datang lebih dahulu ke fasilitas kesehatan.
Lampung telah memiliki sejumlah modal untuk mempercepat penanggulangan tuberkulosis (TBC). Di antaranya terdapat tim percepatan penanggulangan TBC, rencana aksi daerah, kader TBC, fasilitas pelayanan kesehatan, serta situs Peduli TB Lampung. Berbagai instrumen ini dapat mendukung koordinasi, penemuan kasus, edukasi masyarakat, pemeriksaan, dan pendampingan pasien. Keberadaannya menunjukkan bahwa daerah mempunyai landasan awal untuk memperluas layanan dan memperkuat keterlibatan lintas sektor. Namun, ketersediaan perangkat tersebut belum dengan sendirinya menghasilkan capaian sesuai target. Karena itu, perhatian perlu diarahkan pada pelaksanaan program, jangkauan layanan, dan pemanfaatan sumber daya yang telah tersedia secara konsisten di lapangan.
Pemerintah daerah diminta mengevaluasi kendala yang menghambat pencapaian, termasuk hambatan dalam menemukan orang terduga TBC dan menghubungkan mereka dengan pemeriksaan. Evaluasi perlu melibatkan petugas kesehatan, kader, dan pihak terkait agar masalah di tiap wilayah dapat dikenali secara lebih tepat. Rencana aksi daerah juga perlu dituntaskan sebagai landasan program, sehingga sasaran, pembagian peran, dan langkah kerja dapat menjadi acuan bersama. Dokumen tersebut sebaiknya tidak berhenti sebagai formalitas, melainkan diterjemahkan menjadi kegiatan yang terukur dan dipantau berkala. Dengan demikian, dukungan tim percepatan dan jejaring kader dapat diarahkan pada kebutuhan layanan, sekaligus membantu menutup kesenjangan perencanaan dan pelaksanaan.
Optimalisasi sarana diagnosis menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Alat rontgen dan tes cepat molekuler perlu dimanfaatkan untuk mendukung pemeriksaan, terutama ketika gejala atau hasil skrining memerlukan penilaian lebih lanjut. Daerah juga perlu memperkuat sistem rujukan agar pasien dapat menjalani pemeriksaan lanjutan tanpa tertunda, termasuk ketika layanan yang dibutuhkan tidak tersedia di fasilitas pertama. Selain akses pemeriksaan, ketepatan pelaporan pasien yang telah terdiagnosis sangat menentukan mutu pemantauan. Fasilitas pelayanan kesehatan perlu memasukkan data secara tepat waktu melalui Sistem Informasi Tuberkulosis. Pelaporan yang tertib membuat data lebih mencerminkan keadaan sebenarnya, membantu mengidentifikasi kekurangan penanganan, dan menyediakan dasar yang lebih kuat bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan serta menyusun intervensi berikutnya.
Capaian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) bagi kelompok berisiko di Lampung masih jauh dari sasaran. Hingga 16 Oktober 2026, baru 14 persen dari sasaran yang telah menerima terapi, sedangkan target yang ditetapkan mencapai 80 persen. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa upaya menemukan dan menangani kasus TBC perlu diikuti perlindungan yang lebih kuat bagi orang-orang yang berpeluang tertular, terutama mereka yang tinggal serumah dengan pasien.
Kontak serumah merupakan kelompok penting untuk dijangkau karena paparan dapat berlangsung dalam lingkungan tempat tinggal. Namun, pencapaian TPT yang rendah menandakan masih ada hambatan dalam mengidentifikasi kontak, menyampaikan informasi, maupun memastikan keluarga bersedia dan dapat memulai terapi. Karena itu, daerah perlu menilai proses secara menyeluruh, bukan hanya mencatat jumlah pasien yang ditemukan atau kegiatan yang telah dilaksanakan.
Petugas dan pengelola program diminta mengurai penyebab rendahnya pemberian terapi pencegahan di setiap wilayah. Penilaian dapat mencakup apakah kontak serumah sudah terdata dan diperiksa, apakah keluarga memahami manfaat serta tata cara terapi, dan apakah layanan tersedia dengan mudah. Hasil penilaian tersebut perlu menjadi dasar perbaikan yang spesifik, sehingga hambatan dapat ditangani sesuai kondisi setempat, bukan sekadar ditanggapi dengan kegiatan yang sama di semua tempat.
Edukasi kepada keluarga pasien juga perlu diperkuat. Informasi yang jelas dan disampaikan secara berulang dapat membantu mengurangi keraguan, menjelaskan pentingnya pencegahan, serta mendorong anggota keluarga mengikuti pemeriksaan dan terapi sesuai anjuran.
Baca juga: Prospek Panas Bumi Tetap Menarik, Investor Diminta Mencermati Risiko dan Kinerja PGE | Prabowo Samakan Kabinet dengan Tim Sepak Bola, Menteri Diminta Bersabar | Bandung Tingkatkan Kewaspadaan Usai Kericuhan Demonstrasi



































