Enam Desa Wisata Disiapkan sebagai Destinasi Edutrip bagi Pelajar

oleh -112 Dilihat
oleh
Enam Desa Wisata Disiapkan sebagai Destinasi Edutrip bagi Pelajar

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mempromosikan enam desa wisata terpilih kepada sekolah sebagai destinasi wisata edukasi atau edutrip bagi pelajar. Langkah ini diarahkan untuk memperluas pemanfaatan desa wisata sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran di luar kelas. Melalui kunjungan yang dirancang secara tepat, siswa dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai lingkungan, budaya, kehidupan masyarakat, serta berbagai potensi lokal yang tidak selalu dapat dipahami secara utuh melalui pembelajaran di ruang kelas.

Promosi tersebut bertujuan mempertemukan kebutuhan kurikulum sekolah dengan produk pembelajaran yang tersedia di desa wisata. Setiap desa memiliki karakter, aktivitas, dan sumber pengetahuan yang dapat dikaitkan dengan materi pelajaran maupun penguatan keterampilan siswa. Dengan demikian, perjalanan edutrip tidak hanya menjadi agenda rekreasi, tetapi juga dapat disusun sebagai kegiatan yang memiliki tujuan akademik, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan peserta didik. Sekolah diharapkan dapat memilih pengalaman wisata yang sesuai dengan tema pembelajaran serta kebutuhan siswa.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menekankan pentingnya promosi secara langsung kepada para pengambil keputusan di sekolah. Menurutnya, keterhubungan materi pembelajaran dan pengalaman wisata edukasi perlu dibangun sejak tahap perencanaan, sehingga kunjungan ke desa wisata memberikan manfaat yang jelas bagi proses pendidikan. Pendekatan ini menempatkan desa wisata bukan semata-mata sebagai tempat rekreasi, melainkan sebagai ruang belajar terbuka yang memungkinkan siswa mengamati, berdialog, dan memahami pengetahuan melalui pengalaman nyata. Kolaborasi dengan sekolah juga dapat membantu desa wisata mengembangkan program yang lebih terarah dan mendukung tujuan pembelajaran.

Program edutrip memperkenalkan enam desa wisata dari berbagai wilayah Indonesia sebagai destinasi pembelajaran bagi pelajar. Pengenalan ini menunjukkan bahwa desa wisata tidak hanya menjadi tujuan perjalanan, tetapi juga ruang untuk memahami keberagaman budaya, alam, lingkungan, serta kehidupan masyarakat secara langsung. Melalui pengalaman tersebut, pelajar dapat mengenal karakter setiap wilayah dengan cara yang lebih dekat dan kontekstual.

Destinasi pertama adalah Desa Wisata Kreatif Terong yang berada di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Desa ini termasuk dalam daftar desa wisata yang dipromosikan untuk memperlihatkan keragaman destinasi berbasis masyarakat di Indonesia. Selanjutnya, terdapat Desa Wisata Krebet di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang turut diperkenalkan sebagai bagian dari pilihan destinasi edutrip.

Dua desa wisata lainnya berada di Kabupaten Buleleng, Bali, yaitu Desa Wisata Les dan Desa Wisata Sudaji. Keduanya menjadi bagian dari pengenalan destinasi yang merepresentasikan wilayah Bali dalam program tersebut. Keikutsertaan dua desa dari daerah yang sama memperlihatkan bahwa satu wilayah dapat memiliki lebih dari satu desa wisata dengan karakter dan lingkungan masyarakat yang perlu dipahami melalui kunjungan langsung.

Di Jawa Tengah, desa yang diperkenalkan adalah Desa Wisata Bugisan di Kabupaten Klaten. Destinasi ini melengkapi daftar desa wisata yang dipilih dari sejumlah wilayah di Indonesia. Sementara itu, dari Jawa Barat terdapat Desa Wisata Selamanik di Kabupaten Ciamis. Dengan demikian, program edutrip mencakup destinasi dari Kepulauan Bangka Belitung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Keenam desa tersebut adalah Desa Wisata Kreatif Terong, Desa Wisata Krebet, Desa Wisata Les, Desa Wisata Sudaji, Desa Wisata Bugisan, dan Desa Wisata Selamanik. Pengenalan seluruh destinasi itu dimaksudkan untuk membuka pemahaman pelajar mengenai luasnya keberagaman desa wisata Indonesia. Setiap kunjungan diharapkan menjadi kesempatan untuk mengamati secara langsung hubungan budaya, alam, lingkungan, dan kehidupan masyarakat di wilayah tujuan.

Daftar ini juga menegaskan pendekatan edutrip yang mengutamakan pengalaman belajar di lapangan. Pelajar tidak hanya menerima informasi mengenai destinasi, tetapi berkesempatan mengenali desa wisata sebagai bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Dengan mengenalkan enam desa dari latar wilayah yang berbeda, program tersebut menghadirkan gambaran yang lebih beragam mengenai potensi desa wisata sebagai tujuan pembelajaran di Indonesia.

Kementerian Pariwisata mendorong peningkatan kesiapan desa wisata agar mampu menerima kunjungan pelajar secara aman, terarah, dan bermakna. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan serta pendampingan bagi pengelola, sehingga desa tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang belajar yang relevan dengan kebutuhan pendidikan. Penguatan kapasitas mencakup kemampuan merancang program, menyampaikan informasi, mengelola rombongan, serta mengevaluasi pengalaman kunjungan.

Peningkatan kualitas juga diarahkan pada penguatan kurikulum wisata dan penyusunan pengalaman belajar yang terstruktur. Pengelola didorong membuat paket pembelajaran aktif yang dapat dikaitkan dengan berbagai mata pelajaran, seperti sains, kebudayaan, ilmu sosial, ekologi, dan kewirausahaan. Dalam paket tersebut, siswa dapat mengamati proses secara langsung, berdiskusi dengan masyarakat, mencoba kegiatan praktis, dan menyusun refleksi berdasarkan temuan selama berada di desa. Pendekatan ini menjadikan aktivitas wisata lebih kontekstual dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di ruang kelas.

Materi edutrip dapat memanfaatkan kekayaan lingkungan, budaya, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Pelajar, misalnya, dapat mempelajari keanekaragaman hayati melalui pengamatan ekosistem, memahami tradisi melalui praktik kebudayaan, atau mengenal kewirausahaan dari proses produksi dan pemasaran produk lokal. Dengan demikian, kegiatan rekreasi tetap berlangsung, tetapi disertai tujuan pembelajaran yang jelas dan pengalaman yang mendorong rasa ingin tahu, kerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan dan komunitas.

Aspek keselamatan menjadi bagian penting dalam pendampingan tersebut. Setiap desa wisata perlu memiliki prosedur keselamatan, manajemen risiko, dan kesiapsiagaan yang disesuaikan dengan karakter rombongan pelajar. Pengelola perlu memetakan potensi bahaya, menetapkan batas kegiatan, menyediakan informasi bagi pendamping, serta menyiapkan jalur komunikasi ketika terjadi keadaan darurat. Pengaturan rasio pendamping, pemeriksaan lokasi, pertolongan pertama, dan koordinasi dengan fasilitas kesehatan setempat juga perlu diperhatikan. Standar yang konsisten akan membantu sekolah dan orang tua merasa lebih yakin, sekaligus memastikan pengalaman belajar berjalan nyaman, tertib, dan bertanggung jawab.

Promosi enam desa wisata sebagai destinasi edutrip bagi pelajar dilakukan dalam ajang 9th Annual Convention SPK Indonesia 2026. Konvensi tersebut berlangsung pada 30 September hingga 2 Oktober 2026 di SIS North East Jakarta dan diselenggarakan oleh perkumpulan sekolah yang tergabung dalam Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan pengelola destinasi, pemangku kepentingan pariwisata, serta institusi pendidikan yang memiliki perhatian terhadap pembelajaran berbasis pengalaman.

Dengan mengangkat tema “Rooted in Heritage, Empowered by Humanity, Driven by Leadership”, konvensi itu menekankan pentingnya keterhubungan warisan budaya, nilai kemanusiaan, dan kepemimpinan. Lebih dari 460 sekolah telah terdaftar dalam perkumpulan SPK Indonesia. Jumlah tersebut menunjukkan adanya jaringan pendidikan yang luas dan berpotensi menjadi mitra strategis dalam pengembangan perjalanan edukasi ke berbagai daerah.

Kementerian Pariwisata mendorong agar transaksi wisata edukasi dilaksanakan secara transparan dan memberikan kepastian bagi sekolah maupun pengelola desa wisata. Salah satu upayanya adalah penyediaan harga khusus bagi rombongan sekolah, sehingga perencanaan anggaran dapat dilakukan secara lebih terukur. Opsi pembayaran non-tunai juga perlu diperluas untuk mendukung pencatatan transaksi yang rapi, meningkatkan keamanan pembayaran, serta membangun kepercayaan di pihak yang terlibat.

Pemanfaatan desa wisata sebagai destinasi edukasi diharapkan terus berkembang secara berkelanjutan, bukan hanya melalui kunjungan sesaat, tetapi juga lewat kemitraan jangka panjang dengan institusi pendidikan. Kolaborasi tersebut dapat membuka ruang bagi pengembangan program belajar, pelestarian budaya, dan kegiatan berbasis lingkungan, sekaligus menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat lokal. Inisiatif ini turut memperkuat kampanye Bangga Berwisata di Indonesia dan berpotensi meningkatkan pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara dari segmen pelajar.