BEI Kejar Kapitalisasi Rp30.000 Triliun dan 35 Juta Investor pada 2030

oleh -112 Dilihat
oleh
BEI Kejar Kapitalisasi Rp30.000 Triliun dan 35 Juta Investor pada 2030

Jakarta | Bursa Efek Indonesia (BEI) membidik posisi yang lebih kuat di pasar global dengan menargetkan pasar modal Indonesia masuk dalam jajaran 10 bursa terbesar dunia. Sasaran itu akan diukur melalui kapitalisasi pasar dan nilai transaksi, dua indikator yang mencerminkan skala serta aktivitas perdagangan di bursa. Upaya mencapai peringkat tersebut menjadi bagian dari agenda jangka panjang BEI untuk memperbesar peran pasar modal dalam perekonomian sekaligus meningkatkan daya tariknya bagi investor domestik maupun internasional.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut target tersebut sebagai bagian dari arah strategis jangka panjang untuk membangun pasar modal yang maju, inklusif, dan berdaya saing global. Arah ini tidak hanya menekankan pertumbuhan ukuran pasar, tetapi juga pengembangan ekosistem yang mampu melayani lebih banyak pelaku. Pasar yang inklusif diharapkan membuka akses investasi bagi masyarakat, sementara daya saing global menuntut aktivitas perdagangan dan kapasitas bursa yang semakin kuat. Dengan demikian, pencapaian sasaran 2030 bergantung pada pertumbuhan berkelanjutan di berbagai sisi pasar.

Dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 28 Oktober 2026, BEI menyampaikan angka sasaran yang hendak dicapai pada 2030. Kapitalisasi pasar ditargetkan mencapai Rp30.000 triliun, sedangkan rata-rata nilai transaksi harian ditetapkan sebesar Rp31 triliun. Kedua target tersebut menggambarkan ambisi untuk memperluas nilai perusahaan yang tercatat sekaligus meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Kapitalisasi yang lebih besar dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perbandingan bursa dunia, sementara nilai transaksi harian yang tinggi menunjukkan pasar yang aktif. Sasaran itu menjadi tolok ukur bagi perjalanan BEI menuju jajaran 10 bursa terbesar dunia dan pembangunan pasar modal berdaya saing internasional.

Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat sebesar Rp9.092 triliun, masih jauh dari sasaran Rp30.000 triliun pada 2030. Dengan membandingkan kedua angka tersebut, pasar saham perlu bertambah sekitar Rp20.908 triliun agar mencapai target. Selisih ini menggambarkan skala pekerjaan yang harus ditempuh, tetapi bukan kepastian bahwa peningkatan akan berlangsung secara linear. Nilai kapitalisasi dapat berubah mengikuti harga saham, jumlah saham tercatat, serta dinamika perdagangan dan aksi korporasi emiten.

Pergerakan sebelumnya menunjukkan bahwa angka kapitalisasi tidak selalu meningkat dari waktu ke waktu. Pada 19 Januari 2026, BEI pernah mencatat rekor Rp16.640 triliun. Setelah itu, nilainya mengalami fluktuasi dan kini berada di bawah capaian pada awal tahun tersebut. Rekor itu menjadi konteks penting untuk membaca posisi saat ini: meskipun bursa sempat berada jauh lebih dekat ke sasaran 2030, capaian tersebut tidak bertahan sebagai nilai terkini. Karena itu, perkembangan menuju target perlu dinilai berdasarkan data aktual dan rentang waktu pengamatan yang jelas.

Posisi internasional juga memberi gambaran mengenai skala pasar Indonesia dibandingkan bursa lain. Berdasarkan posisi yang disampaikan BEI untuk Juni 2026, bursa Indonesia berada di peringkat ke-18 menurut rata-rata nilai transaksi harian dan peringkat ke-20 menurut kapitalisasi pasar. Kedua ukuran itu mencerminkan hal berbeda: nilai transaksi harian menunjukkan aktivitas perdagangan rata-rata, sedangkan kapitalisasi pasar mengukur nilai gabungan saham tercatat. Peringkat tersebut menempatkan BEI dalam persaingan global, sekaligus menunjukkan bahwa ukuran dan likuiditas pasar merupakan dimensi yang perlu dibaca secara terpisah.

Untuk transaksi harian, sasaran yang ditetapkan adalah Rp31 triliun. Data perdagangan pada Selasa, 27 Oktober 2026, mencatat nilai transaksi sebesar Rp20,46 triliun, atau masih di bawah sasaran tersebut. Perbandingan satu hari ini memberikan gambaran posisi pada tanggal tertentu, bukan tren jangka panjang. Secara keseluruhan, angka kapitalisasi saat ini, rekor Januari, peringkat global, dan nilai transaksi terbaru menjadi tolok ukur yang berbeda untuk menilai jarak menuju ambisi 2030. Masing-masing perlu dipantau secara konsisten tanpa menyamakan ukuran pasar dengan aktivitas perdagangan.

Selain mengejar kapitalisasi pasar Rp30.000 triliun, Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan sasaran untuk memperluas jumlah perusahaan tercatat dan basis investor hingga 2030. Bursa menargetkan 1.100 perusahaan tercatat, serta 35 juta investor pasar modal. Kedua target tersebut mencerminkan upaya memperbesar kedalaman pasar: lebih banyak perusahaan dapat memperoleh akses pendanaan, sementara lebih banyak masyarakat berkesempatan berpartisipasi sebagai investor.

Target 1.100 perusahaan berarti jumlah emiten perlu bertambah dari posisi yang tercatat dalam statistik BEI saat ini, yakni 963 perusahaan. Selisih terhadap sasaran 2030 menunjukkan bahwa penambahan perusahaan baru akan menjadi salah satu agenda penting dalam beberapa tahun mendatang. Pencapaian sasaran itu bergantung pada kemampuan bursa menarik perusahaan dari berbagai skala dan sektor, sekaligus menjaga kesiapan calon emiten memenuhi ketentuan pencatatan dan kewajiban keterbukaan informasi.

Statistik yang disebutkan memuat 271 perusahaan di papan utama, 500 di papan pengembangan, dan 41 di papan akselerasi. Rincian kategori tersebut disajikan sebagai gambaran distribusi perusahaan, bukan sebagai penjumlahan untuk menggantikan angka total 963. Karena angka kategori yang tersedia tidak sepenuhnya cocok dengan total yang dilaporkan, keduanya perlu dibaca sesuai konteks masing-masing tanpa menyimpulkan jumlah perusahaan yang tidak tercakup dalam rincian tersebut.

Di sisi investor, sasaran 35 juta menekankan pentingnya memperluas partisipasi publik, bukan sekadar meningkatkan jumlah emiten. Pertumbuhan basis investor dapat didukung oleh edukasi pasar modal, kemudahan akses melalui layanan digital, serta informasi yang jelas mengenai risiko dan karakteristik produk. Upaya tersebut perlu menjangkau masyarakat di luar pusat keuangan utama dan mendorong keputusan investasi yang sesuai dengan tujuan serta kemampuan masing-masing.

Dengan demikian, dua target ini saling melengkapi: perusahaan tercatat menyediakan pilihan dan peluang pendanaan, sedangkan investor membentuk basis permintaan di pasar. Perkembangan menuju 2030 dapat dipantau melalui capaian jumlah perusahaan dan investor, disertai perhatian pada kualitas pencatatan, perlindungan investor, dan keberlanjutan aktivitas perdagangan.

Untuk menopang ambisi pertumbuhan pasar modal hingga 2030, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan strategy house sebagai kerangka pengembangan jangka panjang. Kerangka ini memuat empat pilar bisnis yang ditopang oleh lima enabler atau faktor pendukung. Susunan tersebut dirancang untuk menjadi landasan bagi penguatan pertumbuhan sekaligus daya saing BEI, dengan arah kerja yang terkoordinasi di berbagai bidang. Melalui strategi ini, pengembangan pasar tidak hanya berfokus pada peningkatan skala, tetapi juga pada kesiapan ekosistem, layanan, dan infrastruktur dalam merespons kebutuhan para pelaku pasar.

Jeffrey Hendrik menyampaikan tiga kelompok inisiatif flagship yang menjadi bagian dari agenda tersebut. Kelompok pertama berfokus pada penguatan likuiditas dan akses pasar, sehingga aktivitas perdagangan dan keterjangkauan pasar dapat terus ditingkatkan. Kelompok kedua mencakup perluasan fundraising serta pembentukan modal, dengan tujuan membuka sumber pendanaan yang lebih luas bagi perusahaan. Kelompok ketiga diarahkan pada pengembangan produk dan infrastruktur baru. Rangkaian inisiatif ini disusun untuk menjawab kebutuhan pasar yang berkembang, sekaligus mendukung keterhubungan perusahaan pencari dana, investor, dan penyedia layanan pasar modal.

Secara keseluruhan, inisiatif tersebut memiliki beberapa tujuan yang saling berkaitan. BEI ingin memperdalam pasar dan meningkatkan likuiditas, sehingga transaksi dapat berlangsung dengan dukungan partisipasi yang lebih luas. Perluasan fundraising diharapkan membantu perusahaan memperoleh akses ke sumber pendanaan yang beragam serta mendorong pembentukan modal. Pada saat yang sama, pengembangan produk dan infrastruktur ditujukan untuk menghadirkan layanan yang lebih relevan bagi pelaku pasar, baik dari sisi kebutuhan investasi maupun proses penghimpunan dana.

Baca juga: BEI Tetapkan Dividen Khusus Rp1,564 Triliun dalam RUPSLB | IHSG Terkoreksi pada Awal Perdagangan, Investor Menanti Sinyal The Fed | Investasi Rp3.923,2 Triliun Terserap, Pemerintah Soroti Hilirisasi dan Kepastian Izin