Diplomasi Iran dan Arab Saudi Tekan Harga Minyak, Brent Ditutup di US$113,88

oleh -201 Dilihat
oleh
Diplomasi Iran dan Arab Saudi Tekan Harga Minyak, Brent Ditutup di US$113,88

Jakarta | Harga minyak mentah dunia melemah untuk sesi kedua berturut-turut pada Selasa, 27 Oktober 2026, atau Rabu pagi waktu Jakarta. Pergerakan tersebut berlangsung ketika muncul upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah, termasuk diplomasi Iran dan Arab Saudi. Dalam penutupan perdagangan, harga Brent turun 1,7% menjadi US3,88 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,8% dan menetap di US,90 per barel. Kedua acuan utama tersebut sama-sama mencatat penurunan, dengan persentase pelemahan WTI sedikit lebih besar daripada Brent.

Angka penutupan itu menunjukkan bahwa tekanan jual masih berlangsung pada perdagangan hari tersebut. Brent berakhir di bawah harga penutupan sebelumnya setelah terkoreksi 1,7%, sedangkan WTI mengakhiri sesi dengan penurunan 1,8%. Meski persentase perubahan kedua patokan berbeda, arah pergerakannya serupa. Harga Brent tetap lebih tinggi daripada WTI berdasarkan level penutupan yang tercatat, dengan selisih US$13,98 per barel. Perbandingan tersebut merujuk pada harga akhir masing-masing kontrak, bukan perubahan nilai absolut sepanjang sesi. Data penutupan juga memperlihatkan bahwa kedua benchmark belum berbalik menguat setelah penurunan pada sesi sebelumnya.

Perhatian pelaku pasar tertuju pada perkembangan diplomatik di kawasan Timur Tengah, saat upaya meredakan ketegangan mulai muncul. Kabar tersebut hadir bersamaan dengan penurunan harga minyak pada dua sesi perdagangan berturut-turut. Namun, pergerakan harian yang tersedia hanya mencatat perubahan harga dan level penutupan, sehingga tidak merinci besarnya kontribusi diplomasi terhadap pelemahan tersebut. Dengan demikian, gambaran utama pada Selasa adalah penurunan serentak Brent dan WTI di tengah perkembangan diplomatik regional. Brent ditutup pada US$113,88 per barel, sedangkan WTI menetap pada US$99,90 per barel. Kedua angka itu menjadi acuan untuk membaca posisi pasar minyak mentah pada akhir sesi, tanpa menunjukkan dengan sendirinya arah perdagangan berikutnya atau hasil dari upaya diplomatik tersebut.

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bertemu dengan Mohsen Rezaei, pejabat tinggi di bidang keamanan nasional, untuk membahas syarat-syarat yang diajukan Iran dalam mengakhiri perang dengan Amerika Serikat. Informasi mengenai pertemuan tersebut disampaikan melalui unggahan berbahasa Inggris di akun media sosial Khamenei pada Selasa. Pernyataan itu menempatkan pembicaraan mengenai kemungkinan penghentian perang dalam konteks keamanan Iran dan kawasan, tanpa merinci isi syarat yang dibahas.

Dalam unggahan tersebut, Khamenei menyebut situasi yang tidak sepenuhnya berada dalam keadaan perang, tetapi juga belum mencapai perdamaian, sebagai keadaan yang harus segera diakhiri. Pernyataan itu menggambarkan dorongan untuk keluar dari kondisi tidak menentu yang berlangsung di konflik terbuka dan hubungan damai. Namun, unggahan tersebut tidak menjelaskan jadwal, mekanisme, atau langkah khusus untuk mengakhiri keadaan tersebut. Karena itu, pembahasan mengenai syarat Iran perlu dipahami sebatas keterangan yang disampaikan, tanpa menambahkan rincian yang tidak disebutkan.

Pertemuan dengan Rezaei juga mencakup persoalan penjagaan keamanan nasional dan regional. Dalam konteks itu, Khamenei menegaskan pentingnya mempertahankan kendali Iran atas Selat Hormuz. Selat strategis tersebut menjadi bagian dari perhatian keamanan kawasan dan jalur penting bagi lalu lintas energi global. Penekanan pada kendali atas Hormuz menunjukkan bahwa isu tersebut terkait dengan cara Iran memandang keamanan, baik di dalam negeri maupun di tingkat regional. Meski demikian, unggahan itu tidak menyampaikan rincian operasional mengenai bagaimana kendali tersebut akan dijaga.

Pernyataan Khamenei muncul ketika diplomasi dan perkembangan keamanan kawasan turut menjadi perhatian pasar minyak. Ketidakpastian mengenai hubungan Iran dan Amerika Serikat, serta posisi Selat Hormuz, dapat menjadi faktor yang diamati pelaku pasar karena kawasan tersebut berhubungan erat dengan pasokan energi. Akan tetapi, unggahan tentang pertemuan itu sendiri tidak menguraikan dampak langsung terhadap harga minyak ataupun memaparkan kesepakatan dengan pihak Amerika Serikat. Pokok pesannya berfokus pada perlunya mengakhiri keadaan perang dan damai, pembahasan keamanan nasional dan regional, serta pemeliharaan kendali Iran atas Selat Hormuz.

Pembicaraan langsung di Teheran pada Senin mempertemukan Menteri Pertahanan Arab Saudi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam upaya meredakan ketegangan kedua negara. Pertemuan ini berlangsung ketika situasi keamanan kawasan kembali menjadi perhatian pasar energi, menyusul serangkaian serangan terhadap wilayah Saudi. Kehadiran pejabat tinggi militer dan intelijen dari Pakistan serta Turki menambah bobot diplomatik pertemuan tersebut. Kedua negara itu merupakan sekutu Arab Saudi dan ikut mendukung upaya untuk menjaga komunikasi serta mencegah memburuknya keadaan. Dialog ini menjadi salah satu jalur langsung yang dapat digunakan untuk membahas risiko keamanan, sekaligus membuka ruang bagi langkah-langkah yang lebih terkoordinasi di kawasan.

Latar belakang pembicaraan mencakup serangan berulang oleh kelompok militan Houthi yang berafiliasi dengan Iran dalam beberapa pekan terakhir. Sasaran serangan dilaporkan mencakup infrastruktur energi Arab Saudi dan fasilitas sipil, termasuk bandara. Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena gangguan terhadap fasilitas energi maupun transportasi dapat menghambat operasi produksi dan pengiriman minyak. Serangan terhadap infrastruktur penting juga berpotensi meningkatkan risiko bagi pekerja serta masyarakat sipil, sehingga tidak hanya berdampak pada sektor energi. Meski kawasan telah mengalami konflik selama delapan bulan, ekspor minyak Arab Saudi sejauh ini tetap stabil. Namun, keberlanjutan kondisi itu tidak dapat dianggap terjamin jika ancaman terhadap jalur dan fasilitas ekspor terus meningkat.

Stabilitas ekspor Saudi penting bagi pasokan minyak global, terutama ketika pasar mencermati kemungkinan gangguan baru di kawasan. Karena itu, pertemuan di Teheran dipandang sebagai upaya untuk mengurangi risiko eskalasi, bukan sekadar pertemuan seremonial. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan langkah menuju kerja sama keamanan regional. Pernyataannya dikutip media pemerintah Tasnim. Baqaei juga menyebut konsultasi lanjutan masih dimungkinkan, sehingga dialog dapat diteruskan setelah pertemuan awal itu. Jika komunikasi tersebut berlanjut, para pihak berpeluang membahas cara mencegah serangan, melindungi sasaran sipil dan energi, serta menjaga kelancaran ekspor. Meski demikian, hasil konkret masih bergantung pada tindak lanjut diplomatik dan perkembangan keamanan di lapangan.

Upaya diplomatik Iran dan Arab Saudi untuk meredakan ketegangan berlangsung di tengah ketidakpastian mengenai langkah Washington berikutnya. Perkembangan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar minyak karena arah konflik dapat memengaruhi persepsi terhadap pasokan dari Timur Tengah. Namun, ruang bagi penyelesaian melalui perundingan belum menutup kemungkinan operasi militer lanjutan, sehingga pasar tetap menimbang dua skenario tersebut saat menilai risiko harga.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu bahwa ia hampir mengambil keputusan mencapai kesepakatan dengan Iran atau meningkatkan operasi militer. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pilihan diplomasi dan eskalasi masih sama-sama terbuka. Dengan keputusan yang belum diumumkan, investor menghadapi ketidakpastian mengenai apakah komunikasi politik akan menghasilkan kesepakatan atau apakah ketegangan akan kembali meningkat. Situasi ini juga menjelaskan mengapa langkah diplomatik di kawasan belum serta-merta menghapus kekhawatiran atas pasokan minyak.

Dalam kondisi tersebut, pergerakan harga Brent tidak hanya mencerminkan kabar mengenai diplomasi, tetapi juga penilaian pasar atas situasi pasokan yang belum pulih sepenuhnya. Ekspor minyak dari Timur Tengah memang meningkat dibandingkan tahap awal perang. Meski demikian, peningkatan itu belum berarti pasar telah kembali beroperasi secara normal. Bagi pelaku pasar, perbedaan volume ekspor yang membaik dan kondisi pasar yang masih terganggu tetap penting untuk dicermati dalam membaca arah harga.