Jakarta | Falcon Pictures kembali bekerja sama dengan sutradara Korea Selatan Lee Hwan Kyung dalam sebuah proyek film terbaru. Kolaborasi ini berlangsung setelah keduanya terlibat dalam pembuatan remake Indonesia Miracle in Cell No. 7. Kali ini, mereka menyiapkan film produksi Indonesia yang menggunakan judul sementara Gasigogi. Kabar tersebut memperkenalkan proyek baru yang mempertemukan kembali rumah produksi Indonesia dengan sineas yang sebelumnya telah menggarap adaptasi kisah populer bersama Falcon Pictures.
Untuk proyek kali ini, bahan cerita yang menjadi inspirasi berbeda dari film sebelumnya. Gasigogi terinspirasi oleh pengorbanan seekor ikan stickleback dalam menjaga keturunannya. Gagasan itu menjadi titik awal yang telah diketahui mengenai film tersebut. Informasi yang tersedia masih terbatas pada sumber inspirasi dan keterlibatan Falcon Pictures serta Lee Hwan Kyung, sehingga rincian lebih jauh tentang bagaimana kisah itu akan dikembangkan belum disampaikan.
Inspirasi dari perilaku seekor ikan memberi proyek ini landasan yang berpusat pada pengorbanan dan perlindungan terhadap keturunan. Namun, hal tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan bentuk cerita yang akan ditampilkan di layar. Judul Gasigogi pun masih bersifat sementara, sehingga dapat dipahami sebagai nama kerja untuk proyek yang sedang disiapkan, bukan keterangan lengkap mengenai isi film. Untuk saat ini, inti kabar yang dapat dipastikan ialah kolaborasi baru dan sumber inspirasi ceritanya.
Kerja sama kembali setelah Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia juga menjadi konteks penting untuk memahami pengumuman ini. Falcon Pictures dan Lee Hwan Kyung telah memiliki pengalaman menggarap remake tersebut, sementara Gasigogi menjadi proyek berikutnya yang mereka siapkan bersama. Meski demikian, belum ada rincian mengenai alur, pemeran, jadwal produksi, atau aspek lain dari film yang diumumkan dalam informasi yang tersedia. Dengan demikian, perhatian awal tertuju pada gagasan pengorbanan ikan stickleback serta pertemuan kembali kedua pihak dalam sebuah film Indonesia.
Lee Hwan Kyung mengungkapkan bahwa naskah Gasigogi telah beberapa kali ia coba tulis selama kurang lebih 15 tahun. Namun, proses itu berulang kali terhenti sebelum mencapai tahap akhir. Menurutnya, bukan karena ia kehilangan minat pada cerita tersebut, melainkan karena kisahnya terasa begitu menyedihkan untuk digarap. Setiap kali mulai menulis, ia kembali berhadapan dengan beratnya emosi yang terkandung di dalam cerita, sehingga sulit baginya untuk meneruskan pekerjaan hingga tuntas.
Pengalaman tersebut disampaikan Lee melalui seorang penerjemah dalam konferensi pers di kantor Falcon Pictures, Jakarta, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun, proyek itu seolah terus tertunda meskipun keinginan untuk mengangkat ceritanya tetap ada. Di Korea, bahkan sempat muncul anggapan bahwa ia tidak akan menulis kisah tersebut lagi. Pandangan itu mencerminkan lamanya proyek berada dalam ketidakpastian, sekaligus menunjukkan betapa beratnya tantangan emosional yang ia rasakan saat berusaha mengembangkan naskahnya.
Perubahan terjadi setelah Lee bertemu dengan pendiri Falcon Pictures, HB Naveen dan Frederica. Pertemuan itu memberinya dorongan untuk kembali berani menghadapi cerita yang selama ini ia kesampingkan. Dukungan dan kesempatan untuk mengembangkan proyek bersama Falcon Pictures membuka jalan bagi naskah yang telah tertunda tersebut untuk dilanjutkan. Bagi Lee, keputusan kembali mengerjakan Gasigogi bukan berarti kisahnya menjadi lebih ringan, tetapi ia merasa kini dapat melangkah maju dan mengolahnya bersama pihak yang memahami visi proyek. Kolaborasi ini pun menjadi titik penting dalam perjalanan panjang naskah, dari upaya penulisan yang berulang kali berhenti hingga akhirnya kembali mendapat perhatian dan kesempatan untuk diwujudkan sebagai film Indonesia.
Frederica menyampaikan rasa bangga karena Falcon Pictures kembali bekerja sama dengan Lee Hwan Kyung dalam proyek film Indonesia berjudul Gasigogi. Kolaborasi ini menjadi pertemuan kembali setelah keduanya terlibat dalam Miracle in Cell No. 7, film yang sebelumnya mempertemukan sang sutradara dengan rumah produksi tersebut. Bagi Frederica, kesempatan membuat film Indonesia bersama Lee Hwan Kyung merupakan hal yang membanggakan. Pernyataan itu sekaligus menunjukkan antusiasme Falcon Pictures menyambut proses kreatif bersama sutradara yang pernah bekerja dengan mereka, kali ini melalui proyek baru dengan cerita dan jajaran pemeran yang berbeda.
Frederica juga menyoroti para pemeran yang terlibat dalam Gasigogi. Ia menyebut jajaran pemainnya sebagai ensemble cast yang solid, sebuah kelompok pemeran yang diharapkan dapat bekerja bersama dengan baik untuk menghidupkan cerita. Penyebutan tersebut menggambarkan bahwa perhatian terhadap proyek ini tidak hanya tertuju pada kembalinya Lee Hwan Kyung, tetapi juga pada kekuatan para pemeran sebagai satu kesatuan. Dalam sebuah film, kerja sama antarpemain menjadi bagian penting dari proses membangun hubungan dan dinamika cerita. Karena itu, Frederica menyampaikan harapan positif terhadap keterlibatan mereka dalam produksi ini.
Selain mengungkapkan kebanggaannya, Frederica berharap seluruh rangkaian syuting dapat berjalan lancar, aman, dan menyenangkan bagi semua pihak yang terlibat. Harapan tersebut menjadi perhatian penting menjelang dimulainya produksi, ketika pemain dan kru akan bekerja bersama dalam proses pengambilan gambar. Frederica turut memberikan informasi bahwa syuting Gasigogi direncanakan mulai pada 8 November. Ia tidak menyebutkan tahun maupun rincian jadwal produksi lainnya. Dengan rencana tersebut, proyek ini bersiap memasuki tahap syuting, sementara Falcon Pictures dan Lee Hwan Kyung kembali berkolaborasi dalam pembuatan film Indonesia. Pernyataan Frederica memperlihatkan optimisme terhadap kerja sama tersebut sekaligus harapan agar proses produksi berlangsung baik bagi seluruh tim, dari awal hingga kegiatan syuting selesai, tanpa hambatan yang mengganggu kenyamanan dan keselamatan bersama.
Vino G. Bastian memerankan Jiwa, seorang seniman sekaligus penulis puisi yang memiliki seorang anak bernama Juna. Karakter ini menempatkannya di tengah kisah keluarga yang menjadi bagian penting film Gasigogi. Bagi Vino, keterlibatannya dalam proyek tersebut terasa sebagai kesempatan spesial. Ia juga mengungkapkan kekagumannya terhadap sutradara Lee Hwan Kyung, terutama setelah menyaksikan Miracle in Cell No. 7. Kesempatan bekerja dalam film yang digarap Lee menjadi pengalaman berarti baginya, terlebih karena ia telah mengenal dan mengapresiasi karya sang sutradara sebelumnya. Peran Jiwa pun memberinya ruang untuk menghadirkan sosok yang dekat dengan dunia seni dan hubungan orang tua-anak.
Pevita Pearce hadir sebagai Tania. Ia menggambarkan naskah film ini sebagai cerita yang sejak awal membawanya melewati beragam emosi. Respons tersebut menunjukkan bahwa pengalaman membaca cerita menjadi salah satu daya tarik utama baginya saat menerima peran. Sementara itu, Faradina Mufti berperan sebagai Chitra, ibu Juna sekaligus istri Jiwa. Untuk membangun kedekatan dengan Altaaf Akavi, pemeran Juna, Faradina melakukan berbagai kegiatan bersama. Upaya itu membantu keduanya mengembangkan hubungan yang terasa akrab sebagai ibu dan anak, sehingga interaksi mereka dalam cerita dapat terbangun dengan lebih alami. Hubungan Chitra dengan Jiwa dan Juna juga menjadi bagian dari dinamika keluarga yang ditampilkan film ini.
Altaaf Akavi memerankan Juna, anak Jiwa dan Chitra. Sebelum bergabung dalam Gasigogi, Altaaf pernah tampil dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti. Kini ia dipercaya menghidupkan karakter anak yang berada di pusat hubungan keluarga dalam cerita. Keterlibatan Altaaf bersama Vino dan Faradina turut membentuk gambaran keluarga Jiwa, Chitra, dan Juna di layar. Keempat pemeran tersebut membawa sudut pandang masing-masing terhadap tokoh yang dimainkan: Vino sebagai seniman dan ayah, Pevita sebagai Tania, Faradina sebagai istri sekaligus ibu, serta Altaaf sebagai anak mereka.
Baca juga: PT. SMM Bekerja Sama Dengan Pabrik dan Kontraktor Keluarkan Limbah Ban; Cegah Pencemaran Lingkungan — Tokoh Pemuda Bungku Beri Apresiasi | Rizky Ridho Kembali Masuk Skuad Persija untuk Hadapi Persik | Wirasena Youth Camp 2026 Buka Ruang bagi Pemuda untuk Membawa Pulang Gagasan



































