Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kegaduhan di pasar saham setelah pernyataan Morgan Stanley Capital International (MSCI) hanya merupakan riak. Menurut Airlangga, gejolak tersebut tidak mengganggu perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Pernyataan itu mencerminkan penilaian pemerintah terhadap situasi yang berkembang di bursa, sekaligus membedakan pergerakan pasar saham dari kondisi ekonomi nasional yang lebih luas.
Perhatian investor meningkat setelah MSCI menyampaikan bahwa pasar saham Indonesia berpeluang turun kelas, dari kategori emerging market atau pasar negara berkembang menjadi standalone market. Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena klasifikasi MSCI digunakan oleh pelaku pasar internasional sebagai salah satu acuan dalam menilai dan mengelompokkan pasar saham. Namun, MSCI menyampaikan adanya peluang perubahan kategori; hal itu tidak dengan sendirinya berarti perubahan tersebut telah diputuskan atau berlaku.
Airlangga menggambarkan respons pasar terhadap isu itu sebagai riak, bukan gangguan yang menurut pemerintah mengubah gambaran perekonomian Indonesia secara menyeluruh. Pilihan kata tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memandang dampak gejolak di bursa perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Pasar saham dapat bergerak merespons informasi atau penilaian tertentu, sementara penilaian pemerintah atas ekonomi nasional merupakan hal yang berbeda.
Meski demikian, keterangan tersebut perlu dibaca secara tepat sebagai pandangan pemerintah. Pernyataan bahwa situasi itu tidak mengganggu perekonomian secara keseluruhan bukan bukti bahwa tidak ada dampak pada saham, investor, atau pelaku pasar. Uraian yang tersedia juga tidak merinci besaran dampak, durasi gejolak, maupun konsekuensi ekonomi lain. Karena itu, hal-hal tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan penilaian Airlangga.
Dengan demikian, inti respons pemerintah adalah bahwa kegaduhan setelah pernyataan MSCI dinilai sebatas riak bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Pada saat yang sama, peluang penurunan status pasar saham dari emerging market menjadi standalone market tetap menjadi konteks penting bagi perhatian investor. Kedua hal ini perlu disampaikan berdampingan, tanpa mengubah penilaian pemerintah menjadi kepastian mengenai seluruh dampak pasar ataupun ekonomi.
Airlangga Hartarto menyatakan bahwa penilaian terhadap perekonomian Indonesia tidak hanya berasal dari MSCI. Menurut dia, masih terdapat lembaga pemeringkatan lain yang dapat memberikan penilaian terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Karena itu, respons dari satu lembaga tidak seharusnya dipandang sebagai satu-satunya gambaran mengenai perekonomian nasional. Ia juga menegaskan bahwa penilaian yang disampaikan oleh lembaga-lembaga tersebut tidak selalu bernada buruk seperti penilaian MSCI yang menjadi perhatian saat itu.
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga setelah mengikuti rapat kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Seusai rapat, ia menanggapi sorotan terhadap respons MSCI dan menekankan adanya sumber penilaian lain yang dapat menjadi rujukan. Dengan demikian, pandangan MSCI merupakan salah satu penilaian yang muncul, bukan satu-satunya penilaian yang tersedia mengenai Indonesia.
Airlangga tidak menyebut nama lembaga lain dalam keterangannya. Ia juga tidak merinci bentuk atau isi penilaian yang diberikan oleh lembaga-lembaga tersebut. Pokok yang disampaikan adalah bahwa Indonesia masih dinilai oleh berbagai pihak, sehingga perhatian terhadap MSCI perlu ditempatkan dalam konteks penilaian yang lebih luas. Ia tidak menyatakan bahwa seluruh lembaga lain memberikan pandangan tertentu, melainkan bahwa tidak semua penilaian terhadap Indonesia seburuk penilaian MSCI.
Penjelasan itu menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap perhatian pasar atas MSCI. Airlangga menyampaikan bahwa keberadaan lembaga pemeringkatan lain memberi ruang bagi perekonomian Indonesia untuk dinilai dari sumber yang berbeda. Pernyataannya tidak mengubah atau membantah penilaian MSCI secara terperinci, tetapi mengingatkan bahwa hasil penilaian satu lembaga bukan satu-satunya ukuran yang dapat digunakan untuk melihat kondisi ekonomi. Ia tetap merujuk pada keberadaan penilaian lain tanpa menyebut pihak tertentu atau menguraikan kesimpulan mereka. Dengan konteks tersebut, Airlangga menekankan bahwa respons MSCI perlu dipahami sebagai salah satu pandangan, sementara penilaian terhadap ekonomi Indonesia juga dapat datang dari lembaga lain.
Airlangga menilai respons MSCI sebagai riak yang tidak perlu dibaca sebagai gambaran menyeluruh mengenai kondisi pasar. Menurut penilaiannya, pemerintah telah berupaya menenangkan pasar, sehingga perkembangan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks upaya menjaga kepercayaan. Pernyataan itu mencerminkan pandangan bahwa reaksi pasar dapat bergerak, sementara langkah pemerintah diarahkan untuk meredakan kekhawatiran. Ia tidak menggambarkan respons tersebut sebagai perubahan yang dengan sendirinya menentukan arah pasar dalam jangka lebih luas. Penekanan pada upaya menenangkan pasar menjadi bagian penting dari penjelasannya, terutama ketika perhatian tertuju pada dinamika indeks saham dan respons terhadap MSCI. Dalam kerangka itu, pergerakan IHSG kembali ke zona hijau menjadi perkembangan yang ia rujuk.
Data yang disebut Airlangga menunjukkan IHSG kembali berada di zona hijau. Pada penutupan, indeks tercatat menguat 0,94 persen ke level 5.328,36. Angka tersebut menjadi gambaran perkembangan pasar yang ia sampaikan, tanpa perlu ditarik lebih jauh menjadi penjelasan mengenai faktor teknis tertentu. Informasi yang tersedia juga tidak merinci perbandingan dengan sesi sebelumnya ataupun rincian perdagangan lainnya. Karena itu, angka persentase dan level indeks dapat dibaca sebagai catatan penutupan sebagaimana tercantum dalam bahan sumber. Poin utamanya adalah IHSG berada dalam wilayah penguatan pada penutupan, sejalan dengan keterangan bahwa indeks kembali menghijau setelah pemerintah berupaya menenangkan pasar.
Airlangga mengaitkan penyebutan perkembangan IHSG itu dengan penilaiannya bahwa respons MSCI hanya berupa riak. Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan penekanan bahwa pemerintah sudah melakukan upaya untuk menenangkan pasar. Dengan demikian, dua hal yang dapat dicatat dari keterangannya ialah penilaian atas respons MSCI dan data indeks pada penutupan. IHSG tercatat naik 0,94 persen ke 5.328,36 dan kembali berada di zona hijau. Penyajian ini terbatas pada informasi tersebut, tanpa menambahkan klaim mengenai penyebab teknis penguatan, besaran transaksi, atau arah indeks pada hari-hari berikutnya. Keterangan Airlangga menempatkan upaya pemerintah sebagai respons untuk meredakan suasana, sedangkan angka penutupan memberikan catatan konkret tentang posisi IHSG pada saat itu. Keduanya menjadi inti perkembangan pasar yang ia sampaikan kepada publik.
Di tengah pembicaraan mengenai respons MSCI dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Airlangga juga menyinggung kondisi nilai tukar rupiah. Ia menilai level rupiah belum berada dalam situasi yang perlu terlalu dikhawatirkan. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pandangannya terhadap kondisi pasar, tanpa mengubah fokus utama bahwa respons MSCI disebutnya hanya riak dan IHSG kembali menguat.
Penilaian itu menunjukkan bahwa pemerintah memandang perkembangan nilai tukar dengan sikap yang terukur. Dalam membaca kondisi pasar, perhatian tidak hanya tertuju pada satu indikator, tetapi juga pada gambaran yang lebih luas. Meski demikian, keterangan yang disampaikan Airlangga mengenai rupiah terbatas pada penilaian bahwa levelnya tidak begitu mengkhawatirkan. Tidak ada rincian lebih lanjut yang perlu ditambahkan untuk menggambarkan pergerakannya.
Dalam konteks pemberitaan ini, komentar tersebut menjadi pelengkap dari pernyataan Airlangga mengenai respons MSCI dan penguatan IHSG. Pesan utamanya adalah bahwa riak dari respons tersebut tidak serta-merta mengubah pandangan positif terhadap kondisi pasar, sementara rupiah juga dinilai masih berada pada level yang belum menimbulkan kekhawatiran berarti. Airlangga turut menyinggung nilai tukar rupiah dan menilainya berada pada level yang tidak begitu mengkhawatirkan.
Baca juga: IHSG Terkoreksi 1,31% Setelah Sempat Dibuka Menguat | Airlangga Tegaskan Penilaian Pasar Modal RI Tak Bertumpu pada MSCI | Airlangga Paparkan Syarat Investasi untuk Mendorong Ekonomi Indonesia Tumbuh 7,5%



































