Sebanyak 497 Gempa Tektonik Mengguncang Sulawesi Utara Sepanjang September 2026

oleh -58 Dilihat
oleh
Sebanyak 497 Gempa Tektonik Mengguncang Sulawesi Utara Sepanjang September 2026

Manado | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Manado mencatat 497 kejadian gempa bumi tektonik di wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya sepanjang September 2026. Jumlah tersebut menjadi catatan aktivitas kegempaan selama satu bulan berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh Stasiun Geofisika Manado.

Keterangan mengenai pencatatan itu disampaikan Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Geofisika Manado, Kamal Ardiyanto, di Manado pada Senin. Ia menyebutkan, data 497 gempa tersebut mencakup kejadian yang terpantau di kawasan Sulawesi Utara serta wilayah di sekitarnya selama periode 1 hingga 30 September 2026.

Penyampaian data ini menempatkan jumlah kejadian dan rentang waktu pemantauan sebagai informasi utama dalam laporan aktivitas seismik di kawasan tersebut. Stasiun Geofisika Manado menjadi bagian dari jaringan pemantauan BMKG yang mencatat dan mengolah informasi mengenai gempa bumi tektonik berdasarkan hasil pengamatan instrumen yang tersedia.

Catatan sebanyak 497 kejadian itu menunjukkan banyaknya aktivitas gempa bumi tektonik yang terpantau di Sulawesi Utara dan sekitarnya selama September. Informasi tersebut merujuk pada hasil pemantauan resmi BMKG dan disampaikan oleh Kamal Ardiyanto sebagai perwakilan Stasiun Geofisika Manado. Periode pencatatan selama satu bulan memberikan gambaran mengenai jumlah kejadian kegempaan yang terdeteksi di kawasan Sulawesi Utara pada September 2026, tanpa menyertakan keterangan tambahan mengenai penyebab maupun dampak dari setiap gempa yang tercatat.

Karakteristik utama gempa tektonik yang tercatat di Sulawesi Utara sepanjang September 2026 adalah dominasi gempa dangkal. Dari total 497 kejadian yang dicatat, sebanyak 333 gempa memiliki kedalaman hiposenter kurang dari 60 kilometer. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas kegempaan berlangsung pada lapisan kerak bumi yang relatif dekat dengan permukaan.

Kedalaman hiposenter menjadi salah satu parameter penting untuk memahami karakter guncangan yang dirasakan di suatu wilayah. Gempa dengan sumber lebih dangkal dapat menimbulkan getaran yang lebih terasa apabila kekuatannya cukup besar dan lokasi sumbernya berada relatif dekat dengan permukiman. Namun, tingkat dampak gempa tidak ditentukan oleh kedalaman saja. Magnitudo, jarak episenter dari wilayah terdampak, kondisi tanah, serta kualitas bangunan juga turut memengaruhi intensitas guncangan yang dirasakan masyarakat.

Selain didominasi gempa dangkal, aktivitas seismik selama periode tersebut memperlihatkan rentang magnitudo yang beragam. Gempa yang tercatat memiliki kekuatan mulai dari M1,6 hingga gempa terbesar berkekuatan M5,7. Gempa bermagnitudo kecil umumnya tidak dirasakan oleh masyarakat, meskipun tetap terekam oleh instrumen pemantauan. Sebaliknya, gempa dengan magnitudo lebih besar berpotensi menimbulkan guncangan yang dirasakan dalam wilayah lebih luas, bergantung pada kedalaman dan posisi sumbernya.

Variasi kedalaman dan magnitudo ini menggambarkan dinamika tektonik Sulawesi Utara yang terus dipantau oleh BMKG. Pencatatan sebanyak 497 gempa tidak secara otomatis menunjukkan seluruh kejadian menimbulkan kerusakan. Informasi mengenai kedalaman hiposenter, magnitudo, dan lokasi setiap gempa perlu dibaca secara bersama-sama agar karakter aktivitas tektonik sepanjang September 2026 dapat dipahami secara proporsional. Masyarakat tetap diimbau mengikuti informasi resmi BMKG dan memahami langkah kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi.

Dari total 497 gempa tektonik yang tercatat sepanjang September 2026, tiga kejadian dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Angka tersebut menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari keseluruhan aktivitas seismik yang teramati secara instrumental kemudian dilaporkan terasa oleh warga. Pencatatan instrumental mencakup setiap kejadian yang berhasil terdeteksi oleh jaringan pemantauan, sedangkan laporan dirasakan merujuk pada gempa yang getarannya disadari oleh masyarakat di wilayah tertentu.

Dalam sumber informasi, wilayah yang tercantum berkaitan dengan laporan gempa dirasakan meliputi Maba, Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Manado, Ternate, dan Batang Dua. Penyebutan wilayah tersebut memberikan gambaran mengenai lokasi masyarakat yang menjadi bagian dari catatan pengamatan, tanpa mengubah jumlah keseluruhan kejadian yang telah direkam. Tiga gempa yang dirasakan tetap merupakan bagian dari total 497 gempa tektonik selama periode pelaporan tersebut.

Perbedaan kedua angka itu penting untuk dipahami. Tidak setiap gempa yang terdeteksi alat pemantau akan dirasakan manusia, karena tingkat getaran yang sampai ke permukaan dapat berbeda-beda menurut kekuatan, kedalaman, jarak dari sumber, serta kondisi setempat. Oleh karena itu, jumlah gempa tercatat secara instrumental tidak dapat disamakan dengan jumlah gempa yang dilaporkan terasa. Berdasarkan informasi yang tersedia, data hanya menyebutkan adanya tiga kejadian yang dirasakan masyarakat di 497 gempa tektonik, dengan wilayah yang tercantum berupa Maba, Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Manado, Ternate, dan Batang Dua. Informasi tersebut tidak memuat keterangan lebih lanjut mengenai dampak dari kejadian-kejadian itu.

Peta seismisitas September 2026 menunjukkan bahwa persebaran gempa tektonik di Sulawesi Utara tidak berlangsung secara merata di seluruh wilayah daratan dan perairan sekitarnya. Distribusi episenter memperlihatkan pengelompokan kejadian pada beberapa kawasan laut, terutama Laut Maluku, Teluk Tomini, dan Laut Sulawesi. Pola tersebut menandakan bahwa sebagian besar aktivitas kegempaan tercatat di wilayah perairan yang mengitari Sulawesi Utara, bukan terpusat pada satu titik episenter saja.

Di Laut Maluku, episenter tampak membentuk salah satu konsentrasi utama kejadian selama September. Sebaran lainnya terlihat di Teluk Tomini dan Laut Sulawesi, sehingga ketiga kawasan tersebut menjadi wilayah yang paling menonjol dalam peta aktivitas gempa. Persebaran episenter ini menggambarkan pola kegempaan yang mengikuti kawasan tektonik aktif di sekitar Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Data tersebut juga memperlihatkan bahwa aktivitas terjadi pada beberapa jalur yang saling berkaitan di wilayah laut regional.

Konsentrasi gempa di Laut Maluku, Teluk Tomini, dan Laut Sulawesi dikaitkan dengan dinamika tektonik yang tinggi di kawasan pertemuan lempeng serta zona subduksi di sekitar Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Kondisi tektonik tersebut menjadi latar belakang bagi munculnya aktivitas kegempaan pada wilayah-wilayah yang terlihat menonjol dalam peta seismisitas. Sepanjang September 2026, tercatat 497 gempa tektonik. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan Agustus 2026, ketika sebanyak 515 gempa tercatat di wilayah tersebut.

Baca juga: ICP September 2026 Melonjak ke US$112,81 per Barel di Tengah Gejolak Pasar Global | Produksi Rokok Indonesia Tembus 27,2 Miliar Batang pada September 2026 | Tiga Tersangka Kasus Sabu di Sulawesi Barat, Polisi Dalami Peran Anggota Polri dan Pejabat Pemprov