Kota Tangerang Sachrudin | Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono memantau pekerjaan normalisasi Kali Prancis pada 5 November 2026. Peninjauan tersebut menyoroti upaya mengurangi risiko banjir yang dapat mengganggu Tol Sedyatmo, jalur utama menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Penanganan sungai ini dinilai penting karena genangan di ruas tol berpotensi menghambat perjalanan warga, distribusi barang, serta akses penumpang dan pekerja bandara. Pemerintah mempercepat pekerjaan agar kapasitas aliran air dapat ditingkatkan sebelum curah hujan tinggi kembali memengaruhi kawasan tersebut. Pemantauan lapangan juga membantu memastikan bahwa pengerukan dan penataan saluran berjalan sesuai kebutuhan, bukan hanya menangani titik genangan yang terlihat, tetapi juga sumber masalahnya.
Pendangkalan Kali Prancis dan anak-anak sungainya akibat sedimentasi disebut sebagai salah satu penyebab utama genangan yang berulang. Endapan yang menumpuk mengurangi kedalaman serta ruang tampung aliran, sehingga air lebih mudah meluap ketika debit meningkat. Kondisi tersebut dapat diperburuk oleh hujan deras dan aliran dari wilayah sekitar yang masuk ke jaringan sungai. Karena itu, normalisasi diarahkan untuk mengangkat sedimentasi dan memulihkan fungsi saluran, termasuk pada bagian anak sungai yang berpengaruh terhadap kelancaran aliran utama. Penanganan yang menyeluruh diperlukan agar air tidak hanya bergerak lebih lancar di satu titik, sementara hambatan di bagian lain tetap memicu luapan. Pemeliharaan setelah pengerukan juga penting untuk mencegah endapan kembali menumpuk.
AHY mengingatkan bahwa risiko perlu diwaspadai menjelang puncak musim hujan, yang diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari. Pada periode tersebut, intensitas hujan dapat meningkatkan debit sungai dan memperbesar kemungkinan genangan di sekitar kawasan bandara maupun Tol Sedyatmo. Percepatan normalisasi menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ancaman, tetapi kesiapan menghadapi banjir juga membutuhkan pemantauan berkala dan koordinasi antarinstansi. Kondisi saluran, titik rawan luapan, serta dampaknya terhadap akses jalan perlu terus diperhatikan ketika hujan turun. Dengan pekerjaan yang dilakukan sebelum puncak musim hujan, pemerintah berharap aliran Kali Prancis dan anak-anak sungainya lebih mampu menampung air. Langkah ini ditujukan untuk menekan gangguan perjalanan dan menjaga akses menuju bandara tetap berfungsi saat cuaca ekstrem.
Banjir yang menggenangi Tol Sedyatmo pernah membuat ruas jalan tersebut tidak dapat dilintasi kendaraan, terutama di sekitar KM 31 dan KM 33. Kondisi itu menunjukkan bahwa gangguan pada akses utama menuju Bandara Soekarno-Hatta dapat segera memengaruhi perjalanan masyarakat. Ketika kendaraan tidak bisa melewati ruas tol, perjalanan menuju bandara menjadi terhambat dan pengguna jalan harus menghadapi ketidakpastian dalam mencapai tujuan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengendara, tetapi juga oleh penumpang yang mengandalkan jalur tersebut untuk mengejar jadwal penerbangan. Karena itu, risiko banjir di Tol Sedyatmo berkaitan erat dengan kelancaran konektivitas transportasi di kawasan sekitar bandara.
Bandara Soekarno-Hatta melayani jutaan penumpang, sehingga kelancaran akses darat menjadi bagian penting dari operasionalnya. Hambatan perjalanan menuju bandara dapat mengganggu pergerakan penumpang dan berimbas pada rangkaian kegiatan penerbangan. Pada Januari, banjir di akses tol memicu penundaan penerbangan hingga 20 persen dan berdampak pada lebih dari 150 penerbangan. Angka tersebut menggambarkan bagaimana genangan di jalur menuju bandara dapat melampaui persoalan lalu lintas biasa. Ketika akses tidak lancar, penumpang berisiko terlambat tiba, sementara operasional penerbangan turut menghadapi dampak dari keterlambatan tersebut. Keterhubungan jalan tol dan layanan bandara menjadikan penanganan banjir penting bagi mobilitas yang lebih luas.
AHY menyampaikan bahwa gangguan akibat banjir tersebut berpengaruh terhadap mobilitas dan aktivitas ekonomi. Pernyataan itu menegaskan bahwa dampaknya tidak terbatas pada perjalanan penumpang atau kelancaran penerbangan, melainkan juga menyentuh kegiatan yang bergantung pada pergerakan orang dan barang. Bagi pengguna Tol Sedyatmo, ruas yang tidak dapat dilintasi dapat menghambat perjalanan; bagi pengguna bandara, gangguan akses berpotensi menambah kendala dalam mencapai jadwal perjalanan. Sementara itu, penundaan penerbangan dapat memengaruhi rencana penumpang dan aktivitas yang terkait dengan layanan transportasi udara. Hubungan tersebut menjelaskan mengapa banjir di akses Tol Soetta perlu dipandang sebagai persoalan konektivitas, bukan semata genangan di jalan. Normalisasi Kali Prancis menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko gangguan serupa terhadap akses dan kegiatan di sekitarnya.
Normalisasi Kali Prancis dilakukan dengan mengerahkan sejumlah unit ekskavator untuk mengeruk sedimentasi yang menumpuk di sepanjang aliran. Pendangkalan dapat mengurangi ruang tampung sungai sekaligus menghambat laju air, terutama ketika hujan deras meningkatkan debit dalam waktu singkat. Karena itu, pengerukan diarahkan untuk memperbaiki kapasitas tampung dan menjaga aliran tetap lancar, sehingga air dapat bergerak menuju saluran pembuangan dengan lebih baik. Pekerjaan ini menjadi salah satu langkah penanganan risiko banjir yang dapat berdampak pada kawasan sekitar, termasuk akses menuju Tol Soekarno-Hatta. Pelaksanaannya perlu memperhatikan kondisi aliran dan titik-titik yang mengalami sedimentasi agar upaya normalisasi memberi manfaat bagi sistem sungai secara menyeluruh.
Meski demikian, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa pengerukan saja belum cukup untuk mencegah banjir berulang. Kapasitas saluran dan bangunan air di sepanjang sistem juga perlu ditingkatkan, agar air yang mengalir dari hulu tidak tertahan pada titik perlintasan atau outlet yang sempit. Dengan demikian, normalisasi sungai perlu dipadukan dengan pembenahan infrastruktur pengendali air. Penanganan yang hanya berfokus pada badan sungai berisiko belum menyelesaikan hambatan pada bagian hilir, terutama saat curah hujan tinggi dan aliran dari beberapa kawasan datang bersamaan. Pemerintah menyiapkan pendekatan lanjutan untuk mengurangi titik hambatan tersebut.
Rencana berikutnya mencakup pembesaran kapasitas sejumlah crossing atau perlintasan saluran serta outlet pembuangan air. Infrastruktur tersebut berperan mengalirkan air melewati jalan maupun keluar dari kawasan, sehingga kapasitasnya perlu disesuaikan dengan debit yang harus ditangani. Pemerintah juga merencanakan pembangunan kolam retensi seluas 3,4 hektare untuk menampung sementara limpasan sebelum dialirkan lebih lanjut. Lokasinya berada di perbatasan DKI Jakarta dan Banten. Posisi lintas wilayah ini membuat perencanaan, pembebasan lahan, pembangunan, hingga pengoperasian membutuhkan sinkronisasi antarpemerintah daerah. Kolaborasi diperlukan agar rancangan saling terhubung, pembagian peran jelas, dan pengelolaan air tidak terhambat oleh batas administrasi. Kombinasi pengerukan, peningkatan kapasitas saluran, outlet, serta tampungan retensi diharapkan membentuk penanganan yang lebih terpadu untuk menekan risiko banjir di sekitar Kali Prancis dan Tol Soetta.
Pemerintah Kota Tangerang menyiapkan rencana pembangunan saluran sodetan sebagai salah satu upaya menangani luapan air yang berpotensi mengganggu kawasan Tol Sedyatmo. Saluran tersebut dirancang untuk mengalirkan air dari area tol menuju Kali Prancis, sehingga aliran dapat diarahkan ke jalur pembuangan yang dituju. Rencana ini menjadi bagian dari penanganan risiko banjir yang memerlukan dukungan infrastruktur sekaligus koordinasi lintas wilayah. Pemerintah daerah masih perlu menyelaraskan langkah teknis dan pembiayaan sebelum pelaksanaan dapat dipastikan.
Untuk mendukung rencana tersebut, Pemkot Tangerang mengalokasikan anggaran sebesar Rp 9,2 miliar pada tahun anggaran 2027. Dana itu disiapkan bagi pembangunan saluran sodetan, yang diharapkan membantu mengurangi genangan dan luapan air di sekitar akses tol. Penganggaran pada 2027 menunjukkan bahwa pemerintah daerah memasukkan kebutuhan penanganan tersebut dalam perencanaan anggaran mendatang. Namun, informasi yang tersedia belum memastikan kapan pekerjaan akan dimulai ataupun jadwal penyelesaian proyek. Karena itu, rencana ini perlu dipahami sebagai langkah yang sedang dipersiapkan, bukan pekerjaan yang telah berjalan.
Penanganan aliran air di kawasan Tol Sedyatmo juga membutuhkan keterlibatan.
275 kunjungan


































