Tekanan IHSG Seret Saham-Saham Grup Prajogo Pangestu ke Zona Merah

oleh -62 Dilihat
oleh
Tekanan IHSG Seret Saham-Saham Grup Prajogo Pangestu ke Zona Merah

Jakarta | Seluruh saham emiten yang disebut sebagai bagian dari kelompok usaha Prajogo Pangestu bergerak melemah pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Berdasarkan data Stockbit per pukul 14.30 WIB, tidak ada satu pun saham dalam kelompok tersebut yang mampu bertahan di zona hijau. Koreksi terjadi di tengah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sehingga mayoritas saham terkait mencatat penurunan signifikan.

Pelemahan terdalam dibukukan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Saham tersebut turun 12,99%, atau berkurang 100 poin, menjadi Rp670 per saham. Dengan penurunan yang mendekati 13%, CUAN menjadi saham dengan koreksi paling dalam di emiten-emiten yang terafiliasi dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu pada perdagangan tersebut.

Selanjutnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) merosot 12,59%, atau 340 poin, ke level Rp2.360 per saham. PT Petrosea Tbk (PTRO) juga terkoreksi 12%, atau 570 poin, menjadi Rp4.180. Penurunan pada ketiga saham tersebut menunjukkan kuatnya tekanan jual yang terjadi sepanjang sesi perdagangan.

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 9,25%, atau 155 poin, ke Rp1.520. Sementara itu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melemah 7,21%, atau 40 poin, menjadi Rp515 per saham. Induk usaha grup, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), mencatat penurunan yang relatif lebih terbatas, yakni 4,98% atau 70 poin, ke posisi Rp1.335.

Pergerakan serentak ke zona merah tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada satu emiten, tetapi meluas ke seluruh saham dalam kelompok usaha yang sama. Hingga waktu pemantauan, CUAN menjadi titik perhatian utama karena mencatat penurunan persentase terbesar, disusul BREN dan PTRO.

Pelemahan saham-saham grup Prajogo Pangestu berlangsung bersamaan dengan tekanan kuat di pasar saham domestik. Pada penutupan sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 117,98 poin atau 1,94% ke level 5.975. Sebelum mencapai posisi tersebut, indeks sempat menyentuh level terendah intraday 5.971, yang mencerminkan pelemahan sekitar 2%.

Pergerakan IHSG berlangsung berlawanan dengan penguatan pada pembukaan perdagangan. Indeks dibuka di level 6.109,32 dan sempat mencapai titik tertinggi 6.128,72 pada awal sesi. Namun, tekanan jual kemudian meningkat dan membawa IHSG masuk ke zona merah hingga menjelang pukul 10.00 WIB. Setelah itu, indeks tetap berada dalam tekanan sampai penutupan sesi I, dengan penurunan yang menunjukkan lemahnya sentimen investor di pasar saham domestik.

Tekanan tersebut juga terlihat pada seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), yang bergerak melemah. Sektor energi, infrastruktur, dan material dasar menjadi kelompok yang mencatat penurunan terdalam. Pergerakan ini turut berkaitan dengan sejumlah emiten Prajogo Pangestu yang berada di sektor-sektor tersebut. BREN dan CDIA berada di sektor infrastruktur, CUAN dan PTRO termasuk sektor energi, sedangkan TPIA dan BRPT berada di sektor barang baku.

Di saham-saham yang mengalami tekanan, BREN dan TPIA juga masuk jajaran saham penekan utama IHSG pada sesi I. Keduanya berada dalam daftar tersebut bersama PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Dengan demikian, koreksi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar turut memperberat penurunan indeks ketika seluruh sektor BEI bergerak di zona merah.

Tekanan terhadap pasar saham domestik semakin berat seiring arus dana asing yang berbalik keluar. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp166,22 miliar di seluruh pasar sepanjang sesi I. Nilai tersebut mencerminkan dominasi transaksi jual pada perdagangan hingga pertengahan sesi, ketika pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen eksternal dan domestik.

Total transaksi asing tercatat mencapai Rp3,33 triliun. Rinciannya terdiri atas transaksi pembelian senilai Rp1,58 triliun dan transaksi penjualan sebesar Rp1,75 triliun. Selisih nilai pembelian dan penjualan itu menunjukkan bahwa dana asing belum mengalir secara optimal ke pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut turut menambah tekanan pada indeks harga saham gabungan (IHSG), termasuk terhadap saham-saham milik grup Prajogo Pangestu yang berada di zona merah.

Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menilai isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan risiko Indonesia mengalami penurunan klasifikasi dari pasar emerging menjadi pasar frontier. Perubahan status itu berpotensi memengaruhi persepsi investor global serta alokasi dana berbasis indeks terhadap aset-aset Indonesia.

Dalam sumber yang sama, kebijakan MSCI disebut mencakup pembekuan kenaikan foreign inclusion factor (FIF), number of shares (NOS), penambahan saham baru, serta kenaikan status saham dalam indeks. Dengan kebijakan tersebut, sejumlah perubahan pada representasi saham Indonesia di indeks MSCI untuk sementara tidak mengalami peningkatan. Kebijakan itu akan dievaluasi menjelang peninjauan indeks pada November 2026, sedangkan pengumumannya diperkirakan keluar pada akhir Oktober. Pelaku pasar pun akan terus memantau perkembangan evaluasi tersebut karena hasilnya dapat memengaruhi arus investasi asing dan sentimen perdagangan di Bursa Efek Indonesia.

Tekanan terhadap pasar saham domestik turut diperkuat oleh perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pelaku pasar menghadapi kabar bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang mempertimbangkan bantuan kepada Arab Saudi untuk menyerang kelompok Houthi di Yaman, menyusul serangan mematikan di bandara Riyadh. Apabila terealisasi, langkah tersebut berpotensi menyeret Amerika Serikat ke front baru dalam perang Iran. Perkembangan itu menambah ketidakpastian bagi investor karena dapat memengaruhi persepsi risiko global, pergerakan harga komoditas, serta arah aliran modal ke negara-negara berkembang.

Investor juga menantikan sejumlah agenda ekonomi penting pada Rabu, 14 Oktober 2026, yakni rilis data inflasi Amerika Serikat dan China serta neraca perdagangan China. Selain itu, rangkaian pertemuan IMF dan Bank Dunia dijadwalkan berlangsung pada 12-18 Oktober 2026. Pasar juga akan mencermati pidato sejumlah pejabat The Fed pada 14-16 Oktober, terutama untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan prospek suku bunga.

BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek IHSG dalam jangka pendek cenderung negatif, sejalan dengan tekanan jual dan ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi. Risiko lain muncul apabila inflasi Amerika Serikat tercatat lebih tinggi daripada perkiraan. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS, menekan nilai tukar rupiah, dan mendorong arus keluar dana asing dari pasar saham domestik. Kombinasi sentimen eksternal, agenda ekonomi global, serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar dalam menghadapi pergerakan IHSG.

Baca juga: Industri Laptop Global Menghadapi Tekanan Harga Komponen dan Pelemahan Permintaan pada 2027 | Peluang Investasi di Tengah Kenaikan Yield AS dan Tekanan Rupiah | IHSG Tertekan hingga Hampir 2% pada Sesi I, Saham Infrastruktur Jadi Beban Utama