Danantara Kaji Opsi Akuisisi Aset Sritex untuk Bangun Industri Tekstil

oleh -152 Dilihat
oleh
Danantara Kaji Opsi Akuisisi Aset Sritex untuk Bangun Industri Tekstil

Jakarta | BPI Danantara tengah mengkaji sejumlah opsi untuk membentuk perusahaan di sektor tekstil. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempertimbangkan pengembangan industri tekstil, termasuk kemungkinan pemanfaatan aset yang sudah tersedia. Salah satu aset yang masuk dalam pembahasan adalah milik PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex, perusahaan tekstil yang telah dinyatakan pailit. Namun, pembahasan mengenai aset tersebut masih berada pada tahap penelaahan dan belum berarti Danantara telah menetapkan langkah akuisisi.

COO BPI Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa pengambilalihan aset Sritex merupakan salah satu pilihan yang sedang dipertimbangkan. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, pada Senin (26/10/2026). Dony menjelaskan adanya beberapa opsi dalam kajian untuk membentuk perusahaan di sektor tekstil, dengan aset Sritex termasuk di kemungkinan yang dibahas. Dengan demikian, rencana tersebut perlu dipahami sebagai alternatif, bukan pengumuman bahwa transaksi telah disepakati atau akan segera berlangsung.

Pengkajian masih diperlukan untuk menilai pilihan yang paling sesuai, termasuk kelayakan aset dan bentuk pengembangan usaha yang mungkin dilakukan. Status pailit Sritex juga menjadi konteks penting dalam pembahasan, sehingga setiap langkah terkait aset perusahaan perlu mempertimbangkan proses dan ketentuan yang berlaku. Sampai ada keputusan resmi, belum dapat dipastikan apakah Danantara akan mengambil alih aset tersebut, membentuk perusahaan tekstil melalui cara lain, atau memilih opsi berbeda. Pernyataan Dony hanya menunjukkan bahwa kemungkinan itu sedang dipelajari bersama alternatif lainnya. Karena itu, perkembangan mengenai rencana tersebut masih bergantung pada hasil kajian dan keputusan lanjutan BPI Danantara. Informasi yang tersedia saat ini belum menunjukkan adanya keputusan final, kesepakatan akuisisi, ataupun kepastian mengenai aset mana yang mungkin digunakan. Fokus pemberitaan tetap pada proses kajian, bukan pada transaksi yang belum diputuskan. Penjelasan ini penting agar opsi pengambilalihan tidak disalahartikan sebagai akuisisi yang telah dipastikan.Dony menjelaskan bahwa pertimbangan untuk mengambil alih perusahaan atau aset yang telah ada tidak semata-mata berkaitan dengan kepemilikan. Langkah tersebut dapat dipikirkan ketika berhentinya kegiatan usaha berisiko membuat banyak karyawan kehilangan pekerjaan. Dalam keadaan demikian, pemerintah perlu menilai apakah penyelamatan dapat menjadi pilihan yang layak, dengan memperhitungkan dampak terhadap para pekerja. Pertimbangan ini menempatkan keberlanjutan pekerjaan sebagai salah satu alasan penting untuk melihat opsi pengambilalihan.

Gagasan penyelamatan itu juga tidak berarti mempertahankan seluruh cara kerja atau pola usaha yang sebelumnya dijalankan tanpa perubahan. Menurut Dony, perusahaan maupun aset yang diambil alih perlu ditata dengan model bisnis yang lebih tepat. Pembenahan tersebut merupakan bagian dari upaya agar kegiatan usaha dapat memiliki arah yang lebih sesuai, bukan sekadar meneruskan keadaan yang sudah ada. Dengan demikian, pengambilalihan dan perbaikan model bisnis dipandang sebagai dua hal yang berkaitan dalam mempertimbangkan masa depan aset.

Penataan model bisnis juga perlu dilakukan secara terukur dan jelas. Tujuannya adalah membuat pengelolaan perusahaan atau aset lebih tertata, sekaligus memastikan bahwa pilihan penyelamatan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Gagasan ini menekankan pentingnya menilai bagaimana aset yang ada dapat dikelola secara lebih baik apabila pemerintah memutuskan untuk mengambil peran. Fokusnya bukan hanya pada upaya mempertahankan keberadaan aset, melainkan juga pada kemungkinan membangun pola usaha yang lebih tepat untuk mendukung keberlanjutan aktivitasnya.

Karena itu, pertimbangan Dony mencakup aspek sosial dan pembenahan usaha. Potensi hilangnya pekerjaan menjadi alasan untuk mengkaji penyelamatan, sementara kebutuhan akan model bisnis yang lebih sesuai menjadi bagian dari cara menjalankannya. Pernyataan tersebut tidak memastikan bahwa pengambilalihan pasti dilakukan, tetapi menggambarkan opsi yang dapat dipertimbangkan ketika penghentian usaha berisiko membawa konsekuensi bagi karyawan. Pemerintah perlu melihat kedua aspek tersebut secara bersamaan: apakah upaya penyelamatan layak ditempuh, dan bagaimana perusahaan atau aset dapat ditata melalui model bisnis yang lebih tepat serta teratur.

Selain mengkaji kemungkinan mengambil alih aset Sritex, Danantara juga mempertimbangkan skenario lain untuk mendukung pengembangan industri tekstil. Salah satu opsi yang masuk dalam pembahasan adalah membangun perusahaan atau pabrik tekstil baru, termasuk memulai pembangunan dari awal. Dengan demikian, pembahasan mengenai masa depan kegiatan tekstil tidak hanya terbatas pada pemanfaatan aset yang telah tersedia, tetapi juga mencakup kemungkinan menciptakan fasilitas produksi baru. Opsi tersebut menunjukkan bahwa masih ada beberapa jalur yang dapat dipertimbangkan sebelum langkah berikutnya ditentukan.

Pembangunan baru dapat menjadi alternatif apabila dinilai sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengembangan industri. Dalam skenario ini, perusahaan atau fasilitas produksi dirancang dan dibangun sebagai entitas baru, bukan melalui pengambilalihan aset Sritex. Namun, hal itu tidak berarti bahwa Danantara telah memutuskan untuk mendirikan pabrik baru atau menutup kemungkinan akuisisi. Kedua pendekatan tersebut masih merupakan pilihan yang sedang dikaji, dan masing-masing perlu dinilai berdasarkan pertimbangan yang relevan sebelum keputusan dibuat.

Perbedaan utama akuisisi dan pembangunan dari awal terletak pada cara memperoleh kapasitas produksi serta aset yang diperlukan. Akuisisi berfokus pada pengambilalihan aset yang sudah ada, sedangkan pembangunan baru memerlukan pembentukan fasilitas dan perusahaan dari awal. Informasi yang tersedia belum menyebutkan opsi mana yang akan dipilih Danantara, maupun hasil akhir dari pengkajian tersebut. Karena itu, pembahasan mengenai akuisisi aset Sritex maupun pembangunan pabrik baru sebaiknya dipahami sebagai kemungkinan, bukan keputusan yang telah ditetapkan. Pilihan akhirnya masih menunggu proses penilaian lebih lanjut.

Rencana pemerintah untuk masuk ke industri tekstil mencakup pengembangan kegiatan dari sektor hulu hingga hilir. Artinya, perhatian tidak hanya diarahkan pada pengolahan produk jadi, tetapi juga pada tahapan awal yang mendukung proses produksi tekstil. Pendekatan menyeluruh ini diharapkan dapat membangun kegiatan industri yang saling terhubung, sekaligus memperkuat kapasitas produksi di dalam negeri. Dalam konteks pembahasan aset Sritex, opsi yang sedang dikaji menjadi bagian dari pertimbangan untuk mendorong pengembangan industri tersebut. Pemerintah berharap keterlibatan pada berbagai tahapan rantai produksi dapat menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas. Salah satu sasaran yang disebut ialah terbukanya banyak lapangan pekerjaan, baik pada proses produksi maupun kegiatan lain yang menunjang industri. Dengan demikian, rencana ini dipandang bukan hanya sebagai upaya mengembangkan perusahaan atau aset tertentu, melainkan juga sebagai peluang memperluas basis kegiatan manufaktur dan penyerapan tenaga kerja.

Dony menjelaskan bahwa potensi pasar domestik menjadi salah satu alasan yang patut diperhitungkan. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar, yang ia sebut hampir mencapai 300 juta orang. Besarnya populasi tersebut menciptakan kebutuhan yang luas terhadap berbagai produk tekstil, sehingga pasar dalam negeri dinilai memiliki ruang untuk mendukung industri. Namun, menurut Dony, Indonesia saat ini belum dapat menyediakan sendiri seluruh kebutuhan tekstilnya. Kondisi itu menunjukkan adanya jarak permintaan di dalam negeri dan kemampuan pasokan yang tersedia dari produksi nasional. Karena itu, pengembangan kegiatan dari hulu hingga hilir diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas industri dan memperkuat ketersediaan produk. Jika rantai produksi domestik dapat tumbuh, peluang untuk memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri juga berpotensi meningkat. Pada saat yang sama, aktivitas industri yang lebih luas dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di berbagai wilayah.

Meski arah pengembangan dan peluang pasar telah disampaikan, besaran investasi yang diperlukan belum dipastikan. Ketika ditanya wartawan mengenai anggaran, Dony belum memberikan angka yang dapat dijadikan acuan. Ia mengatakan kebutuhan investasi akan bergantung pada kebutuhan ketika pembangunan industri dimulai.

Baca juga: Danantara Perkuat Kolaborasi untuk Mendorong Industri Teknologi Indonesia | Danantara Perketat Fasilitas Pimpinan BUMN di Tengah Agenda Pembenahan | Kolaborasi Teknologi Global Dorong Penguatan Industri dan Riset Indonesia