Kota Bandung | Banjir melanda permukiman di Jalan Siliwangi Dalam, Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, pada Jumat (30/10/2026). Peristiwa ini terjadi setelah tembok penahan tanah di aliran Sungai Cikalintu jebol. Kerusakan pada tembok tersebut membuat air sungai meluap dan mengalir ke kawasan tempat tinggal warga. Akibatnya, puluhan rumah di sekitar lokasi terdampak genangan. Peristiwa ini berpusat pada jebolnya tembok penahan dan luapan air yang kemudian mencapai permukiman.
Aliran Sungai Cikalintu berada di dekat kawasan yang terdampak. Ketika bagian tembok penahan tanah jebol, batas aliran sungai dan area permukiman tidak lagi mampu menahan air. Air yang meluap pun menerjang lingkungan di Jalan Siliwangi Dalam. Kondisi tersebut menjadikan jebolnya struktur penahan sebagai penyebab langsung banjir yang terjadi pada hari itu. Informasi mengenai peristiwa ini menunjukkan hubungan kerusakan tembok dan masuknya air ke kawasan rumah warga, tanpa menyebut rincian lain mengenai kondisi sungai atau penyebab kerusakan.
Permukiman di Cipaganti menjadi wilayah yang mengalami dampak dari luapan tersebut. Puluhan rumah disebut terendam setelah air keluar dari aliran Sungai Cikalintu. Dengan demikian, inti kejadian di Coblong adalah tembok penahan tanah yang jebol, air sungai yang meluap, dan genangan yang mencapai rumah-rumah warga. Banjir ini tercatat terjadi pada Jumat, 30 Oktober 2026, di Jalan Siliwangi Dalam, Kota Bandung. Peristiwa itu menempatkan kerusakan tembok di tepi sungai sebagai titik utama yang menjelaskan bagaimana air dapat masuk ke permukiman dan menyebabkan rumah warga terendam.
Derasnya kiriman air dari wilayah hulu menjadi pemicu utama meningkatnya debit Sungai Cikalintu secara drastis. Aliran yang datang dalam jumlah besar membuat permukaan sungai naik dengan cepat, hingga air tidak lagi tertampung di dalam badan sungai dan meluap ke kawasan permukiman di sekitarnya. Kondisi tersebut menyebabkan banjir menerjang rumah-rumah warga yang berada di sepanjang aliran sungai di Kecamatan Coblong. Luapan air juga membawa material dari hulu, sehingga arus yang memasuki lingkungan warga tampak keruh dan bergerak cukup deras. Perubahan debit yang cepat membuat kawasan sekitar sungai terdampak dalam waktu singkat.
Peristiwa itu terjadi ketika pekerjaan perbaikan tembok penahan tanah di sekitar sungai masih berlangsung. Proyek tersebut belum selesai saat debit air meningkat dan sungai meluap. Situasi ini menjadi bagian penting dari kondisi di lokasi, karena pekerjaan penahan tanah masih berada dalam proses pengerjaan ketika permukiman di sekitarnya diterjang banjir. Meski demikian, informasi yang tersedia menyebut derasnya kiriman air dari wilayah hulu sebagai penyebab peningkatan debit yang memicu luapan. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai hubungan langsung pekerjaan perbaikan dan terjadinya banjir, sehingga keduanya perlu dipahami sebagai keadaan yang berlangsung bersamaan.
Rekaman video amatir yang dibuat warga memperlihatkan air mengalir masuk ke permukiman di sepanjang sungai. Dalam video tersebut, arus banjir tampak membawa sampah, yang ikut bergerak bersama aliran air. Sejumlah barang milik warga juga terseret, menunjukkan kuatnya arus yang menerjang kawasan tersebut. Rekaman itu menggambarkan keadaan di lokasi secara langsung, ketika air meluap dari sungai dan menggenangi lingkungan tempat tinggal. Banjir yang bercampur sampah berpotensi menambah gangguan bagi warga, sementara barang-barang yang terbawa arus dapat memperbesar kerugian. Gambaran tersebut mempertegas bahwa peningkatan debit sungai berdampak langsung pada permukiman yang berada dekat aliran Cikalintu.
Di tengah banjir yang merendam puluhan rumah di sekitar Sungai Cikalintu, warga berupaya melindungi rumah dan barang-barang mereka sebelum air semakin tinggi. Kokon Sodik, salah seorang warga terdampak, telah menyiapkan karung untuk digunakan sebagai penahan air. Ia juga memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi sebagai langkah berjaga-jaga, mengantisipasi kemungkinan air memasuki rumah.
Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak genangan, tetapi derasnya arus membuat perlindungan sederhana itu tidak cukup. Tembok yang jebol turut membuka jalan bagi air untuk mengalir masuk. Akibatnya, rumah Kokon tetap terendam meskipun ia sudah menyiapkan karung dan mengamankan sejumlah barang. Kondisi itu memperlihatkan sulitnya warga menghadapi aliran yang kuat ketika batas penahan air rusak.
Keterangan Kokon menggambarkan bahwa persiapan warga dapat membantu mengurangi risiko, tetapi tidak selalu mampu mencegah air masuk saat arus deras dan tembok jebol. Memindahkan barang ke posisi lebih tinggi menjadi langkah penting untuk menjaga barang tetap aman dari genangan, sedangkan karung disiapkan sebagai penahan sementara. Namun, efektivitas upaya tersebut terbatas ketika derasnya aliran melampaui kemampuan penghalang yang tersedia.
Bagi warga yang rumahnya berada di sekitar aliran sungai, perubahan kondisi air dan kerusakan pembatas dapat membuat situasi berkembang cepat. Pengalaman Kokon menunjukkan bahwa langkah antisipasi perlu dilakukan sedini mungkin, tetapi keselamatan penghuni tetap menjadi perhatian utama saat banjir terjadi. Warga terdampak juga menghadapi tantangan untuk melindungi rumah dan barang-barang ketika air terus mengalir masuk. Dalam kejadian ini, persiapan pribadi belum mampu menahan genangan yang dipicu oleh arus kuat setelah tembok jebol.
Camat Coblong Ratnarahayu menyampaikan bahwa data awal yang dihimpun di lapangan mencatat sebanyak 34 rumah terdampak banjir luapan Sungai Cikalintu. Rumah-rumah tersebut dihuni oleh total 112 jiwa. Angka ini merupakan catatan awal, sehingga menggambarkan jumlah rumah dan warga yang tercatat pada tahap pendataan tersebut. Keterangan itu memberikan gambaran mengenai skala dampak banjir di kawasan Coblong, tanpa merinci kondisi setiap rumah maupun keadaan masing-masing penghuni.
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak kejadian tidak hanya tercatat pada bangunan tempat tinggal, tetapi juga melibatkan warga yang menetap di dalamnya. Sebanyak 112 jiwa yang tercatat menghuni 34 rumah menjadi bagian dari informasi awal mengenai peristiwa ini. Namun, keterangan yang tersedia tidak menyebutkan perincian jumlah penghuni di tiap rumah. Karena itu, angka keseluruhan tersebut sebaiknya dipahami sebagai jumlah warga dari rumah-rumah yang masuk dalam pendataan awal, bukan sebagai rincian kondisi keluarga atau individu yang terdampak.
Banjir akibat luapan Sungai Cikalintu ini juga tercatat sebagai kejadian kedua di kawasan tersebut dalam kurun waktu sebulan terakhir. Sebelumnya, kejadian serupa berlangsung pada 23 Oktober. Rentang waktu tersebut menempatkan peristiwa terbaru dalam konteks pengulangan banjir di lokasi yang sama dalam periode yang relatif dekat. Meski demikian, informasi yang disampaikan tidak memuat rincian mengenai penyebab luapan, keadaan sungai pada masing-masing kejadian, atau perubahan jumlah rumah dan warga yang terdampak dibandingkan peristiwa sebelumnya. Dengan demikian, keterangan Ratnarahayu yang tersedia berfokus pada data awal berupa 34 rumah dan 112 jiwa, serta catatan bahwa banjir serupa telah terjadi pada 23 Oktober. Data itu menjadi dasar untuk memahami cakupan dampak yang tercatat, tanpa menambahkan perkiraan mengenai perkembangan maupun penanganan setelah pendataan awal.
Baca juga: Rumah Faridah di Pulau Untung Jawa Dibangun Kembali melalui Program Bedah Rumah | Normalisasi Sungai Tonjong Dikebut untuk Menekan Risiko Banjir di Kramatwatu | Merapi Tetap Berstatus Siaga, Pemantauan Catat Puluhan Guguran



































