Kabut Karhutla Ganggu Ribuan Penerbangan Domestik, Dampak Meluas ke NTT

oleh -52 Dilihat
oleh
Kabut Karhutla Ganggu Ribuan Penerbangan Domestik, Dampak Meluas ke NTT

Jakarta | Kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mengganggu penerbangan domestik di Indonesia, dengan dampak yang dilaporkan meluas hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Catatan Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa 2.775 penerbangan berjadwal domestik terdampak selama periode 11 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Angka tersebut menggambarkan luasnya gangguan terhadap layanan penerbangan dalam rentang waktu lebih dari dua bulan.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan wilayah tempat kebakaran terjadi. Kabut asap dapat menjadi persoalan lintas wilayah ketika keberadaannya memengaruhi kegiatan transportasi udara. Dalam kasus ini, sebaran dampak yang disebutkan mencakup NTT, sehingga gangguan penerbangan domestik menjangkau wilayah yang lebih luas daripada area yang langsung terdampak kebakaran.

Jumlah penerbangan yang terdampak menjadi ukuran penting untuk memahami skala persoalan. Namun, angka 2.775 merujuk pada penerbangan berjadwal domestik yang terdampak menurut pencatatan Kementerian Perhubungan, bukan jumlah penerbangan yang secara otomatis dapat dianggap batal. Informasi tersebut menegaskan bahwa jadwal dan operasional penerbangan mengalami gangguan selama periode yang dicatat, tanpa merinci bentuk gangguan untuk setiap penerbangan.

Perluasan dampak hingga NTT juga menyoroti bagaimana asap karhutla dapat memengaruhi perjalanan masyarakat yang bergantung pada konektivitas udara. Ketika penerbangan domestik terganggu, konsekuensinya dapat dirasakan oleh penumpang dan kegiatan perjalanan yang telah direncanakan. Meski demikian, cakupan informasi yang tersedia di sini terbatas pada jumlah penerbangan terdampak, periode pencatatan, serta jangkauan dampak hingga NTT. Karena itu, rincian mengenai lokasi tertentu, perubahan jadwal, atau kondisi operasional lainnya tidak dapat disimpulkan dari angka tersebut saja.

Data Kementerian Perhubungan memberikan gambaran terukur tentang besarnya gangguan penerbangan akibat kabut karhutla pada periode tersebut. Dengan ribuan penerbangan berjadwal domestik terdampak dan sebaran yang mencapai NTT, peristiwa ini menegaskan bahwa dampak asap dapat meluas melampaui kawasan kebakaran dan menjadi tantangan bagi layanan transportasi udara di Indonesia.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F Laisa, menyampaikan bahwa jumlah penerbangan yang terdampak kabut asap karhutla terus bertambah. Kenaikan itu seiring meluasnya sebaran asap di sejumlah wilayah. Berdasarkan keterangan tersebut, sebanyak 2.775 penerbangan tercatat terdampak. Angka ini bertambah 171 penerbangan dibandingkan data per 19 Oktober 2026. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa cakupan dampak terhadap penerbangan meningkat dalam pembaruan data yang disampaikan.

Informasi mengenai jumlah penerbangan terdampak menjadi salah satu gambaran perkembangan situasi operasional penerbangan di tengah sebaran asap. Lukman menyebut pertambahan angka tersebut sejalan dengan meluasnya asap di sejumlah wilayah, tanpa merinci dalam keterangan ini daftar wilayah yang dimaksud. Karena itu, angka 2.775 merujuk pada keseluruhan penerbangan yang terdampak sebagaimana disampaikan, sementara tambahan 171 merupakan selisih dibandingkan catatan pada 19 Oktober 2026. Kedua angka itu penting dibaca bersama agar perubahan jumlahnya terlihat secara jelas.

Data tersebut menegaskan adanya peningkatan jumlah penerbangan terdampak dari laporan sebelumnya. Keterangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memberikan pembaruan mengenai besarnya dampak yang tercatat, sekaligus mengaitkan pertambahan itu dengan perluasan sebaran asap. Namun, angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan rincian dampak pada setiap penerbangan ataupun kondisi di tiap wilayah. Informasi yang disampaikan berfokus pada jumlah keseluruhan dan perbandingannya dengan data per 19 Oktober 2026. Dengan demikian, perkembangan yang dapat dipastikan dari keterangan Lukman adalah total 2.775 penerbangan terdampak, bertambah 171 penerbangan, seiring meluasnya sebaran asap di sejumlah wilayah.

Asap kebakaran hutan dan lahan dapat mengurangi jarak pandang di sekitar bandara maupun pada jalur penerbangan. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan penting ketika operator dan pihak terkait menilai apakah penerbangan dapat tetap berlangsung, perlu disesuaikan jadwalnya, atau belum dapat dilaksanakan. Berbeda dari gangguan yang hanya berdampak pada kenyamanan perjalanan, jarak pandang berkaitan langsung dengan kemampuan awak pesawat mengamati lingkungan dan menjalankan operasi secara aman. Karena itu, perubahan kondisi akibat kabut asap harus diperhitungkan sebelum keputusan operasional dibuat, terutama ketika kualitas udara dan visibilitas berubah dari waktu ke waktu.

Menurut Lukman, penyesuaian jadwal dilakukan dengan mengutamakan keselamatan penumpang dan awak pesawat. Artinya, jadwal yang telah direncanakan tidak selalu dapat dipertahankan apabila keadaan di lapangan tidak mendukung. Penundaan atau perubahan waktu keberangkatan dapat menjadi langkah yang diperlukan untuk menunggu kondisi membaik, sehingga keputusan tidak semata-mata didasarkan pada keinginan menjaga ketepatan waktu. Dalam situasi seperti ini, maskapai dan pihak bandara perlu memperhatikan informasi kondisi operasional sebelum menentukan kelanjutan layanan. Penyesuaian tersebut merupakan respons terhadap risiko yang muncul ketika asap menurunkan visibilitas, bukan keputusan tanpa pertimbangan keselamatan.

Lukman juga menegaskan bahwa penerbangan tidak dipaksakan apabila jarak pandang belum memenuhi batas minimum operasional. Batas tersebut menjadi acuan dalam menentukan apakah pesawat dapat lepas landas atau mendarat dengan aman sesuai kondisi yang berlaku. Jika visibilitas masih berada di bawah ketentuan, menunggu hingga keadaan memungkinkan merupakan pilihan yang lebih bertanggung jawab daripada meneruskan operasi dengan risiko yang belum dapat diterima. Penumpang dapat menghadapi keterlambatan atau perubahan jadwal sebagai dampak langsung dari keputusan tersebut, tetapi langkah itu dimaksudkan untuk menjaga keselamatan penerbangan. Dengan demikian, perkembangan jarak pandang akibat asap menjadi faktor yang terus dipantau dalam menentukan kapan operasi dapat dilanjutkan.

Catatan penanganan penerbangan yang terdampak memuat beberapa kategori gangguan jadwal. Sebanyak 1.544 penerbangan tercatat dibatalkan atau ditunda. Angka tersebut disajikan sebagai satu kategori sebagaimana dicatat, tanpa memisahkan jumlah penerbangan yang dibatalkan dari jumlah yang ditunda. Karena itu, keterangan yang tersedia untuk kategori ini adalah jumlah gabungan 1.544 penerbangan dengan status dibatalkan atau ditunda.

Selain kategori tersebut, sebanyak 1.170 penerbangan mengalami keterlambatan. Pencatatan ini menunjukkan jumlah penerbangan yang masuk kategori terlambat, dan tetap dibedakan dari penerbangan yang dibatalkan atau ditunda. Sebanyak 25 penerbangan lainnya dialihkan ke bandara lain. Dalam daftar penanganan, pengalihan tersebut dicatat tersendiri, sehingga jumlahnya tidak digabungkan dengan angka keterlambatan ataupun pembatalan dan penundaan.

Catatan juga menyebut enam penerbangan kembali ke bandara keberangkatan. Kategori ini berbeda dari pengalihan ke bandara lain dan dicatat dengan jumlah tersendiri. Sementara itu, jadwal 30 penerbangan dimajukan. Perubahan jadwal ini juga merupakan kategori terpisah dalam rincian penanganan. Dengan demikian, angka yang dicatat meliputi 1.544 penerbangan dibatalkan atau ditunda, 1.170 mengalami keterlambatan, 25 dialihkan ke bandara lain, enam kembali ke bandara keberangkatan, serta 30 dimajukan jadwalnya. Setiap angka menggambarkan jenis gangguan atau penanganan yang disebutkan dalam pencatatan tersebut. Rincian itu disajikan sesuai kategorinya, tanpa mengubah istilah, menjumlahkan kategori yang berbeda, atau menarik kesimpulan tambahan mengenai hubungan di angka-angka tersebut. Pemisahan kategori membantu pembaca melihat bentuk penanganan yang tercatat secara berurutan, sambil mempertahankan masing-masing jumlah sebagaimana dilaporkan. Tidak ada rincian tambahan mengenai pembagian jumlah di dalam kategori dibatalkan atau ditunda dalam data yang disajikan di sini.

Baca juga: Ribuan Fasilitas Kesehatan Disiagakan saat Kasus ISPA Terkait Karhutla Menembus 333 Ribu | BNPB Catat 1.007 Kejadian Karhutla, Ribuan Hektare Masih Ditangani | Jateng Minta Pendakian Gunung Dibatasi untuk Cegah Karhutla Meluas