Jakarta | Aktris Hannah Al Rashid membagikan kenangan tentang ayahnya, Aidinal Hamzah Al Rashid, dalam sebuah unggahan pada Kamis malam, 29 Oktober 2026. Unggahan itu dibagikan tujuh hari setelah sang ayah meninggal dunia. Melalui keterangan yang menyertai unggahan tersebut, Hannah mengenang sosok ayah yang memiliki tempat penting dalam kehidupannya.
Dalam kenangan yang ia sampaikan, Hannah menyapa ayahnya dengan panggilan “Bubs” dan “Baba”. Sapaan personal itu memberi gambaran tentang hubungan mereka yang dekat dan akrab. Ia tidak sekadar menyebut ayahnya sebagai orang tua, tetapi menggunakan panggilan penuh kehangatan yang biasa ia tujukan kepadanya. Pilihan kata tersebut menjadi bagian dari cara Hannah mengenang sosok yang telah berpulang.
Keterangan yang menyertai unggahan itu juga memperlihatkan kedekatan Hannah dengan ayahnya. Kenangan yang dibagikan menunjukkan bahwa hubungan mereka terjalin erat dan memiliki arti mendalam bagi sang aktris. Dalam momen kehilangan, ungkapan personal seperti ini dapat menjadi cara seseorang merawat ingatan tentang orang terkasih, sekaligus menyampaikan rasa sayang yang tetap ada. Hannah pun memilih berbagi sebagian dari kenangan tersebut kepada publik.
Waktu unggahan itu dibagikan, tepat sepekan setelah kepergian Aidinal, membuatnya menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan duka. Hannah mengenang ayahnya melalui sapaan dan cerita yang mencerminkan ikatan di mereka, tanpa menghilangkan sisi pribadi dari hubungan keluarga tersebut. Bagi para pengikutnya, unggahan itu membuka sekilas ruang untuk memahami betapa dekatnya Hannah dengan sang ayah.
Kenangan tersebut menempatkan sosok Aidinal dalam cerita yang disampaikan Hannah, bukan hanya sebagai ayah, tetapi juga sebagai seseorang yang sangat berarti baginya. Panggilan “Bubs” dan “Baba” memberi nuansa akrab pada unggahan, sementara waktu pembagiannya menandai satu pekan sejak kehilangan itu. Lewat keterangan singkat yang menyertai unggahan, Hannah menunjukkan bahwa kenangan tentang ayahnya tetap melekat dan menjadi bagian penting dari kehidupannya.
Hannah Al Rashid mengungkapkan bahwa dahulu ia pernah merasa cemburu karena harus berbagi perhatian ayahnya dengan banyak orang. Perasaan itu muncul dari kenyataan bahwa sang ayah bukan hanya menjadi sosok penting di dalam keluarga, tetapi juga dipandang sebagai figur ayah oleh banyak orang. Dalam kenangannya, perhatian yang diberikan ayahnya kepada orang lain terasa seperti sesuatu yang harus ia bagi, meskipun hubungan mereka sebagai ayah dan anak tetap memiliki tempat tersendiri.
Pengakuan tersebut menggambarkan perasaan pribadi Hannah pada masa itu, tanpa menghapus kedekatan dan arti ayahnya bagi dirinya. Ia mengenang adanya rasa cemburu ketika melihat banyak orang turut memperoleh perhatian dan kasih sayang dari sosok yang sama. Perasaan itu menjadi bagian dari kenangannya tentang hubungan mereka, sekaligus menunjukkan bahwa dahulu ia memandang perhatian ayah sebagai sesuatu yang harus dibagi dengan orang-orang di sekitarnya.
Tujuh hari setelah kepergian ayahnya, cara Hannah memaknai keadaan tersebut berubah. Hal yang sebelumnya menimbulkan rasa cemburu kini ia lihat sebagai berkat. Ia menyadari bahwa banyak orang mengenal dan menyayangi ayahnya, serta kini mendoakannya. Perhatian yang dahulu terasa terbagi menjadi sesuatu yang dapat ia syukuri, sebab begitu banyak orang turut menyampaikan doa bagi sang ayah setelah kepergiannya.
Perubahan itu tidak membuat pengakuan tentang rasa cemburu di masa lalu menjadi kurang berarti. Justru, kenangan tersebut memperlihatkan bagaimana perasaan Hannah berkembang seiring dengan kehilangan yang dialaminya. Ia tidak lagi hanya melihat banyaknya orang yang menganggap ayahnya sebagai figur ayah, tetapi juga melihat bahwa kasih sayang mereka hadir dalam bentuk doa. Bagi Hannah, kenyataan bahwa ayahnya didoakan oleh banyak orang menjadi alasan untuk merasa bersyukur.
Refleksi tersebut berangkat dari pengalaman Hannah sendiri: dahulu ia merasa harus berbagi perhatian ayahnya, sedangkan setelah kepergiannya ia melihat besarnya kepedulian orang-orang kepada sang ayah. Rasa cemburu itu kini dikenang bersama rasa syukur, karena banyak orang turut mendoakan ayahnya. Dengan demikian, kenangan yang ia sampaikan memuat perubahan perasaan yang sederhana, dari keberatan berbagi perhatian menjadi penghargaan atas doa yang diberikan banyak orang.
Selama seminggu setelah ayahnya, Aidinal, meninggal dunia, Hannah Al Rashid dan saudara-saudaranya menerima banyak pesan dari orang-orang yang pernah mengenal atau berjumpa dengannya. Pesan-pesan itu datang dari berbagai tempat dan disampaikan dengan cara yang beragam. Ada yang mengirimkan ucapan belasungkawa, ada pula yang menyertakan kenangan pribadi tentang kebaikan sang ayah. Bagi keluarga, setiap cerita menjadi kesempatan untuk mendengar kembali nama Aidinal disebut dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.
Sejumlah mahasiswa Indonesia yang pernah dibantu Aidinal saat berada di Inggris menghubungi keluarga untuk menceritakan pengalaman mereka. Ada pula teman-teman diaspora di London yang berbagi kenangan tentang kebersamaan dan dukungan yang pernah diberikan. Hannah juga menyebut keluarga besar pencak silat yang tersebar di berbagai belahan dunia. Dari komunitas tersebut, datang kisah mengenai hubungan Aidinal dengan banyak orang serta peran yang ia jalani di lingkungan pencak silat. Pesan-pesan itu memperlihatkan bahwa lingkaran pergaulan sang ayah jauh lebih luas daripada yang mungkin diketahui keluarga sehari-hari.
Selain dari orang-orang yang dikenal, keluarga juga mendengar cerita dari mereka yang tidak dikenal sebelumnya, tetapi pernah menerima bantuan Aidinal. Sebagian kisah baru sampai kepada Hannah dan saudara-saudaranya setelah kepergiannya. Mereka pun mengenal kembali sisi kehidupan ayah yang selama ini tidak mereka ketahui, termasuk tindakan-tindakan sederhana yang tidak pernah diceritakan sendiri oleh Aidinal. Pengalaman tersebut membuat minggu pertama kehilangan diisi bukan hanya oleh duka, melainkan juga oleh proses mengumpulkan kenangan. Setiap pesan menambahkan potongan kecil tentang siapa Aidinal di luar perannya sebagai ayah dan anggota keluarga. Dari kesaksian para mahasiswa, teman diaspora, komunitas pencak silat, hingga orang-orang yang pernah ditolongnya, keluarga melihat jejak perhatian yang ditinggalkan sang ayah. Cerita-cerita itu menjadi cara bagi Hannah dan saudara-saudaranya untuk memahami lebih utuh kehidupan Aidinal melalui pandangan orang lain. Meski mereka tidak dapat mengubah kehilangan, pesan tersebut menghadirkan kedekatan dan penghiburan, sekaligus membuka ruang untuk mengenang kebaikan yang pernah ia bagikan kepada banyak orang.
Tujuh hari setelah kepergian ayahnya, Hannah Al Rashid masih berusaha memahami kenyataan bahwa sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya telah tiada. Meski ayahnya pergi dengan tenang, ketenangan itu tidak serta-merta membuat kehilangan terasa mudah. Hannah mengakui bahwa dirinya kesulitan menghadapi duka. Rasa kehilangan hadir dalam keseharian, terutama ketika hal-hal kecil yang dahulu dianggap biasa kini mengingatkannya pada sang ayah.
Dalam kenangannya, ayah Hannah bukan hanya sosok yang dicintai, tetapi juga pribadi dengan kebiasaan yang lekat di ingatan keluarga. Ia suka mengomel, dan omelan itu kini menjadi bagian dari hal-hal sederhana yang dirindukan. Hannah juga mengingat pelukan ayahnya yang erat, sebuah bentuk kasih sayang yang tak selalu membutuhkan banyak kata. Kenangan semacam itu terasa semakin berharga setelah ia tak lagi bisa mengalaminya secara langsung.
Di momen keluarga yang dikenang, ada pula perdebatan ringan tentang coto Makassar terenak. Ayah dan anak-anaknya membicarakan pilihan di Jakarta maupun di Makassar, seolah persoalan kuliner tersebut selalu layak diperdebatkan. Obrolan panjang mereka juga menjadi kenangan tersendiri. Percakapan dapat berlangsung hingga anak-anaknya mengantuk, tetapi waktu bersama itu terasa begitu berharga bagi Hannah.



































