Jakarta | Helikopter Super Puma VH-HGM yang disewa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jatuh di Sungai Barito, Kalimantan Selatan, pada Minggu (8/11/2026). Helikopter tersebut digunakan dalam operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga informasi ini disampaikan, penyebab kecelakaan belum diketahui dan belum dapat dipastikan. Peristiwa itu kini menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan penerbangan dalam pelaksanaan tugas penanggulangan bencana.
Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyatakan bahwa penyelidikan resmi masih berlangsung. Pemeriksaan dilakukan oleh pihak berwenang untuk mengungkap rangkaian kejadian serta faktor yang mungkin berkontribusi terhadap jatuhnya helikopter. Proses tersebut diperlukan agar penjelasan mengenai insiden didasarkan pada bukti dan hasil pemeriksaan, bukan dugaan yang beredar sebelum investigasi selesai.
BNPB memfasilitasi proses penyelidikan dan mendukung langkah pihak berwenang dalam mengumpulkan informasi terkait kecelakaan. Namun, lembaga itu meminta masyarakat dan berbagai pihak untuk tidak lebih dahulu menyimpulkan penyebab jatuhnya Super Puma VH-HGM. Kesimpulan awal yang tidak didukung temuan resmi berisiko menimbulkan spekulasi, menyebarkan informasi yang keliru, serta mengaburkan perkembangan pemeriksaan.
Dalam peristiwa penerbangan, penentuan penyebab umumnya memerlukan pemeriksaan menyeluruh atas data, kondisi pesawat, dan keterangan yang relevan. Karena itu, informasi mengenai faktor teknis, cuaca, maupun keadaan operasional belum dapat dipastikan sebelum penyelidikan memberikan hasil. Pernyataan BNPB menegaskan bahwa proses tersebut masih berjalan dan setiap perkembangan perlu merujuk pada keterangan resmi dari pihak yang berwenang.
Masyarakat diharapkan mengikuti pembaruan melalui saluran resmi dan menunggu hasil pemeriksaan sebelum menyebarkan klaim tentang penyebab kecelakaan. Sikap berhati-hati penting agar informasi yang beredar tetap akurat serta tidak mendahului kerja penyelidik. Untuk saat ini, fakta yang dapat dipastikan adalah helikopter sewaan BNPB tersebut jatuh di Sungai Barito pada Minggu, sementara penyebabnya masih dalam penyelidikan. BNPB menyatakan akan memfasilitasi proses itu, sedangkan penetapan penyebab menunggu hasil resmi pemeriksaan oleh pihak berwenang.
Dari informasi yang tersedia, dua orang yang berada di helikopter tersebut ditemukan selamat. Keduanya merupakan pilot berkewarganegaraan Australia. Setelah ditemukan, mereka telah menerima penanganan medis. Keterangan ini menjadi informasi utama mengenai kondisi orang-orang yang berhasil diselamatkan dalam insiden helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan di Barito tersebut.
Belum ada rincian lebih lanjut yang disampaikan mengenai kondisi kesehatan kedua pilot, termasuk jenis cedera atau tindakan medis yang diberikan. Karena itu, informasi tentang penanganan medis tidak dapat diartikan sebagai keterangan mengenai tingkat keparahan kondisi mereka. Perkembangan mengenai keadaan kedua pilot dapat disampaikan lebih lanjut oleh pihak berwenang atau pihak terkait setelah informasi resmi tersedia.
Sementara itu, satu awak lainnya, Yayan Supyansuri, masih dinyatakan hilang. Ia merupakan warga negara Indonesia yang bertugas sebagai helicopter landing officer (HLO). Keberadaannya belum diketahui berdasarkan keterangan yang tersedia, dan upaya pencarian terhadapnya masih berlangsung. Informasi mengenai status tersebut perlu dibedakan dari kondisi dua pilot yang telah ditemukan selamat dan mendapatkan penanganan medis.
Tim terkait terus melakukan pencarian untuk menemukan Yayan. Namun, rincian mengenai lokasi terakhirnya, kondisi medan, metode pencarian, maupun perkiraan waktu pencarian tidak dijelaskan dalam informasi yang tersedia. Karena itu, belum dapat dipastikan kapan pencarian akan selesai atau kapan kabar terbaru mengenai keberadaannya akan diperoleh. Perkembangan resmi mengenai upaya pencarian dan kondisi para korban diharapkan menjadi rujukan untuk memahami situasi secara akurat.
Hingga ada keterangan lanjutan, informasi yang dapat dipastikan terbatas pada dua pilot asal Australia yang selamat dan telah mendapat penanganan medis, serta Yayan Supyansuri yang masih dicari. Tidak tersedia keterangan dalam informasi tersebut untuk memastikan jumlah keseluruhan orang di dalam helikopter, sehingga angka tambahan tidak dapat disimpulkan. Pihak yang mengikuti perkembangan insiden sebaiknya merujuk pada pembaruan dari sumber resmi dan menghindari menyebarkan rincian yang belum terkonfirmasi mengenai para awak.
Upaya pencarian helikopter yang dilaporkan jatuh di wilayah Barito dilakukan secara bertahap setelah informasi kecelakaan diterima. Helikopter tersebut dilaporkan jatuh sekitar pukul 11.58 WITA. Menindaklanjuti laporan itu, Kantor SAR Banjarmasin memberangkatkan tim pencarian pada pukul 13.10 WITA. Keberangkatan personel dan peralatan menjadi bagian dari tanggapan awal untuk menjangkau lokasi serta mencari awak yang belum ditemukan.
Basarnas mengerahkan 18 personel dalam operasi tersebut. Tim membawa rigid inflatable boat (RIB), peralatan selam, serta Aqua Eye, perangkat pendeteksi bawah air. Perlengkapan ini disiapkan untuk mendukung pencarian di kawasan sungai, termasuk pemeriksaan di bawah permukaan air. Penggunaan perahu dan alat khusus juga membantu tim bergerak menuju area yang dituju dan melakukan penyisiran sesuai kondisi lapangan.
Lokasi kejadian disebut berjarak sekitar 141 kilometer dari Kantor SAR Banjarmasin, atau sekitar 71 nautical miles dari Dermaga SAR Basirih. Dengan jarak tersebut, tim diperkirakan tiba di lokasi sekitar pukul 18.10 WITA. Perkiraan waktu kedatangan itu menunjukkan bahwa perjalanan menuju area pencarian memerlukan waktu beberapa jam. Setibanya di sana, personel dapat melanjutkan koordinasi dan menyesuaikan langkah pencarian berdasarkan situasi setempat.
Operasi tidak hanya melibatkan Basarnas. Sejumlah unsur turut mendukung, yakni TNI AU, Polri, Babinsa, dan masyarakat setempat. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk membantu koordinasi, akses menuju lokasi, serta pelaksanaan pencarian dan penanganan di sekitar sungai. Informasi mengenai perkembangan operasi menjadi penting karena kondisi lokasi dan hasil penyisiran dapat memengaruhi langkah berikutnya.
BNPB menyampaikan tiga prioritas penanganan. Pertama, mencari awak helikopter yang masih hilang. Kedua, memulihkan kesehatan pilot yang selamat. Ketiga, mengamankan bangkai helikopter yang berada di tepian sungai. Prioritas tersebut mencakup pencarian korban, perhatian terhadap penyintas, dan pengamanan objek kecelakaan. Penyebab jatuhnya helikopter masih diselidiki, sementara tim gabungan berfokus pada tugas pencarian serta penanganan sesuai kondisi di lapangan.
Keterangan awal menyebut helikopter kehilangan kendali ketika bermanuver setelah mengambil air dari sungai menggunakan Bambi Bucket. Informasi tersebut menggambarkan urutan kejadian yang dilaporkan, tetapi belum menetapkan penyebab kecelakaan. Hubungan pengambilan air, manuver, dan hilangnya kendali masih perlu ditelaah melalui pemeriksaan serta evaluasi lebih lanjut. Karena itu, faktor penyebab insiden tidak dapat dipastikan hanya dari uraian awal tersebut. BNPB menyatakan keselamatan operasi udara akan menjadi perhatian dalam proses penanganan dan peninjauan kejadian ini.
Evaluasi BNPB akan mencakup keseluruhan aspek keselamatan penerbangan dalam operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Pemeriksaan lain meliputi kesiapan teknis armada, kondisi dan fungsi peralatan, serta prosedur pengambilan air untuk kegiatan water bombing. Kelaikan awak juga akan ditinjau bersama unsur operasional lain yang relevan. Selain itu, evaluasi akan mempertimbangkan kondisi cuaca saat penerbangan dan karakteristik lokasi pengambilan air maupun area manuver. Peninjauan atas berbagai aspek tersebut diperlukan agar situasi operasi dapat dipahami secara menyeluruh, tanpa mendahului hasil pemeriksaan mengenai insiden.
Penggunaan helikopter untuk mendukung pemadaman melalui water bombing berlangsung dalam kondisi yang dapat berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain. Faktor teknis, prosedural, lingkungan, dan kesiapan personel perlu diperhatikan sebagai bagian dari pengelolaan keselamatan. Hasil evaluasi menyeluruh dapat menjadi dasar untuk menilai kembali pelaksanaan operasi serta memastikan penugasan berlangsung dengan pertimbangan yang memadai. BNPB juga akan mengevaluasi penempatan dan penggunaan armada udara secara ketat, dengan tetap memperhatikan kebutuhan penanganan karhutla di lapangan.
Berton menegaskan bahwa insiden tersebut tidak mengurangi komitmen BNPB dalam menangani kebakaran hutan dan.
Baca juga: Kabut Asap Karhutla Jambi Mendorong Aksi Pembagian Masker kepada Warga | Kabut Asap Karhutla Ganggu Aktivitas Warga dan Penerbangan di Palembang | Kebakaran Melanda Permukiman Padat di Senen, 30 Unit Pemadam Dikerahkan
25 kunjungan


































