IHSG Sesi I Menguat 0,35% ke 6.052,51 di Tengah Sentimen Global

oleh -82 Dilihat
oleh
IHSG Sesi I Menguat 0,35% ke 6.052,51 di Tengah Sentimen Global

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi I pada Jumat, 9 Oktober 2026, di zona hijau. Indeks mengakhiri paruh pertama perdagangan pada level 6.052,51, naik 21,23 poin atau 0,35% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Penguatan ini menunjukkan adanya pemulihan setelah indeks sempat bergerak melemah pada awal perdagangan.

Pergerakan IHSG berlangsung fluktuatif sejak pembukaan. Indeks memulai perdagangan pada level 6.039,01, tetapi tekanan jual kemudian mendorongnya turun secara bertahap. Dalam perjalanannya, IHSG sempat menyentuh titik terendah di 5.995,82. Level tersebut menempatkan indeks kembali di bawah batas psikologis 6.000, yang menjadi perhatian pelaku pasar karena kerap dipandang sebagai area penting dalam menentukan arah perdagangan jangka pendek.

Setelah mencapai titik terendah, IHSG berbalik arah dan mulai menguat. Minat beli yang muncul sepanjang sesi mendorong indeks menembus kembali level 6.000, sebelum melanjutkan kenaikan hingga mencapai level tertinggi 6.059,54. Meskipun tidak mampu bertahan di posisi puncak tersebut, IHSG tetap berhasil mengakhiri sesi pertama pada level 6.052,51. Dengan demikian, indeks mencatat kenaikan 0,35% setelah melalui rentang perdagangan yang dinamis sejak pagi. Perubahan arah dari pelemahan menuju penguatan memperlihatkan bahwa sentimen pasar masih bergerak hati-hati, tetapi cukup kuat untuk menopang indeks di akhir sesi pertama.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia hingga berakhirnya sesi I menunjukkan aktivitas yang cukup ramai. Total volume transaksi tercatat mencapai 177,49 juta lot saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp4.084,13 miliar atau sekitar Rp4,08 triliun. Data tersebut mencerminkan aliran transaksi yang tetap aktif meskipun pergerakan indeks berlangsung dalam rentang terbatas di tengah perhatian pelaku pasar terhadap sentimen global.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 332 saham bergerak menguat. Sementara itu, 309 saham tercatat melemah dan 322 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Komposisi ini memperlihatkan bahwa penguatan pasar tidak berlangsung secara merata pada seluruh saham, melainkan lebih banyak ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar serta sejumlah emiten pada sektor tertentu.

Berdasarkan data Refinitiv, sektor material dasar menjadi penopang utama dengan kenaikan 1,07%. Sektor keuangan dan infrastruktur juga memberikan kontribusi positif, masing-masing menguat 0,8%. Kinerja ketiga sektor tersebut membantu menjaga momentum IHSG selama sesi I, terutama ketika investor masih mencermati arah pasar global dan perkembangan ekonomi yang berpotensi memengaruhi keputusan investasi.

Di jajaran saham penggerak indeks, BBRI, TLKM, BBCA, BMRI, dan AMMN disebut memberikan dorongan terbesar terhadap penguatan IHSG. Pergerakan positif saham-saham tersebut membantu mengimbangi tekanan dari BYAN, MORA, GOTO, ENRG, dan GEMS yang menjadi saham pembatas kenaikan indeks. Dengan demikian, kenaikan IHSG sebesar 0,35% ke level 6.052,51 terbentuk dari kontribusi yang berbeda saham pendorong dan saham penekan, bukan semata-mata dari penguatan mayoritas sektor.

Selain perkembangan sentimen global, perhatian investor pada perdagangan Jumat tertuju pada sejumlah indikator ekonomi domestik. Salah satu data yang dinantikan adalah penjualan ritel Indonesia, yang dapat memberikan gambaran mengenai keberlanjutan pemulihan belanja masyarakat. Pergerakan penjualan ritel menjadi penting karena konsumsi rumah tangga masih berperan besar dalam menopang aktivitas ekonomi nasional. Kenaikan yang konsisten akan menunjukkan bahwa pemulihan konsumsi terus berlangsung, sedangkan pertumbuhan yang terbatas dapat menjadi sinyal bahwa daya beli belum pulih secara merata.

Gambaran mengenai kondisi konsumen juga tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia. Pada September, IKK tercatat 118,1, sedikit menurun dibandingkan 118,5 pada Agustus. Angka di atas 100 menunjukkan bahwa konsumen secara umum masih berada dalam kondisi optimistis. Namun, penurunan tipis tersebut menandakan pemulihan daya beli belum sepenuhnya merata, sehingga investor tetap perlu mencermati kemampuan masyarakat dalam mempertahankan pengeluaran.

Perkembangan konsumsi domestik menjadi perhatian yang berkaitan dengan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pasar menilai kebutuhan pembiayaan pemerintah, termasuk kemampuan menjaga kesinambungan belanja, dapat memengaruhi sentimen terhadap perekonomian dan pasar keuangan. Di sisi lain, investasi hilirisasi juga dipantau karena berkaitan dengan prospek produksi serta ekspor. Realisasi investasi di sektor tersebut diharapkan mendukung peningkatan kapasitas produksi dan memperkuat kinerja perdagangan, meskipun perkembangannya tetap bergantung pada pelaksanaan proyek dan kebutuhan pendanaan.

Perhatian terhadap data domestik berlangsung bersamaan dengan pemantauan indikator Amerika Serikat. Klaim pengangguran AS kembali tercatat lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut menjadi bagian dari informasi yang diperhitungkan pelaku pasar ketika menilai perkembangan ekonomi global, bersama rilis penjualan ritel Indonesia, kondisi konsumsi dalam negeri, APBN, dan investasi hilirisasi. Kombinasi berbagai indikator itu dapat memengaruhi arah perhatian investor terhadap keberlanjutan pemulihan ekonomi dan pergerakan IHSG pada sesi perdagangan berikutnya.

Sentimen pasar global masih dibayangi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa serangan terhadap Iran tidak akan dilakukan sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026. Pernyataan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran mengenai serangan dalam waktu dekat, tetapi belum menghapus risiko eskalasi. Ketegangan tetap tinggi karena blokade laut terhadap Iran masih berlaku, sementara Teheran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir.

Kekhawatiran terhadap perluasan konflik sebelumnya mendorong harga minyak Brent naik lebih dari 4% hingga menembus US$104 per barel. Kenaikan tersebut mencerminkan kecemasan pasar terhadap gangguan pasokan minyak global, terutama apabila konflik menghambat jalur pelayaran strategis. Karena itu, setiap perkembangan terkait hubungan AS-Iran berpotensi memengaruhi harga energi, inflasi, nilai tukar, dan keputusan investasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Risiko inflasi juga tercermin dalam risalah Bank Sentral Eropa atau ECB. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa para pejabat masih melihat kemungkinan peningkatan inflasi akibat ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik AS-Iran dan perang Rusia-Ukraina. Suku bunga deposito ECB tercatat sebesar 2,50%, sedangkan suku bunga operasi pembiayaan utama berada di 2,65%. Risalah itu bukan keputusan suku bunga baru. Namun, pengetatan lanjutan belum dapat dikesampingkan, meskipun arahnya belum dipastikan dan sangat bergantung pada perkembangan harga energi serta inflasi.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva turut memperingatkan bahwa harga energi berpotensi bertahan tinggi. Pemulihan produksi dan distribusi memerlukan waktu, sementara tekanan pada kontrak minyak Brent berjangka masih terlihat hingga 2027. Harga minyak berada di sekitar US$100 per barel, ditambah kapasitas penyulingan yang terbatas. Pasokan gas dari kawasan Teluk juga terganggu akibat ancaman terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz, dengan dampak terutama dirasakan Asia dan Eropa. Kondisi ini menjaga volatilitas pasar dan membatasi ruang penguatan aset berisiko.

📚 Artikel Terkait: