Kabupaten Lumajang | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berdampak pada 1.417 kepala keluarga. Data tersebut menggambarkan luas dampak bencana yang dirasakan warga di sejumlah wilayah, sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah untuk memetakan kebutuhan penanganan darurat. Peristiwa ini juga menyebabkan dua warga meninggal dunia, sehingga penanganan korban dan keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama dalam respons kebencanaan di daerah tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan catatan itu dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin, 2 November 2026. Menurut data yang disampaikan, warga terdampak tersebar di delapan desa yang berada di tiga kecamatan di Kabupaten Lumajang. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa dampak banjir dan longsor tidak terpusat pada satu wilayah saja, melainkan menjangkau beberapa kawasan permukiman.
BNPB juga mencatat sebanyak 1.417 rumah terdampak bencana. Jumlah rumah yang terdampak sama dengan jumlah kepala keluarga yang tercatat terkena dampak, meskipun data tersebut tidak merinci tingkat kerusakan pada setiap bangunan. Informasi mengenai kondisi rumah diperlukan untuk menentukan kebutuhan warga, termasuk dukungan selama masa tanggap darurat serta langkah pemulihan setelah situasi dinyatakan aman.
Dengan dua korban meninggal dunia dan ribuan keluarga terdampak, penanganan di lapangan perlu memperhatikan keselamatan warga sekaligus kebutuhan dasar masyarakat di desa-desa yang terdampak. Data BNPB menjadi gambaran awal mengenai skala kejadian dan sebaran dampak di tiga kecamatan. Perkembangan situasi serta verifikasi lebih lanjut dapat membantu pemerintah daerah dan petugas kebencanaan menyesuaikan langkah respons, mengidentifikasi kebutuhan mendesak, dan menyampaikan informasi yang diperlukan kepada masyarakat.
Longsor yang terjadi di Dusun Jonggrang, Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, menewaskan dua anggota satu keluarga. Menurut Berton, peristiwa tersebut berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, sekitar pukul 01.00 dini hari. Sebelumnya, hujan lebat mengguyur kawasan itu pada Jumat malam, 30 Oktober, sekitar pukul 20.00 hingga 23.00 WIB. Kondisi tersebut mendahului longsor yang kemudian menerjang permukiman warga saat sebagian keluarga sedang beristirahat.
Longsor pertama menimpa rumah yang dihuni satu keluarga. Saat kejadian, para penghuni sedang beristirahat di dalam rumah. Tidak lama setelah longsoran pertama, material tanah kembali bergerak dan terjadi longsor susulan. Dua peristiwa beruntun itu menyebabkan Imron, laki-laki berusia 40 tahun, dan putrinya, Hilya, perempuan berusia 9 tahun, menjadi korban. Ibu Hilya berhasil selamat. Satu rumah dilaporkan mengalami kerusakan sedang akibat kejadian tersebut.
Warga setempat mengevakuasi kedua korban dari lokasi longsor. Imron dan Hilya kemudian dimakamkan. Kejadian ini menyisakan duka bagi keluarga serta masyarakat di sekitar Dusun Jonggrang, terutama karena korban merupakan ayah dan anak yang berada di rumah saat bencana terjadi. Berton menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya Imron dan Hilya, serta turut berduka atas musibah yang menimpa keluarga mereka. Informasi mengenai waktu hujan, urutan longsoran, korban, dan kondisi rumah disampaikan sebagai bagian dari laporan kejadian di Desa Tamanayu.
Peristiwa longsor ini menjadi salah satu dampak bencana yang dilaporkan di Lumajang pada akhir Oktober 2026. Hujan lebat pada malam sebelumnya dan longsor susulan memperburuk keadaan di lokasi. Meski ibu korban selamat, kehilangan dua anggota keluarga menjadi dampak paling berat dari kejadian di Dusun Jonggrang. Warga telah membantu proses evakuasi, sementara kedua korban telah dimakamkan. Laporan menyebut satu rumah rusak sedang, tanpa merinci adanya kerusakan tambahan di sekitar lokasi longsor.
Tim reaksi cepat BPBD Kabupaten Lumajang dikerahkan ke sejumlah lokasi terdampak banjir dan longsor untuk merespons kondisi warga setelah bencana terjadi. Petugas menyebar sesuai kebutuhan lapangan, menangani kejadian yang dilaporkan, sekaligus mendata keluarga terdampak dan mengidentifikasi kebutuhan mereka. Pendataan ini menjadi dasar bagi penyaluran bantuan serta membantu memastikan warga yang paling membutuhkan dapat segera memperoleh dukungan. Dalam proses tersebut, petugas juga berkoordinasi dengan aparat setempat untuk memperoleh informasi mengenai kondisi permukiman, akses, dan keselamatan penduduk. Upaya penanganan dilakukan secara berkelanjutan, mengingat beberapa titik masih menghadapi gangguan akibat material longsor dan dampak banjir. Prioritas lapangan dapat disesuaikan dengan perkembangan situasi.
Salah satu pekerjaan penting tim adalah membuka kembali akses jalan tembus Taman Sari Ibu Raja yang sebelumnya tertutup longsor. Penutupan jalan menghambat mobilitas warga dan dapat menyulitkan upaya penanganan maupun pengiriman kebutuhan dasar. Karena itu, petugas menangani material yang menghalangi jalur agar akses dapat dilalui kembali. Pada saat yang sama, tim memantau wilayah yang masih terisolasi untuk mengetahui kondisi penduduk dan memastikan langkah lanjutan dapat disiapkan. Pemantauan juga dilakukan terhadap rumah-rumah yang terancam rusak, sehingga potensi bahaya bagi penghuni dapat dikenali. Informasi dari lapangan menjadi bahan koordinasi dalam menentukan penanganan yang diperlukan di masing-masing lokasi terdampak.
BPBD turut menyiapkan bantuan logistik bagi warga yang memerlukan kebutuhan dasar. Untuk mendukung pekerjaan tersebut, tim berkoordinasi dengan camat, kepala desa, petugas PLN, serta unsur terkait lainnya. Koordinasi diperlukan agar penanganan persoalan vital, termasuk yang menyangkut layanan listrik dan kondisi wilayah, dapat dilakukan bersama sesuai kewenangan masing-masing. Menurut Berton, upaya penanganan masih berlangsung. Prioritas tim saat ini mencakup pembukaan akses yang tertutup, pemantauan daerah terisolasi, serta pendataan warga yang membutuhkan bantuan. Dengan langkah-langkah tersebut, petugas berupaya menjaga keselamatan warga, memperlancar jangkauan ke lokasi terdampak, dan memastikan kebutuhan mendesak dapat diketahui. Perkembangan situasi terus menjadi perhatian selama respons bencana berlangsung.
Berton menyebut Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan memberikan santunan duka dengan total nilai Rp20 juta bagi dua warga yang meninggal akibat bencana. Bantuan tersebut ditujukan sebagai bentuk perhatian kepada keluarga korban yang terdampak kehilangan anggota keluarga. Santunan untuk dua korban itu menjadi bagian dari dukungan pemerintah setelah banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Lumajang. Informasi yang disampaikan mencakup nilai bantuan secara keseluruhan, tanpa merinci tata cara maupun waktu penyalurannya. Keluarga korban diharapkan memperoleh dukungan sesuai rencana yang telah disampaikan pemerintah provinsi.
Selain santunan duka, bantuan berupa paket sembako juga disebut akan segera diberikan kepada warga terdampak. Pemerintah turut menyiapkan dukungan bahan bangunan, yakni semen dan bata, untuk membantu pemulihan bangunan yang terdampak bencana. Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang kebutuhan warga dalam menghadapi dampak kejadian, termasuk kebutuhan pokok dan perbaikan bangunan. Namun, keterangan yang tersedia tidak menjelaskan jumlah paket, penerima secara terperinci, ataupun jadwal penyaluran setiap jenis bantuan. Warga dapat mengikuti informasi resmi untuk mengetahui perkembangan terkait rencana bantuan tersebut.
Di tengah penanganan dampak bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat agar tetap . Warga diminta menghindari aliran sungai yang berpotensi dilalui banjir lahar, karena kawasan tersebut dapat menjadi berbahaya. Masyarakat juga perlu mengikuti arahan petugas di lapangan dan tidak mengambil tindakan yang bertentangan dengan instruksi keselamatan. Untuk memperoleh kabar mengenai situasi maupun langkah penanganan, warga dianjurkan merujuk pada informasi dari sumber resmi. Kewaspadaan, kepatuhan terhadap arahan petugas, dan penggunaan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan penting diperhatikan oleh seluruh warga di wilayah terdampak. Imbauan tersebut berlaku selama masyarakat menghadapi risiko bencana dan memantau perkembangan informasi.
Baca juga: Santunan Rp20 Juta Disiapkan bagi Keluarga Korban Longsor di Lumajang | Banjir dan Longsor Melanda Enam Kabupaten di Jawa Timur, Warga Terdampak Ribuan | Krisis Air Meluas di Bekasi, Puluhan Ribu Keluarga Terdampak
25 kunjungan


































