Jakarta | Larry Page menempati posisi sebagai orang terkaya kedua di dunia menurut estimasi Forbes. Nilai kekayaannya diperkirakan mencapai US9 miliar, atau sekitar Rp4.500 triliun. Angka tersebut menggambarkan skala aset yang terkait dengannya, sekaligus menempatkan Page di individu dengan kekayaan terbesar secara global. Estimasi kekayaan pribadi dapat berubah dari waktu ke waktu, sehingga jumlah itu sebaiknya dipahami sebagai perkiraan, bukan nilai tetap.
Nama Page paling dikenal melalui keterkaitannya dengan Google dan industri mesin pencari. Namun, lingkup bisnis yang ia masuki tidak terbatas pada teknologi pencarian. Ia juga merambah industri otomotif, penerbangan, dan kesehatan. Keragaman bidang tersebut menunjukkan bahwa kepentingan bisnis Page mencakup sejumlah sektor yang berbeda, meskipun informasi yang tersedia di sini tidak merinci perusahaan, produk, maupun bentuk keterlibatannya pada masing-masing industri.
Perluasan ke berbagai sektor memberi konteks bagi pembahasan mengenai aset yang dimiliki Page. Kekayaan besar yang dikaitkan dengannya tidak hanya bersumber dari satu bidang usaha, tetapi berhubungan dengan aktivitas bisnis yang menjangkau beberapa industri. Meski demikian, tanpa rincian mengenai komposisi aset atau kepemilikan, tidak tepat untuk menyimpulkan seberapa besar kontribusi setiap sektor terhadap total kekayaannya. Angka Forbes memberikan gambaran agregat, bukan uraian lengkap mengenai asal-usul seluruh nilai tersebut.
Dalam konteks usulan pajak kekayaan di California, posisi Page sebagai salah satu orang terkaya di dunia membuat perubahan pada asetnya mendapat perhatian. Namun, kekayaan yang diperkirakan dan diversifikasi bisnisnya merupakan konteks, bukan bukti tersendiri mengenai alasan di balik keputusan terkait aset. Penjelasan mengenai langkah tersebut perlu dipisahkan dari gambaran umum tentang bisnisnya, serta bertumpu pada informasi yang secara khusus tersedia mengenai pemindahan aset dan kebijakan yang diusulkan.
Dokumen yang ditinjau Business Insider menunjukkan bahwa Larry Page memindahkan sejumlah entitas dan aset yang memiliki kaitan dengan California menjelang berakhirnya 2025. Perubahan itu menyangkut aset yang berpotensi tercakup dalam usulan pajak kekayaan baru di negara bagian tersebut. Catatan yang tersedia menggambarkan perubahan struktur dan lokasi entitas, bukan penetapan mengenai tempat tinggal Page ataupun kesimpulan tentang alasan di balik langkah tersebut.
Salah satu entitas yang disebut dalam dokumen adalah Koop, family office Page. Berdasarkan catatan di California dan Delaware, Koop tercatat keluar dari California pada akhir Desember 2025 dan bergabung ke Delaware. Perubahan tersebut berlangsung sebelum tenggat akhir tahun 2025, ketika usulan pajak kekayaan masih menjadi pembahasan. Dokumen dari kedua negara bagian menjadi dasar untuk melacak perubahan registrasi entitas itu, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh rincian aset yang terkait dengannya.
Perpindahan Koop merupakan bagian dari rangkaian perubahan yang dilaporkan melibatkan sejumlah aset Page. Dalam konteks usulan pajak, perhatian tertuju pada kemungkinan aset tertentu masuk dalam cakupan kebijakan jika aturan tersebut diberlakukan. Namun, informasi yang tersedia tidak memastikan bagaimana ketentuan akhirnya akan dirancang, aset mana yang akan dinilai, atau apakah setiap entitas yang berpindah akan terdampak. Karena itu, pencatatan perpindahan perlu dibedakan dari kepastian mengenai kewajiban pajak.
Catatan korporasi dapat menunjukkan tempat suatu entitas terdaftar dan waktu perubahan itu dibuat, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan status kependudukan seseorang. Dokumen yang dikutip juga tidak menetapkan bahwa Page meninggalkan California secara pribadi. Dengan batas informasi tersebut, fakta yang dapat dipastikan dari laporan adalah adanya perubahan registrasi Koop dari California ke Delaware pada penghujung 2025, serta kaitannya dengan sejumlah aset yang disebut berpotensi terkena usulan pajak kekayaan. Langkah ini menempatkan struktur usaha Page dalam sorotan menjelang tenggat, sementara dampak hukum maupun pajak masih bergantung pada rincian usulan dan ketentuan yang berlaku.Dokumen perusahaan yang dikutip dalam laporan menyebut beberapa entitas terkait Larry Page yang mengalami perubahan yurisdiksi menjadi Delaware. Di antaranya adalah Flu Lab LLC, One Aero, serta perusahaan aviasi Dynatomics. Perubahan ini menunjukkan tempat entitas tersebut didaftarkan secara hukum, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan lokasi operasional, kegiatan sehari-hari, ataupun alasan spesifik di balik perubahan tersebut. Karena itu, informasi mengenai alamat kantor dan yurisdiksi pendirian perlu dibedakan ketika membaca catatan perusahaan.
Flu Lab LLC disebut mendanai riset yang ditujukan untuk menangkal influenza. Dokumen mencatat kantor entitas ini berada di Florida, sementara entitas tersebut dikonversi ke Delaware. Kedua keterangan itu merujuk pada hal yang berbeda: Florida adalah lokasi kantor yang tercantum, sedangkan Delaware merupakan yurisdiksi perusahaan setelah konversi. Dengan demikian, pencatatan di Delaware tidak berarti kantor Flu Lab LLC berpindah ke negara bagian tersebut. Informasi yang tersedia juga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kegiatan riset atau pendanaannya berubah sebagai akibat perubahan yurisdiksi.
One Aero, yang mendanai bisnis mobil terbang Page, juga tercatat berkantor di Florida dan dikonversi ke Delaware. Seperti pada Flu Lab LLC, alamat kantor di Florida tidak bertentangan dengan status hukum perusahaan di Delaware. Sementara itu, Dynatomics disebut sebagai perusahaan aviasi lain yang dikonversi ke Delaware. Ringkasan dokumen yang dirujuk tidak memberikan keterangan serupa mengenai lokasi kantor Dynatomics ataupun uraian terperinci tentang kegiatan perusahaan tersebut, sehingga tidak tepat untuk menyamakan statusnya dengan dua entitas yang alamat Floridanya dicatat.
Rangkaian perubahan tersebut menjadi relevan dalam pembahasan mengenai aset dan struktur perusahaan Page di tengah usulan pajak kekayaan California. Namun, konversi ke Delaware saja tidak membuktikan bahwa aset tertentu telah dipindahkan secara fisik dari California, atau bahwa langkah itu dilakukan untuk menghindari pajak. Penetapan alamat kantor, tempat perusahaan didirikan, kepemilikan aset, dan kewajiban pajak merupakan persoalan yang berbeda dan bergantung pada fakta serta aturan yang berlaku. Dokumen yang menyebut konversi memberi gambaran tentang perubahan yurisdiksi korporasi, bukan kesimpulan menyeluruh mengenai dampak pajak atau lokasi seluruh aktivitas bisnisnya.
Usulan aturan pajak kekayaan di California menjadi sorotan karena berpotensi berdampak besar pada para miliarder yang memiliki aset bernilai tinggi. Rancangan tersebut akan mengenakan pajak sebesar 5 persen atas aset bernilai US$1 miliar, menurut rincian usulan yang beredar. Jika diterapkan, kebijakan itu dapat menambah kewajiban pajak bagi orang-orang dengan kekayaan dalam skala tersebut, termasuk sejumlah tokoh teknologi dan investor. Namun, usulan itu masih merupakan bagian dari perdebatan kebijakan; rincian penerapan dan dampaknya akan bergantung pada proses politik serta ketentuan akhir yang disahkan. Karena itu, penting membedakan proposal yang sedang dibahas dan aturan pajak yang telah berlaku.
Dalam konteks perdebatan tersebut, Larry Page, salah satu pendiri Google, dikabarkan telah memberi tahu sejumlah orang mengenai rencananya untuk meninggalkan California. Sejumlah laporan juga menyebut Page kini tidak lagi berada di negara bagian itu. Kabar tersebut muncul bersamaan dengan pembahasan usulan pajak kekayaan, sehingga keputusan atau rencana Page kerap dikaitkan dengan potensi beban pajak baru. Meski demikian, hubungan itu belum dapat dipastikan sebagai alasan perpindahannya. Informasi yang tersedia menunjukkan adanya laporan mengenai rencana dan keberadaannya, bukan konfirmasi bahwa ia telah pindah secara permanen atau bahwa pajak menjadi satu-satunya faktor yang dipertimbangkan.
Perdebatan tentang usulan tersebut turut mengundang tanggapan dari sejumlah tokoh bisnis dan teknologi. David Sacks, investor dan pengusaha teknologi, telah menyatakan penentangannya terhadap proposal pajak itu. Palmer Luckey, pendiri perusahaan teknologi pertahanan Anduril, juga termasuk pihak yang menolak usulan tersebut.
Baca juga: Pemerintah Perpanjang Tahapan Sertifikasi Halal Sejumlah Produk hingga 2028 | Dirjen Pajak Kaji Ulang Ambang PTKP di Tengah Tantangan Penerimaan Negara | Persib Alihkan Fokus ke Persik Usai Laga di Kompetisi Asia



































