Taskya Namya Ceritakan Beratnya Menghayati Adegan Emosional di Film Rambut Sewu

oleh -414 Dilihat
oleh
Taskya Namya Ceritakan Beratnya Menghayati Adegan Emosional di Film Rambut Sewu

Jakarta | Taskya Namya mengaku mengalami tekanan emosional ketika menjalani salah satu adegan dalam film horor Rambut Sewu: Satu Langkah Getih. Dalam keterangannya di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026), ia menyebut adegan pemerkosaan sebagai bagian yang terasa sangat berat baginya. Pengalaman itu membuatnya merasa sesak selama proses syuting, sehingga pekerjaan tersebut bukan hanya menuntut kesiapan untuk berakting, tetapi juga pengelolaan emosi. Pengakuan itu memperlihatkan bahwa tantangan memainkan materi sensitif dapat dirasakan secara personal oleh pemain, meski adegan tersebut merupakan bagian dari kebutuhan cerita film. Bagi Taskya, momen itu menjadi salah satu pengalaman paling berat yang ia hadapi selama pengambilan gambar film tersebut.

Tekanan yang ia ceritakan berkaitan dengan proses menghayati adegan tersebut di lokasi syuting. Taskya tidak sekadar menyebutnya sebagai bagian yang sulit, tetapi juga menggambarkan dampaknya melalui rasa sesak yang muncul saat menjalani proses itu. Pernyataan tersebut memberi gambaran tentang beban emosional yang dapat menyertai pekerjaan seorang aktor ketika berhadapan dengan materi cerita yang berat. Namun, informasi yang disampaikan tidak merinci bagaimana adegan itu direkam ataupun langkah khusus yang dilakukan selama syuting. Karena itu, pengalaman Taskya dapat dipahami sebatas pengakuannya mengenai kesulitan pribadi dalam menghayati bagian tersebut, tanpa perlu membayangkan detail adegan yang tidak ia paparkan. Fokus keterangannya tetap pada beratnya tuntutan emosional yang ia rasakan sebagai pemeran.

Film horor itu menjadi ruang bagi Taskya untuk menghadapi peran dengan situasi emosional yang menantang. Ceritanya tentang pengalaman di balik layar tersebut juga mengingatkan bahwa proses produksi film tidak selalu ringan bagi para pemain, terutama ketika mereka perlu membawakan adegan dengan muatan sensitif. Meski demikian, pengakuan Taskya tidak menjelaskan lebih jauh tentang dampak jangka panjang atau pengalaman lain selama produksi, sehingga hal itu tidak dapat diasumsikan. Yang ia sampaikan secara jelas adalah bahwa adegan pemerkosaan tersebut terasa berat dan membuatnya sesak saat syuting. Keterangan itu memberi konteks mengenai pengalaman emosionalnya dalam film Rambut Sewu: Satu Langkah Getih, sekaligus menempatkan perhatian pada tantangan yang ia rasakan ketika menjalani adegan tersebut.

Setelah menjalani pengambilan gambar untuk adegan emosional di film Rambut Sewu, Taskya Namya mengaku tidak mudah kembali mengendalikan perasaannya. Tangisan yang muncul selama adegan itu ternyata tidak langsung berhenti ketika proses pengambilan gambar selesai. Ia masih menangis dengan kuat, seolah emosinya belum dapat mereda begitu saja. Bagi Taskya, pengalaman tersebut terasa sangat personal dan sulit dilalui pada saat itu.

Dalam ceritanya, tangis itu berlangsung tanpa henti setelah adegan berakhir. Asistennya berusaha menenangkan dan mendampingi dirinya ketika ia masih kesulitan mengatur emosi. Kehadiran sang asisten menjadi bagian dari pengalaman yang ia ingat, terutama karena Taskya merasa tangisnya begitu kuat dan tidak mudah dihentikan. Ia tidak menggambarkan kejadian itu sebagai sesuatu yang nyaman; justru, ia merasa tidak nyaman berada dalam keadaan tersebut.

Taskya menceritakan pengalaman ini sebagai apa yang ia rasakan sendiri setelah menghayati adegan tersebut. Perhatiannya tertuju pada sulitnya meredakan tangisan dan upaya orang terdekat untuk menenangkannya, bukan pada uraian umum mengenai cara kerja produksi film. Ia juga tidak menyebut bahwa pengalaman itu mewakili semua pemain atau selalu terjadi dalam proses pembuatan adegan emosional. Yang ia sampaikan adalah reaksi pribadinya pada saat itu: setelah kamera berhenti, emosinya masih terasa kuat, sementara dirinya belum mampu segera kembali tenang.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa bagi Taskya, batas menyelesaikan adegan dan meredakan perasaan tidak terjadi seketika. Walaupun pengambilan gambar telah usai, ia masih berada dalam suasana emosional yang membuatnya menangis dan merasa tidak nyaman. Asistennya mencoba membantu dengan menenangkan dirinya sampai tangis itu mereda. Dengan menyampaikan pengalaman tersebut, Taskya memberi gambaran langsung tentang beratnya momen yang ia alami, tanpa mengubahnya menjadi klaim umum tentang dampak akting atau proses produksi. Cerita ini berpusat pada kesulitan yang ia rasakan sendiri setelah adegan itu selesai.

Memahami Marni menjadi salah satu tantangan penting bagi Taskya Namya saat memerankan tokoh tersebut dalam film Rambut Sewu. Marni digambarkan sebagai perempuan yang berjuang demi keluarganya, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi pelecehan dan beban psikologis yang berat. Perpaduan keadaan itu membuat karakternya tidak mudah didekati hanya melalui satu emosi. Taskya perlu memahami dorongan Marni untuk bertahan, sekaligus menangkap dampak pengalaman menyakitkan yang membentuk rasa aman dan cara tokoh itu memandang dirinya maupun lingkungan sekitar.

Dalam proses penghayatan, Taskya berusaha menempatkan dirinya pada posisi Marni. Upaya tersebut membantunya membayangkan perasaan yang saling bertumpuk: kasih dan tanggung jawab kepada keluarga, ketakutan, ketidakamanan, serta trauma. Perasaan-perasaan itu dapat hadir bersamaan dan memengaruhi respons Marni dalam berbagai situasi. Karena itu, tantangannya bukan sekadar menampilkan kesedihan atau ketegangan, melainkan menjaga agar pergulatan batin tokoh terasa utuh dan manusiawi. Taskya perlu memberi ruang bagi kerumitan tersebut, tanpa menyederhanakan pengalaman Marni menjadi satu gambaran tunggal tentang korban atau perjuangan.

Materi emosional yang berat juga menuntut perhatian terhadap rasa aman selama proses syuting. Taskya menyampaikan apresiasi kepada tim pendamping yang membantu menjaganya, terutama intimacy coordinator. Kehadiran pendamping tersebut dinilainya penting dalam mendukung dirinya selama pengambilan gambar, khususnya ketika pekerjaan menuntut keterlibatan dalam adegan yang sensitif. Dukungan itu memberi konteks profesional bagi proses kreatif: penghayatan karakter tetap dapat dilakukan dengan perhatian terhadap batas dan kesejahteraan pemeran. Bagi Taskya, dukungan tim menjadi bagian berarti dari pengalaman memerankan Marni, bukan sekadar urusan teknis di lokasi. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menggambarkan tokoh dengan latar pelecehan dan trauma membutuhkan kepekaan sekaligus kerja bersama. Dengan dukungan tersebut, Taskya dapat berfokus pada upaya menyampaikan pergulatan Marni secara bertanggung jawab, sambil tetap merasa dijaga selama proses syuting berlangsung.

Film Rambut Sewu mengangkat kisah Wulan, seorang perempuan muda yang kehidupannya berubah setelah ia pindah bersama ibunya, Ratih, ke sebuah desa. Kepindahan itu terjadi karena Ratih memperoleh pekerjaan baru di sebuah pabrik. Sebagai bagian dari situasi baru tersebut, mereka menempati rumah tua yang diberikan oleh pihak pabrik. Rumah itu menjadi titik awal berbagai pengalaman yang perlahan mengusik ketenangan Wulan, sekaligus membuka kembali kisah kelam yang lama tersimpan di lingkungan desa.

Di rumah tersebut, Wulan menemukan foto penghuni lama. Rasa ingin tahunya kemudian bertambah setelah ia mendengar cerita warga tentang Marni, perempuan yang mengakhiri hidupnya 22 tahun sebelumnya. Tragedi itu berkaitan dengan kematian adik Marni, Sundari, yang meninggal secara mengenaskan. Dalam cerita yang beredar, Marni juga dikaitkan dengan ritual sesat. Meski awalnya tidak percaya pada kisah-kisah tersebut, Wulan mulai mengalami kejadian aneh. Pengalaman itu semakin mengancam keselamatannya dan membuat batas kabar masa lalu dengan bahaya yang ia hadapi terasa kian dekat.

Premis tersebut memadukan kepindahan keluarga, misteri rumah tua, dan legenda lokal sebagai landasan cerita horor. Perjalanan Wulan bukan hanya tentang menyesuaikan diri dengan desa dan rumah barunya, tetapi juga tentang menghadapi rangkaian peristiwa yang mendorongnya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Marni dan Sundari. Ketegangan dibangun dari perubahan sikap Wulan: keraguan awalnya berhadapan dengan kejadian yang tidak mudah dijelaskan. Kisah ini menempatkan masa lalu desa sebagai unsur penting dalam ancaman yang berkembang di masa kini.

Selain.

Baca juga: Studi Tantang Anggapan Perempuan Lebih Labil secara Emosional