Longsor di Tamanayu Renggut Nyawa Ayah dan Anak

oleh -61 Dilihat
oleh
Longsor di Tamanayu Renggut Nyawa Ayah dan Anak

Kabupaten Lumajang | Imron Rosadi, 40 tahun, dan anaknya, Hilya, yang berusia 9 tahun, meninggal dunia setelah rumah yang mereka tempati tertimpa longsor. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Ayah dan anak itu menjadi korban dalam kejadian yang menimpa rumah tempat mereka tinggal.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang menyebut hujan berintensitas tinggi sebagai pemicu longsor. Keterangan tersebut menjelaskan faktor yang menyebabkan material longsor menimpa rumah di Desa Tamanayu. Hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu yang disampaikan BPBD dalam penjelasan mengenai peristiwa tersebut.

Lokasi kejadian berada di Kecamatan Pronojiwo, salah satu wilayah di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Di desa tersebut, rumah yang ditempati Imron dan Hilya tertimpa longsor pada Sabtu. Akibat kejadian itu, keduanya meninggal dunia. Informasi mengenai korban dan pemicu longsor disampaikan berdasarkan keterangan yang tersedia dari BPBD Lumajang.

Peristiwa ini merenggut nyawa seorang ayah dan anaknya. Imron berusia 40 tahun, sedangkan Hilya berusia 9 tahun. Keduanya berada dalam satu rumah yang kemudian tertimpa longsor. Kejadian itu berlangsung di Desa Tamanayu pada 31 Oktober 2026, sebagaimana disebutkan dalam laporan mengenai peristiwa tersebut.

Dengan demikian, informasi utama dari kejadian ini mencakup lokasi, waktu, korban, dan pemicunya: longsor menimpa rumah yang ditempati Imron Rosadi dan Hilya di Desa Tamanayu, Pronojiwo, Lumajang, pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Imron dan Hilya meninggal dunia, sementara BPBD Lumajang menyebut hujan berintensitas tinggi sebagai pemicu longsor. Keterangan tersebut menjadi dasar penjelasan mengenai peristiwa yang menimpa rumah warga itu.

Hujan mengguyur Desa Tamanayu sejak Jumat siang, 30 Oktober 2026, dan terus berlangsung hingga Sabtu dini hari. Intensitasnya dilaporkan berkisar dari sedang sampai deras. Cuaca yang tidak kunjung membaik membuat lingkungan desa tetap basah selama berjam-jam, sementara hujan yang semakin lebat menambah kesulitan warga untuk bergerak di luar rumah. Situasi tersebut mendahului longsor yang kemudian dilaporkan terjadi sekitar pukul 02.10 WIB.

Peristiwa berlangsung pada waktu sebagian besar warga masih beristirahat. Dalam kondisi gelap dan hujan deras, informasi tentang kejadian itu belum segera diikuti upaya warga mendatangi lokasi. Kabut tebal menyelimuti kawasan, sehingga jarak pandang terbatas dan keadaan di sekitar titik longsor sulit diketahui. Selain itu, listrik padam, membuat suasana semakin gelap. Gabungan kondisi tersebut menimbulkan kendala bagi warga yang mungkin ingin memastikan apa yang terjadi atau memberikan pertolongan.

Warga belum berani mendekati lokasi ketika hujan masih deras dan kabut belum tersibak. Keputusan untuk menunggu mencerminkan besarnya risiko yang dirasakan saat itu, terutama karena keadaan sekitar tidak terlihat jelas. Ketiadaan aliran listrik juga membatasi penerangan, sedangkan hujan yang terus turun membuat perjalanan menuju lokasi berpotensi berbahaya. Karena itu, pertolongan tidak dapat langsung dilakukan oleh warga pada saat longsor dilaporkan. Cuaca dan kondisi lingkungan pada dini hari menjadi bagian penting dari kronologi kejadian di Tamanayu, sebelum informasi lebih lanjut mengenai penanganan dan dampak peristiwa tersebut dapat dihimpun.

Sekitar pukul 04.30 WIB, saat hujan yang mengguyur wilayah Tamanayu mulai reda, sejumlah warga mendatangi lokasi longsor untuk memeriksa keadaan. Suasana pagi yang masih gelap dan kondisi tanah yang terdampak material longsor membuat pemeriksaan berlangsung dengan kewaspadaan. Warga berupaya melihat situasi di sekitar titik kejadian dan memastikan apakah ada orang yang menjadi korban. Dalam pemeriksaan tersebut, mereka menemukan Imron dan Hilya tertimpa material longsor. Keduanya dinyatakan meninggal dunia akibat tertimbun material yang bergerak dari area longsor. Penemuan itu segera mengubah upaya warga dari sekadar memantau lokasi menjadi tindakan untuk membantu korban dan menyampaikan kabar kepada pihak terkait.

Setelah menemukan kedua korban, warga berusaha memberikan pertolongan dan mengevakuasi mereka dari lokasi. Upaya tersebut dilakukan setelah hujan mulai mereda, dengan memperhatikan keadaan di sekitar longsoran. Sekitar pukul 05.00 WIB, warga melaporkan kejadian itu kepada aparat keamanan dan pihak desa. Laporan tersebut menjadi langkah penting agar unsur setempat mengetahui kondisi di lokasi serta dapat membantu penanganan. Warga kemudian melanjutkan upaya evakuasi bersama-sama. Kejadian ini berlangsung pada awal pagi, ketika akses dan kondisi lingkungan di sekitar lokasi masih dipengaruhi oleh hujan serta material longsor. Warga yang datang terlebih dahulu menjadi pihak yang menemukan korban dan memulai penanganan sebelum kabar disampaikan kepada aparat dan pemerintah desa.

Setelah dievakuasi, jenazah Imron dan Hilya dibawa ke rumah orang tua korban di Dusun Manggisan, Desa Tamanayu. Di rumah tersebut, keluarga dan warga dapat mempersiapkan prosesi pemakaman. Keduanya direncanakan dimakamkan di kampung orang tua mereka. Pemindahan jenazah dari lokasi longsor ke rumah keluarga menjadi bagian dari penanganan setelah warga menemukan mereka pada pagi hari. Rangkaian kejadian itu—mulai dari pemeriksaan lokasi sekitar pukul 04.30 WIB, laporan kepada aparat keamanan dan pihak desa sekitar pukul 05.00 WIB, hingga evakuasi dan pemulangan jenazah—menunjukkan respons warga setelah cuaca mulai mereda. Imron dan Hilya menjadi korban jiwa dalam peristiwa longsor tersebut, sementara keluarga membawa keduanya ke lingkungan orang tua mereka untuk menjalani prosesi pemakaman di kampung halaman keluarga.

Material longsor di Tamanayu tidak hanya menimbun area sekitar rumah korban, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada beberapa bagian bangunan. Rumah Imron, yang berada di bawah tebing, mengalami kerusakan pada dapur, kamar mandi, kamar belakang, dan gudang. Material tanah yang masuk ke area rumah membuat sejumlah ruang tersebut terdampak dan memerlukan pembersihan serta pemeriksaan lebih lanjut.

Kerusakan juga terjadi pada rumah warga lain di sekitar lokasi. Pagar rumah Soleman runtuh dan menimpa rumah Imron. Sementara itu, longsor turut menimbun bagian dapur rumah Wardi, tetangga korban. Dampak tersebut menunjukkan bahwa material yang bergerak dari tebing mengenai lebih dari satu bangunan, sehingga penanganan dilakukan dengan memperhatikan kondisi rumah dan keselamatan warga di sekitarnya.

Menurut penjelasan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), posisi rumah Imron berada di bawah tebing. Di bagian atas tebing itu terdapat rumah milik Soleman. Keterangan tersebut memberikan gambaran mengenai letak kedua rumah terhadap area longsor, sekaligus menjelaskan bagaimana runtuhnya pagar dari rumah Soleman dapat menimpa bangunan Imron. Kondisi lokasi menjadi pertimbangan dalam proses pembersihan material.

Setelah kejadian, aparat keamanan, pihak desa, dan warga bergotong royong membersihkan material longsor di lokasi. Kerja bersama ini dilakukan untuk menyingkirkan tanah dan puing yang menghalangi bagian rumah serta area di sekitarnya. Penanganan juga membantu membuka akses untuk melihat tingkat kerusakan secara lebih jelas. Warga dan petugas perlu tetap berhati-hati selama proses berlangsung, terutama karena lokasi berada di bawah tebing dan masih terdapat material yang perlu ditangani. Pemeriksaan terhadap bagian rumah yang terdampak menjadi penting sebelum ruang-ruang tersebut kembali digunakan. Pembersihan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan keselamatan orang-orang yang berada di lokasi.

Baca juga: Hujan Semalaman Picu Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah Cilacap