Jakarta | Kebakaran hutan di kawasan Amazon, Brasil, kian meluas di tengah kondisi yang semakin kering. Curah hujan yang rendah dan suhu tinggi membuat vegetasi kehilangan kelembapan, sehingga lebih mudah terbakar dan api dapat menyebar dengan cepat. Kekeringan ekstrem yang melanda kawasan ini diperparah oleh pengaruh El Niño, fenomena iklim yang dapat mengubah pola hujan dan meningkatkan risiko cuaca panas serta kering di sejumlah wilayah. Dalam kondisi tersebut, titik api yang muncul dapat berkembang menjadi kebakaran besar, sementara upaya pemadaman menghadapi tantangan dari luasnya wilayah dan sulitnya akses.
Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan di area yang terbakar. Asap tebal membawa partikel halus ke udara dan dapat menurunkan kualitas udara, termasuk di wilayah yang berada jauh dari sumber api. Paparan polusi tersebut berisiko mengganggu kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung. Pemantauan kondisi udara dan penyampaian informasi kepada masyarakat menjadi penting ketika asap bergerak melintasi kawasan berpenduduk. Gambaran ini mengingatkan pada kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di Indonesia, ketika asap dapat meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat. Namun, kedua peristiwa itu berlangsung di lokasi dan konteks lingkungan yang berbeda; kemiripannya terletak pada dampak asap dan tekanan terhadap kesehatan serta kehidupan sehari-hari.
Citra satelit NASA pada 12 Oktober 2026 menunjukkan kepulan asap di Amazon bagian tengah dan timur, terlihat di kedua sisi Sungai Amazon. Pengamatan tersebut memberi gambaran tentang sebaran asap yang luas dan membantu memantau perkembangan kebakaran dari waktu ke waktu. Meski citra satelit dapat mengidentifikasi pola asap dan area yang terdampak, pemahaman menyeluruh tetap memerlukan data lapangan, termasuk informasi mengenai lokasi titik api, kondisi cuaca, dan kualitas udara. Kombinasi pemantauan satelit dengan laporan setempat dapat mendukung penilaian risiko serta respons darurat. Seiring kekeringan berlanjut, kondisi vegetasi dan arah angin akan ikut menentukan penyebaran api maupun asap. Karena itu, pemantauan berkala diperlukan untuk mengetahui perubahan situasi, memperkirakan wilayah yang mungkin terpapar, dan membantu otoritas menyampaikan peringatan secara tepat kepada masyarakat.
Manaus, salah satu kota terbesar di kawasan Amazon, merasakan langsung dampak kebakaran hutan yang memburuk di tengah kekeringan ekstrem. Asap dari wilayah yang terbakar menyelimuti kota dan membuat kualitas udara turun tajam. Konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat melampaui 135 mikrogram per meter kubik, jauh di atas tingkat yang dianggap aman untuk paparan jangka pendek. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk ke saluran pernapasan dan paru-paru, sehingga paparan tinggi berisiko memperburuk gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit tertentu.
Situasi tersebut mengganggu kegiatan sehari-hari warga. Sejumlah kegiatan sekolah dibatalkan, sementara aktivitas publik dan acara olahraga turut dihentikan atau ditunda untuk mengurangi paparan terhadap udara tercemar. Pembatasan ini mencerminkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya terjadi di hutan, tetapi juga menjangkau pusat-pusat permukiman yang jauh dari titik api. Ketika asap bertahan dan kualitas udara belum membaik, warga mungkin perlu membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya kegiatan yang menuntut banyak tenaga. Kondisi demikian juga menyulitkan penyelenggara layanan pendidikan dan kegiatan masyarakat untuk menentukan kapan aktivitas dapat berlangsung kembali dengan aman.
Ilmuwan NASA Douglas Morton mengingatkan bahwa kebakaran tropis dapat menjadi bagian dari rangkaian kejadian yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ia menggambarkan kebakaran di Amazon sebagai kejadian berikutnya setelah kebakaran yang sebelumnya melanda Indonesia. Pernyataan itu menyoroti pola kebakaran besar yang muncul di sejumlah kawasan tropis, bukan sekadar masalah lokal yang berdiri sendiri. Di Amazon, kebakaran yang berdampak pada Manaus berkaitan dengan wilayah negara bagian Pará dan Amazonas, tempat api dan kekeringan memperparah tekanan terhadap lingkungan. Asap yang terbawa angin dapat melintasi jarak luas, sehingga dampaknya terasa di kota-kota dan mengganggu kesehatan serta kegiatan masyarakat. Pengalaman Manaus memperlihatkan bagaimana kebakaran hutan dan kondisi kering dapat berujung pada krisis kualitas udara bagi penduduk perkotaan.
Di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan telah berlangsung sejak Agustus 2026. Pada Oktober, ratusan rumah dilaporkan hancur, sementara asap menyelimuti sejumlah pulau dan mengganggu kehidupan masyarakat. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana musim kering dapat memperbesar dampak api, terutama ketika kebakaran meluas ke permukiman dan kawasan berhutan. Morton menyebut pola serupa pernah terlihat pada periode 2015–2016 dan muncul kembali pada 2023. Pengulangan tersebut menjadi pengingat bahwa kondisi kering berkepanjangan dapat menciptakan risiko kebakaran besar di berbagai wilayah tropis, meskipun pemicu langsung dan keadaan setempat tidak selalu sama.
Di Amazon, data Institut Meteorologi Nasional Brasil menunjukkan betapa ekstremnya defisit hujan di sekitar Manaus. Curah hujan pada Agustus tercatat 95 persen di bawah normal, sedangkan pada September jumlahnya 60 persen lebih rendah daripada biasanya. Kekurangan air membuat tanah, serasah, dan tumbuhan kehilangan kelembapan. Vegetasi yang mengering menjadi lebih mudah terbakar, sehingga api dapat bertahan lebih lama dan merambat lebih jauh. Kekeringan tidak selalu menyalakan api dengan sendirinya, tetapi dapat mengubah kebakaran yang semula terbatas menjadi ancaman yang lebih luas bagi hutan dan masyarakat.
Sebagian besar kebakaran di Amazon dipicu oleh aktivitas manusia, sedangkan petir menyumbang kurang dari 1 persen. Api kerap digunakan untuk membuka lahan pertanian atau mengelola padang penggembalaan. Praktik tersebut dapat menjadi berbahaya saat kondisi sangat kering: nyala yang ditujukan untuk membersihkan lahan bisa lepas kendali, lalu menjalar ke vegetasi hutan di sekitarnya. Dengan bahan bakar yang telah mengering dan hujan yang jauh di bawah normal, upaya pemadaman pun lebih sulit. Karena itu, pencegahan pembakaran terbuka, pengawasan terhadap api, dan kesiapsiagaan selama musim kering merupakan bagian penting dalam mengurangi risiko kebakaran serta dampak asap lintas wilayah.
Di sekitar Santarém, Brasil, kondisi kebakaran yang terlihat dari citra satelit mungkin hanya sebagian dari gambaran sebenarnya. Shane Coffield, peneliti University of Maryland yang bekerja bersama NASA Goddard, memperkirakan terdapat sekitar 50 hingga 70 kebakaran tak terkendali di wilayah tersebut. Angka ini menunjukkan skala ancaman yang sulit dipastikan melalui pengamatan jarak jauh saja, terutama ketika kekeringan ekstrem dan asap pekat mengubah kondisi atmosfer. Kebakaran kecil dapat berkembang tanpa segera terlihat, sementara api yang menyebar di kawasan terpencil juga menyulitkan tim untuk memperoleh gambaran lapangan yang menyeluruh. Perkiraan Coffield karena itu menyoroti kemungkinan bahwa jumlah titik api sebenarnya lebih besar daripada yang tercatat dalam pemantauan rutin.
Analisis Coffield menemukan bahwa jumlah kebakaran di kawasan itu sekitar 40 persen lebih banyak dibandingkan yang terdeteksi oleh FIRMS, sistem NASA untuk pemantauan kebakaran aktif. Selisih tersebut tidak serta-merta berarti sistem gagal, tetapi menunjukkan keterbatasan pengamatan satelit dalam keadaan tertentu. Asap tebal dapat mengaburkan titik api, awan dapat menutup pandangan sensor, dan kanopi pohon bisa menyembunyikan kebakaran yang berlangsung di bawah tutupan hutan. Faktor-faktor ini membuat sebagian kebakaran luput dari deteksi pada waktu pengamatan. Karena itu, angka dari sistem pemantauan perlu dibaca sebagai catatan atas api yang berhasil terlihat, bukan hitungan pasti seluruh kebakaran yang sedang berlangsung. Perbedaan tersebut juga menegaskan pentingnya menggabungkan data satelit dengan pemeriksaan lapangan dan pemantauan berkelanjutan.
Morton memperingatkan bahwa gelombang kebakaran berikutnya berpotensi melanda Roraima Pará bagian.
Baca juga: Kebakaran TPA Lampung Tengah Bikin Asap Ganggu Pandangan di Tol Bakauheni–Terbanggi Besar | Kebakaran TPA Lampung Tengah Picu Asap Tebal di Tol Bakauheni–Terbanggi Besar | Kabut Asap Karhutla Memburuk, Palembang Salurkan 15 Ribu Masker



































