Gunung Lokon Didominasi Gempa Dangkal, Warga Diminta Menjauhi Kawah

oleh -61 Dilihat
oleh
Gunung Lokon Didominasi Gempa Dangkal, Warga Diminta Menjauhi Kawah

Kota Tomohon | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut aktivitas Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada periode 1–15 Oktober 2026 didominasi gempa vulkanik dangkal. Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan catatan kegempaan yang mencakup beberapa jenis kejadian selama rentang waktu tersebut. Data itu menunjukkan bahwa gempa embusan menjadi jenis gempa dengan jumlah terbanyak di kejadian yang dicatat.

Selama 1–15 Oktober, tercatat 189 gempa embusan. Selain itu, terdapat 12 gempa vulkanik dalam, tiga gempa yang terasa dengan skala I MMI, serta 52 gempa tektonik jauh. Dengan demikian, keseluruhan catatan dalam periode tersebut mencakup 256 kejadian, jika seluruh kategori yang disebutkan dijumlahkan. Gempa embusan berjumlah paling besar dibandingkan tiga kategori lainnya.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas kegempaan Lokon terdiri atas kejadian yang berbeda, yaitu gempa embusan, gempa vulkanik dalam, gempa yang dirasakan, dan gempa tektonik jauh. Jumlah masing-masing kategori tidak sama. Gempa vulkanik dangkal mendominasi aktivitas pada periode itu, sementara data yang dirinci juga mencakup gempa dalam dan kejadian tektonik jauh. Tiga gempa tercatat terasa pada skala I MMI.

Lana Saria mengaitkan keterangan tersebut dengan pemantauan aktivitas Gunung Lokon untuk periode 1–15 Oktober 2026. Rincian jumlah gempa memberikan gambaran mengenai jenis dan frekuensi kejadian yang tercatat selama setengah bulan itu. Angka-angka tersebut merujuk pada rentang waktu yang sama, sehingga dapat dibaca sebagai satu rangkaian catatan kegempaan, bukan sebagai perbandingan dengan periode lain. Informasi yang tersedia mencakup jumlah kejadian pada setiap kategori tersebut.

Dominasi gempa vulkanik dangkal dalam catatan ini terutama tampak dari jumlah 189 gempa embusan. Adapun 12 gempa vulkanik dalam, tiga gempa terasa berskala I MMI, dan 52 gempa tektonik jauh melengkapi rincian aktivitas yang disebutkan. Seluruh angka itu merupakan catatan kegempaan Gunung Lokon pada 1–15 Oktober 2026, sebagaimana dijelaskan Kepala Badan Geologi Lana Saria.

Pengamatan visual Gunung Lokon mencatat embusan asap tipis berwarna putih yang keluar dari area kawah. Tinggi maksimum embusan tersebut sekitar 150 meter di atas kawah. Gambaran ini menunjukkan adanya pelepasan gas atau uap dari kawah, tetapi pengamatan tersebut perlu dibaca bersama data pemantauan lainnya. Tinggi dan warna asap yang teramati menjadi informasi deskriptif mengenai kondisi permukaan gunung, bukan dengan sendirinya penanda bahwa aktivitas vulkanik sedang meningkat. Karena itu, penilaian kondisi Lokon juga mempertimbangkan rekaman kegempaan dan perkembangan parameter pemantauan secara berkala.

Pada catatan seismik, gempa vulkanik dangkal (VB) lebih sering terekam dibandingkan gempa vulkanik dalam (VA). Gempa VB berkaitan dengan sumber dangkal di sekitar tubuh gunung, sedangkan gempa VA tercatat lebih jarang dalam periode pengamatan yang dirujuk. Perbedaan frekuensi catatan tersebut menggambarkan jenis gempa yang dominan pada rekaman, namun tidak dapat ditafsirkan secara terpisah sebagai bukti perubahan tingkat aktivitas. Secara keseluruhan, data visual dan seismik yang tersedia belum memperlihatkan peningkatan aktivitas vulkanik. Dengan demikian, keterangan mengenai embusan putih dan dominasi gempa dangkal perlu ditempatkan dalam konteks hasil pemantauan, tanpa menarik kesimpulan yang melampaui data.

Data RSAM memperlihatkan pola energi yang meningkat sejak 24 Agustus hingga 15 Oktober 2026. Namun, kenaikan energi yang tercatat pada parameter tersebut bersumber dari gempa permukaan. Oleh sebab itu, pola RSAM ini tidak boleh disajikan sebagai bukti bahwa aktivitas vulkanik Gunung Lokon meningkat, terutama karena data visual dan seismik belum menunjukkan peningkatan tersebut. Pemisahan tren energi, sumber gempa, dan interpretasi aktivitas penting agar informasi pemantauan tetap akurat. Pembacaan RSAM perlu disandingkan dengan jenis kejadian yang terekam serta pengamatan langsung di kawah. Hasilnya memberikan gambaran yang lebih utuh, sekaligus membantu menghindari kekeliruan dalam memahami perubahan angka pada rekaman pemantauan. Warga tetap perlu mengikuti arahan resmi terkait kawasan kawah.

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi aktivitas Gunung Lokon hingga 15 Oktober 2026, gunung api tersebut berada pada Level II atau . Penetapan status ini menjadi dasar rekomendasi yang disesuaikan dengan kondisi serta potensi ancaman terkini. Masyarakat dan pengunjung diharapkan mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait, termasuk pembaruan mengenai tingkat aktivitas dan batas kawasan yang harus dihindari. Status bukan berarti erupsi pasti segera terjadi, tetapi menunjukkan bahwa aktivitas gunung perlu dipantau dan langkah kehati-hatian tetap diperlukan.

Salah satu potensi bahaya yang perlu diperhatikan adalah keluarnya gas beracun dari kawah sewaktu-waktu. Gas tersebut dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi siapa pun yang berada terlalu dekat dengan kawah atau terbawa ke area sekitar dalam kondisi tertentu. Karena itu, warga dan wisatawan diminta menjauhi kawah serta tidak memasuki kawasan berbahaya meskipun tidak terlihat tanda aktivitas yang mencolok. Selain itu, erupsi freatik dapat terjadi tiba-tiba, tanpa didahului gejala yang mudah dikenali masyarakat. Erupsi jenis ini melibatkan uap dan material di sekitar kawah, sehingga kedekatan dengan kawah berisiko menimbulkan bahaya langsung.

Perhatian juga perlu diberikan kepada warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu dari puncak Lokon. Saat musim hujan, material vulkanik yang berada di kawasan puncak dapat terbawa aliran air dan memicu lahar. Risiko tersebut dapat meningkat ketika hujan deras berlangsung cukup lama di puncak, sekalipun kondisi cuaca di permukiman berbeda. Warga sebaiknya memperhatikan perubahan debit dan warna air, serta menghindari bantaran sungai apabila hujan lebat terjadi atau aliran meningkat. Ikuti arahan pemerintah daerah dan petugas kebencanaan, serta segera menjauh ke tempat aman jika muncul tanda bahaya. Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi membantu mengurangi paparan terhadap gas, dampak erupsi mendadak, maupun aliran lahar di kawasan sekitar gunung.

ESDM mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki untuk tidak melakukan aktivitas maupun mendekati kawasan dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan, Gunung Lokon. Batas tersebut perlu dipatuhi oleh siapa pun yang berada di sekitar gunung, termasuk mereka yang datang untuk berwisata atau mendaki. Hindari memasuki zona yang telah ditetapkan dan jangan mendekati kawah, meskipun kondisi di sekitar terlihat tenang. Pembatasan jarak ini merupakan langkah kewaspadaan yang perlu diperhatikan demi keselamatan selama aktivitas gunung api berlangsung.

Warga dan pengunjung juga perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya letusan serta hujan abu. Jika letusan terjadi, masyarakat dianjurkan tetap berada di dalam rumah. Hindari berada di luar ruangan selama kondisi tersebut, terutama ketika abu vulkanik sedang turun. Langkah ini membantu mengurangi paparan langsung terhadap abu. Apabila seseorang sedang berada di luar ketika hujan abu terjadi dan belum dapat segera berada di dalam ruangan, gunakan pelindung hidung dan mulut, seperti masker, serta pelindung mata, seperti kacamata.

Perlindungan tersebut penting karena abu dapat terbawa dan menyebar di udara, sehingga hidung, mulut, dan mata perlu ditutup atau dilindungi. Masker digunakan untuk menutupi hidung dan mulut, sedangkan kacamata melindungi mata dari paparan abu. Setelah memungkinkan, tetaplah berada di dalam rumah sesuai imbauan. Masyarakat sebaiknya menyampaikan informasi ini kepada anggota keluarga dan orang lain yang berada di sekitar kawasan Gunung Lokon, khususnya pengunjung yang mungkin belum mengetahui batas aman yang dianjurkan.

Inti imbauan ESDM adalah menjauhi Kawah Tompaluan dengan tidak beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer, serta melakukan perlindungan diri jika terjadi letusan dan hujan abu.