Detak Jantung Saat Istirahat Rendah, Benarkah Selalu Menandakan Tubuh Lebih Sehat?

oleh -56 Dilihat
oleh
Detak Jantung Saat Istirahat Rendah, Benarkah Selalu Menandakan Tubuh Lebih Sehat?

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Detak jantung saat istirahat atau resting heart rate (RHR) belakangan semakin sering diperhatikan oleh masyarakat, terutama mereka yang aktif berolahraga dan menjalani pola hidup bugar. Angka ini biasanya terlihat melalui jam pintar, gelang kebugaran, atau alat pemantau kesehatan lain. Bagi sebagian orang, RHR yang rendah bahkan menjadi angka yang dibanggakan dan dibagikan sebagai salah satu tanda keberhasilan menjaga kebugaran tubuh.

RHR menggambarkan jumlah denyut jantung dalam satu menit ketika seseorang berada dalam kondisi istirahat. Pengukuran umumnya dilakukan saat tubuh tenang, tidak sedang beraktivitas fisik, dan tidak mengalami tekanan emosional. Karena berkaitan langsung dengan kerja jantung, angka tersebut kerap dipandang sebagai gambaran kondisi jantung dan tingkat kebugaran seseorang. Semakin rendah angkanya, semakin banyak orang menganggap jantung bekerja lebih efisien.

Namun, muncul pertanyaan penting mengenai makna angka tersebut: apakah detak jantung istirahat yang semakin rendah selalu menunjukkan kondisi tubuh yang semakin sehat? Pertanyaan ini menjadi relevan karena angka RHR dapat dipengaruhi oleh berbagai keadaan dan tidak berdiri sendiri sebagai penentu kesehatan seseorang. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Vito A Damay, SpJP(K), memberikan penjelasan mengenai cara memahami RHR, termasuk alasan angka rendah tidak serta-merta dapat digunakan untuk menilai kondisi tubuh secara keseluruhan.

Detak jantung saat istirahat, yang dalam istilah medis disebut resting heart rate (RHR), adalah jumlah denyut jantung dalam satu menit ketika tubuh berada dalam keadaan tenang. Pada kondisi ini, seseorang tidak sedang berjalan, berlari, berolahraga, menaiki tangga, atau melakukan aktivitas lain yang membuat jantung bekerja lebih keras. Pengukuran RHR bertujuan menggambarkan seberapa cepat jantung memompa darah ketika kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan energi berada pada tingkat dasar.

Ketika tubuh beristirahat, jantung tetap berdenyut untuk mengalirkan darah ke otak, otot, dan organ-organ penting lainnya. Namun, kecepatannya biasanya berbeda dari saat seseorang melakukan aktivitas fisik. Gerakan tubuh, peningkatan suhu, emosi, rasa cemas, kafein, serta berbagai kondisi lain dapat membuat denyut jantung meningkat. Karena itu, angka yang terlihat pada perangkat saat seseorang baru selesai berolahraga tidak dapat disebut sebagai detak jantung istirahat.

Perbedaan ini penting dipahami ketika membaca hasil dari jam pintar, gelang kebugaran, monitor kesehatan, maupun pengukuran manual. Perangkat dapat menampilkan beberapa jenis data, termasuk denyut jantung saat ini, denyut jantung selama latihan, denyut jantung rata-rata, dan RHR. Angka “saat ini” mungkin berubah hanya dalam beberapa detik karena pengguna baru bergerak, berbicara, atau merasa tegang. Sebaliknya, RHR sebaiknya diukur setelah tubuh cukup tenang.

Pengukuran yang lebih konsisten dapat dilakukan pada pagi hari setelah bangun tidur, sebelum minum kopi atau melakukan aktivitas, dengan posisi duduk atau berbaring secara nyaman. Seseorang perlu tetap diam selama beberapa menit agar napas dan kondisi tubuh stabil. Hasilnya dapat dipengaruhi oleh tidur, stres, penyakit, obat-obatan, kebugaran, dan waktu pengukuran. Oleh sebab itu, satu angka tidak selalu memberikan gambaran lengkap. RHR lebih tepat dipahami sebagai data dasar yang membantu melihat pola denyut jantung dari waktu ke waktu, bukan sebagai penilaian tunggal mengenai sehat atau tidaknya tubuh.

Dokter Vito menjelaskan bahwa resting heart rate (RHR) atau detak jantung saat istirahat dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan jantung. Parameter ini menggambarkan jumlah denyut jantung dalam satu menit ketika tubuh berada dalam keadaan tenang, sehingga tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas fisik, tetapi juga oleh kondisi tubuh secara keseluruhan.

Menurut penjelasannya, angka RHR yang lebih tinggi dapat menunjukkan risiko kesehatan yang juga lebih tinggi. Kaitan tersebut, lain, berhubungan dengan proses metabolisme tubuh. Ketika denyut jantung tetap relatif tinggi meskipun seseorang tidak sedang beraktivitas, kondisi itu dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung berulang atau disertai keluhan lain.

Dokter Vito menyebut angka yang baik berada di kisaran 60-an beats per minute (bpm) ketika seseorang sedang tidur atau benar-benar diam. Dalam keadaan tersebut, jantung tidak perlu bekerja sekeras saat tubuh bergerak, berolahraga, atau menghadapi tekanan fisik maupun emosional. Karena itu, pengukuran pada waktu istirahat dinilai lebih bermakna dibandingkan angka yang diambil segera setelah beraktivitas.

Namun, keterangan tersebut bukan aturan mutlak yang berlaku sama bagi setiap orang. Denyut jantung dapat dipengaruhi oleh usia, tingkat kebugaran, kualitas tidur, stres, konsumsi kafein, obat-obatan, serta kondisi kesehatan tertentu. Atlet, misalnya, dapat memiliki denyut istirahat yang lebih rendah, sedangkan seseorang yang sedang sakit atau mengalami kecemasan bisa mencatat angka yang lebih tinggi.

Penjelasan itu disampaikan dr Vito di sela-sela peluncuran Huawei Watch GT 7 di Jakarta Pusat pada Rabu, 7 Oktober 2026. RHR dapat digunakan sebagai informasi pemantauan, tetapi penilaiannya tetap perlu mempertimbangkan pola perubahan dari waktu ke waktu dan kondisi individu. Apabila angka terus meningkat atau muncul gejala seperti nyeri dada, sesak napas, pusing, dan jantung berdebar, pemeriksaan medis menjadi langkah yang lebih tepat.

Detak jantung saat istirahat atau resting heart rate (RHR) yang rendah tidak selalu menunjukkan adanya masalah, terutama ketika angka tersebut ditemukan pada orang yang sangat rajin berolahraga. Dalam keterangan Dr Vito, pelari maraton dan orang yang rutin melakukan olahraga aerobik dapat memiliki RHR sekitar 40–50 denyut per menit ketika tidur. Angka ini memang tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan gambaran umum detak jantung saat istirahat, tetapi dalam konteks kelompok tersebut, kondisi itu tidak menjadi masalah.

Keterangan tersebut menempatkan kebiasaan olahraga dan waktu pengukuran sebagai bagian penting dalam memahami angka RHR. Pelari maraton, misalnya, memiliki rutinitas latihan yang berbeda dari orang yang jarang berolahraga. Begitu pula orang yang konsisten melakukan olahraga aerobik. Karena itu, angka 40–50 bpm yang muncul ketika tidur perlu dipahami sesuai dengan konteks narasumber, yaitu pada individu yang terbiasa menjalani aktivitas olahraga tersebut.

Pembahasan mengenai RHR rendah sebaiknya tetap mengikuti penjelasan Dr Vito tentang kelompok yang sangat aktif berolahraga dan kondisi saat tidur. Dalam konteks ini, RHR sekitar 40–50 bpm disebut dapat ditemukan pada pelari maraton atau orang yang rutin melakukan olahraga aerobik, tanpa menjadi masalah bagi kelompok tersebut. Penekanan utamanya bukan semata-mata pada angka, melainkan pada latar kebiasaan olahraga dan keadaan ketika pengukuran berlangsung. Dengan demikian, angka RHR yang rendah pada saat tidur dapat muncul dalam situasi yang telah dijelaskan oleh narasumber, khususnya pada orang dengan rutinitas olahraga yang tinggi.