JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Ketidakpastian geopolitik global menjadi salah satu tantangan utama bagi bank sentral, termasuk Bank Indonesia. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut kondisi tersebut sebagai faktor yang perlu dicermati karena perkembangan politik dan keamanan di berbagai wilayah dapat memengaruhi stabilitas ekonomi secara lebih luas. Situasi global yang berubah cepat turut membatasi ruang gerak bank sentral dalam merancang dan menerapkan kebijakan.
Gejolak di kawasan Timur Tengah menjadi bagian penting dari latar belakang tekanan tersebut. Ketegangan yang berlangsung di kawasan itu berdampak pada rantai pasok global, sehingga aliran barang dan kegiatan perdagangan internasional menghadapi gangguan. Perubahan pada rantai pasok kemudian ikut mendorong kenaikan inflasi dunia. Tekanan harga ini tidak hanya dirasakan di sejumlah negara, tetapi juga terlihat di Amerika Serikat.
Kenaikan inflasi di Amerika Serikat turut memengaruhi arah perkembangan pasar keuangan global. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Ketika imbal hasil US Treasury meningkat, perhatian pelaku pasar terhadap aset berbasis dolar AS juga menguat. Perkembangan ini selanjutnya berjalan seiring dengan penguatan indeks dolar AS.
Rangkaian perubahan tersebut menjadi latar utama yang memengaruhi respons kebijakan Bank Indonesia. Gejolak eksternal, tekanan inflasi global, peningkatan imbal hasil US Treasury, dan penguatan indeks dolar AS berlangsung dalam lingkungan yang saling berkaitan. Bagi Bank Indonesia, kondisi ini merupakan tantangan dalam menjaga stabilitas perekonomian dan menentukan kebijakan yang sesuai dengan dinamika global. Karena itu, ketidakpastian geopolitik menjadi faktor penting dalam membaca tekanan terhadap rupiah serta ruang kebijakan yang tersedia bagi bank sentral.
Situasi higher for longer menggambarkan kondisi ketika suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama oleh bank sentral utama dunia. Kebijakan tersebut biasanya ditempuh untuk memastikan tekanan inflasi mereda secara berkelanjutan. Bagi pasar keuangan global, prospek ini meningkatkan daya tarik aset berbasis mata uang negara maju karena menawarkan imbal hasil yang relatif lebih tinggi. Pada saat yang sama, investor menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada pasar negara berkembang yang dipandang memiliki tingkat risiko lebih besar.
Perbedaan tingkat suku bunga dan perubahan preferensi risiko tersebut dapat mendorong perpindahan dana asing dari pasar negara berkembang. Arus modal yang sebelumnya masuk mulai berkurang, bahkan sebagian dana dapat ditarik kembali menuju aset di negara maju. Pergerakan ini tidak hanya terjadi pada satu negara, melainkan menjadi kecenderungan yang memengaruhi berbagai pasar berkembang, termasuk Indonesia. Semakin lama suku bunga global bertahan pada tingkat tinggi, semakin kuat pula tekanan terhadap keputusan investor untuk mempertahankan penempatannya.
Di Indonesia, berkurangnya arus modal asing dapat menimbulkan tekanan pada pasar domestik. Pasar keuangan harus menghadapi penyesuaian ketika ketersediaan dana dari investor luar negeri menurun dan sentimen global menjadi lebih hati-hati. Tekanan tersebut berkaitan erat dengan perubahan arah aliran modal, bukan semata-mata kondisi di dalam negeri. Ketika investor melakukan penyesuaian portofolio secara serentak, pasar Indonesia turut merasakan dampak dari dinamika keuangan global yang berlangsung lebih ketat.
Salah satu dampak lanjutan dari tekanan tersebut adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Penarikan atau pengurangan dana asing dapat meningkatkan permintaan terhadap mata uang asing ketika dana dikonversi keluar dari aset domestik. Dalam kondisi suku bunga global yang tinggi dan bertahan lebih lama, tekanan itu dapat berlangsung secara berkelanjutan. Rupiah kemudian menghadapi tekanan pelemahan karena arus modal keluar dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Keputusan Bank Indonesia untuk tidak menaikkan BI Rate pada September 2026 perlu dipahami dalam konteks respons terhadap perubahan sentimen global yang telah diperhitungkan sebelumnya. Pada bulan tersebut, bank sentral Amerika Serikat menaikkan fed funds rate sebesar 25 basis poin. Kebijakan itu berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar Amerika Serikat dan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Namun, Bank Indonesia tidak secara otomatis mengikuti langkah tersebut dengan menaikkan suku bunga domestik.
Menurut penjelasan Destry Damayanti, langkah antisipasi Bank Indonesia telah dilakukan pada bulan sebelumnya. Dengan demikian, keputusan pada September bukan menunjukkan bahwa otoritas moneter mengabaikan tekanan eksternal, melainkan mencerminkan kebijakan yang telah disusun secara looking forward. Bank Indonesia mempertimbangkan perkembangan global dan kemungkinan dampaknya sebelum keputusan bank sentral Amerika Serikat diumumkan, sehingga respons tidak harus diberikan melalui kenaikan BI Rate pada setiap perubahan kebijakan The Federal Reserve.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada instrumen suku bunga. Bank Indonesia dapat menilai kondisi pasar secara menyeluruh, termasuk arah arus modal, ekspektasi pelaku pasar, inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta efektivitas kebijakan yang telah diterapkan. Antisipasi pada bulan sebelumnya memberikan ruang bagi kebijakan untuk bekerja lebih dahulu sekaligus mengurangi kebutuhan melakukan penyesuaian lanjutan secara mendadak.
Dalam kerangka ini, keputusan mempertahankan BI Rate pada September 2026 merupakan bagian dari strategi yang terukur. Bank Indonesia tetap memantau risiko yang berasal dari kenaikan fed funds rate sebesar 25 basis poin, tetapi memilih mempertahankan arah kebijakan setelah menilai bahwa langkah antisipatif sebelumnya masih relevan. Istilah looking forward menegaskan bahwa kebijakan moneter diarahkan berdasarkan prospek dan risiko ke depan, bukan semata-mata sebagai reaksi langsung terhadap keputusan bank sentral Amerika Serikat. Pendekatan tersebut memungkinkan stabilitas rupiah dijaga tanpa mengorbankan pertimbangan terhadap kondisi perekonomian domestik.
Bank Indonesia menyiapkan bauran kebijakan yang tidak hanya berfokus pada stabilitas nilai tukar, tetapi juga pada pemulihan kepercayaan pelaku pasar. Dalam menghadapi tekanan global, BI dapat memperkuat intervensi di pasar valuta asing, mengoptimalkan instrumen moneter, serta menjaga ketersediaan likuiditas agar penyesuaian rupiah berlangsung secara terukur. Langkah tersebut diperlukan untuk meredam gejolak yang berpotensi meningkatkan biaya impor, memperbesar tekanan inflasi, dan memengaruhi keputusan investasi di dalam negeri.
Salah satu upaya yang menjadi perhatian ialah pemberian insentif terhadap biaya hedging atau lindung nilai. Biaya hedging yang lebih kompetitif dapat membantu perusahaan dan investor mengelola risiko perubahan kurs dengan lebih baik. Kepastian tersebut diharapkan meningkatkan keyakinan pemodal asing untuk menempatkan dan mempertahankan dananya di Indonesia, sekaligus mendorong arus modal masuk yang lebih stabil. Dengan demikian, pasar domestik memiliki dukungan yang lebih kuat ketika terjadi perubahan sentimen secara cepat.
Respons BI juga dipastikan mencakup perkembangan sentimen global, termasuk perubahan harga minyak mentah dunia dan arah suku bunga The Fed. Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi kebutuhan valuta asing dan neraca perdagangan, sedangkan perubahan suku bunga Amerika Serikat berpengaruh terhadap daya tarik aset di negara berkembang. Karena itu, keputusan kebijakan perlu dilakukan secara adaptif dengan mempertimbangkan kondisi pasar, fundamental ekonomi, serta dampaknya terhadap sektor riil. Arah pembahasan mengenai kebijakan BI dalam menghadapi volatilitas global dapat disimak melalui dialog Andi Shalini dengan Destry Damayanti dalam program Power Lunch pada Jumat, 9 Oktober 2026. Seluruh instrumen tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus menciptakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.







