Pembelajaran Digital Membuka Minat Siswa Sekolah Rakyat Garut

oleh -62 Dilihat
oleh
Pembelajaran Digital Membuka Minat Siswa Sekolah Rakyat Garut

Kabupaten Garut | Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 Kabupaten Garut mulai mengenalkan teknologi digital kepada para siswanya sebagai bagian dari persiapan menghadapi perkembangan zaman. Pembelajaran ini diarahkan untuk membangun pemahaman dasar mengenai penggunaan teknologi secara positif, sekaligus membuka wawasan siswa terhadap berbagai peluang yang dapat muncul di bidang digital.

Kepala Sekolah Rakyat 39 Kabupaten Garut, Andi Yasir Habibi, menyampaikan keterangan tersebut saat ditemui di Sekolah Rakyat, Kecamatan Samarang, Garut, pada Senin. Menurutnya, pengenalan teknologi perlu dilakukan sejak dini agar siswa tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu memahami manfaat dan potensi teknologi dalam kegiatan belajar maupun kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran digital menjadi salah satu upaya sekolah untuk memberikan pengalaman pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa kini. Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada berbagai bentuk pemanfaatan perangkat dan sumber belajar digital. Materi yang diberikan disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka sehingga proses belajar tetap mudah dipahami, menarik, dan tidak terlepas dari tujuan pendidikan yang ingin dicapai.

Inisiatif tersebut mendapat sambutan positif dari para siswa. Mereka mengaku senang mengikuti kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan teknologi digital. Antusiasme itu terlihat dari ketertarikan siswa selama proses pengenalan berlangsung dan kesediaan mereka untuk mengikuti setiap kegiatan yang disiapkan sekolah.

Respons positif tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis teknologi dapat menjadi sarana untuk meningkatkan minat belajar siswa. Selain memperkenalkan keterampilan baru, kegiatan ini memberi kesempatan kepada mereka untuk mengenali perubahan di lingkungan sekitar serta membayangkan kemungkinan peran yang dapat mereka ambil pada masa depan. Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 Kabupaten Garut pun berupaya menjadikan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran yang mendukung perkembangan pengetahuan, kreativitas, dan kesiapan siswa.

Angkatan pertama Sekolah Rakyat Garut berjumlah 75 peserta didik. Komposisi tersebut terdiri atas 25 siswa pada tingkat sekolah dasar (SD) dan 50 siswa pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Pembagian ini mencerminkan kebutuhan pendidikan yang beragam, baik bagi anak-anak yang baru memulai kembali proses belajar maupun peserta didik yang harus mengejar ketertinggalan pendidikan pada jenjang berikutnya.

Seluruh siswa yang diterima merupakan hasil seleksi dari kalangan keluarga kurang mampu dan anak putus sekolah. Proses seleksi tersebut dilakukan untuk memastikan kesempatan belajar diberikan kepada anak-anak yang menghadapi keterbatasan ekonomi serta belum memperoleh layanan pendidikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang pemulihan dan pengembangan potensi bagi peserta didik dari kelompok yang membutuhkan dukungan lebih besar.

Sekolah Rakyat Garut telah berjalan selama tiga semester. Dalam periode tersebut, kegiatan pendidikan dilaksanakan dengan memanfaatkan pendekatan pembelajaran digital. Setiap siswa memiliki laptop yang digunakan sebagai perangkat utama untuk mengakses materi, mengerjakan tugas, mencari sumber informasi, serta berkomunikasi dalam kegiatan akademik. Kepemilikan perangkat secara individual memungkinkan siswa berlatih menggunakan teknologi secara rutin dan bertanggung jawab, bukan hanya ketika berada di laboratorium komputer.

Proses belajar mengajar juga didukung oleh penggunaan smart board di ruang kelas. Perangkat ini membantu guru menyajikan materi secara lebih visual, interaktif, dan mudah disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Guru turut memperoleh dukungan berupa kemampuan menggunakan berbagai media digital, sehingga teknologi dapat diterapkan secara efektif dalam penyampaian pelajaran, diskusi, presentasi, dan evaluasi. Perpaduan perangkat yang tersedia bagi siswa, fasilitas kelas, serta kompetensi guru membentuk lingkungan belajar yang mendorong keterlibatan dan minat peserta didik.

Penggunaan perangkat digital dalam pembelajaran membuat siswa Sekolah Rakyat Garut menunjukkan semangat yang lebih besar untuk mengikuti pelajaran. Proses belajar berlangsung secara praktis karena siswa tidak hanya menerima penjelasan secara lisan, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan perangkat yang digunakan. Laptop menjadi sarana utama untuk membantu siswa memahami materi melalui kegiatan yang lebih dekat dengan pengalaman teknologi sehari-hari.

Siswa tingkat sekolah menengah pertama memperoleh laptop masing-masing sebagai pendukung kegiatan belajar. Perangkat tersebut digunakan dalam pelajaran teknologi informasi dan komunikasi, termasuk materi koding serta kecerdasan artifisial. Melalui laptop, siswa dapat mengikuti penjelasan, mencoba berbagai fungsi, dan mengerjakan latihan yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Kegiatan pembelajaran TIK, koding, dan kecerdasan artifisial itu dilaksanakan satu kali dalam sepekan.

Andi Yasir Habibi menjelaskan bahwa antusiasme siswa terlihat ketika mereka belajar secara langsung menggunakan media digital. Ketertarikan tersebut tampak dari keterlibatan siswa saat mengoperasikan laptop dan mengikuti materi yang disampaikan. Penggunaan media digital memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan pembelajaran secara langsung, sehingga kegiatan di kelas tidak hanya berfokus pada penyampaian teori. Dengan dukungan perangkat masing-masing, siswa dapat mengikuti materi teknologi informasi dan komunikasi, koding, serta kecerdasan artifisial dalam kegiatan belajar yang terjadwal.

Sarah, guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), menjelaskan bahwa pembelajaran digital di Sekolah Rakyat Garut dilakukan secara bertahap. Prosesnya diawali dengan pengenalan perangkat, terutama laptop, agar siswa memahami fungsi setiap bagian dan cara menggunakannya dengan benar. Pada tahap awal, guru juga memberikan literasi mengenai teknologi digital, termasuk berbagai manfaat yang dapat diperoleh serta risiko yang perlu diwaspadai. Siswa diajak memahami bahwa teknologi dapat mendukung kegiatan belajar, komunikasi, dan pencarian informasi, tetapi harus digunakan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

Menurut Sarah, perkembangan kemampuan siswa terlihat cukup jelas selama mengikuti pembelajaran. Sebagian siswa sebelumnya belum dapat mengoperasikan laptop, bahkan masih memerlukan pendampingan untuk menyalakan perangkat, menggunakan papan ketik, atau menggerakkan kursor. Melalui latihan yang dilakukan secara berulang dan terarah, mereka mulai terbiasa menjalankan fungsi dasar laptop. Siswa kini mampu membuka aplikasi, mengetik, menyimpan dokumen, serta mengikuti materi dasar TIK dengan lebih percaya diri. Kemajuan tersebut menunjukkan bahwa kesempatan belajar dan pendampingan yang konsisten dapat membantu siswa membangun keterampilan digital.

Sarah berharap para siswa tidak hanya mampu memakai laptop, tetapi juga memahami cara kerjanya secara sederhana. Pengetahuan tersebut penting agar mereka dapat menggunakan perangkat dan internet secara tepat, mengenali informasi yang dapat dipercaya, serta melindungi diri dari berbagai risiko di ruang digital. Ia juga ingin siswa mampu menempatkan diri di dunia digital dengan menjaga etika, menghargai orang lain, dan mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan yang dilakukan secara daring.

Raihan, siswa SMP, mengaku semakin memahami TIK setelah mengikuti pembelajaran tersebut. Ia merasa tertarik untuk mempelajarinya lebih mendalam karena materi disampaikan dengan cara yang mudah dipahami. Raihan berharap dapat menjadi programmer pada masa depan. Bagi dia, pembelajaran yang terstruktur dan penjelasan guru yang jelas telah membuka pandangan mengenai berbagai kemungkinan yang dapat diraih melalui penguasaan teknologi.

Baca juga: Penembakan di Sekolah Aubagne: Remaja 14 Tahun Ditangkap, Kepala Sekolah dan Guru Terluka | Daniel Mananta Rayakan 15 Tahun Pernikahan Tanpa Putri Sulung yang Sekolah di Jerman | Puluhan Demonstran Kepung Dispendik Sidoarjo, Tuntut Pengaduan Sekolah Ditangani Secara Terbuka