Musisi dan Tenant Mundur, Rans Carnival di Maguwoharjo Berubah Dinamika

oleh -51 Dilihat
oleh
Musisi dan Tenant Mundur, Rans Carnival di Maguwoharjo Berubah Dinamika

Yogyakarta | Rans Carnival yang berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2026, di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, mengalami perubahan dinamika pada susunan hiburannya. Acara ini semula dipromosikan dengan beragam daya tarik, mulai dari karnaval dan wahana permainan hingga hiburan musik serta bazar UMKM. Kehadiran sejumlah musisi menjadi bagian dari tawaran acara kepada pengunjung, bersama kegiatan rekreasi dan kesempatan untuk melihat produk para pelaku usaha lokal. Namun, menjelang pelaksanaan, beberapa nama yang sebelumnya tercantum dalam pengumuman acara menyampaikan bahwa mereka tidak akan ikut serta.

Informasi mengenai perubahan tersebut muncul melalui unggahan di akun media sosial para pengisi acara. Nama-nama yang sebelumnya diumumkan, yaitu Guyon Maton, Masdddho, Tipe-X, dan Ridwan Naibaho, termasuk di musisi yang memilih mundur dari Rans Carnival. Dengan demikian, daftar penampil yang beredar sebelumnya tidak sepenuhnya mencerminkan susunan hiburan yang akhirnya tersedia bagi pengunjung. Pengumuman dari akun masing-masing menjadi rujukan atas keputusan tersebut, sementara rincian mengenai perubahan jadwal atau pengisi acara pengganti tidak dapat dipastikan hanya dari informasi pengunduran diri yang disampaikan.

Akun resmi Tipe-X secara khusus mengunggah poster dengan tanda silang merah yang menyatakan keputusan band itu untuk tidak ikut serta dalam acara. Unggahan tersebut memperjelas perubahan partisipasi mereka, tanpa disertai penjelasan mengenai alasan pengunduran diri. Hal serupa berlaku untuk nama-nama lain yang disebutkan: informasi yang tersedia menyatakan mereka mundur, tetapi tidak menguraikan latar belakang keputusan masing-masing. Karena itu, keterangan mengenai penyebab tidak perlu ditambahkan atau diasumsikan. Perubahan pada jajaran musisi membuat aspek hiburan musik Rans Carnival menjadi berbeda dari promosi awal, sementara karnaval, wahana, dan bazar UMKM tetap merupakan bagian dari konsep acara yang telah diumumkan kepada publik.

Perubahan dinamika Rans Carnival di Maguwoharjo tidak hanya terlihat dari pengunduran diri sejumlah musisi. Beberapa tenant usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga disebut membatalkan keikutsertaan atau kembali meninggalkan area kegiatan. Perkembangan ini menambah daftar pihak yang tidak lagi terlibat dalam acara tersebut, meski setiap tenant memiliki langkah dan informasi yang disampaikan secara terpisah.

Salah satu informasi datang dari Jeruk Lokal Maguwoharjo. Melalui akun media sosialnya, tenant tersebut menyampaikan bahwa mereka kembali ke lokasi awal, yakni di kawasan Indomaret Pasekan. Unggahan itu memberi kabar mengenai perpindahan lokasi usaha mereka, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. Karena itu, informasi yang dapat dipastikan dari pernyataan tersebut terbatas pada kembalinya Jeruk Lokal Maguwoharjo ke lokasi awal.

Tenant lain, Cuann.King, dikabarkan melakukan loading out atau mengangkut kembali perlengkapan dagangannya pada Sabtu sekitar pukul 03.00. Waktu tersebut menunjukkan bahwa proses pemindahan berlangsung pada dini hari. Namun, kabar mengenai kegiatan loading out tidak disertai keterangan yang memastikan penyebab tenant itu menarik perlengkapannya dari area acara. Tanpa pernyataan langsung atau informasi pendukung, alasan di balik langkah tersebut belum dapat dipastikan.

Informasi mengenai Jeruk Lokal Maguwoharjo dan Cuann.King memperlihatkan bahwa perubahan partisipasi turut melibatkan pelaku usaha, bukan hanya pengisi acara. Meski demikian, keputusan masing-masing tenant perlu dipahami sesuai keterangan yang tersedia. Penyampaian bahwa satu usaha kembali ke lokasi awal berbeda dari kabar bahwa tenant lain mengangkut perlengkapan dagangan; keduanya tidak otomatis membuktikan adanya alasan yang sama. Tidak tepat pula mengaitkan tindakan tersebut dengan dugaan tertentu tanpa konfirmasi.

Dengan demikian, perkembangan di kalangan UMKM menjadi bagian dari perubahan situasi Rans Carnival di Maguwoharjo. Publik dapat mencermati informasi dari akun atau pihak terkait, sembari membedakan kabar yang telah disampaikan dari hal-hal yang belum terungkap. Sejauh informasi yang tersedia, Jeruk Lokal Maguwoharjo menyatakan kembali ke kawasan Indomaret Pasekan, sementara Cuann.King dikabarkan melakukan loading out pada Sabtu pukul 03.00. Alasan pengunduran diri atau pemindahan perlengkapan belum dapat disimpulkan dari keterangan tersebut.

Kepala UPTD Pengelolaan Stadion Maguwoharjo, Muh Ganang Riswantoro Jati, menyatakan penyelenggara Rans Carnival telah menghubungi pihaknya sekitar dua hingga tiga bulan sebelum kegiatan. Penyelenggara kemudian menyewa kawasan stadion untuk pelaksanaan acara pada 31 Oktober hingga 1 November 2026. Menurut Ganang, keterlibatan UPTD dalam kegiatan tersebut terbatas pada urusan teknis penggunaan lokasi. Peran itu mencakup pengelolaan pemakaian kawasan sesuai ketentuan yang berlaku, bukan pengaturan isi acara atau keputusan penyelenggara terkait pihak-pihak yang terlibat. Karena itu, perubahan dinamika acara, termasuk mundurnya musisi maupun tenant, berada di luar lingkup teknis pengelolaan stadion.

Ganang menjelaskan, pengelola stadion mengedepankan pelayanan publik yang inklusif, adil, setara, dan tanpa diskriminasi. Prinsip tersebut menjadi dasar dalam melayani pengguna kawasan, termasuk pihak yang menyewa venue untuk kegiatan tertentu. Namun, penggunaan fasilitas tetap disertai kewajiban yang tercantum dalam izin. Pengguna venue harus menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung serta memastikan kebersihan kawasan. Setelah acara selesai, area yang digunakan wajib dikembalikan ke kondisi semula. Ketentuan ini berlaku sebagai tanggung jawab pengguna, sehingga penyelenggara perlu mengatur pelaksanaan kegiatan dan koordinasi lapangan agar pemakaian stadion tidak mengganggu fungsi fasilitas maupun kenyamanan publik.

Dengan demikian, tanggung jawab untuk memenuhi persyaratan izin berada pada pengguna venue sesuai ketentuan yang telah disepakati. UPTD menjalankan fungsi pengelolaan teknis lokasi, sedangkan kewajiban menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, serta memulihkan kondisi kawasan menjadi tanggung jawab penyelenggara. Hingga keterangan Ganang diberikan, sejumlah fasilitas yang disiapkan untuk acara masih tersedia, yakni panggung, area stan UMKM, dan tempat bermain anak. Meski demikian, UPTD belum menerima konfirmasi mengenai kelanjutan Rans Carnival. Belum adanya informasi tersebut membuat pengelola stadion belum dapat memastikan apakah rangkaian kegiatan tetap berlangsung sesuai rencana awal atau akan mengalami perubahan. Kepastian selanjutnya berada pada pihak penyelenggara, yang perlu menyampaikan pembaruan kepada pengelola terkait penggunaan kawasan dan pelaksanaan acara.

Keputusan grup musik Om Wawes untuk mundur dari Rans Carnival di Maguwoharjo disampaikan oleh Gaseng, vokalis utama sekaligus salah satu pendiri grup. Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut tidak diambil secara sepihak, melainkan dibicarakan dan disepakati bersama manajemen. Sebelum menentukan sikap, mereka mempertimbangkan situasi sosial masyarakat Yogyakarta setelah rangkaian demonstrasi yang terjadi. Bagi Om Wawes, kondisi dan perasaan warga perlu menjadi pertimbangan, terutama karena grup ini berasal dari Yogyakarta dan memiliki kedekatan dengan masyarakat setempat. Mereka menilai bahwa tetap tampil di tengah suasana tersebut berisiko mengabaikan perasaan warga. Karena itu, mundur dari acara dipandang sebagai langkah yang lebih tepat dalam merespons keadaan saat ini.

Gaseng menyebut sikap tersebut bukan dimaksudkan untuk menyerang pihak tertentu atau membuat persoalan semakin besar. Sebaliknya, Om Wawes ingin menunjukkan kepedulian dan menghindari tindakan yang dapat menyakiti masyarakat, terutama warga Jogja. Sebagai musisi, mereka merasa memiliki ruang untuk menyampaikan dukungan melalui pilihan yang dibuat, termasuk dengan tidak tampil ketika situasi sosial masih menjadi perhatian. Gaseng memandang keputusan itu sebagai bentuk dukungan yang dapat diberikan musisi terhadap keadaan dan rasa keadilan yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, kehadiran di panggung tidak selalu menjadi satu-satunya cara untuk menyampaikan sikap. Pertimbangan terhadap situasi sekitar, serta kesediaan mendengarkan suara warga, juga dapat menjadi bagian dari tanggung jawab pelaku seni.

Baca juga: Peta Kapitalisasi Saham Terbesar BEI Berubah Tajam Sepanjang 2026