Paparan Media Sosial dan Meningkatnya Kecemasan pada Anak Muda Indonesia

oleh -52 Dilihat
oleh
Paparan Media Sosial dan Meningkatnya Kecemasan pada Anak Muda Indonesia

Jakarta | Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengaitkan paparan media sosial dengan tingkat kecemasan pada anak muda di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi, di kantor Kemenkes, Jakarta, pada Minggu (11/10). Penyampaian ini menyoroti hubungan penggunaan media sosial dan kondisi kecemasan yang dialami kelompok usia muda.

Dalam keterangannya, Imran menyebut remaja dan dewasa muda sebagai mayoritas pengguna layanan internet di Indonesia. Posisi tersebut membuat kelompok anak muda menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai penggunaan media sosial serta dampaknya terhadap kesehatan. Informasi ini menempatkan pengalaman remaja dan dewasa muda sebagai perhatian dalam melihat perkembangan penggunaan internet di Indonesia.

Kaitan media sosial dan kecemasan anak muda menjadi inti pernyataan Kemenkes tersebut. Media sosial telah menjadi bagian dari penggunaan layanan internet, sementara remaja dan dewasa muda disebut mendominasi penggunaannya. Karena itu, pembahasan mengenai paparan media sosial tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan menggunakan layanan digital, tetapi juga dengan kondisi anak muda yang menjadi kelompok pengguna utama.

Pernyataan Imran disampaikan dalam kapasitasnya sebagai pejabat Kementerian Kesehatan yang menangani pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan. Penyebutan anak muda dalam konteks ini memperjelas kelompok yang menjadi perhatian, yakni remaja dan dewasa muda. Kemenkes menyoroti adanya keterkaitan paparan media sosial dan kecemasan, sehingga isu tersebut menjadi bagian dari perhatian terhadap kesehatan anak muda di Indonesia.

Kehadiran media sosial membuat seseorang semakin mudah menyaksikan kehidupan orang lain, termasuk aktivitas sehari-hari, hal-hal yang disukai, serta sosok yang mereka kagumi. Menurut Imran, kemudahan tersebut turut membuka ruang bagi pengguna untuk terus mengamati pencapaian, gaya hidup, dan pengalaman orang lain melalui unggahan yang tersedia. Informasi yang datang berulang kali kemudian dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Paparan semacam itu mendorong munculnya kebiasaan membandingkan nasib dan pencapaian pribadi dengan kehidupan yang terlihat di media sosial. Seorang pengguna mungkin membandingkan kondisi ekonominya, penampilan, hubungan sosial, pendidikan, pekerjaan, atau keberhasilan tertentu dengan apa yang ditampilkan orang lain. Ketika perbandingan tersebut dilakukan secara terus-menerus, kehidupan sendiri dapat tampak kurang menarik atau kurang berhasil, meskipun penilaian itu tidak selalu didasarkan pada gambaran yang utuh.

Imran menekankan bahwa tampilan kehidupan yang bahagia, berhasil, dan sempurna di media sosial belum tentu sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Unggahan biasanya menampilkan bagian-bagian tertentu yang dianggap layak dibagikan, sementara kesulitan, kegagalan, dan persoalan pribadi dapat tidak terlihat. Selain itu, gambar, video, maupun cerita yang muncul bisa saja telah melalui pemilihan, penyuntingan, atau polesan agar tampak lebih menarik.

Karena itu, apa yang disaksikan pengguna tidak dapat langsung dijadikan ukuran yang adil untuk menilai kehidupan orang lain ataupun dirinya sendiri. Perbandingan dengan gambaran yang telah dipilih dan dipoles berisiko melahirkan kesan bahwa orang lain selalu lebih bahagia, lebih maju, atau lebih beruntung. Dalam kondisi tertentu, cara pandang tersebut dapat memperkuat rasa tidak puas, rendah diri, dan kecemasan pada anak muda. Memahami keterbatasan representasi media sosial menjadi langkah penting agar pengguna dapat melihat unggahan secara lebih kritis, tanpa menganggapnya sebagai gambaran lengkap tentang realitas kehidupan seseorang.

Kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri. Ketika perhatian terus diarahkan pada pencapaian orang lain, kehidupan pribadi berisiko terlihat kurang berhasil, meskipun setiap orang menjalani proses dan memiliki waktu perkembangan yang berbeda. Penilaian semacam ini tidak berhenti pada rasa kurang puas, tetapi dapat berkembang menjadi tekanan batin yang memicu kecemasan.

Ilustrasinya terlihat pada perbandingan seseorang yang pada usia tertentu sudah mampu membeli Porsche, sementara dirinya masih menggunakan motor. Perbandingan tersebut membuat perhatian beralih dari perjalanan pribadi kepada pencapaian orang lain. Kendaraan dalam contoh ini menjadi penanda bahwa orang lain dianggap telah mencapai sesuatu yang lebih dahulu, sedangkan dirinya merasa belum berada pada titik yang sama. Perasaan tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa hidupnya tertinggal.

Rasa tertinggal muncul bukan semata-mata karena kondisi yang sedang dijalani, melainkan karena kehidupan pribadi dinilai berdasarkan ukuran pencapaian orang lain. Seseorang mungkin sebelumnya menjalani kesehariannya tanpa masalah, tetapi setelah melihat pencapaian tersebut, ia mulai mempertanyakan posisinya sendiri. Pikiran tentang perbedaan usia, waktu pencapaian, dan hasil yang diperoleh dapat berulang sehingga menambah kegelisahan.

Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, perbandingan dapat membentuk pola penilaian yang menekan. Setiap pencapaian orang lain berpotensi dipandang sebagai bukti bahwa dirinya belum cukup maju. Dari sinilah kecemasan dapat tumbuh: bukan karena satu peristiwa perbandingan saja, tetapi karena penilaian terhadap diri terus ditempatkan di bawah bayang-bayang pencapaian orang lain. Ilustrasi tentang Porsche dan motor memperlihatkan bagaimana perasaan tertinggal itu terbentuk ketika seseorang menggunakan kehidupan orang lain sebagai tolok ukur bagi dirinya.

Imran memandang bahwa cara seseorang menyikapi paparan media sosial tidak dapat dilepaskan dari tingkat kedewasaannya dalam memahami fenomena sosial. Menurutnya, kedewasaan berpikir membantu seseorang melihat berbagai informasi, pendapat, dan peristiwa di ruang digital secara lebih proporsional. Individu yang memiliki kematangan dalam berpikir dinilai lebih mampu membedakan fakta, opini, dan reaksi emosional yang muncul dalam percakapan daring. Dengan kemampuan tersebut, seseorang dapat menerima kenyataan sosial, termasuk hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan pribadi, tanpa langsung meresponsnya secara berlebihan.

Ia menjelaskan bahwa semakin baik tingkat kedewasaan seseorang, semakin besar pula kemampuannya untuk menerima kenyataan. Penerimaan itu bukan berarti menyetujui seluruh keadaan atau mengabaikan persoalan yang dihadapi, melainkan memahami situasi dengan pertimbangan yang lebih tenang. Dalam konteks media sosial, kedewasaan dapat memengaruhi cara seseorang menilai unggahan orang lain, menghadapi perbedaan pandangan, serta menyikapi informasi yang berpotensi menimbulkan tekanan. Pemahaman terhadap proses sosial dan kemampuan mengelola respons pribadi menjadi bagian dari cara seseorang menghadapi berbagai pengalaman tersebut.

Imran juga menerangkan bahwa kematangan berpikir berkaitan dengan proses perkembangan otak. Berdasarkan beberapa studi yang ia sebutkan, otak manusia baru sepenuhnya matang dan dewasa ketika seseorang berada pada usia sekitar 20-an. Sebelum mencapai usia tersebut, otak masih mengalami perkembangan, termasuk pada bagian yang berperan dalam menimbang konsekuensi, mengendalikan dorongan, dan mengambil keputusan. Karena itu, seseorang yang berusia di bawah 20 tahun dinilai belum sepenuhnya mampu mencerna suatu hal secara tepat. Keterangan ini menempatkan usia dan perkembangan kematangan otak sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan ketika membahas cara individu memahami pengalaman di media sosial.

Baca juga: Matangkan Kesiapan, Danrem 091/ASN Pimpin Paparan Dansatgas TMMD Ke-130 Kodim 0906/Kkr Tahun 2026 | Nanda Persada Soroti Polemik Ruben Onsu dan Sarwendah yang Melebar ke Media Sosial | Kolaborasi Universitas Yarsi Hadirkan Program Mindfulness di Era Digital bagi Anak Muda Bogor