Kinerja Bank Raya pada Kuartal III 2026: Laba Rp21 Miliar dan Kredit Digital Tumbuh

oleh -71 Dilihat
oleh
Kinerja Bank Raya pada Kuartal III 2026: Laba Rp21 Miliar dan Kredit Digital Tumbuh

Jakarta | PT Bank Raya Indonesia Tbk mencatat laba bersih sebesar Rp21 miliar pada kuartal III 2026. Hasil tersebut menjadi salah satu indikator kinerja bank dalam periode yang sama ketika aktivitas penyaluran pembiayaan digital turut menunjukkan pertumbuhan. Bank Raya, yang disebut sebagai anak usaha BBRI, terus mengembangkan layanan dan penyaluran kredit melalui kanal digital. Angka laba bersih dan perkembangan kredit tersebut memberikan gambaran mengenai dua sisi kinerja yang berbeda: hasil usaha yang dibukukan selama periode pelaporan serta aktivitas pembiayaan yang dijalankan melalui ekosistem digital.

Sepanjang periode tersebut, penyaluran kredit digital Bank Raya mencapai Rp24,73 triliun, atau tumbuh 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menggambarkan total penyaluran selama periode yang dilaporkan, bukan jumlah kredit yang masih tercatat sebagai baki debet pada satu titik waktu. Perbedaan nilai penyaluran dan outstanding penting diperhatikan agar pertumbuhan aktivitas pemberian kredit tidak disamakan dengan besaran portofolio kredit digital yang sedang berjalan. Dengan demikian, capaian Rp24,73 triliun menunjukkan skala penyaluran dalam kurun waktu laporan, sementara outstanding memberikan ukuran tersendiri.

Pada sisi outstanding, kredit digital Bank Raya tercatat sebesar Rp3,04 triliun, meningkat 11,3% secara tahunan. Nilai tersebut merujuk pada saldo kredit yang masih tercatat, sehingga wajar apabila lebih rendah daripada angka penyaluran kumulatif selama periode. Kedua ukuran itu menyampaikan informasi yang saling melengkapi: penyaluran menunjukkan volume kredit yang disalurkan sepanjang periode, sedangkan outstanding mencerminkan posisi portofolio pada waktu pencatatan. Pertumbuhan tahunan pada keduanya memperlihatkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi persentasenya berbeda karena basis pengukurannya tidak sama. Secara keseluruhan, Bank Raya membukukan laba Rp21 miliar, dengan penyaluran digital Rp24,73 triliun dan outstanding Rp3,04 triliun pada kuartal III 2026. Pemisahan angka tersebut membantu pembaca memahami kinerja keuangan dan perkembangan pembiayaan tanpa mencampuradukkan nilai transaksi periode dengan saldo kredit yang masih berjalan.

Pada kuartal III 2026, penghimpunan dana digital Bank Raya menunjukkan perkembangan positif. Dana yang tersimpan melalui layanan digital mencapai Rp2,4 triliun, atau tumbuh 35,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menggambarkan meningkatnya pemanfaatan kanal digital oleh nasabah untuk menyimpan dana serta memperkuat peran layanan digital dalam mendukung aktivitas perbankan sehari-hari. Bagi Bank Raya, perkembangan tersebut juga menjadi bagian penting dari upaya memperluas basis pendanaan yang lebih beragam dan selaras dengan model bisnis digital.

Penggunaan aplikasi Raya turut meningkat seiring dengan perkembangan simpanan digital. Sepanjang periode pelaporan, jumlah transaksi melalui aplikasi tersebut mencapai 4,9 juta, naik 44,7% secara tahunan. Kenaikan transaksi mencerminkan aktivitas nasabah yang semakin tinggi dalam mengakses layanan melalui aplikasi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan transaksi perbankan secara praktis. Perkembangan ini memberi gambaran bahwa pertumbuhan layanan digital tidak hanya terlihat pada dana yang dihimpun, tetapi juga pada intensitas penggunaan kanal yang disediakan Bank Raya.

Di sisi pendanaan, rasio CASA Bank Raya tercatat sebesar 35,83%, meningkat dibandingkan 29,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya. CASA mengukur porsi dana murah yang berasal dari giro dan tabungan dalam struktur pendanaan bank. Perubahan rasio tersebut menunjukkan peningkatan porsi dana berbasis transaksi dan tabungan, sejalan dengan pertumbuhan digital saving. Dengan demikian, capaian dana digital serta aktivitas aplikasi dapat dibaca bersama sebagai perkembangan yang berkaitan dengan komposisi pendanaan, tanpa mengabaikan pengelolaan likuiditas dan kualitas layanan kepada nasabah.

Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia, menyampaikan bahwa peningkatan CASA menunjukkan kontribusi digital saving yang makin kuat dalam struktur pendanaan. Menurutnya, perkembangan itu turut mendukung penguatan fundamental bisnis digital Bank Raya. Pernyataan tersebut menempatkan pertumbuhan simpanan digital bukan semata sebagai capaian volume, melainkan sebagai unsur yang berkontribusi pada pendanaan bisnis. Kombinasi dana digital yang bertambah, transaksi aplikasi yang meningkat, dan rasio CASA yang lebih tinggi memberi konteks mengenai kemajuan kanal digital dalam mendukung kegiatan bank pada kuartal III 2026.

Kualitas aset Bank Raya pada kuartal III 2026 menunjukkan perbaikan berdasarkan indikator kredit bermasalah. Rasio non-performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,53%. Angka ini lebih rendah 203 basis poin secara tahunan dibandingkan posisi pada kuartal III 2025. Penurunan tersebut setara dengan 2,03 poin persentase, sehingga rasio NPL gross pada periode pembanding berada di sekitar 4,56%. Dengan demikian, posisi terkini dan besar perubahan tahunannya dapat dibaca secara terpisah.

Rasio NPL net Bank Raya berada pada 0,41% di kuartal III 2026. Secara year-on-year (yoy), indikator ini turun 131 basis poin, atau 1,31 poin persentase, dari periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan selisih tersebut, posisi NPL net pada kuartal III 2025 dapat diperkirakan sebesar 1,72%. NPL gross dan NPL net sama-sama turun, tetapi keduanya merupakan ukuran berbeda dan angkanya tidak dapat dipertukarkan: rasio gross sebesar 2,53%, sedangkan rasio net sebesar 0,41%.

Penurunan kedua rasio ini memberikan gambaran bahwa porsi kredit bermasalah terhadap total kredit lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya. Namun, angka tersebut tetap perlu dibaca sebagai indikator pada tanggal pelaporan dan bersama perkembangan kualitas portofolio pada periode berikutnya. Pergerakan rasio juga tidak dengan sendirinya menjelaskan faktor penyebabnya. Informasi yang tersedia untuk kuartal III 2026 menekankan perbandingan tahunan, sehingga pembacaan utama adalah perubahan dari periode yang sama, bukan perubahan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Di sisi pendapatan bunga, net interest margin (NIM) Bank Raya mencapai 5,83% pada kuartal III 2026. NIM meningkat 83 basis poin secara tahunan, setara dengan kenaikan 0,83 poin persentase. Dengan menggunakan selisih tersebut, NIM pada kuartal III 2025 berada di sekitar 5,00%. Jadi, angka 5,83% merupakan posisi NIM terkini, sedangkan 83 basis poin menunjukkan besarnya kenaikan yoy. Perbaikan margin ini melengkapi gambaran kinerja intermediasi, sementara NPL gross dan net mencerminkan indikator kualitas aset pada periode yang sama.

Posisi likuiditas Bank Raya pada kuartal III 2026 tercermin melalui sejumlah rasio yang menunjukkan komposisi penyaluran kredit dan kemampuan bank memenuhi kebutuhan pendanaan. Loan to deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 78,65%. Rasio ini menggambarkan perbandingan kredit yang disalurkan dan dana pihak ketiga yang dihimpun. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk membaca hubungan aktivitas penyaluran kredit dan sumber dana berbasis simpanan pada periode pelaporan.

Selain LDR, bank mencatat liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 707,4%. LCR mengukur ketersediaan aset likuid berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan arus kas bersih dalam periode tekanan likuiditas jangka pendek. Ketentuan minimum yang berlaku untuk rasio ini adalah 100%, sehingga posisi LCR Bank Raya berada di atas batas tersebut. Informasi ini menyajikan tingkat rasio likuiditas jangka pendek sebagaimana tercatat dalam laporan kinerja kuartal III 2026.

Rasio pendanaan lainnya, net stable funding ratio (NSFR), tercatat sebesar 167,59%. NSFR memperlihatkan perbandingan pendanaan stabil yang tersedia dengan kebutuhan pendanaan stabil berdasarkan profil aset dan aktivitas bank. Dengan ketentuan minimum sebesar 100%, rasio NSFR Bank Raya juga berada di atas ambang yang ditetapkan.

Baca juga: Pemungutan Pajak Digital Diperluas, Bank dan Fintech Dijadwalkan Ikut Mulai 9 November | OJK Soroti Kinerja Emiten dan Perbankan di Tengah Gejolak Pasar Saham | Komdigi Minta Platform Digital Buka Cara Kerja Algoritma dan Moderasi