Atik Jauhari Wafat pada Usia 77 Tahun, Tinggalkan Jejak Besar di Bulutangkis Indonesia

oleh
oleh
Persib Sampaikan Duka atas Wafatnya Bobotoh Asal Bogor

Kota Tangerang. Nantinya | Atik Jauhari, mantan atlet sekaligus pelatih bulutangkis Indonesia, meninggal dunia pada Minggu, 8 November 2026, pukul 02.49 WIB. Ia mengembuskan napas terakhir dalam usia 77 tahun di Rumah Sakit Mayapada, Kota Tangerang, setelah sakit. Kabar duka tersebut menandai berpulangnya sosok yang dikenal melalui perjalanan panjangnya di dunia bulutangkis nasional, baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih. Kepergiannya menjadi kehilangan bagi keluarga dan lingkungan olahraga Indonesia. Informasi yang disampaikan mengenai wafatnya Atik memuat waktu, tempat, dan usianya, sementara rincian lebih jauh mengenai sakit yang dialaminya tidak disebutkan. Jenazah direncanakan disemayamkan di Kota Tangerang sebelum dimakamkan di Cipondoh, Tangerang.

Rencana pemakaman itu menempatkan prosesi penghormatan terakhir bagi Atik di kawasan Tangerang. Jenazah akan disemayamkan terlebih dahulu di kota tersebut, kemudian dibawa ke Cipondoh untuk dimakamkan. Belum tersedia keterangan mengenai waktu atau susunan jadwal pemakaman, sehingga informasi itu tidak dapat dipastikan lebih lanjut. Keluarga dan kerabat dapat memberikan penghormatan sesuai rencana yang telah disampaikan, tanpa perlu mengaitkan kabar tersebut dengan rincian yang belum diumumkan. Untuk saat ini, kabar utama yang diketahui adalah Atik wafat setelah sakit di rumah sakit, pada usia 77 tahun. Penyampaian informasi secara terbatas ini menjaga agar pemberitaan tetap berpegang pada fakta yang tersedia dan tidak menambahkan spekulasi tentang kondisi terakhirnya.

Nama Atik Jauhari lekat dengan bulutangkis Indonesia melalui perannya sebagai atlet dan pelatih. Wafatnya pada Minggu dini hari membawa kabar duka bagi dunia olahraga, sekaligus mengingatkan publik pada jejak yang ditinggalkan sepanjang kiprahnya. Informasi mengenai perjalanan karier, prestasi, maupun kontribusi khususnya tidak disertakan dalam keterangan tentang kepergiannya, sehingga tidak ada rincian tambahan yang dapat dipastikan di sini. Namun, peran ganda sebagai mantan pemain dan pelatih menunjukkan keterlibatannya dalam olahraga tersebut selama hidupnya. Atik meninggal di Rumah Sakit Mayapada, Kota Tangerang, pada pukul 02.49 WIB, dalam usia 77 tahun. Jenazah direncanakan disemayamkan di Tangerang dan dimakamkan di Cipondoh. Keluarga, kerabat, serta masyarakat olahraga kini berduka atas berpulangnya Atik Jauhari.

Ketua Komunitas Bulutangkis Indonesia, Haryanto Arbi, membenarkan kabar wafatnya Atik Jauhari. Kabar tersebut membawa duka bagi keluarga besar komunitas bulutangkis, yang merasa kehilangan sosok penting dalam perjalanan olahraga ini. Atik dikenang bukan hanya sebagai pelatih, tetapi juga sebagai salah satu pahlawan bulutangkis nasional. Pengakuan itu mencerminkan besarnya peran dan pengaruh yang ia tinggalkan, terutama melalui kerja panjang di balik perkembangan para pemain. Bagi komunitas, kepergiannya menjadi kehilangan yang dirasakan bersama karena kontribusinya melekat pada perjalanan bulutangkis Indonesia.

Haryanto menyampaikan bahwa Atik merupakan pelatih yang bekerja dalam senyap. Ia menjalankan tugas dengan tekun dan ulet, tanpa menjadikan sorotan sebagai tujuan. Ketekunan tersebut tampak dalam kemampuannya membaca potensi pemain, memahami karakter mereka, lalu membimbing mereka agar dapat berkembang. Atik juga dinilai memiliki kemampuan merangkai pemain menjadi pasangan ganda yang saling melengkapi dan mampu meraih prestasi. Peran seperti ini menuntut pengamatan, kesabaran, serta kerja berkelanjutan. Meski prosesnya tidak selalu terlihat oleh publik, hasil bimbingannya menjadi bagian dari capaian bulutangkis Indonesia.

Ungkapan duka juga disampaikan mantan atlet Candra Wijaya. Ia menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Atik dan mengenang bimbingan sang pelatih dalam perjalanan kariernya. Candra menyatakan bahwa berkat bimbingan Atik, dirinya dapat meraih prestasi di tingkat dunia. Pengakuan tersebut memperlihatkan hubungan kerja seorang pelatih dan pencapaian atlet di panggung internasional. Bagi Candra, Atik bukan sekadar sosok yang memberi arahan teknis, melainkan pelatih yang membantu membuka jalan menuju prestasi. Kesaksian Haryanto dan Candra menggambarkan penghormatan komunitas serta mantan atlet terhadap dedikasi Atik. Ia meninggalkan jejak melalui pemain yang pernah dibimbingnya dan pasangan ganda yang dibentuknya, sekaligus dikenang sebagai pekerja tekun di balik keberhasilan bulutangkis nasional.

Jejak Atik Jauhari di bulutangkis Indonesia tidak hanya diukur dari hasil yang ia raih saat masih menjadi pemain. Prestasi individualnya sebagai atlet memang tidak sebanyak pencapaiannya kemudian sebagai pelatih, tetapi sejumlah kemenangan penting menunjukkan kapasitasnya di lapangan. Atik lahir di Bandung pada 14 Agustus 1949 dan tumbuh dalam lingkungan olahraga yang membentuk perjalanan panjangnya di bulutangkis.

Salah satu hasil yang tercatat adalah gelar juara Kejuaraan Nasional 1971 di Yogyakarta. Ia meraih gelar tersebut bersama Christian Hadinata, pasangan yang kelak juga dikenal luas dalam sejarah bulutangkis Indonesia. Dua tahun setelahnya, Atik kembali mencatat kemenangan di level internasional. Bersama Tatat Budiman, ia menjadi juara Belgia Terbuka 1973. Dua prestasi itu menjadi bagian penting dari rekam jejaknya sebagai pemain sebelum ia beralih sepenuhnya ke dunia kepelatihan.

Peralihan tersebut berlangsung ketika Atik masih muda. Setelah gantung raket, ia memilih mengabdikan diri untuk membina atlet. Pada usia 25 tahun, ia sudah dipercaya menjadi pelatih tim nasional di pemusatan latihan nasional. Tanggung jawab itu menempatkannya dekat dengan proses pembentukan pemain-pemain yang kemudian memperkuat Indonesia di berbagai ajang. Pengalaman bertandingnya memberi bekal untuk memahami kebutuhan atlet, sementara peran sebagai pelatih menuntutnya menyusun latihan dan membimbing pemain secara berkelanjutan.

Dalam perjalanan kepelatihannya, Atik menangani pemain dari era Liem Swie King dan Bobby Ertanto, lalu terus terlibat ketika bulutangkis Indonesia memasuki generasi baru. Ia juga membina para pemain yang menjadi bagian dari pasangan-pasangan ganda Indonesia pada 1990-an. Rentang lintas generasi tersebut memperlihatkan luasnya pengaruh Atik dalam pembinaan nasional. Ia tidak hanya hadir pada satu masa atau satu kelompok atlet, tetapi ikut mendampingi perkembangan pemain selama puluhan tahun. Karena itu, meskipun daftar gelarnya sebagai pemain relatif terbatas, kontribusinya sebagai pelatih menjadi bagian yang jauh lebih menonjol dalam perjalanan bulutangkis Indonesia. Dari pemain nasional hingga pembina tim, Atik membangun reputasi melalui kerja panjang di lapangan latihan dan komitmen pada regenerasi atlet.Di Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur, Atik Jauhari menjalankan peran penting dalam pembinaan bulutangkis nasional. Ia dipercaya menangani sektor ganda putra bersama Christian Hadinata, sosok yang juga dikenal luas dalam dunia kepelatihan dan permainan ganda. Tugas tersebut menuntut perhatian pada banyak aspek, mulai dari kemampuan teknis dan strategi di lapangan hingga kekompakan, komunikasi, serta kesiapan atlet menghadapi persaingan. Pembinaan di pelatnas berlangsung dalam lingkungan yang terstruktur, tempat para pemain berlatih dan berkembang untuk mewakili Indonesia. Kehadiran pelatih berpengalaman seperti Atik menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan pembinaan sektor ganda putra.

Selama masa kiprahnya di pelatnas, sejumlah pemain tercatat pernah memperkuat tim nasional dalam rentang generasi yang berbeda. Nama-nama tersebut lain Eddy Hartono, Gunawan, Ricky Soebagdja, Rexy Mainaky, Imay Hendra, Bagus Setiadi, Denny Kantono, Antonius Budi Ariantho, Rudy Wijaya, Tony Gunawan, Candra Wijaya, dan Sigit Budiarto. Deretan nama itu menggambarkan luasnya kelompok pemain yang berada dalam ekosistem pembinaan ganda putra di Cipayung sepanjang periode keterlibatan Atik. Penyebutan mereka menunjukkan cakupan generasi yang hadir di pelatnas, bukan berarti seluruh pemain tersebut selalu berpasangan satu sama lain atau meraih prestasi tertentu bersama Atik.

Pembinaan atlet di pelatnas tidak hanya tercermin dari hasil pertandingan, tetapi juga dari proses yang dijalani pemain selama berlatih. Pelatih membantu menyiapkan program, mengasah pola permainan, serta mendampingi atlet dalam menghadapi tuntutan kompetisi.

Baca juga: Nana Patekar Wafat pada Usia 75 Tahun, Tinggalkan Jejak Panjang di Perfilman India | Munafri Arifuddin Resmi Bergabung dengan Partai Demokrat Setelah Tinggalkan Golkar

125 kunjungan