Asap Karhutla Menyelimuti Palembang Saat Suhu Sumatera Selatan Mencapai 37 Derajat Celsius

oleh -177 Dilihat
oleh
Dampak Karhutla terhadap Kualitas Udara Palembang dan Balikpapan pada 13 Oktober 2026

Palembang | Kualitas udara di Palembang masih berada pada level berbahaya akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini terpantau pada Selasa, 13 Oktober 2026, ketika konsentrasi partikulat halus PM2.5 di wilayah tersebut tercatat sangat tinggi. Pemantauan dilakukan melalui Stasiun Talang Betutu Palembang, yang menjadi salah satu acuan untuk melihat kondisi pencemaran udara di kawasan itu.

Data pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada pada rentang 185,3 hingga 453,5 mikrogram per meter kubik sepanjang pukul 00.00 sampai 09.00 WIB. Angka tersebut masih termasuk kategori berbahaya dalam Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Tingginya konsentrasi partikulat menandakan bahwa udara yang dihirup masyarakat mengandung paparan polutan dalam jumlah besar, terutama partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.

Situasi ini berlangsung bersamaan dengan masuknya Sumatera Selatan ke periode puncak suhu maksimum utama pada Oktober 2026. Suhu udara yang mencapai 37 derajat Celsius dapat memperburuk ketidaknyamanan akibat asap, sekaligus meningkatkan perhatian terhadap dampak pencemaran bagi masyarakat. Kombinasi cuaca panas dan kabut asap membuat kondisi lingkungan Palembang perlu dipantau secara ketat, khususnya pada jam-jam ketika konsentrasi PM2.5 tercatat tinggi.

Level pencemaran tersebut menjadi sinyal bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara harian. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan, berpotensi lebih mudah terdampak ketika berada di luar ruangan. Pemantauan berkala melalui informasi resmi mengenai ISPU diperlukan untuk membantu masyarakat menyesuaikan aktivitas selama asap karhutla masih menyelimuti Palembang.

Memburuknya kualitas udara di Palembang berkaitan dengan meningkatnya konsentrasi partikel halus PM2.5 di atmosfer. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa kenaikan PM2.5 tersebut tidak terlepas dari masih banyaknya kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Kondisi ini membuat udara tercemar asap, terutama ketika kebakaran berlangsung di area yang cukup luas dan menghasilkan kepulan asap secara berkelanjutan.

Wilayah yang disebut menjadi sumber utama asap ialah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Kedua daerah tersebut masih mengalami kejadian kebakaran hutan dan lahan, sehingga partikel hasil pembakaran dapat terbawa oleh pergerakan angin. Asap yang awalnya berada di sekitar lokasi kebakaran kemudian bergerak mengikuti arah angin menuju Palembang. Akibatnya, kabut asap menyelimuti wilayah kota dan berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara yang dirasakan masyarakat.

Arah angin menjadi faktor penting dalam menjelaskan mengapa dampak kebakaran di daerah lain dapat terlihat di Palembang. Ketika angin bergerak dari Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir menuju kota, asap beserta partikel halus di dalamnya terbawa dan terakumulasi di wilayah Palembang. Peningkatan PM2.5 pun menjadi indikator bahwa pencemaran udara sedang berlangsung, khususnya akibat asap kebakaran hutan dan lahan.

Wandayantolis menyampaikan bahwa PM2.5 di Palembang masih berada pada level berbahaya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kondisi udara tidak hanya mengalami penurunan ringan, tetapi telah mencapai tingkat yang perlu diwaspadai. Keberadaan partikel berukuran sangat kecil di udara juga membuat asap kebakaran perlu menjadi perhatian, terutama selama sumber kebakaran masih terjadi dan arah angin terus membawa asap ke Palembang.

Dengan demikian, memburuknya kualitas udara di Palembang dipengaruhi oleh kombinasi kebakaran hutan dan lahan di Ogan Komering Ilir serta Ogan Ilir, peningkatan PM2.5, dan arah angin yang mengangkut asap menuju kota. Selama kejadian kebakaran masih berlangsung, kondisi udara Palembang berpotensi tetap terdampak oleh pergerakan asap dari wilayah tersebut.

Suhu udara di Sumatera Selatan tercatat sangat tinggi karena wilayah ini sedang memasuki puncak suhu maksimum utama. Pada periode tersebut, suhu tertinggi diperkirakan dapat mencapai 37 derajat Celsius, terutama di kawasan yang memiliki kerawanan kebakaran hutan dan lahan. Kondisi panas dan kering dapat meningkatkan penguapan serta membuat vegetasi lebih mudah kehilangan kelembapan, sehingga potensi munculnya titik panas perlu diwaspadai.

Persebaran suhu tidak sama di seluruh wilayah Sumatera Selatan. Ogan Komering Ilir dan Banyuasin diperkirakan mengalami suhu sekitar 35-37 derajat Celsius. Kedua daerah tersebut termasuk kawasan yang relatif datar dan memiliki sejumlah wilayah yang rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Sementara itu, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Palembang diperkirakan berada pada kisaran 25-35 derajat Celsius.

Di wilayah dataran tinggi, kondisi suhunya cenderung lebih beragam. Pagaralam diperkirakan memiliki rentang suhu sekitar 15-36 derajat Celsius. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh ketinggian tempat, kondisi topografi, tutupan lahan, serta perubahan cuaca harian. Meskipun demikian, suhu di sejumlah lokasi tetap dapat meningkat pada siang hari, khususnya ketika tutupan awan terbatas.

Puncak panas ini juga berkaitan dengan fenomena thermal lag, yaitu keterlambatan respons permukaan bumi terhadap energi matahari. Gerak semu tahunan matahari telah melewati ekuator dan bergerak menuju belahan bumi selatan. Namun, daratan dan atmosfer membutuhkan waktu untuk menyerap serta merespons energi tersebut. Akibatnya, suhu maksimum tidak selalu terjadi tepat saat penyinaran matahari berada pada titik tertinggi, melainkan dapat mencapai puncak beberapa minggu setelahnya.

Pada periode puncak itu, rata-rata suhu di sejumlah wilayah Sumatera Selatan dapat mencapai 35-37 derajat Celsius. Masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, terutama ketika udara panas dan kering memperbesar risiko kebakaran.

Musim kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena suhu udara yang tinggi dapat mempercepat pengeringan lahan dan vegetasi. Ketika kelembapan tanah menurun, rumput, semak, serta sisa tumbuhan menjadi lebih mudah terbakar. Situasi ini turut meningkatkan risiko munculnya titik api di area yang kering, terutama apabila terdapat sumber nyala atau aktivitas pembakaran.

Jika api tersulut, kebakaran lahan dapat berkembang lebih cepat dan meluas. Asap yang dihasilkan kemudian berpotensi memperburuk kondisi udara di wilayah terdampak, termasuk Palembang dan daerah sekitarnya. Perpaduan kemarau, suhu yang mencapai tingkat tinggi, tanah yang kering, serta vegetasi yang mengering membuat kewaspadaan perlu ditingkatkan oleh masyarakat dan seluruh pihak. Pencegahan menjadi penting agar sumber api tidak memicu kebakaran yang semakin sulit dikendalikan serta menambah pekat asap.

Masyarakat diimbau tidak membakar lahan, kebun, maupun sampah selama kondisi kering masih berlangsung. Sumber api juga perlu dihindari di area yang mudah terbakar. Selain itu, ketika cuaca sangat panas, aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi. Kebutuhan air minum perlu dicukupi agar tubuh tetap memperoleh asupan yang memadai selama menghadapi suhu tinggi. Kepedulian bersama dalam mencegah pembakaran dan membatasi risiko di lahan kering diharapkan dapat membantu mencegah meluasnya kebakaran serta memburuknya kondisi asap di Sumatera Selatan.

Baca juga: Menguji Peran Dry Ice dalam Mengurai Kabut Asap Karhutla di Sumatera Selatan | Kabut Asap Karhutla Alihkan Pembelajaran di Tiga Kabupaten Papua Selatan | Dampak Karhutla terhadap Kualitas Udara Palembang dan Balikpapan pada 13 Oktober 2026