Jakarta | KH Syukron Ma’mun, ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman, meninggal dunia pada usia 84 tahun. Ia wafat dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pada Minggu sekitar pukul 09.00 WIB. Kabar duka tersebut disampaikan M. Romahurmuziy, yang menjelaskan bahwa informasi mengenai kepergian almarhum ia terima berdasarkan keterangan lisan dari kedua putra KH Syukron, Gus Ridho dan Gus Faiz.
Menurut Romahurmuziy, kabar itu berasal langsung dari keluarga, yakni kedua putra almarhum. Dengan demikian, informasi mengenai waktu dan keadaan saat KH Syukron wafat disampaikan berdasarkan keterangan keluarga tersebut. Ia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit di Jakarta, bukan setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Keterangan itu menjadi informasi awal mengenai wafatnya pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman tersebut.
Romahurmuziy juga menyampaikan rencana pemakaman KH Syukron Ma’mun. Jenazah almarhum direncanakan dimakamkan pada Ahad, 18 Oktober 2026, ba’da zuhur di pesantren yang diasuhnya, yakni Pondok Pesantren Darul Rahman di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jadwal serta lokasi tersebut disampaikan sebagai rencana pemakaman yang telah diinformasikan Romahurmuziy. Pesantren di Jagakarsa itu menjadi tempat peristirahatan terakhir yang direncanakan bagi almarhum.
Kepergian KH Syukron pada usia 84 tahun menandai berpulangnya seorang ulama yang juga memimpin lembaga pendidikan pesantren. Informasi tentang wafat dan pemakaman disampaikan dengan merujuk pada keterangan keluarga serta pernyataan Romahurmuziy, sehingga rincian yang diketahui mencakup waktu wafat, perjalanan menuju Rumah Sakit Pondok Indah, dan rencana pemakaman. Bagi keluarga, santri, dan pihak yang mengenal almarhum, kabar ini menjadi berita duka. Prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung setelah zuhur di lingkungan pesantren yang selama ini berada di bawah pengasuhan KH Syukron Ma’mun, di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Dalam mengenang KH Syukron Ma’mun, Romahurmuziy menyoroti luasnya jangkauan dakwah almarhum. Syukron dikenal tidak hanya aktif menyampaikan ajaran Islam di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga menjangkau masyarakat di sejumlah negara. Kehadirannya dalam berbagai forum pengajian menunjukkan bahwa pesan yang dibawanya diterima oleh beragam kelompok dan komunitas. Dakwahnya bergerak melampaui batas wilayah, sekaligus mempertemukan jamaah dari latar belakang yang berbeda dalam ruang belajar keagamaan.
Salah satu kegiatan yang dijalani secara rutin ialah mengisi forum pengajian tahunan di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Kehadiran Syukron dalam agenda-agenda tersebut mencerminkan kesinambungan hubungan dakwah dengan masyarakat Muslim di kawasan Asia Tenggara. Pengajian tahunan itu menjadi kesempatan bagi jamaah untuk mendengarkan ceramahnya secara langsung dan memperdalam pemahaman keagamaan. Menurut kenangan Romahurmuziy, kegiatan semacam ini merupakan bagian dari kiprah almarhum yang lebih luas, bukan sekadar kunjungan sesaat ke luar negeri.
Syukron juga dikenal memiliki kemampuan orasi yang kuat. Ia mampu menyampaikan gagasan dengan jelas dan menarik perhatian jamaah, tanpa menjadikan dakwah sebagai ruang yang hanya terbuka bagi kalangan tertentu. Cara penyampaiannya dikenal merangkul berbagai lapisan masyarakat, sehingga pesan agama dapat menjangkau pendengar dengan pengalaman dan latar sosial yang beragam. Kekuatan berbicara itu, bersama keluasan pergaulannya, turut membentuk karakter dakwah yang mudah diterima di banyak tempat.
Kiprah tersebut berjalan seiring dengan perannya dalam pendidikan pesantren. Pada 1975, Syukron mendirikan Pondok Pesantren Darul Rahman, lembaga yang kemudian menjadi tempat belajar dan pembinaan bagi banyak santri. Para alumninya kini berkiprah di beragam bidang, memperlihatkan bahwa pengaruh pesantren tidak berhenti pada kegiatan belajar di lingkungan lembaga. Melalui dakwah dan pendidikan, Syukron meninggalkan jejak yang menjangkau masyarakat luas. Kenangan Romahurmuziy atas almarhum menggambarkan sosok pendakwah yang hadir di berbagai forum, membangun hubungan dengan jamaah lintas wilayah, serta menyiapkan generasi yang dapat berkontribusi dalam kehidupan sosial.
Keterlibatan KH Syukron Ma’mun di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tercermin melalui amanahnya sebagai Wakil Ketua Majelis Syariah DPP PPP. Ia menjalankan peran tersebut pada dua periode kepengurusan, yakni 2011–2014 dan 2014–2019. Rentang itu menunjukkan bahwa namanya tercatat dalam struktur Majelis Syariah partai selama dua masa kepengurusan berturut-turut. Dalam konteks organisasi, jabatan tersebut menempatkannya sebagai bagian dari unsur Majelis Syariah di tingkat DPP PPP. Keterangan mengenai amanah itu menjadi salah satu sisi perjalanan almarhum di ranah kelembagaan, di samping kiprahnya dalam kegiatan keulamaan dan dakwah. Perannya tidak perlu dilepaskan dari organisasi yang disebutkan: ia hadir sebagai Wakil Ketua Majelis Syariah, dengan periode jabatan yang mencakup 2011–2014 serta 2014–2019. Catatan ini memperlihatkan hubungan almarhum dengan PPP melalui posisi yang jelas dan masa kepengurusan yang terukur.
Di luar peran di PPP, KH Syukron Ma’mun juga mengemban amanah sebagai Ketua Forum Ulama dan Habaib (FUHAB). Organisasi ini mendorong persatuan ulama, habaib, dan pendakwah. Tujuan tersebut menempatkan FUHAB sebagai ruang yang mempertemukan berbagai unsur dalam kehidupan keagamaan, sesuai dengan kelompok yang tercakup dalam namanya. Amanah kepemimpinan almarhum di forum itu terkait dengan upaya organisasi untuk mendorong persatuan di para ulama, habaib, dan pendakwah. Dengan demikian, keterlibatannya dalam FUHAB melengkapi keterlibatan kelembagaannya di PPP. Kedua peran tersebut memperlihatkan bahwa almarhum tercatat dalam organisasi dengan lingkup yang berbeda: Majelis Syariah DPP PPP dan forum yang mendorong persatuan kalangan ulama serta pendakwah. Informasi mengenai jabatan dan tujuan FUHAB memberi gambaran ringkas tentang bentuk tanggung jawab organisasi yang diembannya.
Latar pendidikan KH Syukron Ma’mun mencakup Pondok Modern Darussalam Gontor dan Pondok Pesantren Sidogiri. Ia merupakan lulusan dari kedua lembaga pendidikan tersebut. Penyebutan Gontor dan Sidogiri menjadi bagian dari latar yang dapat dicatat bersama peran almarhum di PPP dan FUHAB. Informasi ini menunjukkan dua lembaga pendidikan pesantren yang menjadi tempat ia menempuh pendidikan, tanpa perlu menambahkan rincian lain mengenai masa belajar atau bidang yang dipelajari. Secara keseluruhan, catatan tentang dirinya mencakup amanah sebagai Wakil Ketua Majelis Syariah DPP PPP dalam periode 2011–2014 dan 2014–2019, tugas sebagai Ketua FUHAB, serta pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor dan Pondok Pesantren Sidogiri. Rangkaian keterangan tersebut menggambarkan sisi organisasi dan pendidikan almarhum secara terbatas pada informasi yang tersedia.
Romahurmuziy mengenang KH Syukron Ma’mun sebagai ulama senior yang memiliki peran penting dalam perjalanan hidup dan kiprah politiknya. Bagi Romahurmuziy, Syukron bukan hanya tokoh agama yang dihormati, tetapi juga sosok yang dapat menjadi tempat bertanya dan berkonsultasi ketika muncul keputusan penting. Hubungan tersebut tumbuh dalam suasana saling menghargai, terutama ketika Romahurmuziy menghadapi berbagai dinamika di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Nasihat seorang ulama yang memahami kehidupan umat dan perkembangan masyarakat menjadi pertimbangan tersendiri dalam menentukan langkah.
Di pokok pembicaraan mereka ialah keputusan terkait pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah. Kedua agenda politik itu kerap menghadirkan pilihan yang perlu ditimbang dengan cermat, baik dari sisi organisasi maupun dampaknya terhadap masyarakat. Romahurmuziy juga berkonsultasi mengenai persoalan dugaan penodaan agama di DKI Jakarta menjelang 2018. Isu tersebut menyita perhatian publik dan membawa tantangan bagi banyak pihak. Dalam situasi yang sensitif, pandangan Syukron menjadi salah satu rujukan bagi Romahurmuziy untuk memahami keadaan dan mempertimbangkan sikap. Kenangan konsultasi itu menggambarkan kedekatan yang tidak semata-mata berkaitan dengan urusan politik, tetapi juga dengan kepercayaan terhadap pengalaman dan kebijaksanaan seorang ulama senior.
Romahurmuziy menyebut pertemuan terakhirnya dengan Syukron berlangsung pada peringatan 50 tahun.
Baca juga: KH Syukron Ma’mun Wafat dalam Perjalanan Menuju Rumah Sakit Pondok Indah



































