Jejak Martha Tilaar: Dari Sariayu hingga Jejaring Bisnis Kecantikan Nasional

oleh -56 Dilihat
oleh
Jejak Martha Tilaar: Dari Sariayu hingga Jejaring Bisnis Kecantikan Nasional

Jakarta | Martha Tilaar, pendiri merek kosmetik Martha Tilaar, meninggal dunia pada Rabu, 14 Oktober, dalam usia 89 tahun. Kabar duka tersebut disampaikan oleh keluarga besar Tiara Kusuma, organisasi yang menghimpun para ahli kecantikan dan pengusaha salon di Indonesia. Dalam pernyataan itu, Martha disebut sebagai Dewan Kehormatan Tiara Kusuma, sebuah posisi yang mencerminkan penghargaan terhadap peran dan kontribusinya dalam dunia kecantikan nasional.

Kepergian Martha Tilaar menandai kehilangan bagi industri kecantikan Indonesia. Sepanjang kiprahnya, ia dikenal sebagai salah satu figur yang berperan dalam membangun dan memperkuat bisnis kecantikan lokal. Namanya tidak hanya melekat pada perusahaan dan merek kosmetik Martha Tilaar, tetapi juga pada berbagai produk yang telah dikenal luas oleh masyarakat, termasuk Sariayu. Kehadiran produk-produk tersebut turut memperkenalkan gagasan bahwa kecantikan dapat dikembangkan melalui kekayaan budaya dan bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam perkembangan industri kecantikan nasional, Martha Tilaar menempati posisi penting karena kiprahnya berkaitan dengan lebih dari sekadar pemasaran kosmetik. Perjalanannya turut bersinggungan dengan pendidikan kecantikan, profesionalisme tenaga salon, serta pembentukan ekosistem usaha yang mendukung pertumbuhan sektor tersebut. Melalui keterkaitan dengan berbagai lini bisnis dan organisasi profesi, sosok Martha menjadi bagian dari sejarah perubahan industri kecantikan Indonesia dari bidang yang bersifat personal dan tradisional menjadi sektor usaha dengan jaringan yang lebih luas. Karena itu, berita wafatnya tidak hanya menjadi kabar duka bagi komunitas Tiara Kusuma, melainkan juga bagi masyarakat yang mengenal produk, merek, dan warisan kiprahnya dalam dunia kecantikan.

Jejak Grup Martha Tilaar bermula dari sebuah usaha yang dibangun dengan visi untuk mengembangkan kecantikan Indonesia melalui pemanfaatan pengetahuan, bahan alam, dan tradisi perawatan Nusantara. Berdasarkan informasi pada laman resmi perusahaan, usaha tersebut didirikan pada 1977 oleh Dr. H.C. Martha Tilaar, (alm.) Pranata Bernard, dan Theresa Harsini Setiady. Ketiga pendiri itu menjadi bagian penting dalam pembentukan fondasi kelompok usaha yang kemudian tumbuh dan memiliki jaringan bisnis kecantikan di tingkat nasional.

Pada masa awal perkembangannya, bisnis ini tidak hanya diarahkan pada produksi kosmetik, tetapi juga berangkat dari perhatian terhadap kekayaan bahan alami serta warisan pengobatan tradisional Indonesia. Orientasi tersebut menjadi salah satu dasar bagi pengembangan berbagai produk perawatan dan kecantikan yang menggabungkan pendekatan modern dengan unsur budaya lokal. Seiring pertumbuhan usaha, kegiatan perusahaan mencakup bidang yang berkaitan dengan kosmetik, perawatan tubuh, serta obat tradisional atau jamu.

Salah satu entitas penting dalam kelompok usaha tersebut adalah PT Martina Berto Tbk. Perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham MBTO, sehingga memiliki status sebagai perusahaan terbuka dan menjadi bagian yang dikenal dalam struktur bisnis Martha Tilaar. Pencatatan di bursa menandai perkembangan organisasi dari usaha yang dirintis pada tingkat awal menjadi perusahaan dengan tata kelola dan cakupan kegiatan yang lebih luas.

Dengan demikian, fondasi Grup Martha Tilaar dibentuk melalui perpaduan kewirausahaan, pengembangan kosmetik, dan pemanfaatan pengetahuan tradisional. Sejarah pendiriannya menunjukkan bahwa kelompok usaha ini berkembang bukan semata-mata sebagai produsen kosmetik, melainkan sebagai entitas yang juga memiliki kegiatan terkait obat tradisional atau jamu. Landasan tersebut membantu menjelaskan arah perkembangan bisnisnya hingga membangun kehadiran di industri kecantikan nasional.

Perkembangan fasilitas produksi Martha Tilaar berlangsung seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap kosmetik dan produk herbal. Pada 1981, perusahaan mendirikan pabrik modern pertamanya di Jalan Pulo Ayang Nomor 3, Kawasan Industri Pulogadung. Fasilitas ini digunakan untuk memproduksi kosmetik dan jamu dengan merek Sariayu Martha Tilaar. Kehadiran pabrik tersebut menandai penguatan kapasitas industri sekaligus mendukung konsistensi mutu produk yang dipasarkan secara nasional.

Empat tahun kemudian, pada 1986, perusahaan membangun pabrik modern kedua di Jalan Pulo Kambing, masih dalam kawasan industri yang sama. Fasilitas ini kemudian dikenal sebagai Pabrik Pulo Kambing dan menjadi salah satu pusat penting kegiatan produksi. Sebelumnya, pada 1993, perusahaan juga mengakuisisi PT Cedefindo. Langkah tersebut memperluas kegiatan bisnis ke sektor hulu melalui manufaktur kontrak atau makloon kosmetik, sehingga perusahaan dapat memproduksi produk bagi pihak lain di samping mengembangkan mereknya sendiri.

Pertumbuhan penjualan mendorong penataan kembali fasilitas produksi pada 1995. Produksi herbal dialihkan ke Gunung Putri, Bogor, sedangkan pengelolaan pabrik Pulo Ayang diserahkan kepada PT Cempaka Belkosindo Indah. Entitas ini memproduksi merek Mirabella dan Cempaka, yang memperkuat portofolio perusahaan di segmen kosmetik. Pengaturan tersebut memungkinkan setiap fasilitas menjalankan fungsi yang lebih terarah sesuai karakter produk dan kebutuhan kapasitasnya.

Pada 2005, PT Cempaka Indah Belkosindo digabungkan dengan perusahaan. Setelah penggabungan itu, produksi Mirabella dan Cempaka dikombinasikan dengan fasilitas Pulo Kambing. Pabrik Pulo Ayang selanjutnya dialihkan untuk mendukung kantor penjualan dan pusat distribusi perusahaan yang berlokasi di Jalan Pulo Ayang Nomor 24–25, Kawasan Industri Pulogadung. Dalam perkembangan berikutnya, aset pabrik di Gunung Putri dijual, sementara operasi pabrik jamu tetap diteruskan melalui perjanjian sewa hingga akhir 2011.

Cakupan kegiatan utama perusahaan meliputi produksi kosmetik dan obat tradisional atau jamu, sekaligus pemasaran serta perdagangan berbagai produk yang berkaitan dengan kecantikan. Ruang lingkup tersebut mencakup kosmetik, produk perawatan kecantikan, dan obat tradisional yang dipasarkan melalui jejaring usaha Grup Martha Tilaar. Dengan cakupan ini, kegiatan perusahaan tidak hanya berfokus pada pembuatan produk, tetapi juga mencakup pengelolaan dan penyaluran produk kepada pasar.

Dalam mendukung kegiatan manufaktur, PT Cedefindo berperan sebagai anak perusahaan yang menjalankan layanan manufaktur kontrak atau makloon. Perusahaan ini memproduksi produk kosmetik dalam berbagai bentuk, meliputi produk kering, semipadat, cair, dan aerosol. Layanan tersebut memungkinkan perusahaan internal maupun pihak eksternal memperoleh dukungan produksi yang disesuaikan dengan kebutuhan formulasi, jenis produk, dan tahapan pengembangan yang diperlukan.

Layanan PT Cedefindo mencakup rangkaian proses yang terintegrasi, mulai dari formulasi dan pendaftaran produk hingga pembuatan bahan baku serta kemasan. Setelah itu, layanan berlanjut pada proses produksi dan pengemasan. Perusahaan juga menyediakan layanan logistik satu pintu, sehingga kebutuhan terkait alur produk dapat ditangani dalam satu rangkaian layanan. Dukungan ini tersedia bagi perusahaan internal dalam Grup Martha Tilaar maupun perusahaan eksternal yang menggunakan jasa manufaktur kontrak.

Entitas yang disebut sebagai bagian dari Grup Martha Tilaar meliputi PT Martina Berto Tbk, PT Cedefindo, PT Martha Beauty Gallery, PT Cantika Puspa Pesona, PT Creative Style Mandiri, dan PT Kreasi Boga Primatama. Susunan tersebut memperlihatkan keberadaan beberapa entitas dengan cakupan kegiatan yang mendukung produksi, pengembangan, pemasaran, perdagangan, serta layanan terkait produk kecantikan dan obat tradisional.

Baca juga: Martha Tilaar Berpulang, Industri Kecantikan Indonesia Kehilangan Sosok Pelopor | Martha Tilaar, Perintis Industri Kecantikan Indonesia, Tutup Usia 89 Tahun | Martha Tilaar, Ikon Industri Kecantikan Indonesia, Berpulang pada Usia 89 Tahun