Kabut Asap Karhutla Ganggu Aktivitas Warga dan Penerbangan di Palembang

oleh -13 Dilihat
oleh
Kabut Asap Karhutla Ganggu Aktivitas Warga dan Penerbangan di Palembang

KOTA PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kondisi tersebut terlihat sejak pagi dan tetap berlangsung hingga sore hari. Lapisan asap membuat suasana di sejumlah bagian kota tampak berkabut, sementara aktivitas warga berlangsung di tengah keadaan yang belum sepenuhnya membaik.

Sejak pagi, kabut asap terlihat menutupi kawasan Palembang dan belum menghilang ketika waktu beranjak menuju siang. Kondisi itu masih bertahan hingga sore, sehingga masyarakat menjalani kegiatan harian dalam situasi yang dipengaruhi oleh keberadaan asap. Perubahan keadaan tidak menunjukkan bahwa kabut telah berakhir, karena hingga sore hari selimut asap masih menyelimuti wilayah kota.

Peristiwa ini menjadi perhatian karena kabut asap berlangsung selama beberapa waktu dalam satu hari, dari pagi sampai sore. Warga Palembang masih menghadapi kondisi tersebut pada Kamis ini, dengan asap yang tetap terlihat di lingkungan kota. Informasi mengenai kabut asap ini menggambarkan keadaan terkini di Palembang, ketika dampak kebakaran hutan dan lahan masih dirasakan melalui selimut asap yang bertahan sepanjang hari. Hingga sore hari, kondisi itu belum berakhir dan Palembang masih berada dalam kepungan kabut asap.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu aktivitas warga di Palembang. Asap yang terlihat cukup pekat membuat suasana di sejumlah kawasan terasa berbeda dibandingkan kondisi normal. Pandangan di luar ruangan tampak diselimuti kabut, sementara kegiatan masyarakat tetap berlangsung dalam situasi dengan jarak pandang yang tidak sejernih biasanya. Kondisi tersebut menjadikan aktivitas harian warga di ruang terbuka tidak berjalan senyaman sebelumnya.

Sejumlah warga yang beraktivitas di luar rumah terlihat mengenakan masker. Penggunaan masker tampak menjadi bagian dari perlengkapan ketika mereka berada di tengah kepulan asap, baik saat melintas maupun ketika menjalankan keperluan masing-masing. Pemandangan ini memperlihatkan bagaimana kabut asap hadir secara langsung dalam rutinitas masyarakat. Warga masih melakukan kegiatan di luar rumah, tetapi harus berhadapan dengan udara yang dipenuhi asap dan kondisi lingkungan yang tampak berkabut.

Situasi lapangan juga menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya menjadi pemandangan di udara, tetapi turut memengaruhi kelancaran kegiatan sehari-hari. Aktivitas yang berlangsung di luar ruangan terlihat berada dalam suasana yang kurang leluasa karena pekatnya asap. Pergerakan warga tetap terlihat, namun keberadaan kabut membuat kondisi sekitar terasa lebih terbatas dan kurang nyaman untuk menjalankan kegiatan. Fenomena tersebut menjadi gambaran dampak karhutla terhadap kehidupan masyarakat Palembang, ketika asap menyelimuti lingkungan dan mengganggu rutinitas warga yang berada di luar rumah.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu aktivitas warga di Palembang, tetapi juga berdampak langsung pada operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Penurunan kualitas udara disertai terbatasnya jarak pandang membuat proses pergerakan pesawat, terutama saat lepas landas dan mendarat, harus dilakukan dengan kehati-hatian lebih tinggi. Kondisi atmosfer tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting bagi pengelola bandara dan maskapai dalam menentukan kelancaran jadwal penerbangan.

Pada Kamis, jarak pandang di wilayah Palembang sempat menurun hingga 400 meter. Jarak pandang yang terbatas menyulitkan pilot memperoleh visibilitas optimal ketika mendekati landasan pacu. Situasi ini menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami penundaan. Keputusan untuk menunda penerbangan diambil dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan, baik bagi penumpang maupun awak pesawat, sehingga keberangkatan atau kedatangan tidak dipaksakan ketika kondisi belum memungkinkan.

Gangguan terhadap jadwal penerbangan juga telah terjadi sehari sebelumnya. Tercatat tiga penerbangan sipil mengalami gangguan pada jadwal keberangkatan maupun kedatangan. Perubahan waktu tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap dapat dirasakan pada berbagai tahapan operasional penerbangan, bukan hanya ketika pesawat hendak mendarat. Maskapai dan pihak bandara perlu menyesuaikan pengaturan penerbangan dengan perkembangan jarak pandang secara berkala.

Dalam kondisi seperti ini, penumpang disarankan memantau informasi terbaru dari maskapai dan bandara sebelum berangkat. Penundaan merupakan langkah operasional yang diperlukan ketika jarak pandang belum memenuhi tingkat keamanan penerbangan. Selama kabut asap masih menutupi wilayah Palembang, jadwal penerbangan dapat berubah mengikuti hasil pemantauan kondisi udara dan jarak pandang di sekitar Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II.

Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 7 Oktober 2026 mencatat kondisi karhutla di Sumatera Selatan melalui dua indikator utama, yaitu titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi dan titik api yang masih membakar lahan. Data tersebut menjadi gambaran kuantitatif mengenai sebaran indikasi panas serta luas area yang terdampak kebakaran pada waktu pencatatan.

Berdasarkan catatan tersebut, sebanyak 354 titik panas atau hot spot dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di wilayah Sumatera Selatan. Angka ini merujuk pada hasil pemantauan yang mengidentifikasi lokasi dengan indikasi panas dan tingkat keyakinan tinggi sesuai klasifikasi data yang digunakan. Pencatatan dilakukan hingga 7 Oktober 2026.

Selain temuan titik panas, terdapat 92 titik api yang masih membakar lahan. Kebakaran pada titik-titik tersebut tercatat mencakup area seluas 390,61 hektare. Luas tersebut disajikan dalam satuan hektare berdasarkan data penanganan karhutla yang dihimpun dan dicatat oleh BNPB.

Dengan demikian, data per 7 Oktober 2026 memuat 354 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, 92 titik api yang masih membakar, serta luas lahan terbakar sebesar 390,61 hektare di Sumatera Selatan. Ketiga angka ini merupakan rincian kondisi karhutla yang tercantum dalam catatan BNPB pada tanggal tersebut, tanpa menggabungkan jumlah titik panas dengan jumlah titik api karena keduanya merupakan kategori pencatatan yang berbeda.