Jakarta | Nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sekitar 7,9% di tengah memburuknya situasi global dan meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan. Tekanan tersebut berlangsung saat investor mencermati perkembangan ekonomi dunia, termasuk arah kebijakan moneter negara maju. Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, yang umumnya lebih rentan terhadap perubahan sentimen dan arus modal internasional.
Meski mengalami pelemahan, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai volatilitas rupiah relatif lebih baik dibandingkan mata uang negara lain. Penilaian itu disampaikan dalam paparan pada Rapat Pimpinan Nasional Kadin 2026, Kamis, 29 Oktober 2026. Menurut Destry, perbandingan tersebut menunjukkan bahwa gejolak nilai tukar rupiah sejauh ini masih lebih terkendali dibandingkan tekanan yang dihadapi sejumlah mata uang lain di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Destry mengakui bahwa ketidakpastian pasar global ikut menekan rupiah dan mata uang negara berkembang. Perubahan persepsi risiko investor dapat mendorong pergeseran dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga memberi tekanan pada mata uang di pasar berkembang. Situasi tersebut membuat pergerakan kurs tidak hanya ditentukan oleh faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi perkembangan ekonomi dan pasar internasional.
Depresiasi sekitar 7,9% itu menjadi gambaran besarnya tantangan yang dihadapi rupiah, sementara penilaian mengenai volatilitas memberikan konteks tentang pergerakannya relatif terhadap mata uang lain. Pelemahan nilai tukar dan tingkat gejolak merupakan dua aspek berbeda: sebuah mata uang dapat terdepresiasi dalam periode tertentu, namun pergerakannya tetap relatif lebih terkendali dibandingkan mata uang pembanding. Dalam paparannya, Destry menempatkan tekanan rupiah dalam lingkungan global yang memburuk, bukan semata-mata sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Ketidakpastian pasar tetap menjadi faktor penting yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi sentimen terhadap aset negara berkembang. Dengan demikian, kondisi rupiah mencerminkan kombinasi pelemahan nilai tukar dan tekanan eksternal, sekaligus menunjukkan bahwa volatilitasnya dinilai relatif lebih baik dibandingkan mata uang negara lain.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya bersumber dari kondisi domestik, tetapi juga dari perubahan prospek ekonomi dan kebijakan moneter Amerika Serikat. Destry menyoroti bahwa pasar masih menghadapi kemungkinan suku bunga bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Prospek tersebut membuat aset berbasis dolar tetap menarik bagi investor, sekaligus mendorong kehati-hatian dalam menempatkan dana di negara berkembang. Ketika imbal hasil aset Amerika meningkat, arus modal global dapat beralih ke pasar yang dinilai lebih aman dan menawarkan keuntungan kompetitif.
Inflasi Amerika Serikat yang masih berada di atas 3,5 persen turut memperkuat ketidakpastian arah kebijakan The Federal Reserve. Angka tersebut masih jauh dari sasaran inflasi bank sentral Amerika, yakni 2 persen. Karena tekanan harga belum mereda sesuai harapan, pasar menilai pelonggaran kebijakan moneter mungkin tertunda. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga pada Desember tetap terbuka. Ekspektasi ini dapat menopang dolar dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang lain, termasuk rupiah, terutama saat investor menyesuaikan portofolio mereka terhadap prospek imbal hasil.
Pergerakan pasar obligasi juga mencerminkan perubahan ekspektasi tersebut. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 10 tahun sempat mencapai 5,3 persen, tingkat yang memperbesar daya tarik surat utang negara itu bagi investor. Kenaikan imbal hasil dapat meningkatkan biaya pembiayaan secara global dan memicu perpindahan investasi dari pasar negara berkembang. Dampaknya tidak selalu berlangsung seragam, tetapi negara dengan kebutuhan pendanaan eksternal atau sensitivitas tinggi terhadap arus modal dapat merasakan tekanan lebih besar pada nilai tukarnya.
Selain faktor suku bunga, konflik geopolitik ikut mendorong kenaikan harga minyak. Perubahan harga energi dapat menambah ketidakpastian inflasi dan memengaruhi prospek pertumbuhan, sehingga memperumit pertimbangan bank sentral di berbagai negara. Bagi perekonomian global, gabungan energi yang lebih mahal, imbal hasil tinggi, dan ketidakpastian kebijakan dapat menghambat pemulihan serta meningkatkan volatilitas pasar. Mata uang negara berkembang pun menghadapi tekanan eksternal melalui penguatan dolar, perubahan arus modal, dan kenaikan biaya impor energi. Kondisi ini menjadi latar penting dalam membaca pelemahan rupiah, meskipun perkembangan kurs tetap dipengaruhi pula oleh faktor domestik dan respons kebijakan masing-masing negara.
Ketidakpastian di pasar global mendorong investor menata kembali portofolio dan mengurangi paparan terhadap aset yang dinilai lebih berisiko. Dalam keadaan seperti ini, sebagian pelaku pasar melakukan flight to quality, yakni memindahkan dana menuju instrumen yang dianggap lebih aman dan likuid. Perubahan preferensi tersebut dapat memengaruhi arus modal lintas negara, nilai tukar, serta permintaan terhadap mata uang utama. Negara berkembang, termasuk Indonesia, dapat merasakan dampaknya ketika investor memilih menahan dana atau mengalirkannya ke pasar yang dipandang lebih stabil.
Dolar Amerika Serikat tetap menjadi salah satu tujuan utama dalam perpindahan aset tersebut. Perannya yang luas dalam transaksi internasional, perdagangan komoditas, dan sistem keuangan global membuat mata uang itu mudah digunakan serta diterima di berbagai pasar. Karena itu, permintaan terhadap dolar dapat bertahan meskipun sumber ketidakpastian justru berkaitan dengan kondisi di Amerika Serikat. Investor yang mengutamakan likuiditas dan akses transaksi masih membutuhkan dolar untuk mengelola risiko dan memenuhi kebutuhan portofolio mereka.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyoroti kecenderungan tersebut. Menurut Destry, meski persoalan yang menjadi perhatian pasar dinilai berpusat di Amerika, investor tetap memegang dolar. Kondisi itu turut menjaga minat terhadap mata uang AS dan mendorong indeks dolar, atau DXY, terus naik. Penguatan DXY mencerminkan pergerakan dolar terhadap sejumlah mata uang utama, sehingga kenaikannya dapat menambah tekanan bagi mata uang lain, termasuk rupiah. Namun, dampaknya pada setiap mata uang juga dipengaruhi faktor domestik dan perkembangan pasar masing-masing.
Di tengah tekanan tersebut, rupiah mengakhiri perdagangan Kamis dengan penguatan 0,28% ke level Rp18.125 per dolar AS. Pada penutupan Rabu, rupiah berada di Rp18.175 per dolar AS. Perbaikan itu memberi jeda setelah mata uang domestik tertekan selama beberapa hari perdagangan. Sebelumnya, rupiah juga mencatat penutupan terlemah sepanjang masa, menegaskan besarnya tekanan yang berlangsung. Penguatan pada Kamis belum serta-merta menghapus tekanan eksternal, tetapi menunjukkan adanya pemulihan harian setelah pelemahan tajam. Pergerakan berikutnya tetap akan dipengaruhi perkembangan dolar, imbal hasil Amerika Serikat, serta respons investor terhadap risiko global.
Destry menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan eksternal yang meningkat. Pergerakan dolar AS dan kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat menjadi bagian dari kondisi global yang turut memberi tekanan pada rupiah. Meski demikian, gambaran ekonomi domestik tetap ditopang oleh pertumbuhan yang terjaga dan sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan stabilitas. Penilaian tersebut menempatkan ketahanan ekonomi Indonesia sebagai faktor penting dalam menghadapi perubahan situasi global, tanpa mengabaikan tantangan pada nilai tukar.
Pada semester I-2026, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,45%. Angka ini memperlihatkan aktivitas ekonomi yang tetap bertumbuh di tengah ketidakpastian dari luar negeri. Dari sisi harga, inflasi tercatat sebesar 3,28%, sementara inflasi inti berada pada 2,8%. Kedua angka tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan harga secara umum dan tekanan harga inti. Destry menyebut indikator-indikator itu sebagai bagian dari kondisi domestik yang masih bertahan, sementara dinamika eksternal terus menjadi perhatian dalam penilaian terhadap perekonomian.
Kondisi fiskal juga dinilai masih terjaga.
Baca juga: Peserta JKN Nonaktif dan Tekanan Arus Kas BPJS Kesehatan



































